
Adrian duduk di depan istrinya, sedangkan gadis itu, sama sekali belum mau menatap mata suaminya dan memilih melihat ke jemarinya yang tertaut di atas paha.
Gimana caraku jelaskannya ya, biar Zyona nggak salah paham lagi... Adrian berfikir keras didalam hati. Memilih kata-kata yang paling baik menurutnya, supaya istrinya yang suka ngambek ini tidak marah berkepanjangan padanya.
"Sayang?" Panggil Adrian lembut.
"Hemm" Jawaban singkat Zyona dengan wajah yang masih tertunduk.
"Yank.."
"Apa...? "
"Zyona"
"Ck! Apa loh! " Mendongak menatap mata Adrian sebentar, didetik berikutnya ia kembali tertunduk.
"Liat mata aku Zyona, kalau aku bicara lihat mata aku!" Adrian memegang dagu Zyona, diarahkan supaya gadis itu mendongak dan menatap matanya.
Terlihat langsung wajah menggemaskan istrinya. Dengan pipi merah jambu yang terlihat begitu lucu dan sangat cantik. Astaga ya Tuhan, kenapa istriku ini sangat menggemaskan si...
Ternyata itu alasan Zyona tidak ingin menatap mata Adrian. Karena tatapan mata laki-laki itu mempunyai sihir yang selalu berhasil membuat jantung Zyona berdentam-dentam didalam sana. Membuat perutnya terasa geli menggelitik, darahnya berdesir panas, dan itu membuat perasaannya gak karuan.
Sedangkan Adrian berusaha keras mengendalikan dirinya. Godaan istrinya yang begitu menggemaskan ini terlalu kuat. Setelah berhasil berdamai dengan pikiran mesum dan sesuatu dibalik boksernya, dia kembali melanjutkan kalimatnya.
"Jadi kamu ikhlas aku balik sama Moza? " Tanya Adrian, menggoda.
YA ENGGAK LAH, ENAK AJA!
"Kalau kamu memang bahagianya sama dia yaudah gak papa, aku gak papa kok, beneran deh, gak papa"
Adrian tersenyum geli melihat raut wajah cemberut istrinya.
__ADS_1
Ngomongnya aja yang gak papa, tapi wajahnya cemberut gitu. Jadi pengen gigit!
"Beneran nih?" Tanya Adrian lagi, sengaja menggoda istrinya. Adrian ingin tahu bagaimana reaksi Zyona kalau lagi cemburu.
Zyona menggigit bibir bawahnya. "Be.. ne.. ran.. " Jawab Zyona dalam tempo selow, dan mengangguk pelan.
"Oh, yaudah, udah fiks ini ya, aku udah minta izin kamu. Aku cari Moza dan balikan lagi sama dia"
"IH, JANGAN!" Adrian langsung tersenyum tipis melihat reaksi yang diberikan Zyona. Gadis itu tersadar, segera menutup mulutnya dengan tangan, lalu tertunduk malu. Astaga Zyona.. kok lu bego banget si... sampai keceplosan segala
Adrian membingkai wajah Zyona dan mengecup bibir ranum istrinya itu sekilas. Membuat rona merah jambu kembali mewarnai pipinya. Kamu bikin aku gila tau gak, bisa gak, jangan terlalu menggemaskan seperti ini, aku bisa mati muda Zyona, kamu bikin jantung aku gak tenang, rasanya mau meledak!
"Zyona, maaf aku gak jujur sama kamu, soal aku masih cari keberadaan Moza itu memang benar"
Zyona memajukan bibir bawahnya cemberut. Wajahnya kembali terlihat lesu. Tuh kan, benar kan, Adrian memang masih cinta sama Moza.
"Tapi...." Adrian melanjutkan kalimatnya "Untuk balik lagi sama dia itu kamu salah besar, karna aku gak akan balikan sama Moza, dan gak akan pernah lagi!" Ucap Adrian serius. Aku gak mau nyia-nyiain kamu untuk yang kedua kalinya Zyona.
Zyona diam, darahnya berdesir panas mendengar bisikan suara bariton Adrian di telinganya. "Aku menyayangimu Zyona, tolong jangan menangis lagi" Mata mereka bertemu, entah siapa yang memulai lebih dulu.
Dengan perlahan Adrian menabrakkan bibirnya ke bibir Zyona. ********** dengan lembut. Menyalurkan cintanya pada Zyona lewat ciuman itu. Zyona juga mulai membalas ciuman suaminya. Walau kaku dan masih belum bisa mengatur napasnya. Karena tetap, Zyona selalu gugup tentang apapun yang menyangkut suaminya. Dan itu selalu berhasil membuat jantungnya terasa tidak aman.
Ciuman mereka berlangsung lama. Adrian melepaskan bibir istrinya sebentar hanya untuk memberi kesempatan Zyona menarik nafas, dan setelah itu bibir mungil itu kembali menjadi tawanannya.
Adrian memeluk pinggang Zyona, dan membenamkan wajahnya di curuk leher istrinya. Zyona memberanikan diri memegang rambut halus Adrian. Menyisirnya dengan jari, dan menghirup dalam-dalam rambut Adrian yang menurutnya sangat wangi.
"Rian?" Panggil Zyona.
"Hemm" Menjawab dengan wajah yang masih terbenam.
"Emang kamu gak ada rasa lagi sama Moza"
__ADS_1
"Aku gak mau jawab"
"Kenapa?"
"Gak penting"
"Walaupun gak penting tapi kamu masih ada rasa kan?"
Ucap Zyona, Adrian mendongak, lalu mata mereka kembali bertemu.
"Zyona... aku gak mau lagi jadi laki-laki bodoh yang nyia-nyiain wanita sebaik kamu, aku gak mau lagi kehilangan kamu. Rasaku dengan Moza beneran udah selesai, sekarang aku udah miliki kamu, itu lebih dari cukup!"
Zyona termenung agak lama, "Kalau gitu kenapa kamu masih cari dia?" Adrian membawa Zyona berbaring di sampingnya, dan memeluknya dengan sangat erat.
"Semuanya rumit untuk dijelaskan, intinya aku pernah menjanjikan sesuatu padanya, sesuatu yang sekarang ini nggak bisa kupenuhi. Aku mau ketemu dia sekali saja, meminta maaf dan menyelesaikan hubungan kami. Aku gak mau kelak ada yang merecoki rumah tangga kita"
Adrian mengelus hangat punggung Zyona. Lalu menciumi puncak kepala gadis itu.
"Tapi pasti Moza gak rela kehilangan kamu, dia kan cinta banget sama kamu"
"Berhenti pikirin perasaan orang lain. Sesekali tidak papa menjadi egois Zyona. Pikirkan juga perasaan mu. Bisakah kita tidak membahas orang lain dulu? Ayo bahas tentang kita saja"
Zyona mengelus dada bidang Adrian, dada suaminya itu yang selalu membuatnya nyaman. "Baiklah, jadi apa yang mau kita bahas"
Adrian menatap istrinya sambil tersenyum lebar. "Gimana kalau mikirin momongan?"
Pipi Zyona kembali merona mengetahui ke arah mana pembicaraan mereka akan berlanjut. "Bo.. boleh" Ujarnya malu-malu. Adrian gemas melihatnya, hingga tanpa aba-aba Adrian sudah mendaratkan bibirnya di pipi istrinya.
Nafas Zyona tertahan. Lelaki ini selalu berhasil membuatnya berdebar gak karuan. Ambulance, tolonggg. Gadis ini perlu pertolongan pertama!
Bersambung.
__ADS_1