
Pov Zyona
Aku sengaja cuek pada Adrian. Berharap dia bisa mengerti kalau aku sedang marah. Enak saja, dia menyentuhku tapi dipikirannya masih ada orang lain.
Ini peringatan keras, kalau aku tidak suka dipermainkan!
Bahkan seluruh wanita didunia ini tidak ingin dipermainkan!
Mengerti?
Setelah selesai makan, aku ingin masuk ke kamarku, mandi dan tidur.
Badanku terasa lengket karna keringat.
Cuaca diluar juga sangat panas dan gerah.
Aku membuka pintu, dan masuk ke dalam kamarku.
Tunggu, apa ini. Aku gak salah masuk ruangan, kan?
" Kok, kok kosong. Kenapa kamarku kosong. Mana, mana kasur dan barang-barang ku."
Aku sangat kebingungan. Mendapati kamarku yang kosong, tanpa memiliki barang sedikitpun. Baik kasur maupun lemari.
Satupun tidak!
" Aih, kemana semua barang-barang ku! "
" Aku pindahkan" Kudengar suara Adrian. Aku menoleh dan menepati dia berdiri dibelakang ku.
Sontak aku mundur kebelakang. " Kenapa kamu mengganggu kamarku! " Kesal ku padanya.
" Barangmu aku pindahkan ke kamarku, sekarang itu kamar kita bersama "
Aku melotot kaget mendengar perkataan Adrian. " Aku gak mau! " Tolakku tegas
" Kamu gak bisa nolak! " Adrian memegang tanganku, membawaku ke kamar.
Aku yang berusaha memberontak membuat tubuhku tertarik.
Ketika kami masuk, Adrian mengunci lagi pintu itu, mengantisipasi agar aku tidak bisa kabur.
" Adrian, kamu ini apa-apaan sih! " Aku kesal dan menatap tajam padanya.
Tidak bisakah dia membaca situasi kalau aku sedang marah.
Kenapa dia selalu berbuat seenaknya!
Adrian berjalan melewati ku, dan duduk disofa yang ada didekat kami berdiri
" Kopermu sudah aku ambil dari rumah temanmu, semua barang dan perlengkapan mu sudah dipindahkan ke kamar ini.
Mulai sekarang kita tidur berdua "
Aku menggeleng heran dengan kelakuan Adrian kali ini.
Dengan tangan terkepal kesal aku menjatuhkan tubuh, duduk disofa dengannya.
" Kamu gak boleh mutusin semuanya sendiri gini Adrian! " Kataku protes
Dia melirikku " Kenapa? Apa salah jika aku ingin tidur dengan istriku? " Dia malah balik bertanya.
Membuatku semakin kesal saja
" Gak salah jika pernikahan kita normal, tapi ingat Adrian, hubungan kita gak seperti itu! "
Air wajah Adrian berubah tidak suka mendengar jawabanku tadi.
" Jadi kamu nganggap pernikahan kita ini hanya main-main? " Tanya Adrian dengan marah.
Lah, kenapa dia marah. Bukankah selama ini dia yang bermain-main dengan pernikahan ini.
__ADS_1
" Aku tidak pernah main-main dengan pernikahan ini, kamu yang membuatku menganggap pernikahan kita permainan, Adrian! "
Memang benar kan, dari awal Adrian yang main-main dengan pernikahan ini. Dan setelah Moza menghilang, dia dengan tidak tahu malunya malah mempermainkan ku!
" Sudahlah" Aku menghembuskan nafasku pelan. " Buka pintunya, aku tidak ingin tidur dengan mu " Aku berbicara menatap lurus ke depan.
Sekarang ini aku sangat malas bersitatap dengan Adrian.
Maafkan aku Tuhan, jika aku membangkang pada suamiku. Tapi aku hanya tidak ingin dijadikan pelampiasan.
" Zyona, maafin aku.... " Suara Adrian terdengar lembut sangat menyesal.
Dengan hangat dia menggenggam jemari tanganku.
" Untuk apa? " Aku menepis tangan Adrian.
Sebenarnya aku mengerti kemana jatuhnya perkataannya tadi. Tapi entah mengapa aku hanya ingin menjawab begitu.
Adrian kembali menggenggam jemariku " Zyona.... "
" Cukup Adrian! " Potongku dengan cepat.
Kutatap wajahnya yang tampak menyesal itu, tapi entah mengapa tidak sedikitpun membuat hatiku tersentuh.
" Zyona, apa kamu tidak mencintai ku lagi? " Dia bertanya penuh harap
Benar, dulu aku pernah suka pada Adrian. Tapi untuk sekarang aku tidak tahu. Aku sangat tidak percaya lagi pada Adrian, dan ragu juga pada perasaanku sendiri.
Entah mengapa dulu aku sangat bodoh sampai jatuh cinta pada lelaki seperti Adrian.
Melihat wajah tampannya setiap hari, membuat mataku candu, kuakui dia tampan.
Melihat dia yang sangat lembut pada pacarnya, membuat aku yang sebagai istri sah, sangat mendambakan perlakuan hangat itu darinya juga.
Hingga tanpa sadar, setiap hari aku memerhatikan nya diam-diam.
" Kemarikan kuncinya, aku ingin kembali kekamar ku " Aku menjulurkan tanganku kehadapan Adrian. Meminta kunci pintu kamarnya ini yang tadi ia sakukan.
Adrian malah menggenggam jemariku erat dengan kedua tangannya. Sorot matanya terlihat sangat menyesal.
" Jangan salahkan aku Adrian, bercermin dengan kelakuan mu dulu. Kamu yang mendidikku dengan sikap dingin dan kasarmu"
Satu fakta, aku orang yang mudah respek kepada orang lain. Tapi semudah itu juga aku kehilangan kepercayaan pada orang lain juga.
Dan jika kepercayaan ku sudah tidak ada, akan sulit bagiku untuk percaya lagi.
" Zyona, mengertilah, aku juga sedang berusaha berubah " Dia mendekat padaku, membuatku harus bergeser menjauh, untuk tetap memberi jarak padanya.
" Kamu tidak pernah berubah Adrian, kamu hanya memakaiku sebagai pelampiasan " Itu pemahamanku selama ini padanya.
Dia terlihat terkejut, lalu kemudian air wajahnya berubah sedih " Awalnya memang iya, tapi sekarang aku sungguh-sungguh memperjuangkan mu Zyona "
Aku memejamkan mataku sambil menghela nafas. " Tapi sekarang aku tidak lagi percaya padamu Adrian "
" Jadi sekarang aku harus bagi Zy " Dia mengusap wajahnya kasar, terlihat frustrasi dengan menghembuskan napasnya berat.
Aku menatapnya serius " Tanya pada dirimu sendiri, seberapa pentingnya aku bagimu "
Berusahalah untuk meyakinkan raguku ini Adrian
Dia bernafas pelan, berdiri sambil menggenggam jemariku.
" Sudah larut, sekarang kita tidur "
" Aku tidur disofa " Jawabku sambil melepas tangannya.
Dia menoleh kebelakang dan menatapku. " Kita tidur diranjang bareng "
" Adrian... "
" Jangan mulai Zyona! " Adrian menarik tanganku membawaku paksa pada ranjang besarnya itu.
__ADS_1
Bisa gawat, terakhir kali aku tidur dengannya, keadaan tubuhku sangat kacau.
****** payudara ku bengkak dan memar, seperti bekas gigitan dan dihisap. Saat itu aku sangat kesulitan mandi, rasanya perih jika terkena air.
" Adrian aku gak mau tidur disini! " Aku tetap kekeuh menolak.
" Zyona, dengarkan aku " Tangan kekar dan hangatnya menenangkan aku.
" Tidurlah, aku tidak akan menyentuh mu tanpa seizin darimu " Katanya seperti bisa memahami kegelisahan ku.
" Percaya padaku Zyona " Ucapnya lagi meyakinkan.
Aku akhirnya memaksa batinku untuk setuju. Aku mengangguk, dan berbaring disebelah kanan ranjang.
Menarik selimut sampai ke pundakku, hanya menyisakan kepala dan rambutku yang menggembul keluar.
Mataku yang menatap langit-langit, perlahan melirik pada Adrian yang berbaring juga disisiku.
Terlihat dia sudah memejamkan matanya.
Apakah benar, laki-laki ini sedang berusaha memperjuangkan ku. Apakah aku harus mulai memberi kepercayaan padanya lagi?
Aku kembali menatap depan sambil menghembuskan nafasku. Melihat usaha Adrian, sedikit membuatku tersentuh. Tapi dalam waktu bersamaan aku langsung ditampar dengan realita kekejamannya dimasa lalu.
Berusahalah lebih keras Adrian, supaya kamu mampu meyakinkan raguku ini.
Aku memilih memunggunginya. Ada satu lagi yang mengganjal dipikiranku.
Tentang apa yang terjadi malam itu, kenapa saat bangun bajuku sangat berantakan, dan memar pada puncak payudara ku.
Si setan kurang ajar itu!
Aku tahu jelas itu perbuatan Adrian. Dan yang membuatku marah, kenapa dia melakukan itu saat aku tertidur. Memperlakukan ku seolah aku wanita murahan yang sangat mendambakan sentuhannya.
Apasi susahnya izin padaku. Jangan main sentuh dan raba seenaknya Adrian!
Ingin sekali aku protes padanya. Tapi mengingat sekarang aku yang sedang merajuk, jadi aku menyimpannya untuk lain waktu.
Tiba-tiba aku merasa ada yang menepuk hangat pundak ku.
" Zyona, kamu udah tidur? " Katanya lagi, seolah memintaku untuk berbalik menghadapnya
Aku pun menoleh pada Adrian " Apa? " Sahutku bertanya.
Dia tampak serius, sorot matanya menggambarkan harapannya paling dalam. " Boleh tidak, kamu perhatikan usahaku sedikit saja, "
Aku sempat bingung dengan perkataan nya. Tapi dari sorot matanya sudah menjawab semua pertanyaan ku.
Aku melihat kesungguhan itu dimata Adrian.
" Perhatikan aku sampai kamu tahu, kamu hati yang sedang kuperjuangkan "
Aku terkerjap diam mendengar perkataan Adrian. Seumur pernikahan kami, baru ini dia mengatakan perkataan manis ini padaku.
Apakah sebelumnya dia sudah sering mengatakan begini pada Moza?
Tapi dilihat dari wajah merah malu-malunya saat memintaku untuk percaya padanya, seperti dia bukan orang yang bisa merayu dan membujuk sembarangan wanita.
Desiran hangat kembali menyelusup didadaku. Kuakui, aku selalu berdebar jika menatap mata suamiku ini.
Tapi itu bukan alasan untukku percaya penuh padanya.
Sangat sulit untuk mengembalikan kepercayaan ku jika sudah hilang.
" Yakin kan lah raguku Adrian " Itu yang kukatakan menjawab perkataannya tadi. Setelah itu aku membalikkan badanku sambil memasukkan tubuhku kedalam selimut.
Memejamkan mataku hingga tanpa sadar, aku mulai tertidur.
...~♥~...
Aku tidak berharap kamu selalu ada untukku. Tapi tolong, yakinkan raguku
__ADS_1
~Zyona Adisti
...~♥~...