Menikah Tanpa Pacaran

Menikah Tanpa Pacaran
Part 14


__ADS_3

Setelah kemarin mengadakan ritual-ritual sebelum akad nikah, seperti pengajian, siraman dan malam midodareni, akhirnya hari ini adalah hari pernikahan.


Dara sudah selesai dirias dengan riasan khas Solo putri, tapi ia belum beranjak dari kursinya. Yang ia lakukan dari tadi hanya diam sambil menatap dirinya sendiri di depan cermin.


Sampai detik ini ia masih belum yakin apa yang sedang ia lakukan. Apakah ini jalan yang harus ia lalui dalam hidupnya? Apakah ini jalan yang terbaik? Apakah setelah ini semuanya akan baik-baik saja terutama dengan nama baik keluarganya? Menjadi anak seorang yang terhormat seperti ayahnya kadang membuatnya merasa frustasi. Kejadian ini terjadi begitu cepat hingga ia tidak bisa lari dan mengelak.


Perlahan tangan Dara bergerak ke lehernya menyentuh kalung berlian yang diberikan ibu Rei. Katanya kalung ini adalah simbol cinta suci. Sungguh Dara merasa berdosa kepada ibunya Rei. Kalung ini sudah dinodai oleh kebencian dan kebohongannya.


Tangan Dara terulur ke perutnya. Walaupun ia sama sekali tidak mengharapkan kehadirannya, tapi ia berjanji akan memberikan yang terbaik untuknya. Dara bukan wanita jahat yang akan menelantarkan darah dagingnya sendiri.


"Adikku cantik sekali," ucap Alan yang tiba-tiba masuk ke kamar Dara.


"Kau siap?" tanya Alan. Dengan berat Dara mengangguk. Saat melihat sorot mata kakak yang paling ia sayangi itu, Dara tidak tahan untuk mengeluarkan air mata, dan air mata itu terlihat jelas oleh Alan. "Hei, jangan menangis. Kau sudah melakukan hal yang benar. Kau hebat!" Alan mendekap adik satu-satunya itu.


"Benarkah?" tanya Dara di sela isak tangisnya.


"Iya, aku yakin kau akan bahagia dengan Rei."


"Kenapa semua orang sangat yakin kepadanya? Malah aku sendiri yang tidak yakin."


Alan jongkok menyeratakan tingginya dengan Dara, memandang wajah adik perempuannya itu dengan takzim. "Kau harus yakin Tuhan akan memberimu jalan yang mulus setelah ini. Pikirkan dia juga." Alan menunjuk perut Dara. "Kalau kau bahagia, maka dia pun akan bahagia. Dia tahu dan bisa merasakan emosi ibunya, kalau kau sedih dia pun akan sedih." Alan mengambil selembar tisue di atas meja rias. "Jadi, kau jangan bersedih seperti ini lagi, oke?" ucapnya sambil mengusap air mata di pipi Dara.


Tiba-tiba ayah dan ibu Dara pun masuk ke ruangan, dan mendapati Alan yang tengah mengusap air mata Dara.


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya ibu Dara. Alan bangkit berdiri.


Dara terenyak. "Tidak apa-apa, Ma," ucap Dara.


"Jangan menangis, nanti makeupnya luntur, loh." Sekarang giliran ibu Dara yang memeluk anak perempuan satu-satunya itu.


"Setelah hari ini, kau akan jadi istri orang. Mama harap kau bisa jadi istri yang baik untuk Rei. Mama sama Papa suka sama dia. Rei laki-laki yang sopan, keluarganya pun baik dan ramah. Kau beruntung punya ibu mertua seperti ibunya Rei, Ra. Kau harus bersikap baik padanya." Dara mengangguk di pelukan ibunya.


Dara melepaskan pelukan dan beralih menatap ayahnya. "Pa ...," panggil Dara. Salim Pratikno menoleh dan menghampiri putrinya, lalu menepuk-nepuk pundak Dara dengan bangga. Walau bibirnya tersenyum, Dara masih bisa melihat sorot mata kesedihan di mata sang ayah. Semua ayah di dunia ini akan merasa sedih tatkala melepaskan putrinya ke pelukan dan menjadi tanggung jawab laki-laki lain.


Alan mengusap matanya yang berair melihat adegan mengharukan itu. Mereka tidak tahu dan jangan sampai tahu, alasan di balik pernikahan ini.


💕💕💕


Di luar begitu ramai, ratusan tamu telah datang untuk menyaksikan ijab kobul, dan entah ada berapa banyak wartawan yang datang. Dari kemarin tempat ini sudah dipenuhi oleh wartawan hingga rasanya Dara tidak kuat untuk berdiri dan berjalan ke tempat ijab kobul.


Sementara itu, Rei berdiri di depan jendela sambil memegang ponsel. Pandangannya kosong ke luar jendela. Baru saja Nadine meneleponnya memberi tahu sekitar dua bulan lagi kuliahnya beres dan akan pulang ke tanah air. Sampai detik ini Rei belum berani memberitahu tentang apa yang sedang terjadi.

__ADS_1


Entah kenapa lidahnya seperti kelu saat akan bicara tentang pernikahannya pada Nadine, dan yang membuat Rei diam sekarang adalah, mendengar kata-kata terakhir Nadine sebelum ia menutup telepon, 'Aku merindukanmu, aku ingin segera kembali ke sisimu, tunggu aku sebentar lagi, lalu kita raih cita-cita kita untuk selalu bersama selamanya.'


Demi Tuhan Rei merasa lumpuh, dan saat itu juga ia merasa ingin mati. Ia benci pada dirinya, ia benci dengan keadaan, tapi di sisi lain ia bahagia sekaligus bersalah ketika melihat ibunya tersenyum bahagia melihatnya menikah.


"Rei ... sekarang waktunya, ayo!" Tiba-tiba Nino masuk dan berkata di belakangnya. Rei terenyak kaget, ia berbalik menatap manager sekaligus sahabatnya itu dengan tatapan sedih.


Nino pun bisa menangkap kesedihan yang dahsyat itu di sorot mata Rei. Nino tersenyum menguatkan Rei, lalu memeluk artisnya itu dengan erat.


"Tidak apa-apa, kau melakukan hal yang benar, kawan," bisik Nino di telinga Rei. Nino melepas pelukannya lalu menepuk pelan bahu Rei.


Rei mengangguk dan membuang napas sekaligus.


"Ayo ...," kata Rei.


Rei pun didampingi pagar bagus menuju meja ijab kobul.


***


Akad nikah dan prosesi-prosesi adat jawa satu demi satu sudah dilalui, busana pengantin khas Jawa Solo yang dikenakan Rei dan Dara pun tak lepas dari sorotan. Kain beludru hitam dengan bordir emas dipilih menjadi atasan, dan bawahannya menggunakan kain batik bermotif Sidoasih Prada yang mempunyai arti kasih sayang.


Walaupun persiapan pernikahan hanya sebulan, tapi semuanya bisa berjalan dengan mulus, tidak ada kendala yang berarti. WO yang mengurus pernikahan mereka juga terheran-heran, persiapan ini sangat maraton, tapi semuanya sangat mudah, tidak ada kendala yang berarti, seperti segala sesuatunya diridhoi dan sudah diatur dengan baik oleh Tuhan.


Selama Dara di pelaminan, sebisa mungkin ia harus tetap tersenyum, karena semua mata dan kamera mengawasinya dengan jeli. Satu yang membuatnya kuat berdiri adalah melihat senyum cerah kedua orang tuanya saat mereka tertawa bersama tamu yang datang.


Sebelum masuk ke ruangan konfrensi pers, tangan Dara digenggam erat oleh Alan.


"Semuanya akan baik-baik saja," bisik Alan.


Entah kenapa mendengar ucapan Alan itu membuat dada Dara sesak lagi dan matanya langsung berkaca-kaca, saat ini ia hanya memerlukan tangan hangat yang bisa memberinya kekuatan, dan tangan Alan sebagai kakak yang paling dekat dengannya adalah yang terbaik. Alan mengusap pipi Dara karena setetes air mata memaksa keluar.


"Kau adikku yang paling hebat. Ayo, temui suamimu," kata Alan. Dara melihat Rei yang sudah menunggu di ambang pintu. Pria yang sudah resmi jadi suaminya itu mengulurkan tangan padanya.


Perlahan Dara melepaskan tangannya dari tangan Alan dan meraih tangan Rei. Itu membuatnya merasa seperti mengucapkan selamat tinggal pada kehidupan sebelumnya dan mengucapkan selamat datang pada kehidupan baru, dan Rei lah kehidupan baru itu.


Sulit dilukiskan, semuanya berkecamuk dalam dada, menggulung dan menerjangnya hingga rasanya sulit bernapas.


Sekarang yang bisa ia lakukan hanya tetap tersenyum agar orang tuanya tidak berpikir yang aneh-aneh. Sedikit pun ia tidak boleh terlihat sedih di depan mereka, setelah semua ini selesai, Dara harus menjalani skenario selanjutnya dengan sekuat baja.


Berharap kali ini Tuhan bisa memberinya cerita bahagia.


***

__ADS_1


"Kemana rencana kalian akan berbulan madu?"


"Rencananya kalian akan mempunyai anak berapa? Apakah kalian akan menunda punya anak?"


"Apa makna dibalik mahar yang kau berikan?"


"Apa rencana karir ke depan setelah kau menikah?"


Gempuran pertanyaan terus menghujam tanpa ampun, kalau saja pihak WO tidak menghentikannya.


Rei tersenyum dan menyapa semua wartawan yang hadir.


"Terima kasih banyak kalian sudah datang dan meliput pernikahan kami dari kemarin-kemarin. Sungguh, aku sangat berterima kasih. Rencana bulan madu ... gimana, Sayang?" Rei malah bertanya pada Dara. Dara terhentak kaget. Dengan gugup Dara tersenyum pada semua wartawan, lalu berucap, "Sepertinya kami akan menundanya dulu, karena setelah ini Rei akan mempersiapkan konsernya di Malaysia."


Reindra terlohok. Ia tidak menyangka sama sekali Dara akan memberikan jawaban itu. Dan itu adalah jawaban yang akan dia ucapkan juga pada wartawan. Rei sengaja melempar pertanyaan itu, supaya Dara terbiasa berbicara di depan media.


Bukan tanpa alasan, Dara mengatakan itu, ia berkali-kali mendengar Nino membahas tentang konser Rei yang membuat sang Manager senewen. Konser itu harus segera dipersiapkan sedangkan saat itu Rei malah sibuk mempersiapkan pernikahan.


"Iya, benar sekali. Kami akan menundanya. Dan soal momongan, kami sepakat tidak akan menundanya."


Dara mendecih dalam hati. 'Jelas tidak akan menundanya, karena sekarang aja anak itu sudah ada di perutku.'


"Dan soal mahar, tidak ada arti apapun, aku memberi istriku mahar itu, karena kesepakatan kita saja."


Lagi-lagi Dara mendecih dalam hati. 'Kapan kau membahas tentang mahar denganku? Kau benar-benar laki-laki yang pandai berbohong! Menyebalkan!'


"Rei, cium istrimu, dong. Kami ingin memiliki gambar yang bagus," cetus salah satu wartawan.


"A__apa?" Rei dan Dara kompak membulatkan mata dan langsung menegang mendengar permintaan salah satu wartawan itu. Dan sialnya permintaan itu diamini oleh wartawan yang lain.


'Ya Tuhan ... aku gak mau! Aku mohon Rei, tolak permintaan wartawan itu!' jerit Dara dalam hati.


"Baiklah," cetus Rei. Dara menoleh tidak percaya. Ia melototi Rei untuk menentangnya, tapi jelas tatapan Rei menolak.


Kemudian dengan satu gerakan ringan, bibir Rei pun mendarat dengan mulus di kening istrinya. Karena terlalu cepat, wartawan-wartawan itu meminta Rei untuk mengulangi adegan itu.


'Sial!' rutuk Dara dalam hati.


Kemudian Rei kembali mencium kening Dara, dan kali ini lebih lama supaya wartawan bisa mengambil gambar dengan mudah.


Dari kejauhan, Nino, Pak Robi, dan kedua kakak Dara tertawa geli melihat tingkah lucu pengantin baru itu.

__ADS_1


💕💕💕


Jangan lupa vote dan komen gaes.


__ADS_2