Menikah Tanpa Pacaran

Menikah Tanpa Pacaran
Pesan


__ADS_3

Malam pun tiba.


Zyona sudah sudah menyiapkan air mandi Adrian. Dia juga sudah menyiapkan pakaian untuk Adrian.


Adrian mandi dan menyegarkan tubuhnya. Setelah selesai berpakaian, dia duduk dibalkon kamarnya sambil bermain ponsel nya.


Tiba-tiba wajahnya berubah sedih saat melihat foto Moza yang tidak sengaja dia buka.


" Za, kamu dimana? nomor mu tidak bisa dihubungi, kamu hilang tanpa kabar, kamu tahu gimana aku khawatir nya sama kamu?! "


Adrian menghela napasnya kasar.


Orang kantor bilang Moza mengambil cuti selama dua minggu.


Dia tidak sama sekali ada pekerjaan dinas ke luar kota.


Lantas mengapa Moza berbohong.


Apa yang sebenarnya ditutupi gadis itu.


Adrian mengingat jelas bagaimana pertama kali mereka bertemu.


Di acara amal suatu panti asuhan anak kebutuhan khusus.


Disitu pertama kali Adrian melihat Moza datang layaknya seorang malaikat.


Baik, lembut, penyayang. Perfect!


Tanpa sadar air mata Adrian jatuh dan membasahi pipinya.


Sepertinya dia menjadi cengeng setelah Moza yang menghilang tiba-tiba


Adrian menyeka air matanya dan berjalan ke bawah.


Di ruang tengah tanpa sengaja dia berpapasan dengan Zyona.


Dia melihat gadis itu sangat sedih dan hampir menangis.


" Kamu kenapa? " Khawatir, bertanya sambil menyeka air mata Zyona yang mulai jatuh


"Papa... Hiks, Papa Adrian...." Menangis dan langsung memeluk tubuh Adrian


Adrian kaget, tapi akhirnya dia juga membalas pelukan Zyona.


"Papa kenapa? Katakan yang jelas! " Ucapnya sambil mengelus punggung Zyona dengan lembut


Tangis Zyona pecah. Dia menangis sampai sesenggukan.


"Papa kritis, kita ke rumah sakit sekarang ya" Ucapnya dengan lirih


" Oke, kita ke rumah sakit malam ini. Jangan menangis lagi ya "


Adrian membingkai wajah Zyona dengan tangannya. Menyeka air mata gadis itu lalu mengecup puncak kepala Zyona dengan lembut.


Adrian dan Zyona berangkat ke rumah sakit dengan menggunakan mobil.


Jarak antara rumah Adrian dan rumah sakit agak jauh.


Memerlukan waktu sejam setengah untuk sampai ke rumah sakit itu.


Setelah sampai di rumah sakit. Adrian dan Zyona langsung masuk ke ruang VVIP atas nama Herman Adisti.


Baru sampai mereka langsung disuguhi dengan isakan tangis yang begitu pilu di hati.


" Mah, Papa gak papa kok, berhentilah menangis " Ucap Herman yang baru sadar dengan suara pelan dan lemas.


"Hiks.... Mama khawatir banget sama Papa, Mama gak mau Papa tinggalin Mama secepat ini "


Melda terus menangis di samping Herman suaminya. Yang tadi drop dan tidak sadarkan diri.


Tapi syukurlah sekarang lelaki berumur senja itu sudah sadar.


Adrian dan Zyona mendekat.


"Papa kenapa Mah? " Zyona yang nanya


Melda menggeleng "Akhir-akhir ini Papa mu sering sekali drop dan langsung tidak sadarkan diri " Tutur Melda dengan lirih


" Papa gak pa - pa kok sayang " Ucap Herman dengan lemas.


Zyona dan Adrian duduk di kursi samping tempat tidur Herman. Dengan lembut mereka memegangi tangan pria tua itu.


"Ekhem, Mama ke kamar mandi dulu " Pamit Melda dan meninggalkan

__ADS_1


Suaminya, anaknya, dan menantunya di ruangan itu.


Herman melirik Adrian.


"Kamu tahu.. " Memberi jeda lalu menarik napasnya dalam


Adrian menatap lekat pada mertuanya ini. Menunggu apa yang ingin Herman katakan padanya.


"Pria yang pertama memeluk Zyona adalah aku " Katanya lalu memejamkan matanya


Adrian masih diam, mendengarkan kemana jatuhnya perkataan mertuanya ini.


" Yang pertama menyeka air matanya itu juga aku "


" Yang meniup lututnya saat dia terluka adalah aku "


" Yang selalu ada untuknya dan disisinya. Dari dia hanya seorang bayi mungil, hingga dewasa seperti sekarang ini "


Adrian menatap pada Zyona. Terlihat gadis itu mulai menangis.


"Tapi yang aku harapkan... " Memberi jeda seraya menarik pelan nafasnya. " Aku harap kau yang akan terus disisinya sampai kalian menua bersama,


sampai rambut kalian putih bersama, aku harap kau yang akan terus berada di sisi putriku


Menggantikan aku "


Adrian menelan salivanya.


Apakah aku bisa melakukan itu?


Suasana hening. Herman memejamkan matanya. Ada buliran air mata yang menetes, mengalir dan membasahi pipinya.


Herman menangis tanpa suara.


Zyona juga menangis. Air matanya bercucuran sambil menggenggam erat jemari Papanya.


"Jika kelak... " Herman kembali berbicara " Kamu tidak lagi mencintai putriku, kembalikan dia padaku, pulangkan dia."


" Jangan kamu pukul dan kamu marahi " Adrian tertegun mendengar perkataan mertuanya yang barusan.


Teringat dengan perlakuan kasarnya sebelumnya.


Tanpa dia ingini, hatinya terasa tercabik dan diremas.


...


Sepanjang perjalanan pulang, pikiran Adrian terus berlarian pada pesan mertuanya tadi.


Suasana didalam mobil hening. Keduanya membisu.


Zyona memandang ke luar jendela. Adrian menyetir dengan pikiran yang bercabang kemana mana


Pesan mertuanya seperti pukulan keras baginya.


Zyona adalah harta yang paling berharga yang harus dia jaga dengan nyawanya sendiri.


Tapi didalam hatinya masih ada Moza yang bertahta.


Dengan hembusan angin, sayup - sayup terdengar isakan tangis Zyona.


Adrian menyadari itu, dia mencengkram setir berusaha tidak terlalu memperdulikan nya.


Tapi entah mengapa tangisan Zyona seperti cambuk bagi Adrian. Isakan kecil itu seperti mencabik habis hatinya.


Adrian memberhentikan mobilnya di pinggir jalan.


Mendekat pada Zyona, dan memegang pelan bahu gadis itu.


" Zy " Zyona berbalik dan langsung menghujam Adrian dengan pelukan yang sangat erat.


Adrian kaget, dia belum membalas pelukan istrinya itu. Matanya melebar dan jantungnya terasa aneh.


" Hiks... Riannn " Mendengar Zyona menangis. Adrian reflek membalas pelukan gadis itu.


Memeluk dan menepuk hangat punggung nya.


" Menangislah " Katanya sambil terus memeluk istrinya itu


" Jika besok Moza kembali, kamu tetap sama aku, kan? Kamu gak ninggalin aku, kan? "


Adrian membisu. Hanya hembusan angin dan tangis Zyona yang terdengar.


" Kamu akan jadi Adrian yang sekarang, kan? Kamu gak akan ngebuang aku, kan Rian... "

__ADS_1


" Kamu akan jadi pengganti Papa di sisi ku, kan Ad... "


" Maaf! " Ucap Adrian cepat memotong ucapan Zyona


Tatapan mata Zyona sayu dan kecewa.


Jemarinya bergetar.


Dia menangis tanpa suara.


Air matanya jatuh sampai membasahi paha.


Ternyata Adrian tetaplah Adrian.


Pria itu tidak akan pernah menganggap Zyona sebagai istrinya.


Lantas apa perlakuan mu beberapa hari ini?


Kenapa kau ngotot minta aku melayani mu


Apa kau begitu hanya karena bernafsu, bukan karena mulai cinta padaku!


Dan apabila Moza kembali kau akan kembali bersamanya.


Dan membuangku seperti sebelum- belumnya!


Zyona menampar kaca dengan pandangannya.


Jemarinya saling ******* di atas lututnya.


Heh, aku yang begitu naifnya mengira Adrian mulai menerimaku.


Bodoh sekali kau Zyona!


Mobil kembali berjalan. Melaju membelah kesunyian malam.


Sampai di rumah, Zyona langsung turun dan masuk ke dalam kamarnya sendiri.


Begitu juga dengan Adrian.


Mereka seakan kembali seperti orang asing.


Brak!


Zyona sengaja menutup pintu kamar dengan keras.


Seolah ingin memberi tahu pada Adrian kalau dia sedang marah.


Tapi, sudah jelas itu percuma...


Adrian menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang.


Membenamkan wajahnya di atas sprei.


Bagaimana ini, saat ini dia sangat kebingungan dengan dirinya sendiri.


Di hati dan pikiran Adrian, Moza lah yang bertahta.


Tapi perlahan, tanpa dia kehendaki, Zyona juga mulai masuk ke dalam.


Mulai mengukir namanya di hati pria itu.


Tawanya, tingkahnya yang polos dan sederhana.


Walau dengan cara yang sederhana, tapi selalu mampu membuat Adrian tersenyum. Dia merasa disayangi.


Ahh sudahlah!


Aku tidak mau memikirkan kan nya!


Adrian terlalu sulit untuk dimengerti.


Kau pengecut Adrian! Batinnya.


Dia telah bermain api dengan kedua gadis itu.


Dan sekarang sepertinya dia akan terbakar dengan permainan nya sendiri.


Jika kamu kecewa, jangan membuat wanita lain sebagai pelampiasan.


Sbab kami juga punya hati dan pikiran.


Dan kami wanita ini, terlalu berharga untuk menangisi laki-laki seperti kamu!~Asih sunkar.

__ADS_1


TBC.....


__ADS_2