
Pagi ini Dara berusaha memasak untuk sarapan. Ia memasak sup jamur, telur dadar, dan tumis daging ayam. Rasanya lumayan, masih bisa dimakan, karena masakannya sudah disantap duluan oleh Iban dan Agus, mereka bilang rasanya enak. Dengan susah payah ia melihat resep dan cara memasak lewat youtube, karena memang inilah pertama kalinya ia memasak. Selama ini yang ia bisa hanya memasak mie instan saja.
Sebenarnya pagi ini Dara memasak untuk menyenangkan suaminya. Ia tahu, setelah mangaku pada Rei bahwa tidak bisa masak, ia terlihat kecewa.
Mulai saat ini, Dara akan berusaha menyenangkan pria itu dan bersikap menjadi seorang istri yang seharusnya.
Dara menunggu Rei bangun dengan tegang, sesekali melirik jam dinding, sekarang sudah hampir jam sepuluh Rei belum juga bangun. Kenapa pria itu selalu bangun siang?
Tak lama kemudian Rei keluar dari kamarnya terlihat rapi seperti mau pergi. Dara langsung berdiri saat Rei keluar.
"Kau mau pergi?" seru Dara.
"Mmm." Rei mengangguk sambil mengambil sepatunya.
"Tidak sarapan dulu?" tanya Dara.
"Aku tidak pernah sarapan," ucapnya acuh sambil memakai sepatu. Wajah Dara mendung seketika.
"Oh, begitu." Rei menangkap ada nada sedih dalam suara gadis itu, tapi Rei mengabaikannya.
"Aku pergi dulu," ucap Rei lalu melangkah pergi ke luar. Di balik pintu, Rei menghela napas panjang. Telepon dari Nadine pagi ini membuatnya merasa kacau, ia yakin sikapnya tadi sudah membuat Dara sedih. Iban menyusul Rei keluar, pria bertubuh mungil itu terkejut bosnya masih berdiri di balik pintu.
"Bos?" seru Iban. Rei tersentak dan menoleh.
"Ban, hari ini kau di rumah saja, aku akan ke tempat Nino lalu ke studio."
"Bos, kau mau langsung pergi? Tapi, Nyonya dari pagi sudah masak untuk sarapanmu," ujar Iban.
Rei mengerjap. "Apa, masak?" Iban mengangguk. Rei menelan saliva merasa menyesal, sekarang ia mengerti kenapa Dara terlihat sedih. Gadis itu tidak bisa masak, tapi ia berusaha memasak untuknya, dada Rei terasa sesak dan berbagai emosi langsung bergejolak.
Rei kembali ke dalam mencari Dara, ia menemukan Dara di dapur. Terlihat gadis itu akan membuang semua masakan yang sudah dimasaknya.
"Kau akan membuang semuanya?" seru Rei. Dara tersentak kaget lalu menoleh. Rei mendekati Dara lalu mengambil piring berisi masakan yang akan dibuang, lantas menyimpannya kembali ke meja makan.
"Bukankah ini untukku?" tanya Rei. Dara terlohok, ia masih tidak bisa mengatakan apa-apa. Rei duduk di meja makan dan mengambil piring.
"Kelihatannya ini enak," kata Rei sambil meneliti menu, lalu memandang Dara yang masih berdiri mematung di tempatnya.
"Duduklah," katanya. Dara mengerjap, perlahan ia berjalan ke meja makan dan duduk di depan Rei.
"Temani aku sarapan, ya," kata Rei sambil mengambil nasi.
Tak lama senyuman terbit di bibir Dara. Rei menangkap senyuman itu, lalu ia pun ikut tersenyum. Entah mengapa melihat senyuman istrinya itu, membuat perasaan kacaunya pagi ini menguap dan hilang.
Rei mulai menyantap, terlihat ia sedang merasakan dan menilai masakan Dara di mulutnya, sementara Dara menunggu dengan cemas.
__ADS_1
"Enak," cetus Rei sambil tersenyum. Dara melonjak di kursinya.
"Benarkah?" seru Dara senang.
"Hm, tapi lebih baik kalau kau tidak menggunakan MSG karena itu tidak sehat. Sup jamurmu yang terbaik."
"Baiklah, aku tidak akan menggunakan MSG, dan aku akan belajar lagi," tutur Dara dengan semangat. Rei mengangguk sambil tersenyum lalu melanjutkan makannya dengan lahap.
Pagi ini indah bukan? Rei mulai merasakan rasanya dilayani seorang istri, itu sangat menyenangkan. Jika saja bayangan hitam itu menghilang, mungkin ia akan menjadi orang paling bahagia di dunia ini. Rei tidak membutuhkan apa-apa lagi untuk membuatnya bahagia karena ada istri dan anaknya kelak.
Setelah selesai makan, Rei pamit pergi ke studio untuk latihan terakhir buat konsernya di Malaysia.
"Apakah kau akan pulang malam?" tanya Dara.
Rei terlihat berpikir sambil menggigit bibir. "Mmm ... tidak," jawab Rei. "Paling telat jam 9 malam. Kalau bosan di rumah, kau boleh ke rumah temanmu, atau ke rumahmu menemui Kakak-kakakmu. Apapun itu, yang penting kau jangan lupakan anak kita, artinya kau jangan kecapean, mengerti?" Entah kenapa ucapan Rei membuat Dara merasa ringan dan hampir saja melayang menyumbul langit-langit. Dan pagi ini adalah pagi yang paling membahagiakan dalam hidupnya. Dara mengangguk sambil tersenyum.
"Pak Agus akan mengantarmu," ucap Rei sebelum pergi.
Setelah Rei menghilang di balik pintu, untuk pertama kalinya Dara mengusap perutnya dengan sayang. Dara mulai menyayangi anak dalam perutnya, dan ia akan menjaganya sekuat tenaga.
***
Persiapan konser di Malaysia sudah seratus persen. Rei mengkhususkan kursi di barisan pertama adalah untuk keluarganya dan tentu saja dengan keluarga barunya yaitu keluarga Dara. Acaranya lusa jam tujuh malam di Plenary Hall Kuala Lumpur Convention Center.
Tujuan konsernya kali ini adalah untuk membuka jalan Rei go internasional, dan Rei berjanji konsernya kali ini akan berbeda dengan konser sebelumnya karena kali ini mengusung konsep yang lebih modern. Lima belas lagu yang akan dibawakan Rei, nanti akan dibagi dalam tiga segmen, Rei juga menggandeng Diva Malaysia yang akan berduet dengannya.
Tanpa menunggu sampai minggu depan, Nadine pun pulang ke Jakarta. Ia ingin cepat-cepat menanyakan perihal berita itu pada Rei. Saat Nadine pulang, konser tengah berlangsung di Malaysia. Akhirnya Nadine menunggu di apartemen Rei, gadis itu tahu kode pintu apartemen, jadi bisa masuk dengan mudah.
Saat Nadine masuk ke apartemen, ia mendapati foto pernikahan Rei yang terpajang di ruang utama. Hampir saja ia terkulai lemah dan jatuh pingsan. Dunia seperti runtuh seketika. Ribuan pertanyaan menyelimutinya, kenapa Rei melakukan itu padanya? Kenapa Rei menyembunyikan pernikahan itu darinya? Siapa perempuan itu? Kenapa ia merebut Rei darinya?
Kenapa ...?!
Nadine menangis sejadi-jadinya di sana sendirian.
***
Dara masuk ke apartemen dengan lelah, perjalanan dari Malaysia ke Indonesia membuatnya jetlag parah. Ia sudah memastikan akan jetlag kalau naik pesawat, tapi ia tetap pergi karena menghormati Rei dan tidak mau ada omongan-omongan tidak enak.
Sekarang Rei masih di Malaysia karena ada urusan lain, ia akan pulang sore hari.
Saat Dara memasuki ruang duduk, ia dikejutkan dengan adanya sebongkah koper dan seorang wanita yang tengah berbaring di sofa. Apakah dia penyusup? Atau jangan-jangan pencuri?
"Siapa, ya?" tanya Dara. Orang yang tengah berbaring itu terbangun dan perlahan menghadap Dara.
Tatapan Dara memicing, perasaannya mulai tidak enak. Dara melihat postur tubuh wanita itu sangat tinggi dan kulitnya seputih salju. Wajahnya sangat cantik ada sedikit sentuhan rupa Eropa. Apakah dia Nadine? Desis Dara dalam hati.
__ADS_1
"Aku Nadine," ucapnya. Dara tersentak, dugaannya benar.
"Kau siapa? Apakah kau istrinya pacarku?" tanya Nadine sinis.
Mata Dara langsung melotot kaget, wanita itu sudah tahu? Sebelum bersuara, Dara mengontrol napasnya yang mulai tidak beraturan.
"I__iya, aku istrinya," jawab Dara dengan suara gemetar. "Hm, sepertinya ada yang perlu aku bicarakan denganmu," tambahnya.
"Bicaralah."
Dara mengajak Nadine bicara di balkon ditemani dua gelas jus jeruk.
"Aku tidak tahu harus memulainya dari mana, tapi kau harus tahu, pernikahan ini terjadi karena sebuah kesalahan," tutur Dara menjelaskan. Kening Nadine berkerut samar. Dara tahu Nadine bingung, terlihat dari ekspresi wajahnya yang siap bertanya tapi Dara tahan.
"Dengarkan aku dulu!" sergah Dara.
"Di Bali, saat kami sama-sama mabuk, kami tidak sengaja melakukan itu dan aku hamil. Kau tahu sendiri Rei sangat mencintaimu, jadi tidak mungkin dia menghianatimu, bukan?" Dara menelan ludah getir. Mengucapkan itu rasanya sangat menyakitkan, tapi harus ia katakan yang sebenarnya.
"Kau tahu alasan dia mabuk? Saat di Bali, Rei menunggumu. Karena kau tidak datang, mungkin Rei kecewa akhirnya dia mabuk. Dan aku juga mabuk karena ditolak oleh laki-laki yang aku suka. Aku salah masuk kamar ke kamarnya Rei. Kalau saja kamar resort Rei terkunci, mungkin aku tidak akan bisa masuk ke sana. Demi Tuhan aku tidak bermaksud seperti itu, aku sama sekali tidak sadar. Dan kau tenang saja, aku dan Rei sudah menyepakati sesuatu." Nadine mendongak, terlihat jelas ada kemarahan, penyesalan, dan kesedihan di wajah cantiknya.
Nadine menatap Dara sinis. "Apa itu?" tanyanya.
Dara menarik napas dan membuangnya perlahan, ia tidak tahu harus mengatakannya atau tidak. Karena apa yang ia katakan akan sangat mengoyakkan dadanya. Ini sangat menyakitkan seribu kali lipat dibanding dengan semua penolakan cintanya.
Dara memejamkan matanya sejenak untuk mengumpulkan kekuatan. "Aku dan Rei sepakat akan bercerai kalau anak ini sudah lahir, setelah itu kau bisa kembali padanya, kau tidak perlu cemas dengan anak ini, karena aku yang akan mengurusnya sendiri. Bersabarlah sebentar lagi. Aku cuma ingin anak ini terlahir sebagai anak yang sah."
Dara melihat Nadine mengepalkan tangannya, sepertinya sedang sekuat tenaga menahan amarah. Dara mengerti bagaimana hancurnya perasaan Nadine saat ini, tapi bagaimana lagi semuanya sudah terjadi dan tidak bisa dikembalikan lagi seperti semula. Setidaknya Dara bisa mengatakan tentang perceraiannya pada Nadine walaupun untuknya sangat menyakitkan, dan semoga saja itu cukup untuknya.
Sebenarnya kalau dirunut Dara lah yang paling menderita dan yang paling dirugikan. Ia ditolak oleh Joseph. Saat akan menikah, Joseph berbalik mencintainya dan memohon ingin bersamanya, tapi Dara harus menolaknya karena ia sudah hamil dan akan menikah dengan Rei__pria yang tidak dicintainya saat itu__namun, saat sudah menikah, Dara mulai merasakan cinta pada Rei, tapi sekarang Dara harus rela melepaskan Rei dan membunuh cintanya karena Nadine.
Nadine menghela napas panjang, lalu ia berucap, "Baiklah, semoga kau menepati janjimu. Aku akan menunggu Rei kembali padaku." Dara mengangguk sambil menahan tangisnya, padahal dadanya sudah sesak luar biasa.
"Jangan khawatir," ucap Dara dengan suara bergetar.
***
Setelah Nadine pergi, Dara masuk ke kamar Rei dan melihat semua hal tentangnya di sana. Koleksi mainan super heronya, pianonya, baju-bajunya, jam tangannya, hingga skin carenya. Sekarang pandangan Dara tertuju ke tempat tidur. Di kepalanya terlihat seperti ada bayangan saat dirinya melakukan ciuman satu detik, dan saat pandangan meneduhkan Rei menatapnya dan berhasil menyedotnya ke dalam sebuah ruang bernama cinta.
Dara memeluk selimut dan menghirup bau suaminya di sana. Di dalam dadanya tiba-tiba seperti ada gemuruh, perlahan gemuruh itu berubah menjadi badai yang menerobos pertahanannya. Matanya mengembun, dan perlahan embun itu berubah menjadi anak sungai yang meluap tanpa kendali.
Dara menangis sendirian di kamar Rei. Mulai saat ini, ia harus mempersiapkan diri dengan perpisahan dan harus siap dengan kemungkinan terburuk apapun.
'Oh, Tuhan ...!' jeritnya dalam hati.
Tangisnya semakin menjadi tatkala melihat foto Rei yang terpampang rapi di salah satu sisi tembok kamar.
__ADS_1
***