Menikah Tanpa Pacaran

Menikah Tanpa Pacaran
Tamu


__ADS_3

Pov Zyona.


Adrian tadi menanyakan kapan aku pulang kerja, tapi kenapa hanya di-read, kenapa dia tidak membalas pesan WA ku.


" Udah tigapuluh menit loh, suami kamu belum jemput juga, gimana kalau aku antar kamu aja Zy " Arya menepuk pelan pundakku.


Aku sudah sangat gelisah dari tadi, tapi tidak ingin menunjukkannya didepan Arya.


" Mungkin macet, aku tunggu sebentar lagi Ar "


Kataku.


" Kamu pulang aja duluan " Kataku lagi. Walau sebenarnya aku sedikit tenang Arya disini menemaniku menunggu Adrian.


" Zyona, maaf tadi dijalan agak macet "


Terdengar suara Adrian. Membuatku dan Arya berdiri dan menoleh pada asal suara.


" Gak papa, aku juga baru aja keluar kok " Ucapku untuk mengurangi raut wajah bersalah diwajahnya.


Adrian melayangkan tatapan tidak suka pada seseorang disebelahku.


Membuatku menyadari belum mengenalkan Arya pada suamiku.


" Oh ya, Adrian, dia Arya, sepupuku"


Mereka diam, saling memberi tatapan yang tidak aku mengerti.


Adrian beralih menatapku tajam, dia meraih tanganku dan menarikku membuatku mengikuti langkah kakinya yang panjang.


Kenapa Adrian tiba-tiba marah, bahkan aku merasa sakit dipergelangan tanganku yang dicengkramnya.


Adrian memaksaku masuk kedalam mobil, menutup pintu mobil dengan kuat, membuatku reflek memegang dada karena terkejut.


Adrian memutar dan duduk di kursi pengemudi. Dia menghidupkan mobilnya dan melajukannya


dengan agak kencang.


Aku takut dibuatnya.


Apa yang terjadi, kenapa tiba-tiba Adrian marah.


Seharusnya kan aku yang marah, dia yang tidak membalas pesanku dan datang terlambat.


Tapi kenapa sekarang dia yang marah.


Sepanjang perjalanan Adrian diam, dengan sorot mata yang terlihat sangat marah.


Berkali-kali aku memanggil namanya, tapi Adrian tidak menjawab.


Sampai mobilnya berhenti didepan teras rumah kami pun, dia tetap membisu.


Jemarinya mencengkeram setir dengan rahang yang terlihat jelas mengeras.


Dia menatapku, sontak aku gemetaran.


" A...Adrian.. " Aku hampir menangis.


Dia memegang pergelangan tangan ku lagi, sontak aku meronta. Aku sangat takut dipukulnya. Adrian menarikku secara paksa masuk ke dalam rumah.


Dia menghempaskan tubuh ku keatas sofa.


Dan langsung menghujamku dengan tatapan mata tajamnya.


Aku tahu sudut mataku sudah merah sekarang. Adrian terlihat sangat marah.


Tapi apa sebabnya dia marah si...


bukankah seharusnya aku yang marah.


" Sudah berapa kali kubilang Zyona! " Suaranya terdengar sarkas ditelingaku.


Aku semakin gemetaran dibuatnya.


Aku ingin beranjak, tapi Adrian mengurungku dengan dua tangan kekarnya yang bersandar kedinding sofa.


" K... kamu kenapa sih... " Aku semakin takut dengan mata tajamnya.


" Kenapa kamu gak pernah dengar ucapanku Zyona! " Adrian sangat murka.

__ADS_1


Tangannya melayang hendak menamparku.


Walau takut, tapi aku diam.


Menunggu.


Kalau tangannya sampai berani menyentuh pipiku


kupastikan hari ini juga aku akan menggugatnya cerai.


Diluar dugaan, tangan Adrian berhenti di udara. Kedua tangannya mengepal erat.


Kami saling bersitatap. Kabut amarah dimatanya mulai memudar.


Dia menjatuhkan wajahnya di leherku, kudengar dia menangis.


" Bisa tidak, hanya aku pria yang ada dihidupmu " Suaranya bergetar seperti menangis.


Aku berfikir keras, mengapa Adrian berkata seperti itu.


" Apa aku tidak layak untuk menjadi suamimu Zyona... "


Ada yang tidak beres, laki-laki ini menangis.


" Adrian.. "


Aku membingkai wajahnya. Dan benar dia sedang menangis.


" Kamu kenapa? " Tanyaku lembut.


Adrian memeluk pinggang ku dan menenggelamkan wajahnya di atas pangkuanku.


" Aku cemburu.. " Katanya lirih.


Aku langsung mengernyit mendengar itu.


Cemburu?


Kenapa Adrian cemburu?


Dia cemburu sama siapa?


Aku kembali membingkai wajahnya dengan gemas, " Adriannnn, kamu cemburu sama siapa?, Arya?


Astaga, yang kerenan dikit kek, potongan kayak Arya dicemburuin.... " Aku menyeka air matanya dengan ibu jariku.


" Sama gelandangan juga aku bisa cemburu Zyona, aku gak mau kamu diambil orang lain... " Dia memanyunkan bibir bawahnya.


Astaga... kenapa sekarang laki-laki ini terlihat sangat menggemaskan.


" Lagipula Arya itu sepupu aku Adrian " Ucapku lagi untuk menenangkannya.


" Sama bapak kamu juga aku bisa cemburu kalau kamu lebih perhatian sama dia "


Gila, dia ini memang gak mau ngalah ya.


Masa sama papa dia juga cemburu.


Seketika hatiku menjadi hangat. Melihat Adrian bertingkah seperti anak kecil saat cemburu seperti ini.


Hatiku sangat berbunga, beginikah rasanya dicemburuin. Membuatku merasa dicintai, walau sebenarnya Adrian belum mengatakan cinta padaku.


Tapi lewat perhatian nya, aku merasa wanita yang paling dicintai didunia.


" Aku aja dimarahin kalau cium kamu, tapi sepupu kamu itu malah bebas ngelus punggung kamu " Ucapnya pelan dan sangat kecewa.


Eh, tunggu-tunggu, sejak kapan Arya ngelus punggung aku.


" Rian, Arya gak ada ngelus punggung aku, dia tadi cuma nepuk pundak aku kok.. " Sangkal ku.


" Sama aja.... kalau aku cium kamu aja gak boleh, padahal aku suami mu "


Dia ini ya...


Aku membingkai wajahnya dan langsung mencium bibirnya, Adrian sampai kaget dengan perbuatanku.


Tidak hanya dia, aku juga tidak percaya dengan apa yang kulakukan.


Seperti tidak menyia-nyiakan kesempatan, Adrian memegang belakang kepalaku dan langsung menyambar bibir ku.

__ADS_1


Aku tidak mendorongnya seperti yang dulu-dulu, aku membiarkannya menciumku.


Aku tidak pandai membalas ciumannya, jadi aku hanya diam. Membiarkannya dan menikmati ******* lembut yang dia berikan padaku.


Entah apa yang terjadi padaku, tapi saat ini aku seperti juga menginginkan hal itu.


Aku membiarkannya menurunkan ciumannya ke leherku, saat dia menghisap dan meninggalkan bekas merah disana, aku hanya bisa melenguh sambil menggigit bibir bawahku.


Entah sejak kapan aku terperangkap dalam kenikmatan ini, hingga tidak sadar dia telah melepas pakaian ku.


Aku semakin berdebar melihat wajah bersemu Adrian, tangannya meraba punggung ku dan melepas pengkait bra ku.


Lalu mata kami saling bertatapan, aku semakin gugup karena itu.


" Hari ini boleh ya? " Tanyanya minta izin padaku.


Aku pasti sudah gila, bisa-bisanya aku mengangguk sambil tersenyum malu padanya.


Apa yang terjadi padaku, kenapa aku seperti sangat ingin 'begituan' sekarang ini.


Dia mulai menciumi dadaku, aku melingkarkan tanganku dipundaknya, sesekali mengelus kepalanya.


Aku melenguh nikmati dan geli ketika Adrian mengemut puncak dadaku.


Mengulum dan mengemutnya seperti bayi.


Ketika dia ingin membuka celanaku, aku menghentikannya.


" Jangan disini "


Kataku sambil melirik malu pada cctv rumah yang ada di sudut ruangan.


Dia tersenyum mengerti maksud ku. Tidak membuang waktu, Adrian menggendong ku dan langsung membawaku masuk ke dalam kamar kami.


Meletakkanku dengan pelan ke atas ranjang. Mengecup sekali bibirku, lalu dia dengan segera membuka satu-persatu pakaiannya.


Aku memalingkan muka ketika melihat junior Adrian yang tegak berdiri.


Mengingat saat pertama kali melakukannya waktu itu sangat sakit di area sensitifku.


Adrian kembali mengecupi setiap lekuk tubuhku. Meraba dan meremas kesana-kesini. Membuat desahanku memenuhi kesunyian kamar ini.


Aku tidak tahan lagi, sesuatu dibawah sana terasa sangat basah dan lengket.


Apa aku kencing dicelana? pikirku


" Aku masukin sekarang yah.." Suara Adrian sangat berat ditelinga ku. Aku tidak menjawab, hanya tersenyum sebagai tanda setuju.


Adrian menurunkan celanaku, dan membuka kain terakhir yang membalut tubuhku.


Hingga kini, aku dan dia benar-benar polos tanpa sehelai benang yang menutupi.


Aku sangat malu ketika Adrian membuka lebar pahaku, aku memilih menutup mata karena merasa sangat malu.


" Zyona? "


Aku membuka mataku karna mendengar suara Adrian.


Kulihat dengan jelas wajahnya terkejut sambil menatap lekat intiku.


" Kamu menstruasi? " Ucapnya dengan nada suara sangat kecewa.


Apa? Menstruasi?


Bukankah seharusnya tiga hari lagi?


Tapi kenapa bulan ini datangnya cepat ya.


Aku duduk dan meraih selimut untuk menutupi tubuhku. Kusadari Adrian sangat kecewa.


Tapi apa boleh buat, kalau 'tamu' ku datang cepat bulan ini.


Ah, apa jangan-jangan karena haid aku jadi sensitif ya. Sampai-sampai membuatku juga ingin melakukan 'hubungan' itu dengan Adrian.


Aku memegang pipi suamiku, mata kami saling bersitatap. Aku tersenyum hangat untuk menghiburnya.


" Maaf ya Adrian "


Dan hanya itu yang bisa kukatakan...

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2