
Semua persiapan pernikahan sudah hampir selesai, gedung, catering, gaun pernikahan, undangan pun sudah disebar. Dan konfrensi pers ke dua juga sudah dilakukan untuk mengumumkan secara resmi tanggal berapa pernikahan itu digelar, termasuk menghadiri acara talk show yang disiarkan live khusus untuk membahas tentang pernikahan mereka. Tinggal melakukan meeting final dengan WO dan semua yang terlibat mengurus pernikahan ini.
Kabar pernikahan Rei adalah yang terspektakuler sepanjang tahun ini.
Sudah beberapa kali juga para wartawan itu datang ke rumah Dara dan mereka berhasil mewawancarai Andi. Sejauh ini berita pernikahan ini sangat positif, sembilan puluh persen sangat mendukung pernikahan Rei, dan mereka juga menilai Rei dan Dara adalah pasangan yang sangat serasi, apalagi setelah foto preweding mereka bocor ke media online.
Diam-diam Nia menatap sahabatnya dengan takjub hingga matanya berkaca-kaca. Ia sama sekali tidak menyangka perempuan yang selalu sial dalam asmara itu akan menikah duluan dengan artis papan atas pula. Ia teringat bagaiamana dulu di Bali setelah tragedi malam itu, Dara menangis hebat, dan saat ia mengetahui dirinya hamil, gadis itu seperti ingin mengakhiri hidup, tapi ia berhasil melewati badai itu. Ini seperti mimpi, tapi kanyataan.
Tiba-tiba Nia memeluk Dara yang tengah larut dengan pekerjaan rutinnya setelah bank tutup, Dara terhenyak kaget dengan sikap sahabatnya itu.
"Hei, kau kenapa?"
"Ra, kau tahu siapa orang yang sangat bahagia dengan kabar pernikahan ini? Itu aku, Ra. Aku tahu bagaimana kau sangat terpuruk oleh masalah ini, dan aku juga tahu bagaimana kau berjuang untuk menyelesaikannya, dan akhirnya kau berhasil. Kau tahu? Rasanya aku bangga bisa menjadi temanmu, menjadi tempat berkeluh kesah saat kau tidak bisa mencurahkannya pada keluargamu."
Dara tersenyum getir mendengar ucapan Nia, setidaknya pernikahan ini bisa membuat sahabatnya bahagia. Nia tidak tahu bagaimana sebenarnya yang Dara rasakan. Setiap Dara memikirkannya, saat itu rasanya ingin mati. Tapi ia memikirkan banyak hal. Biarlah ia yang jadi korban asalkan anak ini terlahir sebagai anak yang sah, dan nama baik keluarganya akan terjaga.
"Aku senang kalau kau bahagia," ucap Dara. Nia melepaskan pelukannya dan menyeret kursi lalu duduk di samping Dara. Ia masih menangkap kesedihan di nada bicara gadis itu.
"Ra, aku mohon. Kau jangan pikirkan hal yang buruk kedepannya. Nasib orang siapa yang tahu, kau tidak tahu bagaimana nanti, bukan?"
Kening Dara berkerut. "Maksudmu?" tanyanya.
Nia menghela napas panjang. "Setelah kalian hidup bersama dan anak itu lahir, mungkin saja rasa cinta di antara kalian akan muncul, dan Rei tidak akan menceraikanmu."
Dara menggeleng pelan. "Itu tidak mungkin. Aku tidak tahu dengan Rei, tapi rasanya aku tidak mungkin mencintai pria seperti dia. Reindra itu sangat menyebalkan, kau tahu? Orang-orang yang ngefans padanya benar-benar bodoh dan buta. Hidup dengannya itu sama saja dengan membunuh dirimu sendiri secara perlahan."
Nia mengambil ponselnya lalu memperlihatkan foto preweding Dara dan Rei yang ada di media online.
"Kau lihat ini! Komentar netizen tentang kalian tidak ada yang jelek. Dan lihatlah bagaimana bahagianya ekspresi Rei di foto ini. Orang buta juga bisa lihat kalau tatapan Rei itu sangat mencintaimu. Jujur, aku sendiri sangat kaget ketika pertama kali melihat foto ini."
"Itu tidak benar. Kau tidak tahu bagaimana pria itu memperlakukan aku sangat buruk saat itu, dan satu lagi yang penting, di hati Rei sudah ada seseorang, dan di hatiku juga masih ada seseorang yang aku suka. Rasanya aku mau mati kalau teringat hal itu. Pernikahan ini sudah menyakiti hati empat orang. Aku, Rei, Nadine, dan juga Joseph."
Mata Nia terbelalak. "Joseph?" tanyanya tidak percaya.
"Ya, Joseph. Dia mencintaiku," ucap Dara lugas.
"Apa kau bercanda?"
"Tidak. Aku tidak bercanda. Beberapa hari yang lalu Joseph mengutarakannya padaku, tapi aku menolaknya. Kau tahu rasanya saat aku menolaknya? Itu rasanya sakit sekali. Sakit sampai berkali-kali lipat." Nia melihat mata Dara berkaca-kaca. Ia bisa melihat hancurnya hati Dara di sana.
Nia meremas tangan Dara. "Kau percaya takdir Tuhan? Tuhan tidak akan serta-merta memberi cobaan diluar batas kemampuan umatnya. Dan sebaik-baik rencana di bumi adalah rencanaNya. Aku bukan bermaksud menceramahimu, Ra. Tapi, aku yakin jalan yang sekarang kau lalui adalah yang terbaik. Tuhan punya rencana indah di balik semua ini. Kau harus percaya itu."
Dara mendengkus. "Entahlah. Kau bisa bicara seperti itu karena kau tidak berada di posisiku sekarang. Setiap aku melihat Joseph, hatiku sedih, sakit! Sedangkan setiap aku melihat Reindra aku muak! Aku benar-benar benci padanya. Bagaimana mungkin rasa benci itu bisa berubah menjadi cinta? Aku tidak percaya pada teori murahan itu. Yang jelas sekarang, sebentar lagi aku akan menikah dan harus mempersiapkan diri menjadi seorang janda dengan satu anak. Kau tidak akan paham dan mengerti dengan hal itu, Nia."
__ADS_1
Nia menghela napas frustasi. Namun, ia yakin dengan apa yang dilihatnya pada foto preweding itu. Ini hanya soal waktu saja.
***
Benar apa kata pepatah, penyesalan itu tidak pernah datang di awal. Sampai saat ini Joseph belum mengerti kenapa perasaan ini datang terlambat. Ketika dalam sekejap Dara berpaling darinya dan akan menikah pula. Semuanya sangat tiba-tiba dan dirinya belum sempat mempersiapkan diri membuat tameng pertahanan agar hatinya tidak terluka. Seperti lilin yang tiba-tiba padam dan dunia menjadi gelap, Joseph kehilangan senyum indah yang selama ini ia lihat hanya terarah kepadanya. Ini benar-benar menyakitkan dibanding ketika mendengar Naila--gadis yang ia kejar--sudah bertunangan. Bahkan kata maaf saja sudah tidak berlaku dan tidak bisa merubah keadaan. Kenapa selama ini ia begitu bodoh? Kenapa selama ini ia tidak bisa melihat keindahan yang jelas-jelas ada di depan matanya? Kalau saja ia mau sedikit menatapnya, keindahan itu bisa menjadi miliknya. Utuh.
Sekarang Joseph hanya bisa menatap Dara dari jauh, dan melihat senyuman itu tertuju pada orang lain.
***
Gadis itu melepas kaca mata hitamnya ketika sampai di apartemen, bulan Januari di Australia adalah puncak musim panas. Setiap hari gadis itu hanya berkutat dengan mata kuliah, tugas, dan hal-hal yang menyangkut dengan perkuliahannya, liburan kemarin pun ia tidak bisa pulang dan membatalkan janjinya dengan Rei di Bali karena ia mengikuti semester pendek. Satu tujuannya, yaitu ia ingin cepat-cepat lulus dan kembali ke Indonesia. Ke sisi Rei. Bahkan dia tidak sempat membuka-buka internet dan membaca berita tentang kekasihnya yang akan segera menikah.
"Nadine, kau menjatuhkan ini!" seru Enda sambil memungut balpoint yang tidak sengaja terjatuh, lalu ia berjalan menghampiri Nadine.
"Oh, terima kasih," sahut Nadine sambil menerima balpoint itu. Tiba-tiba pria hitam manis itu menatap Nadine dengan tatapan aneh. "Kenapa? Ada sesuatu di wajahku?" tanya Nadine pada Enda sambil memegang kedua pipinya. Enda tersenyum haru pada Nadine.
"Tidak, wajahmu baik-baik saja. Kau tahu, wajahmu itu dari dulu sudah cantik. Walaupun di wajahmu ada kotoran yang tidak sengaja menempel, kau masih tetap cantik," kata Enda. Nadine tersenyum malu. Pria ini memang pintar merayu.
"Selamat, kau sudah mau lulus. Kita berangkat dari Indonesia dan masuk ke Universitas Melbourne sama-sama, tapi, kau akan pulang duluan. Kau benar-benar licik Nadine, kau berhasil menyelesaikan S1 tiga setengah tahun. Kau tahu? Aku akan kesepian kalau kau tidak ada, karena kau satu-satunya teman baikku."
Nadine tertawa kecil. "Enda, kau berlebihan. Tenang saja, aku masih beberapa bulan lagi di sini. Jangan bersikap dramatis begitu, karena itu bukan dirimu."
"Kau benar. Entahlah, walaupun kau beberapa bulan lagi di sini, tapi dari sekarang aku merasa sudah kehilanganmu," kata Enda sedih.
Tiga tahun mereka selalu bersama. Ketika Nadine sakit terserang flu karena tidak terbiasa dengan suhu dingin, atau ketika bersenang-senang merayakan nilai ujian yang memuaskan Enda selalu di sampingnya. Bahkan ketika Nadine menangis karena merindukan Rei, dengan sabar Enda mendengarkan curahan hati Nadine, walaupun Enda sedikit tidak nyaman oleh hal itu, karena tanpa Nadine sadari sebenarnya Enda menyukainya.
Satu-satunya orang yang mengharapkan Nadine dan Rei putus adalah Enda.
"Lalu apa yang harus aku lakukan agar kau tidak merasa kehilanganku?"
"Jangan lupakan aku sebagai sahabat terbaikmu, bahkan ketika kau sudah di tanah air dan kita bertemu kembali di sana."
Senyum Nadine merekah. "Itu pasti," katanya.
Entah sampai kapan Nadine tidak mengetahui kabar menggemparkan di tanah air, teman-temannya pun kompak tidak memberitahunya karena permintaan Rei. Jika dia tahu, apakah akan mundur atau terus maju memperjuangkan cintanya?
***
"Ra, tadi pagi ada wartawan yang datang ke sini," ucap Andi.
"Oh, ya?"
"Mmm." Andi mengangguk.
__ADS_1
"Tanya apa saja mereka?"
"Semuanya tentangmu dan keluarga kita."
"Kakak jawab semuanya?"
"Tidak semuanya. Kau tahu? Teman-temanku di kantor kaget aku akan memiliki adik ipar Reindra. Kakak tidak tahu Rei itu sangat populer ternyata. Bahkan atasanku ikut-ikutan ingin minta tanda tangan dia." Andi tertawa kecil. "Kita malah tidak tahu dia siapa. Lucu juga."
Dara bangun, duduk di tempat tidur menghadap Andi. "Kak, aku takut," ucap Dara dengan wajah sendu.
"Takut kenapa?" Andi menautkan kedua alis tebalnya.
"Semuanya." Lirih Dara berkata.
"Aku takut, Papa sama Mama tau aku hamil. Aku takut menikah dengan pria itu. Aku takut dan belum siap memiliki bayi. Aku ... takut dengan hidupku sendiri."
Andi menghela napas, lalu mengusap kepala Dara dengan sayang. "Jangan takut. Aku yakin kau akan baik-baik saja. Rei orang yang baik. Kalau dia tidak baik, dia tidak mungkin mau bertanggung jawab dan mengambil semua resiko yang tidak main-main. Bahkan aku dengar dia rela melepaskan pacarnya."
"Entahlah ... itu juga yang mengganjal di pikiranku, Kak. Bagaimana kalau pacarnya itu tidak terima lalu dia berontak? Hhh, aku gak siap menghadapi semua itu."
Andi kembali meraih kepala Dara. "Hei, berpikirlah positif. Aku yakin Rei juga sudah memikirkan hal itu. Dia bukan orang bodoh."
"Hhhh, kenapa semuanya yakin kepadanya?Tadi pagi Nia dan sekarang Kakak. Aku tidak suka mendengarnya."
Andi tertawa. "Oh iya, Ra. Ngomong-ngomong aku tidak pernah melihat ponselmu lagi. Kau ganti ponsel ya? Nomormu juga baru."
Dara terenyak. Ia teringat ponsel jadul itu ada di tangan Rei. 'Aku harus mengambilnya."
"Iya, aku mengganti ponselku, Kak. Aku kehilangannya waktu di Bali."
"Yah, sayang sekali. Itukan hadiah dariku."
"Maafkan aku, Kak, aku janji akan menemukannya lagi."
"Wah, gimana caranya?"
"Ada deh."
"Baiklah. Ya sudah, tidurlah, besok hari terakhir kau kerja sebelum cuti, bukan?" Dara mengangguk. Andi keluar kamar.
Sekarang di rumah Dara sudah mulai mempersiapkan untuk acara pengajian dan siraman, ibunya lah yang sibuk mengurus semuanya. Sebagian keluarga dari luar kota pun sudah hadir di Jakarta.
Dara memandang wajahnya sendiri di cermin. 'Apakah mimpi? Jika ini mimpi, tolong segera bangunkan aku Tuhan. Namun, jika ini nyata, tolong kuatkan aku.'
__ADS_1
***