
Perlahan mata Dara terbuka, ia mendapati tubuhnya terbungkus selimut di atas tempat tidur. Ia langsung terduduk tegak, seingatnya semalam ia tidur di sofa. Dara melihat ke sampingnya, Rei tidak ada. Lalu pandangannya beralih pada sofa yang semalam ia tempati, terlihat Rei sedang tertidur pulas di sana.
'Astaga, apakah pria itu memindahkanku ke sini?'
Dara turun dari tempat tidur dan menghampiri Rei. Wajah Rei terlihat polos saat tertidur seperti ini. Kata orang, kalau kau mau melihat ketampanan atau kecantikan alami seseorang tataplah saat ia tertidur. Perlahan senyuman Dara terbit, pria itu tidak terlihat galak kalau tidur bahkan cenderung lucu, seperti wajah anak kecil.
Selama lima menit tatapan Dara tidak lepas dari wajah Rei. Ia merasa aneh, kenapa ia tidak bosan melihat wajahnya? Kenapa ia merasa senang saat ditatap seperti semalam olehnya? Kenapa ia merasa nyaman tidur di kamar yang sama dengan Rei? Apakah ia sudah tidak waras?
Dara terperanjat dan langsung pergi dari samping Rei, karena tiba-tiba pria itu merubah posisi tidurnya, ia terlihat tidak nyaman tidur di sofa yang sempit. Hampir saja ia terjatuh dari sofa, tapi ia langsung terbangun.
Rei melihat Dara duduk di bibir tempat tidur.
"Oh, kau sudah bangun?"
"Kau yang memindahkanku ke sini?" tanya Dara.
"Iya. Maaf, aku takut kau terjatuh. Kau tidak boleh jatuh karena aku tidak mau anakku kenapa-napa di perutmu itu," kata Rei sambil mengucak-ngucak matanya. Dara terenyak mendengar ucapan Rei, ternyata ia tidak lupa kalau Dara sedang hamil, dan yang membuat Dara kaget adalah Rei mengkhawatirkan anak ini.
Seperti ada desiran angin yang berembus di hati Dara, rasanya sangat hangat dan nyaman. Ini aneh, kenapa Dara sangat senang dengan semua ini? Kenapa ia tidak bisa melepaskan diri dari tatapan Rei? Apakah ia sudah terpikat oleh pria itu? Apakah ia jatuh cinta pada Rei?
Dara menggelengkan kepala sambil memejamkan matanya. Ingat Dara, Rei sudah punya pacar! Dara segera pergi ke kamar mandi. Rei keheranan melihat tingkah aneh istrinya itu.
'Kenapa dia? Apakah aku mengucapkan ucapan yang salah?' batin Rei.
"Hei, tubuhmu terlalu ringan untuk orang yang sedang hamil," seru Rei.
***
Saat Rei dan Dara keluar dari kamar, mereka mendapati Amira sedang sibuk di dapur menyiapkan sarapan untuk mereka. Untung saja sekarang hari sabtu, jadi Dara libur kerja, tidak terburu-buru seperti biasa.
"Selamat pagi sayang ...," sapa Amira.
"Ma, kenapa Mama repot-repot memasak untuk kami?" tanya Dara tidak enak.
"Tidak apa-apa, Mama senang melakukannya. Sekali-kali Mama ingin membuat makanan untuk menantu Mama. Semoga kau suka ya, Rei." Rei mengerjap. Jantungnya seperti mau melonjak keluar. Rei senang luar biasa, selama ia tinggal di apartemen ini, selain ibunya tidak ada lagi yang memasak untuknya, tapi sekarang ia tidak menyangka ibu mertuanya sendiri yang memasak untuknya. Rei merasa tersanjung. Dibalik kebawelan mertuanya ternyata dia mempunyai jiwa yang keibuan, seperti ibunya. Rasanya Rei mulai menyukai mertuanya itu.
"Apapun yang Mama masak untukku pasti aku makan," kata Rei. Mertuanya tersenyum senang.
"Kalian duduklah dulu, sebentar lagi makanannya matang."
Dara bersyukur kemarin belanja bahan-bahan makanan, ia tidak mengira ibunya akan memasak di sini.
__ADS_1
Ketika suasana tenang dan hangat, tiba-tiba Amira tidak sengaja menemukan sesuatu saat dirinya sedang mencari bumbu dapur di lemari atas.
Amira terperangah kaget karena yang ia temukan adalah sekotak susu ibu hamil yang sudah terbuka dan tinggal setengah. Tempatnya di pojok seperti sengaja disembunyikan oleh Dara.
Amira menahan dirinya agar tetap tenang, ia menarik napas dan membuangnya perlahan sebelum akhirnya ia berbalik dan menanyakannya kepada Dara.
"Dara, coba jelaskan sama Mama, apa kau sudah hamil?" tanya Amira to the point. Dara dan Rei tersentak kaget, mereka terlihat ketakutan dan rasa takut itu sampai terasa ke ubun-ubun kepala.
"Aku ... sudah hamil, Ma," jawab Dara dengan kepala tertunduk.
Rei menatap istrinya yang sangat ketakutan sampai tangannya gemetar. Rei pun menggenggam tangan Dara yang gemetar, mencoba meredakan sedikit rasa takutnya. Dara menatap Rei dengan tatapan meratap minta tolong. Rei berusaha menyunggingkan senyum pada Dara.
"Sudah berapa bulan? Apakah sebelum menikah kau sudah hamil?"
Habislah sudah, Dara sudah tertangkap basah dan tidak bisa mengelak lagi.
"I__iya, Ma" kata Dara dengan suara bergetar. Amira langsung terduduk lemas di kursi meja makan.
"Maafkan kami, Ma," lirih Rei.
"Rei, apa ibumu tahu sebelum menikah Dara sudah hamil?" tanya Amira dengan suara lemah.
"Lalu siapa saja yang sudah tahu?"
"Kak Alan dan Kak Andi," jawab Dara.
Amira membenamkan wajahnya ke atas meja. Rei dan Dara membeku di kursinya, mereka sangat merasa bersalah pada orang tua. Terlebih pada Papa Dara dan ibu Rei yang tidak tahu.
Rei melihat kompor masih menyala, dengan cepat ia lari dan mematikan kompor. Amira terperanjat, ia melupakan masakannya. Setelah mematikan kompor Rei kembali ke kursinya dengan gugup.
"Baiklah, apapun yang terjadi, yang penting sekarang kalian sudah menikah. Sebenarnya Mama sempat curiga pada kalian karena memutuskan menikah dengan sangat mendadak. Mama bersyukur kalian mempertanggung jawabkan perbuatan kalian." Rei dan Dara menghela napas lega mendengar ibunya berkata seperti itu.
Sebenarnya yang membuat Amira sedih adalah, ia yang sangat menjaga pergaulan Dara dari kecil tapi malah kecolongan. Ia merasa gagal menjaga Dara.
"Mama mohon rahasiakan ini sampai akhir, jangan sampai ibumu tahu Rei. Dan Papamu juga jangan sampai tahu Dara. Mama takut mereka sulit menerimanya walaupun kalian sudah menikah. Cukup Mama, Alan dan Andi saja yang tahu."
"Baik, Ma," jawab Rei dan Dara kompak.
***
Setelah Amira pulang dengan perasaan sedih dan syok, Rei dan Dara duduk diam di ruang duduk dengan pikiran kalut. Mereka tidak menyangka ibunya akan mengetahui dengan sendirinya. Dia berpesan untuk merahasiakan ini sampai akhir dari ibu Rei dan ayah Dara.
__ADS_1
Yang membuat Dara sedih adalah, ibunya tidak berpesan untuk menjaga kesehatan atau menjaga kandungannya dengan baik. Mungkin tadi ia terlalu syok. Jika kehamilan ini diketahui ibunya saat dirinya belum menikah, mungkin saat itu juga dia akan terkena serangan jantung.
"Kau tidak ada acara ke mana-mana hari ini?" Tiba-tiba Rei bertanya.
"Tidak," jawab Dara singkat.
"Bersiap-siaplah, kita ke dokter kandungan sekarang," kata Rei sambil berdiri dan pergi ke kamarnya. Kali ini Dara mengangguk dengan rencana Rei yang tiba-tiba dan tanpa kompromi itu.
***
Menjelang siang, mereka tiba di klinik dokter kandungan yang lumayan tersohor di Jakarta. Sebelumnya Rei menyuruh Nino untuk mencari dokter kandungan terbaik di Jakarta, dan akhirnya di sinilah mereka sekarang, duduk dengan tegang di ruangan dokter kandungan setelah mengantri sedikit lama. Dokter menyuruh Dara berbaring di tempat tidur pasien untuk melakukan USG ditemani oleh Rei.
Perut Dara yang masih rata dibaluri gel yang dingin untuk mempermudah proses USG. Sonografer sudah ditempelkan di perut Dara. Dokter menyuruh Rei dan Dara memerhatikan monitor, terlihat di sana ada janin yang sudah bersemayam di rahim Dara. Besarnya sekitar 1 inci. Kata dokter, kehamilan Dara sudah memasuki minggu ke sembilan, di periode ini janin sudah mulai berkembang dengan pesat membentuk organ dalam terutama pada otaknya dan berbagai struktur penting tubuh lainnya. Dari tadi Rei ingin bertanya soal suara seperti kuda berlari dari dalam perut istrinya.
"Maaf dok, itu suara apa ya?" tanya Rei penasaran sekaligus merasa heran.
"Itu suara detak jantung bayi, menakjubkan bukan? Di perut istrimu ada kehidupan lain. Ada dua jantung di dalam tubuh istrimu," tutur dokter.
Rei sontak terdiam, ini benar-benar menakjubkan dan sulit dilukiskan oleh kata-kata. Rei kembali melihat ke monitor, ia memandang tidak percaya di sana anaknya sedang tidur dengan nyaman di rahim ibunya. Perlahan mata Rei berkaca-kaca haru, lalu menatap wajah Dara, berbagai emosi bergejolak saat menatap gadis itu.
Sebenarnya Rei ingin sekali memeluk Dara, tapi ia segan. Lalu perasaan sayang mulai tumbuh di hati Rei. Ia ingin memberi yang terbaik untuk Dara dan anak di dalam kandungannya, dan ia ingin memperlakukan Dara dengan baik mulai saat ini.
Dara merasa aneh saat ditatap oleh Rei seperti itu. Pria itu terlihat sangat senang melihat anaknya, perlahan Dara pun tersenyum pada Rei.
***
Setelah dari klinik dan mengantar Dara ke apartemen, jadwal Rei hari ini adalah latihan di studio untuk konsernya di Malaysia, tapi dari setengah jam yang lalu tidak ada yang Rei lakukan, ia hanya duduk diam dengan pikiran penuh. Ia memikirkan kejadian tadi malam dengan Dara. Saat ciuman satu detik, saat mereka sama-sama gugup setelah itu, saat ia menggendong Dara dari sofa ke tempat tidur, dan saat menatap wajah Dara di gendongannya, menyentuh wajahnya, bibirnya, rambutnya, semua itu membuat ada perasaan cinta yang membuncah dari dadanya dan tidak bisa ia tahan.
Perasaan cinta itu seperti hembusan angin. Kau tidak bisa menahan laju angin yang berhembus, bukan? Yang bisa kau lakukan hanya merasakan hembusan angin itu.
Yang terakhir, saat Rei menatap rupa anaknya di layar monitor dan mendengar detak jantungnya, semua itu sangat menakjubkan. Rei sangat senang hingga rasanya mau meledak dan membuat dirinya ingin sekali memeluk Dara saat itu juga.
Bukankah hidupnya sangat indah? Ada istri yang cantik, anak yang siap lahir, dan karirnya yang semakin cemerlang, tapi kenapa ia tidak merasakan keindahan itu? Seperti ada sesuatu yang selalu menganjal dan menghalanginya untuk merasakan keindahan semua itu.
Sesuatu yang menghalangi dan mengganjal itu adalah Nadine. Ia rasa harus menyelesaikan masalah ini. Tapi entah kenapa lidahnya selalu kelu saat akan mengungkapkan semuanya pada Nadine, sebentar lagi Nadine akan selesai kuliah dan kembali ke Indonesia. Setelah kembali, katanya ia ingin melaksanakan rencana awal saat mereka baru jadian yaitu menjalani hubungan yang serius lalu menikah.
Rei membuka dompetnya dan menatap foto Nadine di sana. 'Maafkan aku Nad, aku harus melupakanmu mulai sekarang, saat kau sudah di sini aku akan menjelaskan semuanya, apapun reaksimu nanti, aku akan menerimanya, karena aku akan memilih istri dan anakku, dan aku harap kau hanya akan menyalahkanku tidak dengan Dara.'
Rei melepas foto Nadine dari dompetnya dan membuangnya ke tempat sampah.
***
__ADS_1