
Sebulan setelah pernikahan ....
"Sial!"
Dara terperanjat, ia kesiangan dan sekarang sudah jam enam pagi. Cepat-cepat ia pergi ke kamar mandi. Kali ini ia tidak boleh terlambat lagi ke kantor, sejak tinggal di apartemen Rei, jarak dari sana ke kantor jadi jauh. Dara pun harus bangun pagi-pagi sekali.
Setelah mandi dan dandan seperlunya, Dara ke dapur mengambil roti dan susu ibu hamil dalam kemasan siap minum. Menu itu akan ia makan di mobil. Agus yang sudah diberi mandat oleh Rei mengantar jemput Dara ke kantor sudah menunggu di parkiran.
Dara berlari-lari kecil keluar, ia tidak menyadari kalau hal itu mengancam janin di kandungannya. Iban yang menyaksikan tingkah polah majikannya itu cuma bisa geleng-geleng kepala, dan Iban sudah terbiasa dengan keanehan di kehidupan rumah tangga bosnya itu.
Sejak menikah dan tinggal bersama di apartemen, Rei dan Dara tidak pernah tidur di kamar yang sama. Bahkan mereka jarang bertemu. Setiap hari Rei pulang lewat tengah malam, saat itu Dara sudah tidur, dan pagi harinya saat Rei masih tidur, Dara sudah berangkat ke kantor. Rei sangat sibuk dengan jadwal keartisannya yang sempat tertunda karena pernikahannya, ditambah Rei juga sedang sibuk mempersiapkan konsernya di Malaysia.
Namun, sampai sekarang ada yang mengusik pikiran Iban, Bos dan istrinya tidak pernah tidur bersama bahkan bertemu pun jarang, tapi Iban melihat di kulkas ada susu ibu hamil. Apakah istri Bosnya sedang hamil? Lalu kapan mereka melakukannya? Ini aneh, pikirnya.
***
Dara mondar-mandir tidak keruan di toilet, ia nampak bingung dan seperti sedang memikirkan sesuatu. Nia yang baru masuk ke tolilet terheran-heran melihat tingkah sahabatnya itu.
"Ra, sedang apa kau?" tanya Nia. Dara terhenyak kaget.
"Ah, tidak, aku hanya sedang bingung. Baru saja Mamaku telepon, katanya dia mau makan malam denganku dan Rei di apartemen."
"Lalu kau bingung kenapa? Ah, iya kau tidak bisa masak. Delivery saja ke restoran. Beres, bukan?"
"Bukan itu masalahnya," kata Dara dengan wajah kusut.
"Lalu?" tanya Nia, sekarang ia yang bingung.
"Aku takut Mamaku tahu kalau aku dan Rei tidur di kamar terpisah, aku harus memindahkan barang-barangku sementara ke kamarnya Rei agar mamaku tidak curiga. Dan kita harus berakting menjadi suami istri sungguhan di depannya. Yang aku takutkan si brengsek Rei tidak bisa pulang cepat."
Nia langsung membelalakkan matanya, sekarang dia tidak bingung lagi tapi syok. Nia menarik bahu Dara dan menghadapkan ke arahnya.
"Ra, apa kau bilang tadi? Kau tidur terpisah dengan Rei?" Dara mengangguk polos.
"Astaga Dara! Selama sebulan kau menikah dengan Rei tidak pernah sekali pun kalian tidur bersama?"
"Iya, bukankah ini hanya pernikahan pura-pura? Kami menikah cuma karena anak ini." Dara menyentuh perutnya yang masih rata. Nia menghela napas sambil memegang keningnya. Sahabatnya yang berumah tangga, tapi kenapa ia yang stres.
"Dara, dengarkan aku! Pura-pura atau bukan pernikahan kalian tetap sah di mata hukum dan agama. Di agama kita kalau kau tidak melayani suamimu itu termasuk dosa besar, kau tahu? Terus Rei bagaimana?"
"Kita melakukan itu atas dasar kesepakatan kita berdua, kok. Tidak ada cinta di antara kami, lalu kenapa kami harus memaksakan diri menjalani rumah tangga seperti kehidupan rumah tangga orang lain? Dan satu yang paling penting di hati kami ada orang lain."
"Terserah kau sajalah." Nia kesal lalu pergi ke luar.
Dara menatap Nia yang keluar dengan bingung. "Kenapa dia marah?" Dara mencuci tangannya di wastafel sebelum keluar.
Nia tersentak kaget ketika keluar dari toilet, karena ia mendapati Joseph berdiri di balik pintu. 'Astaga, apakah tadi dia menguping pembicaraanku dengan Dara?' batinnya.
"Joseph?"
Joseph cepat-cepat meninggalkan tempat itu tanpa berkata apapun. Kalau Joseph sampai mendengar pembicaraannya tadi, pasti akan ada sesuatu yang lebih buruk, pikir Nia. Setahunya, Joseph sangat terpukul dengan pernikahan Dara, makanya dialah satu-satunya orang dari kantor yang tidak hadir di pernikahan Dara.
"Nia, kenapa kau?" Tiba-tiba Dara yang akan keluar dari toilet menegurnya dari belakang.
Nia kembali tersentak kaget. "Ah, t__tidak. Ayo kita pergi."
Melihat sikap Joseph seperti itu, Nia yakin tadi dia mendengar sesuatu.
***
"No, berapa lama lagi kita menyelesaikan ini?" tanya Rei yang sedang melakukan gladi resik untuk acara sweet valentine di salah satu stasiun televisi swasta. Nino melihat jam tangan plastiknya. "Satu jam."
"Kita pulang setengah jam lagi, beri tahu mas Fandy."
"Kenapa Rei?"
"Ibu mertuaku mau makan malam di rumah malam ini," jawab Rei sambil menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.
"Ban, minum!" seru Rei pada asistennya, dengan sigap Iban langsung memberi sebotol air mineral. Belum apa-apa Rei sudah stress mendengar ibu mertuanya akan ke apartemen. Rei meneguk air mineral langsung dari botol hingga habis setengah untuk meredakan stresnya.
__ADS_1
Ketika Nino memberitahu Fandy, Creative Director itu malah tertawa, ia mengerti sebagai pengantin baru, Rei pasti ingin cepat-cepat pulang.
"Hei, pulanglah ... tidak apa-apa bagianmu sudah selesai, kok. Yang duet dengan Jovanka kita bahas nanti. Lagi pula Jov tidak datang sekarang."
"Benarkah? Baiklah. Terima kasih, Fan."
"Rei, bagaimana bulan madunya, menyenangkan? Wah, aku sangat senang mendengar berita kau menikah, rupanya diam-diam kau pintar memilih istri, ya? Istrimu sangat cantik. Selamat Rei," sahut Fandy sambil memamerkan deretan gigi putihnya.
"Bulan madu apanya? Aku sibuk, tidak sempat bulan madu," kata Rei santai.
"Astaga, kau belum bulan madu? Kasihan istrimu Rei, sempatkanlah walau cuma satu minggu."
"Baiklah-baiklah nanti aku pikirkan, kau cerewet sekali," ucap Rei agak sebal. Bukannya ia tidak mau bulan madu, tapi Rei menghormati Dara. Seratus persen gadis itu pasti tidak mau.
Diam-diam Nino dan Iban tersenyum geli melihat Rei di skakmatt oleh Fandy. Bulan madu apanya, tidur bersama juga tidak pernah, batin Iban.
***
Dara sangat tahu tabiat ibunya, dengan jeli ia pasti akan memeriksa sekecil apapun untuk urusan dapur dan rumah tangga, dari itu setelah pulang kerja, Dara belanja ke pasar swalayan untuk memenuhi kebutuhan dapur karena di dapurnya sekarang hanya ada roti dan selai saja, bahkan beras pun tidak ada. Ia membeli buah-buahan, sayuran, minuman, hingga vitamin. Ia belanja seperti orang kesurupan. Semua yang melintas di depan matanya ia masukan ke troli.
Akhirnya enam kresek besar penuh oleh belanjaan. Agus yang mengantar Dara pun sampai kerepotan membawa semua belanjaan itu.
Sampai di apartemen ternyata Rei sudah pulang duluan. Pria itu syok melihat semua barang-barang yang Dara bawa dari pasar swalayan.
"Heh! Kau mau membuat dapurku berantakan?" seru Rei.
"Diam kau! Sebaiknya bantu aku sekarang." Rei mendesah kesal, tapi tidak bisa menolak permintaan Dara.
Setengah jam mereka kerja bakti menata dapur. Setelah dapur selesai, mereka pindah ke kamar, memindahkan barang-barang Dara ke kamar Rei. Menata sedemikian rupa dengan teliti agar ibunya tidak curiga sedikit pun. Foto pernikahan pun yang selama ini tetap dibiarkan terbungkus rapi mulai dipasang di dinding.
Iban dan Agus tersenyum geli melihat kedua majikannya sangat kerepotan dan kompak. Melihat apartemen berubah seperti ini, sekarang jadi terlihat seperti apartemen yang dihuni oleh sepasang suami istri bukan apartemennya seorang pria lajang lagi.
Rei dan Dara duduk di sofa dengan kelelahan, ternyata bebenah rumah bisa sangat melelahkan seperti ini, pikir Rei. Saat mereka tengah duduk santai tiba-tiba ada suara bunyi bel.
Dara dan Rei saling menatap cemas, mereka takut tamu yang ditunggunya sudah datang. Iban yang membuka pintu, tak lama kemudian Iban datang menghampiri Dara dan Rei sambil membawa kantong besar berlogo sebuah restoran.
Rei menatap Dara bingung, karena ia merasa tidak memesan makanan.
"Kukira kau akan masak. Lalu semua belanjaan itu untuk apa?" tanya Rei bingung sekaligus kesal.
"Hei, aku tidak bisa masak. Semua belanjaan itu hanya untuk kutunjukan saja sama Mamaku, karena dia akan ceramah kalau di dapurmu tidak ada apa-apa. Kau tahu Mamaku sangat cerewet, bukan? Kalau risih dengan belanjaanku, besok kau boleh membuang semuanya, atau kasih semua ke Pak Agus," tutur Dara santai.
'Dasar gadis aneh,' gerutu Rei dalam hati.
Rei baru tahu ada perempuan seperti itu di dunia ini. Kenapa ia harus menikahi perempuan seperti itu? Padahal Rei memimpikan istri seperti ibunya yang pintar masak dan mengurus rumah tangga.
"Hhh terserah kau saja," kata Rei sambil berdiri dan berlalu.
"Hei, kau mau ke mana?"
"Mandi ...," jawab Rei sambil berjalan masuk dan menghilang ke kamarnya. Dara menoleh pada Iban yang sedang menatapnya dengan bingung.
"Iban, bisakah kau pindahkan semua makanan itu ke piring? Dan tolong siapkan dan rapikan meja makan, sebentar lagi Mamaku datang."
"Baik, Mbak." Dengan patuh Iban pergi ke dapur menyiapkan semuanya.
***
Sudah jam setengah delapan malam tapi ibu Dara belum datang juga, di luar hujan sangat lebat. Apakah ibunya tidak jadi datang karena hujan dan lupa memberi tahu? Dara dan Rei duduk dengan cemas di ruang duduk. Tapi saat Dara bangkit akan ke dapur, tiba-tiba ada suara bel.
"Biar aku yang buka," ucap Dara. Mungkin itu ibunya yang datang. Benar saja itu ibunya, Dara melihatnya di layar interkom yang terpasang di pinggir pintu.
Dara menyunggingkan senyum saat membuka pintu. "Hai, Ma ...." Amira_ibunya Dara_menghela napas dan tersenyum melihat senyuman anak bungsunya itu.
Melihat senyum cerah itu, membuat dirinya yakin Dara hidup bahagia dengan suaminya.
Tak lama kemudian Rei datang menghampiri mertuanya dan mencium tangan dengan sopan. Amira masuk sambil melihat seluruh ruangan, karena inilah kali pertama ia ke apartemen Rei. Senyumnya mengembang ketika ia melihat foto pernikahan Dara dan Rei terpajang rapi di ruangan utama atau di ruang duduk. Di bawah foto itu ada bufet rendah yang isinya semua piala penghargaan Rei di dunia nyanyi ataupun akting, Amira terkesan dengan semua prestasi yang sudah diraih Rei.
"Apakah Mama menyetir mobil sendiri?" tanya Dara.
__ADS_1
"Iya," jawab Amira sambil sibuk meneliti piala-piala Rei.
"Ya ampun, kenapa tidak diantar Kak Andi atau Kak Alan? Di luar hujannya besar sekali, Ma."
"Mereka sibuk, sayang. Iya, Mama juga tidak tahu kalau hujannya akan sangat besar. Kalau hujannya tidak berhenti juga mungkin Mama menginap saja di sini, Papamu juga pasti tidak akan mengizinkan Mama pulang saat hujan besar seperti ini."
Dara dan Rei terperangah kaget. "Kenapa? Sepertinya kalian tidak suka Mama menginap?" tanya Amira heran.
"Ah, t__tidak bukan begitu, Ma," sahut Rei kikuk.
"Iya Ma, kita senang kok Mama menginap, baiklah kalau Mama mau menginap di sini, nanti aku siapkan kamarnya," kata Dara.
Rei menggigit bibir bingung, kalau ibu mertuanya menginap, berarti malam ini ia akan tidur satu kamar dengan Dara.
Seperti yang diduga, Amira berkeliling apartemen dan meneliti seluruh ruangan termasuk isi kulkas sambil menceramahi Dara panjang lebar bagaimana caranya mengurus rumah tangga yang baik. Harus begini, harus begitu, tidak boleh begini, tidak boleh begitu, itu tidak benar harusnya seperti ini, termasuk memberi Dara wejangan bagaimana seorang istri memuasakan batin suaminya. Sangat rinci tidak ada yang terlewat.
Tenggorokan Dara dan Rei tercekat, mereka merasa aneh dan geli ketika ibunya memberi wejangan-wejangan itu. Sex education memang penting, tapi risih saja kalau harus membahasnya dengan Rei.
Setelah makan malam, masih belum ada tanda-tanda hujan mereda. Jujur saja Rei tidak setuju kalau ibu mertuanya sampai menginap, ia tidak bisa membayangkan bagaimana kikuknya suasana kamar malam ini karena ia harus tidur dengan gadis itu. Seratus persen ia tidak akan bisa tidur. Walaupun Rei pernah tidur dengan Dara dan melakukan hubungan suami istri, tapi saat itu mereka dalam pengaruh alkohol, jadi tidak sadar apa yang terjadi.
***
Di sinilah Dara sekarang. Duduk dengan kaku di sofa, di kamar Rei yang dua kali lebih luas dari kamarnya. Ibunya memutuskan menginap karena hujan tidak juga reda malah sepertinya semakin deras dan petir saling bersahutan.
Jujur, Dara baru bisa mengamati dengan teliti bagaimana kamarnya seorang artis papan atas Indonesia. Sebelumnya Dara tidak terlalu memerhatikan.
Semuanya bernuansa hitam putih. Ranjang, sprei, sofa dan tirai berwarna putih. Sedangkan karpet lantai, lemari pakaian dan furnitur-furnitur yang lain berwarna hitam. Semuanya terlihat mewah dan berkelas. Apalagi kalau melihat lemari kaca yang isinya barang koleksi Rei yang Dara tahu semuanya barang mahal dan susah didapat di dalam negeri. Belum lagi sebuah piano Steinway and Sons yang terpajang dengan anggun di dekat jendela menghadap ke balkon, Dara tahu itu merk piano terbaik di dunia, dan harganya pun sangat mahal, yang paling murah saja harganya berkisar lima ratus jutaan, yang menyebabkan piano itu sangat mahal adalah kualitas kayu piano dan kualitas suara yang dihasilkannya begitu merdu, berbeda dengan piano yang lainnya.
Pria itu benar-benar kaya. Belum lagi mobil mewah yang lebih dari satu di parkiran apartemen. Dara menggelengkan kepala, bagaimanapun kayanya dia, tetap saja dia adalah seorang Reindra yang menyebalkan. Dara tidak akan terkesan oleh hal itu.
"Hei, kau mau duduk saja seperti itu?" seru Rei dari tempat tidur. Dara menoleh menatap pria itu yang sudah berada di balik selimut.
"Kenapa? Kau berharap aku tidur di ranjang yang sama denganmu? Jangan mimpi ya, sampai mati aku tidak mau tidur denganmu. Mending aku tidur di sofa ini," tutur Dara ketus.
"Terserah kau saja. Tapi, setidaknya kau pakai ini." Rei melempar bantal dengan keras ke wajah Dara. Gadis itu melotot, ia tidak percaya Rei akan bersikap kasar seperti ini. 'Maunya apa sih dia sampai melempar bantal seperti ini? Tahan Dara, jangan sampai emosimu terpancing, nanti bisa berabe kalau Mama dengar aku bertengkar dengan Rei.'
Dara menarik napas dalam-dalam dan membuangnya sekaligus. "Baiklah, maumu apa sekarang, heh? Aku tidur denganmu di situ? Baiklah, aku ke sana sekarang." Dara mengancam sambil menjinjing bantal ke kasur.
Rei terperanjak, ia tidak menyangka gadis itu akan berbuat nekad.
"H__hei apa yang kau lakukan? Kembali ke sofamu Dara!" seru Rei sedikit ketakutan.
"Tidak! Bukankah kita sudah menikah? Jadi apa salahnya kita tidur bersama. Bukankah itu yang kau inginkan?" Dara berbaring di samping Rei sambil menatap lekat-lekat pria itu. Rei mendadak salah tingkah, apalagi ketika ia menatap ke mata Dara.
"Dara, hei sadarkan dirimu!" Rei semakin ketakutan, bergeser ke tepi tempat tidur berusaha menghindari istrinya itu.
Dara merasa senang melihat Rei ketakutan, dan sepertinya ia akan bermain-main sebentar biar Rei tahu rasa. Dara semakin mendekatkan tubuhnya pada tubuh Rei hingga dadanya menempel ke dada pria itu. Lalu seulas senyum kemenangan terbersit di bibir Dara.
Rei sadar dirinya sedang dipermainkan oleh gadis itu, ia pun mengumpulkan keberanian untuk menyerang balik. Rei menatap tajam mata Dara lalu kedua tangan kekarnya mencengkram bahu Dara, lalu mendorongnya hingga sekarang posisinya terbalik.
Dara tersentak kaget sekaligus ketakutan, mata Rei sangat tajam menatap dirinya, ia merasa seperti sedang ditatap oleh hewan buas.
Dadanya dan dada pria itu saling menempel hingga detak jantung Rei dapat dirasakan olehnya.
Detak jantung Rei berdetak sangat cepat. Posisi itu tidak berubah hingga satu menit lebih, perlahan tatapan mata Rei berubah, semakin lama semakin meredup tidak setajam seperti sebelumnya, seperti ada sebuah simfoni yang mengalun indah di dalam dadanya, Rei sendiri tidak mengerti kenapa saat menatap mata gadis itu dadanya seperti bergetar hebat.
Dara tidak bisa berkutik karena tangan Rei memegang tubuhnya dengan erat hingga tidak bisa bergeser sedikit pun. Perlahan Dara pun tenggelam oleh tatapan maut Rei sampai susah untuk menelan ludahnya sendiri. Dara tidak tahu kenapa ia seperti itu.
Kemudian Rei merasa hilang kendali, perlahan ia mendekatkan wajahnya ke wajah Dara, perlahan sekali, hingga sedikit demi sedikit ia merasakan napas Dara terasa hangat di wajahnya.
Entah ada setan apa yang membuat Dara memejamkan mata, seperti terbawa suasana. Dara mulai merasakan bibirnya sedikit ada yang menyentuh, ia tahu itu adalah bibir Rei.
Namun, sedetik setelah Dara merasakan sentuhan itu, matanya langsung terbuka lebar, terlihat Rei sudah bersiap untuk melakukan ciuman yang lebih dalam, Dara langsung mendorong dengan kuat tubuh pria itu hingga tergeletak ke samping, cepat-cepat Dara mengambil bantal dan kembali ke sofa.
Tiga puluh detik penuh suasana jadi hening, tidak ada satu pun yang bersuara, tapi setelah itu terdengar Rei berdeham. "Maafkan aku," ucapnya.
"Tidak apa-apa. Sebaiknya kita tidur saja," tutur Dara sambil berbaring di sofa. Sampai detik ini jantung Dara masih berdetak kencang. Ciuman satu detik tadi adalah ciuman pertamanya, dan sepertinya bukan hanya karena itu saja jantungnya berdetak hebat hingga rasanya hampir mendapat serangan, tapi karena tatapan pria itu.
Rei menatapnya dengan berbeda, dan ia baru melihatnya kali ini. Terdapat berbagai emosi di dalamnya bercampur jadi satu, tapi sepertinya Dara menangkap sesuatu dari tatapan itu.
__ADS_1
'Apakah Rei mencintaiku?'
***