Menikah Tanpa Pacaran

Menikah Tanpa Pacaran
Part 9


__ADS_3

Dara memasuki kantornya seperti tidak memijak bumi. Hari ini ia memutuskan akan bicara pada atasannya tentang kabar pernikahannya. Entahlah, ia tidak tahu bagaimana respon teman-temannya kalau tahu hal ini, karena yang mereka tahu Dara tidak punya pacar tapi tahu-tahu harus menikah. Apalagi kalau mereka tahu Dara akan menikah dengan siapa. Ia yakin seisi kantornya akan gempar.


Namun, yang ia khawatirkan sebenarnya adalah tanggapan Joseph. Bagaimana kalau pria itu tahu? Karena akhir-akhir ini Josephlah yang terkesan mengejar-ngejarnya, bahkan pria itu sempat menyatakan cinta walaupun tidak langsung. Dara benar-benar dibuat gemas, kenapa tidak dari dulu ia melakukan hal itu? Sekarang walaupun Joseph menyukainya percuma saja, karena Dara akan menikah dengan orang lain dan akan segera punya anak.


"Hei, pagi-pagi sudah melamun. Apa kau sakit?" Dara terlonjak tiba-tiba Nia menepuknya dari belakang.


"Ah, kau ini bikin kaget saja. Eh, ngomong-ngomong Bu Mulyani sudah datang?"


"Belum, kenapa memangnya?" Tangan Dara memainkan pulpen, ia benar-benar gugup hahkan untuk bicara pada Nia.


"Hei, kenapa? Kok, diam?"


"Nia, aku ... aku akan menikah bulan ini. Dan hari ini aku mau konfrensi pers jam dua siang." Nia melotot kaget dan hampir saja teriak, tapi ia tahan dengan kedua tangannya. Nia menarik kursi dan duduk di depan Dara.


"Rei sudah memutuskan bertanggung jawab? Kapan dia bicara pada orang tuamu?" Nia bertanya dengan suara pelan.


"Semalam. Nia, aku benar-benar stres dan tidak tahu bagaimana dengan masa depanku. Rei yang bilang sendiri pada orang tuaku akan menikahiku bulan ini. Tentu saja kami tidak memberi tahu alasan sebenarnya kenapa kami harus menikah, Rei cuma bilang dia sangat mencintaiku dan ingin menikahiku sebelum konsernya di Malaysia. Kau tahu? Reindra benar-benar pintar berakting."


"Tentu saja, kalau dia payah berakting, dia tidak akan mendapatkan penghargaan sebagai aktor pendatang baru terbaik," sahut Nia sambil menepuk paha Dara.


"Kau benar. Eh, itu Bu Mulyani. Sebentar ya, aku akan ke ruangannya dulu."


Dengan cepat Dara bangkit dari duduknya, lalu mengikuti Bu Mulyani ke ruangannya. Nia geleng-geleng kepala sambil menatap punggung Dara yang menjauh. Nia prihatin sekaligus takjub pada sahabatnya itu. Dara bisa menghadapi cobaan yang menerpanya, tapi Nia juga berpikir Dara wanita yang paling beruntung bisa menikah dengan pria idaman nomor satu seantero negeri ini.


🌷🌷🌷


Dara mengetuk pintu ruangan Bu Mulyani yang terbuka.


"Masuk!" seru Bu Mulyani yang tengah menyimpan tasnya ke meja. Dengan enggan Dara memasuki ruangan Head Teller itu.


Bu Mulyani mengangkat wajahnya. "Oh Dara, ada apa?" tanya Head Teller itu sambil tersenyum.


"Maaf Bu, bisa minta waktunya sebentar? Ada yang mau saya bicarakan."


"Baiklah, ayo duduk!"


Dara menarik kursi di depan meja Bu Mulyani. ia berdeham masih tidak berani menatap wajah atasannya itu.


"Ada apa Dara? Apakah ada hal penting?"


"Iya Bu," jawab Dara masih gugup. Dara berdeham lagi. Sedangkan Bu Mulyani menunggu dengan sabar, membiarkan Dara mengatasi dulu kegugupannya.


"Mmm Bu, bulan ini rencananya aku akan menikah. Dan aku akan minta cuti."


Wajah Bu Mulyani langsung merekah senang. "Wah, itu kabar bagus. Tanggal berapa kau akan menikah?" Dara agak bingung menjawab pertanyaan itu karena Rei belum memberi tahu tanggal yang pasti.


"Belum tahu, Bu. Belum ada kepastiannya tanggal berapa. Tapi yang pasti bulan ini," jawab Dara.


"Baiklah, tapi kau harus mengajukan permohonan cutinya jangan mendadak, harus seminggu sebelumnya," terang Bu Mulyani.


Dara mengangguk. "Iya, aku tahu, Bu. Dan juga hari ini aku minta izin bekerja setengah hari. Karena ...." Ucapan Dara terputus.


Kening Bu Mulyani berkerut karena melihat Dara menghentikan ucapannya dan terlihat bingung.


"Kenapa, Dara?"


"Karena aku akan mengadakan konfrensi pers," ucap Dara dengan suara yang semakin pelan, tapi Bu Mulyani bisa mendengarnya.


"Apa? Konfrensi pers?" Bu Mulyani kaget sekaligus heran.


"I ... iya, Bu. Karena aku akan menikah dengan penyanyi."


Bu Mulyani tertawa kecil dengan raut wajah takjub. "Dara kau gadis yang penuh dengan kejutan. Aku tahu kau ini gadis yang paling tertutup dibanding dengan yang lain. Yang aku tahu kau juga belum punya pacar, tapi tahu-tahu akan menikah dengan seorang penyanyi pula, dan mau konfrensi pers segala. Wah, kau benar-benar mengagumkan. Tapi, aku ikut senang. Baiklah kau boleh pulang jam dua belas," tutur Bu Mulyani.


Dara tersenyum. "Terima kasih, Bu," sahut Dara, lalu berdiri. "Baiklah, aku permisi dulu kalau begitu," kata Dara lalu pergi meninggalkan ruangan, tapi saat Dara di ambang pintu, Bu Mulyani kembali memanggilnya.


"Eh Dara sebentar, kalau boleh tahu, kau akan menikah dengan siapa? Aku tahu beberapa penyanyi terkenal."


Dara mengerjap, bergeming sesaat, ia ragu untuk menjawab.


"Reindra, Bu." Namun akhirnya Dara menjawab juga. Dara sedikit membungkukkan badannya sebelum benar-benar meninggalkan ruangan itu. Sedangkan Bu Mulyani menganga tidak percaya. Bagaimana ia tidak tahu dengan artis itu? Anak perempuannya yang paling besar sangat mengidolakan penyanyi itu, di kamarnya pun penuh dengan foto Reindra. Bahkan beberapa waktu lalu putrinya sampai merengek-rengek minta dibelikan tiket konser Rei di Jakarta. Dan tahu-tahu sekarang salah satu anak buahnya akan menikah dengan dia. Ini benar-benar mengejutkan.


🌷🌷🌷


Desas-desus tentang Dara akan menikah langsung tersebar ke seantero kantor, dan akhirnya kabar itu pun sampai ke telinga Joseph. Pria flamboyan itu tidak percaya begitu saja. Menurutnya itu tidak mungkin. Karena yang ia tahu Dara tidak punya pacar dan hanya menyukai dirinya.


Diam-diam Joseph memerhatikan Dara yang tengah sibuk melayani nasabah. Kenapa dulu ia begitu bodoh mengabaikan gadis secantik Dara? Kenapa kesadaran ini datang terlambat? Apakah Dara sengaja menciptakan rumor itu untuk membuatnya cemburu? Joseph meraupkan tangan ke muka. Ia benar-benar menyesal. Sungguh.


'Semoga masih ada kesempatan,' desisnya dalam hati.

__ADS_1


🌷🌷🌷


Sudah setengah jam Nino menunggu Dara dalam mobil tepat di pelataran parkir bank tempat Dara bekerja. Tadi pagi setelah Dara bicara pada Bu Mulyani, ia menghubungi Rei akan pulang jam dua belas, dan Rei mengutus Nino untuk menjemputnya.


Saat Nino tengah asik mendengarkan musik dengan hedset, tiba-tiba pintu kaca mobilnya ada yang mengetuk. Ternyata Security.


Iman merasa heran dengan mobil mewah yang datang dan parkir di sana, tapi orang di mobil itu tidak keluar. Merasa curiga akhirnya Security itu mengecek mobil yang terparkir itu.


Nino terkejut, buru-buru ia mencopot hedset lalu membuka pintu mobil dan keluar.


"Iya, Pak?" sahut Nino.


"Maaf, saya perhatikan anda sudah setengah jam parkir di sini tapi tidak ada yang anda lakukan. Bukankah anda mau mengurus sesuatu di bank ini?"


"Oh, anu ... saya ... saya ke sini untuk ...." Nino berkata dengan gugup karena ia melihat wajah Security itu terlihat menyeramkan dan penuh dengan kecurigaan padanya. Jangan-jangan Security itu mencurigai dirinya akan menyimpan bom atau mungkin akan merampok bank itu?


"Pak Iman ...." Tiba-tiba ada suara perempuan menegur di balik punggung Security itu. Iman berbalik dan tahu-tahu ada Dara di belakangnya.


"Eh, Mbak Dara ...." Iman nyengir.


"Dia ke sini untuk menjemputku, Pak," ucap Dara, lalu tersenyum ramah pada Iman.


"Oh begitu. Tapi ngomong-ngomong, Mbak mau pulang sekarang?" tanya Iman karena melihat Dara sudah menenteng tas.


"Iya, Pak. Aku izin bekerja setengah hari."


"Oh, apakah kau merasa sakit lagi?"


"Ah, tidak. Mau ada urusan penting."


"Oh begitu. Baiklah. Hati-hati kalau begitu."


"Iya, permisi, Pak," sahut Dara lalu masuk ke mobil, disusul Nino masuk lewat pintu kemudi.


🌷🌷🌷


"Wah, tadi aku benar-benar takut pada Satpam itu," ucap Nino sambil menyetir. Dara tersenyum. "Pak Iman memang begitu. Semua orang yang bekerja di sana tahu itu." Nino mengangguk-ngangguk.


"Ngomong-ngomong, apa kau mau pulang dulu untuk ganti baju? Kau tidak mungkin konfrensi pers pakai seragam itu, bukan?"


"Tidak. Aku tidak akan pulang dulu takut tidak keburu, sekarang juga sudah mau jam satu siang, kan? Apakah ada yang salah dengan seragamku? Lagi pula, aku tidak punya baju bagus."


"Ah, tidak. Tidak ada yang salah dengan seragammu. Tapi aku takut Rei tidak suka kau memakai baju itu di konfrensi pers nanti."


"Biarkan saja kalau dia tidak suka," ucap Dara sebal.


Mulut Nino langsung terkatup rapat. 'Hhh pasangan calon pengantin ini sungguh sama-sama keras kepala. Entahlah bagaimana nanti kedepannya.'


🌷🌷🌷


Dara tiba di kantor managemen Rei, tempat akan dilaksanakannya konfrensi pers. Gedung itu dua lantai bergaya minimalis dengan cat berwarna orange cerah. Di salah satu dindingnya yang menonjol ke depan ada tulisan cetak miring dan tebal, Management Robby Entertainment. Pelataran parkirnya cukup luas dan ada taman kecil sederhana di tengahnya.


Di lobi gedung itu, ada meja resepsionis dan beberapa sofa minimalis di sudut menghadap sebuah TV plasma 32 inc yang menempel di dinding.


"Ayo masuklah Dara!" sahut Nino karena langkah Dara tiba-tiba terhenti di ambang pintu. Meja resepsionis itu dijaga oleh seorang perempuan muda berambut cokelat yang tengah asik berfoto selfie. Resepsionis itu menghentikan aktifitasnya ketika melihat Nino dan Dara, lalu tatapan perempuan itu langsung beralih pada Dara.


"Apakah wanita itu calon istri Reindra? Ya ampun, dia bahkan terlihat biasa-biasa saja. Masih cantikan aku," ucap resepsionis itu dalam hati.


Memang sejak merebak kabar Rei akan menikah, perempuan-perempuan di kantornya sangat penasaran, wanita seperti apa yang akan menikahi Rei. Penuh dengan iri dengki mereka berharap wanita yang akan menikah dengan pria idaman mereka tidak lebih cantik.


"Halo Sheryl ...," sapa Nino pada resepsionis itu. Sheryl hanya tersenyum kaku pada mereka sambil terus menatap Dara sampai menghilang dari pandangannya.


Nino dan Dara menuju kantor Pak Robi di lantai dua, tempat Rei berada sekarang.


Sekarang mereka sudah berdiri di depan pintu ruangan, Nino mengetuk pintu sebelum masuk.


"Ayo masuk Dara," ajak Nino setelah menekan gagang pintu dan terbuka.


Dara langsung melihat Rei tengah duduk di sofa, dan ada pria berdasi berumur empat puluh tahunan duduk di balik meja kaca yang besar.


Pria berdasi itu langsung berdiri menyambut Dara, tapi Rei tetap pada posisi, ia malah mengeluarkan ponsel dan pura-pura sibuk dengan ponselnya.


Dara masuk dengan enggan, lalu ia berusaha menyunggingkan senyum ramahnya pada pria berdasi itu.


"Halo, kau Sandara? Kenalkan saya Robi, ya bisa dibilang saya bosnya Rei," sahut Pak Robi dengan ramah sambil mengulurkan tangan.


"Oh, halo. Dara," ucapnya sambil menjabat tangan Pak Robi.


"Silahkan duduk!"

__ADS_1


Dara duduk di samping Rei yang masih pura-pura asik dengan ponselnya.


"Kudengar kau putrinya Professor Salim?"


"Iya, bagaimana Anda tahu ayahku?"


"Tentu saja, karena aku dan Nino adalah lulusan dari Universitas tempat ayahmu berdinas. Beliau adalah idolaku. Aku sangat terkejut ketika Nino memberitahuku tentangmu. Sampai sekarang aku masih tidak percaya Rei akan menjadi menantu Professor Salim."


Dara hanya bisa menanggapi ucapan Pak Robi dengan senyum hambar. Diam-diam Rei melirik Dara, lalu mendengkus.


"Dara, apakah kau sudah siap?" tanya Pak Robi.


"Sudah," jawab Dara singkat. Rei tiba-tiba berdeham dan merubah posisi duduknya menghadap Dara.


"Kau sudah siap? Dengan pakaian seperti itu? Astaga, kau mau mempermalukan aku di depan semua wartawan?" Rei berkata dengan sinis.


Tenggorokan Nino tercekat, ia sudah tahu Rei akan berkata seperti itu. Dara menatap Rei dengan tatapan penuh kebencian.


"Kenapa, kau tidak suka? Kau tetap akan berpakaian seperti itu?" lanjut Rei. Mulut Dara terkatup rapat, walau sebenarnya hatinya panas ingin membalas ucapan menyebalkan itu.


"Rei, jangan kasar seperti itu kepada wanita!" seru Pak Robi mengingatkan, walaupun ia tahu Rei akan mengabaikannya.


"Nino ada berapa waktu lagi sebelum acara dimulai?" tanya Rei. Nino melihat arlojinya.


"Satu jam," jawab Nino.


"Tolong panggil Mbak Agnes ke sini!" ucap Rei. Nino malah tetap diam, ia sedikit bingung, antara menuruti Rei atau menghargai Dara yang tetap ingin memakai baju itu.


"Kau tidak mendengarku? Tolong panggilkan Mbak Agnes!" seru Rei kali ini penuh dengan penekanan. Agnes adalah penata gaya dan make up artis di Managemen Robby Entertainment.


"Baiklah Rei. Aku ke bawah sekarang, jangan marah-marah seperti itu dong!" ucap Nino kesal sambil berlalu ke luar ruangan. Dara menghela napas mencoba meredakan kekesalan di dadanya.


Selang lima menit, Nino kembali dengan Agnes. Rei berdiri menghampiri Agnes lalu berkata.


"Tolong urus dia. Jadikan dia wanita yang pantas berdampingan dengan Reindra," ucap Rei sambil melirik Dara, lalu dengan gaya angkuh, ia pergi ke luar ruangan. Setelah Rei pergi, barulah Dara bisa bernapas lega.


"Maaf ya Dara, Rei memang seperti itu. Menyebalkan," kata Nino sambil tersenyum berusaha menenangkan.


"Tidak apa-apa," sahut Dara.


"Mari ikut saya," ajak Agnes sambil tersenyum ramah pada Dara. Dara mengangguk lalu mengikuti Agnes.


"Mbak Agnes, buat Dara berubah seperti princess," seru Nino sebelum Dara dan Agnes menghilang di balik pintu. Agnes mengacungkan ibu jarinya pada Nino.


🌷🌷🌷


Dengan segenap kemampuannya, Agnes pun memake over Dara. Sebenarnya Dara selalu memakai makeup tipis kalau pergi ke kantor, tapi kata Agnes itu hanya makeup standar saja. Sekarang Agnes menerapkan makeup yang natural namun terkesan mewah, ia menonjolkan riasan pada bagian mata Dara, karena menurutnya mata Dara sangat bagus. Dara memiliki mata yang asimetris, jadi Agnes menggunakan makeup mata smookey eyes, menurutnya itu akan lebih cocok.


Rambut Dara yang panjang sebahu dibiarkan terurai, tapi dibuat sedikit bergelombang di bagian bawah.


Makeup sudah selesai dan hasilnya sangat bagus. Dara benar-benar berbeda dari sebelumnya.


"Perfect!" seru Agnes sambil tersenyum di kaca, ia benar-benar puas dengan pekerjaannya, dan ia selalu yakin perempuan mana pun akan terlihat berbeda dengan makeup, terlebih memang Dara sudah cantik dari sananya. Sekarang dirinya yakin Rei akan pangling kalau melihat Dara.


Tak lama kemudian asisten Agnes datang membawa baju dari butik sahabat Agnes. Dengan melihat sepintas saja, Agnes sudah tahu ukuran baju Dara. kadang ada segelintir orang yang bisa tahu ukuran baju seseorang cuma dari melirik orang itu sedikit saja.


Agnes mengangkat dress yang masih dibungkus plastik. Ia tersenyum, dress ini pasti akan cocok sekali dengan Dara.


"Dara pakailah baju ini!" perintah Agnes. Dara mengangguk, berdiri menerima dress itu, lalu masuk ke ruang ganti.


Agnes tidak sabar melihat mahakaryanya kali ini, dan ia tidak pernah segugup itu. Selang sepuluh menit Dara keluar dari ruang ganti.


Agnes dan asistennya sempat menahan napas beberapa detik ketika melihat Dara berdiri di depan mereka.


"Sempurna!" seru asisten Agnes.


Dress hitam selutut dengan lengan terbuka terlihat pas sekali dipakai Dara. Kulit Dara yang putih terlihat bersinar dengan dress itu. Dengan sentuhan kristal Swarovski di bagian leher sampai dada membuat dress itu terkesan mewah namun tidak berlebihan.


"Apakah ini cocok denganku?" tanya Dara malu. Agnes mengangguk. Ia berpikir bukan Dara yang beruntung mendapatkan Rei, tapi Rei yang beruntung mendapatkan perempuan secantik Dara. Ini hanya perlu sedikit polesan saja, Dara langsung menjelma seperti bidadari.


"Mbak Agnes, apa sudah selesai? Konfrensi pers akan dimulai." Tiba-tiba ada Nino menyundulkan kepalanya ke ruangan Agnes.


"Sudah."


Nino beralih menatap Dara. "Waaah siapa ini? Astaga, kau benar-benar berbeda. Sungguh kau sangat cantik." Nino terperangah takjub, pria itu benar-benar terpesona.


Dara tersipu malu. "Hei, jangan berlebihan seperti itu. Aku biasa saja tidak cantik."


"Hei, aku serius, kau benar-benar cantik. Ya sudahlah, ayo ikut aku, Rei sudah menunggu." Nino pergi keluar ruangan diikuti Dara. Dara sedikit membungkukan badannya pada Agnes sebelum meninggalkan ruangan.

__ADS_1


🌷🌷🌷


__ADS_2