
"Astaga, kenapa kau selalu seperti ini? Apakah kau sudah bosan kerja denganku? Apa kau mau aku pecat?" Wajah Rei terlihat memerah memarahi asistennya yang selalu ceroboh. Kostum yang harus ia pakai di acara peluncuran smartphone sore ini ketinggalan di apartemennya. Rei kebetulan yang menjadi Brand Ambasador smartphone itu.
Dari acara satu ke acara yang lain Rei harus ganti baju, pantang baginya memakai baju yang sama untuk beberapa acara yang harus ia hadiri di hari itu.
"Maaf Bos, tadinya aku kira baju itu sudah aku masukan ke tas. Tadi pagi aku cuma konsentrasi pada kostum buat acara live musik saja," Iban menyesal dengan kepala menunduk.
Rei menggertakan gigi mengontrol emosinya, ia sudah beberapa kali berusaha sabar ke asistennya itu, tapi ini sudah terjadi beberapa kali. Namun, sebenarnya kesalahan yang sulit ia tolelir adalah, Iban tidak mengunci pintu kamar resortnya waktu di Bali yang mengakibatkan kecelakaan dengan Dara terjadi.
"Sudahlah! Sekarang masih ada waktu satu jam. Kau ke apartemen bawa baju itu. Dari sini ke apartemen tidak terlalu jauh, bukan? Dan kau harus sudah kembali dalam empat puluh menit, supaya aku masih punya waktu untuk ganti baju! Mengerti?"
"Siap Bos!" seru Iban. Kemudian lelaki bertubuh mungil itu mengambil langkah seribu mematuhi perintah bosnya yang galak itu.
Sejak kejadian di Bali, Rei jadi sering melamun. Semua perkataan yang tertuju padanya sering lewat begitu saja, lalu orang-orang yang bicara padanya dengan malas harus mengulangi perkataannya itu.
"Rei, kau harus dimakeup dulu," sahut salah satu panitia acara.
Rei mengerjap. "Apa?" Ia melamun lagi. Panitia itu mendengus sambil menatap Rei sebal. Karena sudah sekian kalinya ia tidak konsentrasi mendengar arahan-arahan dari panitia.
Rei seperti cangkang kosong.
"Hei, ada apa denganmu, Rei? Apa kau sakit? Hari ini kau berbeda sekali."
Senyum Rei tersungging di bibirnya, berusaha menunjukan pada orang-orang kalau dirinya baik-baik saja.
"Ah, tidak. Aku tidak sakit. Maaf, tadi kau bilang apa?"
"Kau harus dimakeup dulu, Santi sudah menunggumu di ruang makeup."
"Benarkah? Baiklah aku ke sana sekarang." Rei cepat-cepat bergegas ke ruang makeup. Panitia itu menatap punggung Rei dengan curiga, pasti sudah terjadi sesuatu, pikirnya.
***
Rei menyanyikan dua lagu andalannya di acara itu. Lalu secara resmi produk smartphone baru itu meluncur ke pasaran. CEO untuk Indonesia ponsel itu, percaya dengan ketenaran Rei sebagai selebriti kelas atas, akan membantu penjualan. Rei sudah menjadi Brand Ambasador banyak produk, dan terbukti produk-produk itu selalu laris di pasaran.
Setelah acara selesai, banyak wartawan yang sudah menunggunya. Rei langsung diserbu oleh belasan wartawan, kebanyakan dari wartawan infotinment dan media on line. Banyak pertanyaan yang harus ia jawab, salah satunya pertanyaan persiapan konsernya di Lombok. Lalu ada salah satu wartawan yang tidak tahan untuk menanyakan masalah pribadi Rei.
"Apakah sampai sekarang kau masih jomblo?" Rei menatap wartawan itu lalu berusaha tersenyum hangat, walaupun pertanyaan itu paling dibencinya.
"Aku masih jomblo," jawab Rei lugas.
"Apakah kau tidak berniat mencari pacar? Dan apa kriteria wanita idamanmu?" tanya wartawan yang lainnya.
"Aku tidak mencari, biarkan mengalir saja. Jadi doakan saja ya, dan aku tidak mematok kriteria apapun, yang penting dia cocok denganku, itu saja. Oke, makasih semuanya ...." Rei cepat-cepat meninggalkan kerumunan wartawan.
__ADS_1
Iban langsung menghampiri bosnya dan menyorongkan sebotol air mineral tanpa harus diminta lagi.
"Ban, kau tahu Nino di mana?" tanya Rei setelah meneguk air mineralnya.
"Sepertinya Mas Nino sudah berangkat ke kantor menemui Pak Robi. Katanya Pak Robi sudah pulang dari Singapura."
Rei menghempaskan tubuhnya ke kursi di ruang artis. Hari ini sungguh melelahkan. Ada tiga acara yang harus ia hadiri hari itu, ditambah nanti malam ia harus latihan di studio untuk persiapan konsernya di Lombok.
Rei memejamkan mata sambil mengurut pelan keningnya. Ia lelah dengan semua jadwal, ia lelah dengan semua pekerjaannya yang tidak ada kata libur. Ia lelah dengan keartisannya.
Rei lelah dengan semuanya.
Namun, ia harus pofesional karena kontrak-kontrak itu tidak boleh dilanggarnya. Sebenarnya semua pekerjaan itu akan terasa ringan kalau saja Nadine ada di sisinya. Nadine tidak jadi pulang ke Indonesia karena ada yang harus ia urus di Melbourne. Entahlah Rei tidak tahu apa yang harus ia urus di sana. Rei hanya berusaha berpikir positif Nadine tidak menghianatinya.
"Ban, mana ponselku?" Asistennya cepat-cepat mengambil ponsel Rei di tas, lalu Iban menemukan benda asing di sana. "Apa ini?" tanyanya sendiri. "Ponsel? Ponsel siapa ini? Kenapa ada di tas Bos Rei?"
Iban menimang-nimang benda itu di tangannya. Seingatnya bosnya itu tidak punya barang jadul seperti ini.
"Ban, mana ponselku?" ulang Rei kesal karena lama. Iban menghampiri Rei lalu memberikan ponselnya.
"Bos, ponsel ini milik siapa?" Dengan ragu Iban menunjukan benda itu pada Rei. Rei terduduk tegak lalu merebut ponsel jadul itu dari tangan Iban.
"Bukan punya siapa-siapa," katanya dengan cepat.
"Oh, baiklah Bos, aku ke mobil dulu," ucap Iban sambil menenteng dua tas milik Rei. Sebelum pergi, diam-diam Iban melirik pada bosnya. Sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan bos, pikir Iban.
'Dara kau baik-baik saja? Kau di mana sekarang? Kami semua pusing mencarimu kemana-mana,' (sms dari Nia).
Rei melihat tanggal sms tersebut, itu saat kejadian malam sialnya dengan gadis itu.
'Ra, kakak pinjem buku perbankan ya, lagi butuh nih,' (sms dari kak Andi).
Gadis itu punya kakak laki-laki ternyata. Dan apakah dia bekerja di bank? Selebihnya semua sms yang menanyakan kabar Dara karena ternyata dia sakit dan tidak masuk kerja.
Sampai ada sms dari Head Teller. Ternyata benar gadis itu seorang teller bank. Yang terakhir dan yang terbaru ada sms yang sedikit mengejutkan Rei. Sms itu dari Joseph beberapa menit yang lalu.
'Dara maafkan aku, aku sangat menyesal sudah berkata seperti itu, apakah kita bisa memperbaiki hubungan kita kembali? Aku tidak nyaman kalau kau menghindariku terus. Aku tidak setuju saat kau bilang kita pura-pura tidak saling kenal. Aku mohon Ra, bersikaplah seperti biasa padaku.'
Rei tertawa kecil antara lucu dan geram. Ia tahu awal mula gadis itu mabuk adalah karena laki-laki yang bernama Joseph itu, dan sekarang dia ingin memperbaiki hubungannya? Tidak tahu malu juga dia. Rei jadi penasaran seperti apa si Joseph itu. Selang beberapa detik setelah sms itu masuk ada panggilan masuk. Ternyata dari Joseph.
"Dasar brengsek! Kau berani menelepon?" gumam Rei. Rei membiarkan telepon itu terus bergetar, tapi akhirnya Rei mengangkatnya juga, penasaran apa yang akan dikatakan pria itu.
"Halo Dara, halo ...." seru Joseph.
__ADS_1
Rei tidak akan berbicara, ia akan membiarkan pria itu yang bicara duluan.
"Halo ... Ra, kau mendengarku? Dara, apa kau serius marah padaku? Kau tidak mau bicara? Maafkan aku Dara, aku memang benar-benar bodoh karena selama ini terus mengabaikanmu. Aku menyesal sudah menolakmu. Ternyata Naila hanya mempermainkanku saja, Naila sudah punya tunangan, dia dijodohkan oleh orang tuanya. Ra ... Dara ... kenapa kau diam saja? Tolong bicaralah!"
Rei tertawa kecil. Joseph terkejut ketika mendengar suara tawa itu bukan suaranya Dara.
"Hei, kau siapa?" seru Joseph kaget.
"Aku? Kau tidak perlu tahu aku siapa. Hm, aku cuma mau bilang padamu, kau memang laki-laki bodoh, mengabaikan wanita cantik yang jelas-jelas menyukaimu, tapi kau malah mengejar wanita yang belum jelas menyukaimu. Terima sajalah akibatnya sekarang. Hei ... penyesalan itu tidak ada yang datangnya di awal. Kasihan sekali kau." Rei tertawa mengejek.
"Brengsek! Siapa kau? Cepat berikan ponselnya ke Dara!"
"Dara? Dara tidak ada di sini. Sudah ya, aku tutup teleponnya."
Klik ... Rei menutup telepon lalu tertawa puas. "Dasar bodoh!" gumamnya.
🌷🌷🌷
Joseph menatap ponselnya tidak percaya. Ia sedikit syok, bagaimana mungkin ada orang dengan tidak sopan mengangkat ponsel orang lain? Dan lebih-lebih orang itu tahu masalahnya dengan Dara. Astaga, apakah orang yang tadi mengangkat teleponnya adalah kakaknya Dara? Joseph tahu, Dara mempunyai dua orang kakak laki-laki.
Joseph menutup mulutnya cemas. Joseph ingin cepat hari senin dan menanyakannya pada Dara.
🌷🌷🌷
Rei duduk termangu sambil menopang dagunya dengan satu tangan pada meja. Malam minggu ini akan ia habiskan dengan berlatih di studio. Sekarang sudah tidak ada waktu untuk berkumpul di kafe dengan teman-temannya, ataupun sekedar membeli barang kesukaannya ke mall. Sejak dirinya mulai debut keartisannya, ia sadar hal ini akan terjadi. Waktunya tidak akan selenggang dulu dan dirinya bukan lagi milik dirinya sendiri, tapi sudah milik publik. Karena gerak-gerik sekecil apapun pasti akan disorot.
Rei sudah jenuh dengan semua itu. Di lubuk hatinya kadang terbersit ia ingin memulai hidup yang baru agar ia merasa sedikit terhibur.
"Bos, Mas Nino telepon," seru Iban, karena dari tadi Rei tidak menyadari kalau ponselnya bergetar di depannya.
"Oh," Rei mengerjap, lalu menjawab panggilan Nino.
Mata Iban menyipit menatap bosnya khawatir. "Dia melamun lagi," gumamnya.
"Halo," seru Rei.
" ......."
"Aku masih di rumah."
" ........"
"Baiklah, aku ke studio sekarang."
__ADS_1
Rei bangkit menuju kamarnya untuk ganti baju. Iban menatap bosnya hingga masuk kamar, lantas ia geleng-geleng kepala. 'Kenapa sejak pulang konser di Bali, Bos sering bersikap aneh?' Iban menyimpan cangkir kotor bekas teh yang tadi diminum Rei ke tempat cuci piring.
***