
Sepulang dari Bali, Dara tidak masuk kerja karena. Gara-gara kejadian itu, ia sama sekali tidak berselera makan dan tidak bisa tidur. Masalah ini benar-benar menyita seluruh pikirannya.
Ibunya yang super curigaan memberondongkan pertanyaan-pertanyaan yang membuat Dara semakin stress. Sebisa mungkin masalah ini jangan sampai terdengar oleh orang tuanya. Kalau mereka tahu, Dara yakin dunianya akan kiamat saat itu juga.
Kalau outing ke Bali bukan acara kantor, Dara yakin orang tuanya tidak akan mengijinkannya pergi, untuk mengantongi izin itu pun dirinya harus merengek dulu seperti anak kecil. Kalau Dara tahu kejadiannya akan seperti ini, ia tidak akan pernah pergi ke Bali.
Memang benar apa kata orang, kalau orang tua tidak mengizinkan, pasti akan ada sesuatu yang tidak diinginkan.
Keesokan harinya Dara memaksakan diri masuk kerja, saat ia sampai di kantor yang pertama menghampirinya adalah Nia.
Dengan cemas Nia menanyakan kabar Dara, karena selama tiga hari ini gadis itu tidak bisa dihubungi karena ponselnya tidak ia ambil di kamar resortnya Reindra.
"Aku baik-baik saja, oke? Kau jangan banyak bicara lagi nanti orang-orang akan curiga," kata Dara agak sebal.
"Ra, setidaknya kau harus beli ponsel baru agar orang-orang bisa menghubungimu."
Dara merubah posisi duduknya menghadap Nia, lalu mencondongkan tubuhnya, ia bicara setengah berbisik, "Nia, bisakah kau ceritakan orang seperti apa si artis itu? Aku harus tahu seperti apa orang yang sudah tidur denganku." Nia menggigit bibir sambil menggeser bola matanya ke atas, mengingat gosip apa saja tentang idolanya itu.
"Ah, kau browsing saja di internet, di sana banyak sekali informasi tentang dia. Lengkap. Aku juga kurang mengikuti informasi tentangnya."
"Baiklah, nanti jam istirahat, antar aku beli ponsel yang bisa internetan. Aku harus tahu seperti apa dia."
Nia melipatkan tangan di dada sambil tersenyum geli, "Hhhmm, gara-gara Reindra kau mulai tertarik dengan smartphone, nih?" goda Nia.
"Hei, tetap saja aku akan menyembunyikan ponsel itu dari orang tuaku."
"Baiklah, orang tuamu memang menakutkan." Nia geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Hei, tapi siapa sangka orang kuper sepertimu sudah terlibat cinta satu malam dengan artis papan atas negeri ini," kata Nia, lalu tertawa geli. Tangan Dara langsung meluncur memukul lengan Nia sambil melirik kiri kanan takut ada yang mendengar.
"Heh, kau gila ya, nanti ada yang dengar! Sudah ah, sana kerja! lima menit lagi bank dibuka."
🌷🌷🌷
Dara tengah serius membuat daftar mutasi kas lalu menghitung dan mencocokannya dengan jumlah uang di cash box. Selesai itu, ia mulai menyortir dan mengepak uang tunai menurut nilai nominalnya dan kondisi fisiknya, setelah pekerjaan yang menjenuhkan dan melelahkan itu selesai, Dara tidak langsung pulang, ia membuka dulu ponsel baru yang tadi siang dibelinya. Dara membuka salah satu situs hiburan untuk mencari informasi tentang Reindra, ternyata memang tidak susah mencari informasi tentang dia.
Sekarang Dara sedang melihat profil pria itu. Mata Dara terbelalak ketika melihat tanggal lahir pria itu dengan tanggal lahirnya selisih satu hari hanya beda tahun saja, Reindra tiga tahun lebih tua darinya.
Dara terlohok melihat prestasi yang sudah dia raih. Banyak penghargaan bergengsi yang sudah didapatnya, dan bukan hanya prestasi saja yang dibahas di sana, tapi ada banyak gosip tentangnya juga. Lihatlah, Reindra benar-benar banyak digosipkan dekat dengan banyak wanita dan semuanya dari kalangan selebritis.
Dara membaca berita terbaru tentangnya yang mengatakan sekarang tidak punya pacar, lalu yang namanya Nadine itu siapa? Bukankah waktu di Bali pria itu mengatakan pada Dara bahwa Nadine itu pacar yang sangat dicintainya? Sepertinya pria itu sengaja menyembunyikan hubungannya dengan Nadine dari media.
Sampai detik ini Dara masih tidak percaya dirinya sudah tidur dengan pria yang dipuja oleh seluruh perempuan di negeri ini. Oh, ya ampun bagaimana sekarang?
Tanpa Dara tahu, saat ia tenggelam dengan pikirannya yang sangat kacau, seseorang di balik sekat kaca memerhatikannya. Ia terheran-heran melihat tingkah Dara yang aneh, tidak biasanya ia seperti itu. Apakah karena waktu di Bali ia sudah mengatakan sesuatu yang sangat menyakiti hatinyan? Seharian ini Dara tidak menyapanya seperti biasa, bahkan melihat wajahnya pun tidak.
Perlahan ia mendekati Dara yang masih merundukan kepala di atas meja, lalu menyapanya pelan.
"Dara ...."
Dara langsung mendongakkan kepalanya, ia sedikit terkejut karena suara yang menyapanya adalah suara yang sangat dikenalnya.
"Oh Joseph, ada apa?" Dara berusaha terlihat wajar di depan pria itu.
Joseph berdeham dengan gugup. "Kau baik-baik saja? Kenapa belum pulang?" Dara meluncurkan senyum, ia tidak boleh terlihat menyedihkan di depan pria itu.
__ADS_1
"Oh, sebentar lagi juga pulang," sahutnya santai.
"Mmm, omong-omong apakah kau sudah benar-benar sehat?" tanya Joseph khawatir.
Mata Dara menyipit, tidak biasanya Joseph bersikap perhatian seperti itu. Apakah pria itu merasa bersalah karena sudah menolaknya? Sungguh, kalau Joseph perhatian karena hal itu, ia tidak butuh! Dara baik-baik saja.
"Apakah sekarang kau sedang menunjukan rasa kasihanmu padaku karena kau sudah menolakku?" Dara bertanya sinis. Joseph mengerjap, ia sama sekali tidak mengira Dara akan berpikir seperti itu.
"Ah bukan, bukan itu," sergah Joseph. "Hm karena kau sudah menyinggung masalah itu, sekalian aku mau minta maaf soal itu. Sungguh aku minta maaf," sambungnya.
Entah kenapa ucapan Joseph itu malah seperti menaburkan garam pada luka. Dara tidak boleh terlihat sedih di depan pria itu, sekuat tenaga ia meluncurkan senyum terbaiknya.
"Kau tidak perlu minta maaf, Jos, karena aku baik-baik saja. Sepertinya mulai sekarang, aku lebih nyaman kalau kita pura-pura tidak saling kenal, apa kau setuju?"
Joseph terlihat sedikit panik dengan ucapan Dara itu. "Apakah harus sejauh itu? Apakah kau benar-benar sakit hati? Sungguh, aku benar-benar minta maaf dan aku menyesal."
Dara mengerjap. Menyesal? Maksudnya apa? Apakah ia menyesal sudah menolaknya?
Sebenarnya Dara ingin menanyakan lebih jauh, tapi ia malas, karena hatinya terlanjur hancur berkeping-keping, dan yang terpenting, karena ucapannya yang kurang dari satu menit itu, dampaknya sudah merubah kehidupan Dara selamanya. Itulah sebenarnya yang sulit ia terima.
Dara menghela napas panjang berusaha meredakan emosinya. "Aku sudah tidak peduli lagi dengan masalah itu. Dan sepertinya dengan pura-pura tidak saling kenal, itu yang terbaik. Baiklah, aku pulang dulu."
Dara mengganti sepatu hak tingginya dengan sepatu teplek, lalu pergi meninggalkan Joseph yang terlihat masih ingin bicara.
Cepat-cepat Dara melewati ruangan antrian nasabah yang sudah gelap menuju pintu luar. Ia menatap kakinya sendiri yang menapaki lantai, setelah berada di luar barulah ia bisa bernapas lega. Pandangannya mulai mengabur oleh air mata, tapi cepat-cepat ia usap. Ia merasa kelakuannya beberapa bulan ke belakang benar-benar bodoh, kenapa ia harus mengejar-ngejar pria yang jelas-jelas tidak menyukainya? Kenapa kesadaran ini datang terlambat?
***
__ADS_1