
Setelah diperiksa oleh Alan, Dara memutuskan tidak dulu berangkat ke kantor. Ia benar-benar merasa lemah. Morning sick itu biasa terjadi pada ibu hamil di awal-awal kehamilan mereka, bukan?
"Dara, sebenarnya ada apa denganmu? Seminggu ini kau terlihat murung hingga kesehatanmu terganggu seperti ini, kau dehidrasi dan tekanan darahmu juga rendah. Apa kau insomnia? Dan apakah kau jarang makan dan minum? Tadi kau muntah padahal lambungmu baik-baik saja," tutur Alan cemas. Dara menarik selimut hingga menutupi wajahnya, ia tidak tahu harus menjawab apa pada kakaknya. Alan mendengkus, adik satu-satunya itu tidak ada niat untuk menjawab pertanyaannya. Alan bangkit dan mengambil peralatan medisnya.
"Baiklah kalau kau tidak mau bicara. Kakak berangkat dulu ke rumah sakit, ya. Jangan lupa minum obat yang sudah kakak berikan padamu. Dan yang terpenting kau harus makan dan minum air putih yang banyak, jangan sampai kau muntahkan lagi, mengerti?"
Alan melangkah ke arah pintu hendak keluar dari kamar, tapi saat tangannya memegang gagang pintu tiba-tiba ia tertegun, seperti mendapatkan firasat saat ia berucap, 'jangan sampai dimuntahkan lagi!' Insting dokternya bekerja, 'kok rasanya diagnosa itu tidak asing? Dehidrasi, tekanan darah rendah, dan muntah di pagi hari? Persis pasien-pasiennya yang datang karena morning sick, tapi mereka tidak tahu kalau mereka tengah hamil. Jangan-jangan?
Alan menoleh pada Dara yang masih menutupi wajahnya dengan selimut. Sekarang Alan semakin yakin dengan perubahan sikap Dara yang murung seminggu ini, juga saat ia terlihat kaget dan ketakutan saat ayah mengatakan akan menelepon dokter Rian. Ya Tuhan, apakah Dara hamil?
Alan kembali menghampiri Dara, dan menarik paksa selimut yang menutupi seluruh badannya. Dara kaget bukan kepalang.
"Kak Alan, ada apa?" tanyanya kaget.
"Bangunlah, ayo kita bicara!" tutur Alan tegas.
Dara menatap mata Alan berkilat-kilat membuatnya sedikit gemetar, ia takut kakaknya sudah menyadarinya bahwa dia tengah hamil.
Dengan enggan Dara duduk di tempat tidur menghadap Alan.
"Dara, katakan padaku dengan jujur, ada apa denganmu? Kau tahu, Kakak ini seorang dokter. Kau tidak bisa menyembunyikannya dariku. Dara ... apa benar kau sedang hamil?"
Mata Dara terbelalak, ternyata benar, Alan menyadarinya. Dia memang dokter yang hebat. Mendapati Dara bersikap seperti itu, bagi Alan itu adalah sebuah jawaban. Alan bangkit menuju pintu lalu menguncinya, takut ibunya masuk. Alan kembali ke hadapan Dara, ia memegang bahu Dara dengan kuat, lalu berucap, "Kenapa ini bisa terjadi, Dara? Kenapa!"
Dara menggeleng, dan perlahan tangisnya pecah, ia belum bisa berkata apa-apa. Sungguh masalah ini sudah membuat Dara tidak tahu harus melanjutkan hidup atau harus mati.
Saat pertama kali mengetahui dirinya hamil, Dara berusaha bunuh diri beberapa kali, tapi nyalinya tidak begitu kuat. Hari itu, dia menyadari bahwa haidnya datang terlambat. Dengan sembunyi-sembunyi dia membeli tespek ke apotek dan memeriksanya keesokan harinya.
Saat dua garis merah muda itu terpampang di depan mata, Dara seperti telah kehilangan hidupnya. Ia melempar jauh-jauh tespek itu dari hadapannya, memukul-mukuk perutnya, dan menangis meraung-raung sendirian di kamat mandi. Dan sejak hari itu, ia berubah menjadi pemurung dan pendiam.
Alan membuang napas berusaha mengenyahkan emosinya. Ia menatap adiknya yang sedang menangis hebat hingga kedua bahunya bergetar. Perlahan Alan menyadari bahwa sekarang adiknya benar-benar sedang terguncang.
"Berhentilah menangis, Dara! Menangis tidak akan menyelesaikan masalah. Banyak hal yang harus dipikirkan. Pertama-tama katakan pada kakak siapa pacarmu, biar kakak yang bicara padanya."
Dara menggeleng. "Aku tidak punya pacar, Kak," jawab Dara.
Mata Alan terbelalak dan mulutnya menganga. "Apa! Kau tidak punya pacar? Lalu siapa ayah anak dalam perutmu itu?" Dara mengusap air matanya dan mengontrol napas. "Kak, ini hanya kesalahan. Waktu di Bali aku tidak sengaja melakukan itu dengan seorang pria. Aku salah masuk kamar karena mabuk, dan pria yang melakukan itu denganku juga mabuk. Kami melakukan itu tanpa kami sadari. Ini benar-benar diluar kendaliku," terang Dara.
Alan menunduk, menutupi wajahnya dengan kedua tangan, menopang kedua sikunya pada lutut, ia menarik napas kuat-kuat lalu membuangnya sekaligus. "Aku tidak peduli alasan kenapa kau sampai mabuk di Bali, yang penting sekarang aku harus tahu siapa yang sudah menidurimu, dia harus bertanggung jawab! Tidak peduli siapa dia."
"Aku tidak tahu nomor ponselnya, tapi Nia tahu. Mintalah padanya."
Alan kembali menunduk, sungguh ia masih tidak percaya apa yang sudah terjadi pagi ini hingga dirinya mendapatkan kabar terburuk selama hidupnya.
__ADS_1
"Baiklah aku akan menemui Nia sebelum ke rumah sakit."
🌷🌷🌷
Alan bersandar dengan santai di kursi kerjanya sambil memainkan ponsel, dan tangan yang lain memegang nomor ponsel yang diberikan Nia di secarik kertas. Alan sangat terkejut ketika diberitahu Nia, pria yang sudah tidur dengan Dara adalah artis papan atas negeri ini.
Alan ingat ucapan ibunya tadi pagi, semua anaknya tidak boleh ada yang menikah dengan orang dari dunia enternainment. Oh God, kenapa masalah ini jadi sangat rumit? Tapi bagaimanapun juga, sekarang Dara sedang mengandung anaknya artis itu. Mereka harus menikah tidak boleh tidak!
Alan memencet nomor yang diberikan oleh Nia. Baru tiga kali nada sambung itu terdengar, sudah ada jawaban.
"Halo, apakah benar ini dengan Nino managernya Reindra?" tanya Alan.
"Benar. Maaf dengan siapa saya bicara?"
"Alan, kakaknya Dara," jawab Alan tegas.
Di tempat lain Nino tampak terkejut. Ia menatap Rei di sampingnya sambil menunjuk-nunjuk ponsel di pipinya dan memberi tahu Rei dengan gerakan mulutnya, 'Kakaknya Dara.' Rei melotot dengan raut wajah tegang.
"Oh, halo ...," sahut Nino dengan sopan.
"Sepertinya, aku tidak perlu basa-basi lagi, karena aku yakin kau tahu maksudku menelepon. Hm, bisakah kau dan Reindra menemuiku di Siloam hospital? Aku praktek di sana. Aku tunggu sampai jam satu siang karena ada banyak hal yang harus aku bicarakan dengan Reindra."
"Hm, maaf, tapi siang ini kami tidak bisa, ada live di televisi sampai jam dua. Bagaimana kalau kita bertemu nanti sore saja, tempatnya kau yang putuskan."
"Baiklah, nanti aku smskan tempatnya."
🌷🌷🌷
Baru pertama bertemu mereka sudah memberikan kesan buruk, apalagi sekarang mereka sudah terlambat satu jam. Barusan Nino mengirim pesan, mereka terjebak macet. Entahlah.
Tak lama kemudian mereka datang juga. Alan mengacungkan tangan ketika ada dua orang pria masuk, menyebar pandangannya ke seluruh ruangan restoran. Alan tahu itu pasti mereka. Rei dan Nino menghampiri Alan dengan raut wajah tegang.
Alan berdiri lalu menjabat tangan mereka berdua. "Silahkan duduk," ucapnya.
"Hm." Nino berdeham.
"Bisakah kita memulai pembicaraan kita?" tanya Nino tanpa basa-basi.
"Sebentar, aku sedang menunggu seseorang lagi. Lima menit lagi dia sampai," tutur Alan.
Nino dan Rei saling tatap. 'Apakah dia mengundang orang tuanya juga? Bagaimana ini? Aku belum siap,' batin Rei.
"Ah, itu dia. Di sini ...!" seru Alan sambil mengangkat sebelah tangannya. Rei dan Nino sontak menoleh ke arah pintu dengan wajah tegang.
__ADS_1
Yang datang adalah seorang pria muda berpenampilan necis. Dia memakai kemeja warna merah marun pas badan dengan lengan digulung sampai ke siku, sepatu pantofelnya terlihat mengkilat, dan tentu saja dia terlihat sangat tampan.
"Kenalkan ini Andi. Kakaknya Dara yang paling tua," ucap Alan.
Seketika Rei ingat dengan SMS di ponsel Dara, Andi yang meminjam buku perbankan. Ternyata ini orangnya. Rei sedikit minder karena semua kakaknya Dara sangat tampan. Jauh lebih tampan darinya.
"Halo, Andi ...." Rei dan Nino berdiri lalu menjabat tangan Andi.
"Hm, baiklah kita mulai saja pembicaraan ini," ucap Alan setelah mereka duduk di kursi masing-masing.
"Sebentar. Aku masih tidak mengerti, ada apa sebenarnya Alan? Tiba-tiba kau memaksaku untuk datang ke sini dan kau bilang pertemuan ini menyangkut hidup dan matinya Dara, itu terdengar menakutkan. Dan siapa mereka? Temanmu?"
Sekali lagi Rei dan Nino saling tatap, mereka sidikit kaget kakaknya Dara tidak ada yang mengenali Rei. Apakah di rumah mereka tidak ada televisi? Semua orang di negeri ini tahu Rei, bahkan mungkin Presiden juga tahu. Kenapa mereka tidak?
"Bukan, mereka bukan temanku. Rei ini penyanyi, artis. Dan Nino ini managernya," jawab Alan. Andi langsung menatap Rei dengan kaget.
"Artis?"
"Iya," jawab Nino.
"Baiklah, biar aku yang memulai pembicaraan ini," sahut Rei gemas. Ia ingin masalah ini cepat beres dan ada jalan keluar terbaik.
"Jadi bagaimana sekarang? Aku harus bagaimana?"
Alan tertawa kecil sambil memalingkan wajah ke arah lain. Menurutnya, Rei menanyakan pertanyaan tidak perlu, karena sudah tahu pasti jawabannya. Rei harus bertanggung jawab. Maksud Alan mengadakan pertemuan ini adalah untuk membicarakan rencana kedepannya bagaimana.
"Apakah aku harus menjawabnya? Kurasa kau sudah tahu pasti apa jawabannya. Maksud aku mengadakan pertemuan ini adalah untuk membicarakan masa depanmu dengan Dara. Kau harus menikahinya secepat mungkin. Kapan kau ke rumah kami dan bicara pada orang tua kami?"
Rei tersentak, seperti ditembak langsung kena jantung dan mati. Demi Tuhan ia belum siap. Sementara itu Andi yang belum tahu apa-apa mendelikan mata, ia kaget bukan kepalang.
"Apa?! Hei, tolong salah satu dari kalian jelaskan padaku apa yang terjadi!"
"Hm, biar aku yang bicara," sela Nino. Setelah itu Nino menceritakan kronologinya dari awal sampai akhir, termasuk alasan Dara dan Rei mabuk hingga terjadi kesalahan ini.
"Jadi menurutku ini bukan kesalahan Rei saja, Dara juga salah. Tapi sekarang bukan saatnya mencari siapa yang salah tapi mencari jalan keluar terbaik untuk Dara dan Rei. Aku tahu perasaan kalian, tapi kalian juga harus mengerti kami. Jujur saja ini tidak mudah untuk managemen kami. Kami harus mengurus__"
"Baiklah besok aku akan ke rumah dan berbicara pada orang tua kalian. Dan besok lusa aku akan adakan konfrensi pers." Rei memotong ucapan Nino. Nino terlohok kaget, begitupun Alan dan Andi.
"Rei! Apa itu tidak terburu-buru? Bagaimana dengan Produsermu, lebel, dan perusahaan produk yang akan kau bintangi iklannya? Bagaimana jika mereka tidak setuju dengan pernikahan mendadak ini?"
"Itu urusanmu. Kau bicaralah dengan mereka sampai mereka mengerti. Bukankah pernikahan ini tetap akan terkesan mendadak? Aku yang mengaku tidak punya pacar tahu-tahu akan menikah. Pasti akan banyak muncul opini publik, dan tugasmu juga untuk meredakan gosip-gosip yang akan muncul. Kosongkan jadwalku sebulan ini, batalkan semua kontrak yang mengharuskan aku bekerja bulan ini, offair-offair di luar kota, iklan, acara live musik di TV, pemotretan, sampai acara talk show, batalkan semuanya. Hubungi wedding organizer yang paling bagus di Jakarta serta designer baju pengantin yang paling terkenal. Semua harus dipersiapkan maraton, karena aku tidak mau pernikahan yang biasa-biasa saja, agar semua orang tidak terlalu curiga pernikahan ini mendadak. Semuanya kau yang urus, karena ada satu urusan yang paling penting bagiku. Pacarku dan keluargaku."
Alan dan Andi terlohok, mereka tidak menyangka masalah ini juga sangat rumit untuk Rei. Yang mereka tahu jika membatalkan kontrak yang sudah ditandatangani harus ada uang ganti rugi atau semacamnya, belum lagi nanti akan muncul gosip-gosip yang mungkin saja akan membuat karir Rei menurun. Dan yang membuat Alan dan Andi miris adalah, Rei yang sudah punya pacar harus rela memutuskan pacarnya dan menikah dengan orang yang tidak dicintainya. Tapi bagaimana lagi, ini adalah konsekuensi yang harus ia tanggung.
__ADS_1
Nino menangkup kepalanya dengan kedua tangan dan menjatuhkannya di meja. Nino bersumpah ia tidak pernah sesetres ini sepanjang hidupnya.
***