
Nia terkejut mendapati Dara yang tiba-tiba sudah ada di kamar. Gadis berambut panjang itu langsung menghambur pada Dara yang sedang meringkuk di kasur. Dengan cemas Nia langsung memberondongkan pertanyaan-pertanyaan, tapi ditanggapi dengan acuh oleh Dara.
"Baiklah, kalau kau tidak mau menjawab. Sekarang di mana ponselmu? Dari semalam kau tidak mengaktifkan ponselmu."
Dara terperanjat bangun lalu mencari-cari ponselnya, tapi tidak ada. Dara terdiam, apakah tertinggal di kamar pria itu? pikirnya.
"Kau kehilangan ponselmu?" Nia berdiri sambil berdecak pinggang.
"Dara, bicaralah padaku, sebenarnya apa yang terjadi? Kau tahu? Semuanya hawatir padamu, bahkan kita semua tidak bisa tidur dengan nyenyak, takut sesuatu yang buruk terjadi padamu," tutur Nia dengan wajah sedih. Mata Dara memerah siap menumpahkan air mata. Nia menghampiri Dara lalu menyandarkan kepala Dara ke bahunya.
"Bicaralah biar perasaanmu sedikit lega. Aku akan mendengarkan dan tidak akan bicara sama yang lain," kata Nia. Mendengar ucapan sahabatnya itu, tangis Dara pecah lagi, ia terisak-isak.
"Nia apa yang harus aku lakukan, aku takut, aku bingung," sahut Dara pilu. Nia mengusap lengan sahabatnya menenangkan sekaligus penasaran sebenarnya apa yang terjadi dengannya sampai seperti ini?
"Semalam aku ... aku melakukan sesuatu yang sangat bodoh. Memang semuanya tidak sengaja karena kami mabuk." Mata Nia langsung terbelalak kaget, memegang kedua bahu Dara mendorongnya pelan, Nia menatap lurus-lurus ke mata Dara.
"Apa kau bilang, mabuk? Astaga, kenapa kau melakukan itu?" Dara menunduk sambil terus terisak.
"Semalam Joseph menelepon, dia menolakku dengan sangat kejam, tanpa basa-basi dan tanpa minta maaf, makanya aku mabuk semalam. Aku benar-benar sudah kehilangan akal." Mata Nia berkaca-kaca lalu mendekap Dara menenangkan. Mengingat bagaimana perjuangan Dara untuk menarik perhatian laki-laki itu, Nia tahu ini pasti sakit sekali.
"Tapi ... ada sesuatu lagi yang lebih buruk seratus kali lipat dari penolakan Joseph," sahut Dara dengan suara pelan. Nia melepaskan pelukannya.
"Apa kau bilang?!" Nia kembali terbelalak kaget.
Dara menutupi wajahnya dengan kedua tangan. "Aku sudah melakukan dosa besar. Aku melakukan itu dengan seorang pria, karena aku salah masuk kamar. Aku bener-benar tidak ingat apa-apa karena mabuk."
Nia mengguncang-guncang bahu Dara, "Melakukan apa Dara, ayo bilang padaku! Apakah kau melakukan hubungan badan dengan pria yang tidak kau kenal?" tebak Nia. Dara mengangguk pelan lalu tangisnya semakin histeris.
"Aku harus bagaimana sekarang? Aku takut sekali." Nia berdiri lalu berjalan ke sana kemari sambil memegang keningnya. Ia ikut terbawa stress. Gadis berlesung pipit itu berpikir mencoba mencari jalan keluar.
"Dara, ayo kita temui laki-laki itu. dia harus bertanggung jawab. Bagaimana kalau kau hamil? Ini bukan masalah kecil Dara, ini benar-benar masalah besar, apalagi bagi kita sebagai perempuan. Ayo bangun! Kita temui pria itu," cetus Nia.
Dara menggeleng keras, sambil menarik tangan Nia. "Tidak!" ucapnya tegas.
"Hei, apa kau gila? Kita harus bicara serius dengan pria itu. Apa kau mau merusak masa depanmu sendiri? Bagaimana kalau orang tuamu tahu? habislah kau. Berhentilah menangis! Ayo kita temui pria itu. Katakan padaku dia di kamar nomor berapa?"
Dara tahu betul karakter sahabatnya itu, Nia akan memperjuangkan apapun yang dirasanya tidak adil, apalagi ini terjadi pada sahabatnya sendiri.
"Kamar 201 tepat di sebelah kamarku," kata Dara akhirnya. Nia menarik tangan Dara dan menyeretnya ke kamar itu.
Setelah sampai di depan kamar itu, Nia menggedornya dengan sekuat tenaga. Dara cuma menunduk sedikit ketakutan di samping Nia. Tak lama kemudian, Nino yang membukakan pintu. Nia langsung menerobos masuk sambil menyeret Dara.
__ADS_1
"Hei, siapa kau?" seru Nino.
"Siapa kau bilang? Heh, kau tidak ingat dia?" seru Nia sambil menunjuk Dara. Kening Nino berkerut sambil melihat Dara. Lalu ia teringat gadis itu yang tadi keluar dari kamar Rei sambil menangis.
"Oh ...." Nino mengerjap, menghela napas mengendalikan emosinya, pasti sesuatu telah terjadi di sini, tapi Rei tidak berani berucap. Ia harus berusaha terlihat tenang.
"Hm, lalu maksudnya apa ini?" tanya Nino.
Nia memasang wajah geram pada Nino. "Maksudnya apa? Hhh yang benar saja. Heh, kau jangan pura-pura lupa apa yang sudah kau lakukan pada temanku semalam."
"Nia sudahlah ...." Dara menarik tangan Nia mencoba menyeretnya keluar, tapi Nia menghempaskan tangan Dara.
"Tidak bisa Dara, masalah ini harus diselesaikan." Nia kembali menatap Nino dengan geram. Nino semakin tidak mengerti, apa yang sudah Rei lakukan pada gadis itu?
"Hei, memangnya apa yang sudah kulakukan?" tanya Nino dengan wajah bingung. Walaupun Rei tidak mau mengatakannya setidaknya Nino tahu dari gadis itu.
"Ya ampun, kau ini benar-benar." Nia semakin kesal.
Dara menarik Nia lalu berbisik, "Nia, bukan dia pria yang sudah tidur denganku semalam."
"Apa?! Lalu siapa?" tanya Nia kaget.
"Nino, ada apa ini?" Tiba-tiba seseorang muncul dari belakang memakai handuk kimono, dia baru saja selesai mandi. Bersama dengan itu mata Nia langsung melotot selebar-lebarnya, apakah mungkin yang sudah tidur dengan Dara adalah Reindra? Oh, astaga. Kenapa harus Reindra? Kenapa masalah ini jadi serumit ini?
***
"Tolong dari kalian berdua katakan padaku apa yang sudah terjadi?" kata Nino berusaha santai.
Rei dan Dara menunduk. Nia dan Nino menjadi moderator. Dengan terbata-bata, Rei mengatakan kronologi kejadiannya dari awal sampai akhir, termasuk alasannya mabuk. Dara juga mengatakan alasannya kenapa mabuk. Tapi Rei masih bersyukur Nino tidak jantungan mendengar ceritanya. Rei tahu Nino hanya berusaha terlihat tenang, Managernya itu malah diam saja seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Jadi menurutku, yang salah dibalik masalah ini bukan alkohol, melainkan orang yang kalian cintai. Itu kan alasan kalian berdua mabuk?" kata Nino. Nia mengangguk setuju sambil bergumam pelan, 'Joseph, kau brengsek!'
"Jadi bagaimana sekarang?" tanya Nia.
Rei menahan napas. Sebenarnya ia juga bingung, tapi ia diam saja biar Nino yang memikirkan jalan keluar. Dara masih duduk dengan tegang menunggu apa yang akan diucapkan Rei.
"Begini saja, memang masalah ini sangat berat, apalagi untuk Dara. Jelas yang paling dirugikan adalah perempuan, aku mengerti itu. Hm, kalau Dara sampai hamil, kalian boleh hubungi kami." tutur Nino. Rei dan Dara menatap Nino bersamaan.
Raut wajah Rei menunjukan aksi protes, mulutnya sudah terbuka siap meluncurkan aksi protesnya, tapi ditahan oleh Nino.
"Dengarkan dulu, Rei! bagaimanapun juga, kau harus bertanggung jawab. Kalau masalah ini tembus ke publik, karirmu tamat! Kau akan menjadi pria terbrengsek di dunia, lalu semua orang akan membencimu. Lebih baik kau mengaku ke publik bahwa sebenarnya sudah punya pacar dan akan menikah, nanti kalau bayi itu lahir sebelum usia pernikahanmu sembilan bulan katakan saja kalau bayi itu lahir prematur. Beres perkara dan karirmu selamat. Lebih baik ditinggalkan oleh sedikit fans fanatik yang tidak suka kau menikah daripada karirmu hancur, dan aku yakin tidak sedikit pula fans yang mendukung keputusanmu menikah, umurmu juga sudah dua puluh delapan bukan? Aku yakin solusi ini adalah yang terbaik bagi kalian berdua. Nama baik dan karirmu akan selamat, sedangkan Dara kau tidak akan malu hamil tanpa seorang suami, dan anak itu juga nantinya akan terlahir sebagai anak sah. Dia akan punya akta kelahiran, sekarang di negara kita akta kelahiran itu sangat penting, kau tahu? Anak itu tidak bisa sekolah kalau tidak punya akta kelahiran."
__ADS_1
Rei mengembuskan napas yang sedari tadi ia tahan. Benar, itu adalah jalan keluar terbaik, tapi yang ia pikirkan sekarang adalah bagaimana dengan Nadine? Ia juga tidak bisa menikah dengan orang yang tidak ia cintai.
"Maaf, tapi aku tidak bisa menikah dengan orang yang tidak aku cintai," tutur Dara. Rei mendongak menatap Dara kaget, ternyata gadis itu mempunyai pikiran yang sama.
Nia menepuk bahu Dara dengan kuat sampai Dara meringis sedikit kesakitan. "Hei, kau masih memikirkan cinta? Yang harus kau pikirkan sekarang adalah masa depanmu bukan cinta! Astaga kau ini. Kalau orang tuamu tahu, kau bisa ******. Punya orang tua galak setengah mati juga masih memikirkan cinta. Heran!" kata Nia gemas.
"Maaf, tapi aku benar-benar tidak mau menikah dengan orang yang tidak aku cintai. Lagipula aku belum tentu hamil, bukan? Tapi kalau aku hamil, aku akan menggugurkannya," sahut Dara dengan kepala tertunduk.
Rei, Nino dan Nia serentak, membelalakan mata mereka. Rei juga sebenarnya tidak mau menikah dengan orang yang tidak ia cintai karena sekarang ada Nadine, tapi kalau gadis itu sampai menggugurkan kandungan, ia sama sekali tidak setuju. Karena itu sama saja dengan kasus pembunuhan. Begini-begini juga Rei masih takut dosa.
"Tidak boleh! Kau tidak boleh menggugurkannya. Hm, baiklah, aku ... aku akan bertanggung jawab kalau kau hamil. Kita menikah sampai anak itu lahir saja, setelah itu kita bisa bercerai. Bagaimana, apa kau setuju?" Dara mendongak menatap Rei, ia bisa menangkap keseriusan dalam tatapan pria itu.
Dalam hati Dara terjadi pergulatan hebat, mau tidak mau sekarang adalah pembicaraan untuk masa depannya yang harus segera ia putuskan. Kenapa jadi seperti ini? Outing-nya ke Bali malah membuat perubahan besar dalam fase kehidupannya. Dara sama sekali tidak menyangka akan berakhir seperti ini. Jika ia menyetujui ucapan pria itu berarti nanti di umurnya yang ke dua puluh enam ia akan menjadi janda. Oh, ya ampun, ia sama sekali belum pernah pacaran, tapi ia harus bersiap diri untuk menjadi seorang janda dengan satu anak. Ia tidak bisa membayangkan itu.
Dara menggeleng kuat lalu menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Tangisnya kembali pecah. Demi Tuhan ia tidak siap untuk itu. Gadis itu mengusap air matanya lalu mendongakkan kepala menatap Rei.
"Begitu gampangnya kau bicara seperti itu, selama hidupku, aku belum pernah pacaran, tapi tiba-tiba aku harus mempersiapkan diri menjadi seorang janda. Apa kau tahu status itu adalah status yang paling mengerikan untuk semua perempuan di muka bumi ini. Bagaimana bisa kau hanya memikirkan dirimu sendiri. Kau sudah merusak hidupku! Aku tidak mau."
Dara lari keluar sambil menangis. Rei terlohok, ia sama sekali tidak menyangka reaksinya begini, padahal tadinya ia pikir itu adalah yang terbaik.
Nino dan Nia mendengus menyerah, "Reindra, maafkan temanku ya, mungkin sekarang dia tidak bisa berpikir dengan jernih. Memang benar Dara itu belum pernah pacaran, mungkin dia sangat tersinggung dengan ucapanmu tadi. Biar aku yang bicara lagi dengannya nanti. Kalau boleh, aku minta nomor teleponmu."
"Ah, biar nomor teleponku saja," sela Nino.
"Oh, baiklah."
Nino mendikte nomor teleponnya.
"Tulis saja Nino, aku managernya Rei."
"Baiklah. Nanti aku telepon kalau terjadi sesuatu. Aku permisi dulu kalau begitu."
🌷🌷🌷
Sepeninggal Nia, Rei dan Nino masih duduk dengan tegang.
"Nino, mungkinkah di zaman sekarang ada orang yang tidak pernah pacaran selama hidupnya? Aku tidak percaya," tutur Rei.
"Mungkin saja. Terkadang di dunia ini ada hal-hal yang tidak kau sangka, bukan? Ya, contohnya gadis yang sudah kau tiduri semalam. Sepertinya sekarang ada orang yang bersiap menjadi seorang ayah. Hahaha ...."
"Hei hentikan ..! itu tidak akan terjadi."
__ADS_1
***