Menikah Tanpa Pacaran

Menikah Tanpa Pacaran
Part 8


__ADS_3

Sudah lima menit Rei tidak beranjak dari depan cermin. Ia tetap berdiri mematung sambil memandang dirinya sendiri.


Apa kau yakin?


Apa nanti kau akan bahagia dengan keputusanmu ini?


Apa nanti semuanya akan baik-baik saja? Terutama dengan karir?


Apa nanti kau siap menjadi seorang ayah?


Nanti bagaimana kau akan menjelaskan semuanya pada Nadine?


Apa nanti kau masih bisa hidup tanpa dia?


Sudah ribuan pertanyaan yang terlintas di kepala Rei tanpa tahu jawabannya.


Rei mengerjap karena ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya.


"Bos?" Sayup-sayup terdengar suara Iban memanggil dari luar.


"Bos, apa kau sudah selesai? Mas Nino sudah menunggu," sahut Iban.


Rei mengecek sekali lagi penampilannya, dan merapikan sedikit blazernya.


"Baiklah Reindra, kau melakukan hal yang benar," ucapnya pada diri sendiri.


Malam ini rencananya Rei akan ke rumah Dara untuk menemui orang tuanya, seperti yang sudah ia janjikan kepada kedua kakak Dara kemarin.


Rei keluar kamar. Rupanya Iban masih berdiri di depan pintu kamar dengan wajah berseri-seri.


"Kenapa?" tanya Rei heran.


"Bos, apakah aku tidak sedang bermimpi sekarang?"


"Maksudmu?"


"Kata Mas Nino, Bos akan menikah, apa itu benar?" Rei mengerjap mendengar pertanyaan Iban. Tapi yang tidak habis pikir, sepertinya asistennya itu senang mendengar Rei akan menikah. Ya, karena Iban tidak tahu alasan kenapa Rei harus menikah.


"Iya, aku akan menikah," jawab Rei. Seketika Rei dipeluk oleh pria yang sedikit kemayu itu.


"Hei, apa-apaan kau ini?" Rei mengenyahkan Iban jijik.


"Selamat ya, Bos. Sumpah aku senang mendengarnya."


Dari ruang duduk, terlihat Nino cekikikan melihat tingkah artis dan asistennya itu.


"Rei ...." Nino berseru sambil menyentuh arlojinya dengan telunjuk karena mereka sudah terlambat.


Sementara itu, di rumah Dara terjadi sedikit ketegangan, sebelumnya Andi dan Alan sudah menyinggung akan ada tamu yang akan berkunjung malam ini. Ibunya Dara langsung memberondongkan pertanyaan-pertanyaan, tapi Alan berhasil meredakan rasa penasaran ibunya itu. Menurutnya, jika ibunya tahu sekarang, takutnya pertemuan itu akan sedikit berantakan, jadi nanti saja menunggu Rei datang dulu, baru menjelaskan semuanya.


Dara pulang lebih awal dari kantor saat diberi tahu oleh kakaknya bahwa Rei akan datang. Dara kaget bukan kepalang. Padahal sebelumnya ia berpikir, pria itu akan lepas dari tanggung jawab. Apakah Rei mau bertanggung jawab karena ia takut karirnya akan hancur? Apapun alasannya, yang penting sekarang anak di perutnya akan mempunyai status yang jelas.


Dara kebingungan memilih baju yang akan ia pakai sekarang. 'Yang benar saja, aku tidak punya baju yang bagus,' gerutunya sendiri. Mungkin cuma gaun beludru yang ia beli tahun lalu. Dara terdiam menyadari satu hal, bahwa ia terlalu cuek untuk urusan penampilan.


Dara sangat jarang membeli baju ataupun hal lain yang bersifat pribadi seperti ke salon. Mungkin, kalau ia berpacaran dengan seseorang, baru akan memerhatikan penampilan.


Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar, kemudian Alan menyundulkan kepalanya ke dalam kamar Dara.


"Ra, kau belum siap? Rei sudah datang, tuh." Dara mengerjap, entah kenapa jantungnya seperti melorot ke bawah mendengar Rei sudah tiba.


"Oh, iya, Kak ...."


"Cepat, ya ...," ujar Alan lalu menutup pintu kamar.


Dara menatap dirinya di cermin lalu menarik napas dalam-dalam. 'Aku harus siap. Dara menarik satu baju di lemarinya tanpa ia pilih lagi, lalu pergi ke ruang tamu.


🌷🌷🌷


Saat pertama kali datang, Rei dan Nino terlohok melihat bagaimana bagusnya rumah Dara. Sampai masuk ke rumah, Rei dan Nino belum berhenti takjub melihat rumah tersebut. Rei bersyukur ke sana naik salah satu mobil sport mewahnya.


Nino sungguhan kaget ketika tahu siapa ayah Dara. Ternyata ia adalah salah satu Profesor di kampusnya dulu. Pemuda itu sudah tidak tahan untuk memberitahu Rei, tapi sekarang belum saatnya. Ia tahu bagaimana galaknya Profesor Salim Pratikno itu.


Diam-diam Nino bergidik, ia tidak percaya Rei akan mempunyai mertua Profesornya itu. Ini bencana.


Sekarang Rei, Nino, Dara dan keluarga, berkumpul di ruang tamu. Tadinya Nino yang akan menjadi pembicara, tapi setelah tahu siapa yang akan ia hadapi, seketika nyalinya jadi ciut, Rei sedikit heran dengan sikap Nino yang tiba-tiba seperti kerupuk tersiram air itu.


"Hei, ayo bicara!" bisik Rei.


"Aku tidak bisa, nanti aku ceritakan padamu."


Rei mendesah kesal, demi Tuhan atmosfir seperti ini sungguh tidak enak, lihatlah wajah kedua orang tua Dara, sungguh menakutkan terutama ayahnya. Melihat sepintas saja orang-orang bisa melihat kalau pria setengah baya itu mempunyai sifat yang tidak jauh berbeda dengan Hittler. Main-main sedikit saja, kau akan mati di tangannya.

__ADS_1


Sementara itu, ayah Dara menunggu Rei untuk bicara dengan tatapan mata menakutkan. Beberapa kali Rei ******* bibirnya untuk meredakan kegugupannya, tapi tanpa hasil. Namun, sepertinya Alan bisa membaca situasi itu, ia pun mulai angkat bicara.


"Pa, mereka ini Rei dan Nino."


"Diam Alan, biarkan mereka yang bicara," sela ayah Dara dengan nada tegas. Melihat ayahnya seperti itu, Dara jadi ketar-ketir, ia harus mencari cara mencairkan suasana. Saat otaknya sedang berpikir, tiba-tiba Rei mulai bersuara.


"Saya datang ke sini sekarang adalah untuk melamar Dara, Pak. Saya ingin menikahi putri Bapak," tutur Rei langsung pada pokok permasalahan, karena dari pengamatannya, orang tua Dara sepertinya tidak suka berbasa-basi.


Mulut ibu Dara menganga. Sungguh ia tidak percaya apa yang didengarnya sekarang. Entah ia harus senang atau kecewa, karena sebelumnya Dara tidak pernah sedikit pun membahas masalah ini dengannya.


"Apa? Kau akan menikahi putriku? Kenapa kau ingin menikahi putriku?" tanya ayah Dara lugas, terdengar ada nada tidak suka dalam suaranya, dan suaranya yang berat namun tajam, membuat Rei sedikit gemataran. Tapi Rei harus bisa mengendalikan diri.


"Karena aku mencintainya, Pak." jawab Rei tegas.


Dara mendongak menatap Rei, ia tidak menyangka Rei akan memberi jawaban itu, tadinya ia pikir pria itu akan menjawab karena Dara tengah hamil, tapi ternyata bukan. Dara sedikit terkesan dengan sikap pria itu. Kalau dia menjawab bahwa Dara tengah hamil, ia yakin Rei tidak akan pulang dengan selamat. Dan dirinya sendiri juga akan menjadi tawanan rumah dengan siksaan-siksaan yang tidak akan pernah ia bayangkan.


Alan menarik napas dalam-dalam, ia salut dengan keberanian Rei bisa menghadapi orang tuanya yang seperti itu. Sekarang Alan yakin Rei adalah pria yang baik.


Ayah Dara menarik napas dan membuangnya perlahan. Sekarang ia terlihat lebih rileks dan merubah posisi duduknya lebih santai. Tanpa sadar Dara membuang napas lega, ia tahu sekarang ayahnya sudah lebih santai.


"Benarkah? Apa kau tahu Dara mempunyai dua orang kakak yang dua-duanya belum menikah?"


"Iya, saya tahu," jawab Rei.


"Kalau Dara menikah, berarti ia harus melangkahi kedua kakaknya," ujar ayah Dara tajam.


"Kami tidak masalah kok, Pa," sahut Andi.


"Iya, kami tidak keberatan kalau Dara menikah duluan, yang terpenting sekarang adalah kebahagiaan Dara. Biasanya perempuan ingin menikah muda, benar kan, Ra?"


Dara mengerjap namanya disebut Alan. Dara hanya mengangguk dan tersenyum kecut. Entahlah, sebenarnya ia tidak tahu apa yang sedang terjadi. Ia belum pernah berpacaran sekali pun, tapi tiba-tiba sekarang ia sedang dilamar oleh pria yang tidak dikenalnya. Sungguh menggelikan.


"Baiklah kalau begitu, kapan rencananya kau akan menikahi anakku?" tanya Salim Pratikno.


Sekali lagi Rei ******* bibirnya sebelum ia menjawab pertanyaan. "Secepatnya, Pak. Aku ingin menikahinya dalam sebulan ini."


"Apa?!" seru ibu Dara kaget, dan ayah Dara seketika terduduk tegak.


"Hm, maafkan aku Pak, Bu, aku tahu pernikahan ini sangat mendadak, tapi aku ingin sebelum konserku di Malaysia dua bulan lagi, aku sudah menikah dengan Dara agar aku bisa lebih tenang."


"A__apa konser?" Ibu Dara memekik.


"Iya Bu, saya seorang penyanyi," ucap Rei lugas. Setelah kemarin kedua kakak Dara tidak tahu siapa dirinya, seratus persen kedua orang tua Dara pun tidak tahu.


Alan dan Andi menunduk, mereka tahu ibunya akan bersikap seperti itu. Berbeda dengan Dara, ia tidak menunduk melainkan berlutut di depan orang tuanya.


"Ma, aku mohon restui kami, aku sangat mencintainya, Ma. Apakah Mama mau melihat aku menderita? Lagipula apa jeleknya pekerjaan itu? Yang penting pekerjaan itu halal, tidak korupsi seperti pejabat-pejabat, benar, kan?"


Salim Protikno menarik napas dalam-dalam, ia kembali terlihat lebih tenang. Tapi ibunya Dara belum.


"Kau sudah punya rumah?" tanya ibu Dara ketus.


"Saya punya apartemen di daerah Jakarta selatan. Rumah juga ada di daerah Jakarta timur, tapi belum selesai, masih dalam tahap finishing, secepatnya akan saya selesaikan. Anda jangan khawatir saya tidak akan membuat hidup Dara kekurangan, saya janji." tutur Rei lalu seulas senyum terbit di bibirnya. 'Astaga ibu gadis itu sungguh matrealistis,' pikirnya.


Dara melihat Rei tajam, 'kau bersikap meyakinkan sekali, lihatlah kau tersenyum segala, ya ampun!'


"Baiklah, saya setuju," ucap ibu Dara, tapi masih dengan wajah yang ketus.


Diam-diam Nino tersenyum. 'Rei kau memang pintar mengambil hati orang. Tidak sia-sia saat aku suruh kau untuk membeli apartemen dan membuat rumah, sekarang itu ditanyakan oleh calon mertuamu,' sahut Nino dalam hati.


"Sebelumnya saya minta maaf karena ibu saya tidak bisa hadir sekarang karena beliau sedang tidak sehat, di kampung halaman saya."


"Memangnya kau asli orang mana?" tanya Andi.


"Saya dari Surabaya, Kak."


"Baiklah, kapan rencana pernikahannya?" tanya ayah Dara.


"Sekarang sedang dipersiapkan. Pokoknya sebelum akhir bulan ini, inshaallah siap. Biar manager saya yang menjelaskan persiapannya sudah sampai mana."


Nino tersentak dan memandang Rei bingung. Rei mengangguk mengisyaratkan Nino untuk segera bicara. Sedangkan Nino tidak tahu mau bicara apa, karena semuanya baru ia uruskan kemarin sore dan belum ada perkembangan yang berarti.


Entah kenapa ibu Dara seperti mencium ada sesuatu yang aneh. Ia masih tidak mengerti karena Dara tidak pernah sedikit pun menyinggung dekat dengan seorang pria, tapi sekarang tahu-tahu ia dilamar dan pernikahan itu sudah diuruskan segala tanpa ia tahu sedikit pun.


"Oh, Hm ... tadi pagi WO menghubungi saya katanya sekarang masih dalam proses mencari gedung dan menentukan tema. Kalau soal gedung, itu gampang tinggal menyesuaikan dengan jumlah undangan yang akan diundang. Untuk tema, karena Rei dari jawa, jadi akan memakai adat jawa, baju pengantin juga sedang dikerjakan," tutur Nino sedikit berbohong tentang baju pengantin, karena kemarin saat ia menelepon designer kondang itu, ia tidak menjawabnya. Namun Nino yakin, jika tahu yang pesan adalah Reindra, pasti ia akan mendahulukan Rei. Karena mereka sahabat dekat.


"Hm, tapi yang terpenting adalah besok akan mengadakan konfrensi pers. Rei dan Dara harus hadir untuk memberi tahu kabar ini ke media."


Mata Dara terbelalak. Ia tidak tahu sama sekali masalah itu, Alan tidak memberi tahu soal konfrensi pers.


'Hah konfrensi pers? Yang benar saja besok aku harus bekerja. Pria itu benar-benar bisanya cuma memutuskan sendiri!'

__ADS_1


🌷🌷🌷


Setelah bicara panjang lebar, Rei dan Nino makan malam dulu sebelum pulang. Setelah makan malam Rei dan Dara ada kesempatan untuk berbicara berdua di teras.


"Kau lega?" tanya Rei


"Kenapa kau berbuat sesukamu saja? Kenapa kau tidak bicara dulu denganku besok akan konfrensi pers? Aku tidak bisa konfrensi pers besok, maafkan aku."


"Kenapa tidak bisa? Aku tidak mau tahu, kau harus konfrensi pers besok denganku!"


"Tidak bisa. Besok aku harus bekerja."


"Ya ampun, kau kan bisa izin."


"Tidak bisa, aku sudah terlalu banyak izin. Asal kau tahu saja karena kehamilan sialan ini, aku jadi seperti orang sakit setiap hari."


"Apa kau bilang? Kehamilan sialan? Astaga, kau sama saja dengan menyebut anakku anak sialan. Kurang ajar sekali kau!" seru Rei kesal.


"Ya, memang benar. Karena anak ini, masa depanku jadi suram, sesuram-suramnya! Aku tidak pernah pacaran seumur hidupku, tahu-tahu sekarang aku sudah dilamar oleh pria yang tidak aku kenal, lalu aku akan menikah dan menjadi seorang janda. Ya ampun, apakah ini masih bisa disebut dengan kehidupan? Bagiku ini adalah sebuah neraka."


Rei menatap Dara dengan tatapan menyerah. "Hei, apakah ini juga mudah bagiku? Ini sangat berat! Kau tahu berapa kerugian materi yang harus aku bayar karena masalah ini? Aku yakin kau akan syok mendengar berapa hasilnya. Aku harus membatalkan beberapa kontrak bulan ini. Lalu apalagi setelah ini? Akan ada banyak gosip jelek tentangku, dampaknya kau tahu? karirku mungkin akan turun. Lalu apa yang terpenting? Nadine. Aku harus rela kehilangan dia. Dan Nadine juga akan tersakiti. Kau tahu rasanya? Ini seperti patah hati dua kali sekaligus."


"Aku tidak mau tahu tentang itu. Karena itu urusanmu," ujar Dara sambil membuang muka.


Rei mendesah panjang. "Ya, kau benar. Kau tidak perlu tahu tentang Nadine. Untuk apa juga tadi aku membicarakan itu denganmu. Oh iya, minggu ini kau harus ikut denganku ke Surabaya untuk berkenalan dengan keluarga besarku. Nino sudah beli tiket pesawat untuk kita."


Dara menoleh sama Rei, 'ya ampun lagi-lagi pria ini bersikap sesukanya.'


"Sudah dua kali kau bersikap tanpa bertanya dulu padaku. Aku tidak bisa pergi," sahut Dara ketus.


"Sandara! Apa kau gila? Kita akan menikah bagaimana mungkin aku tidak memperkenalkan calon istriku pada keluargaku?" Rei sedikit berteriak karena sudah terlalu kesal dengan sikap Dara yang menurutnya sangat kekanak-kanakan.


Mata Dara terbelalak kaget. Ia tidak menyangka Rei akan semarah itu, dan dari mana juga pria itu tahu nama aslinya Sandara?


"H__hei kenapa kau berteriak padaku?" Dara berucap sambil melongok ke dalam rumah, takut siapa pun mendengarnya.


"Kenapa kau tidak mau pergi?"


"Mmm ... itu karena aku akan muntah kalau berpergian jauh, apalagi naik pesawat. Orang yang sedang hamil muda sepertiku pasti akan jetlag."


Rei meraupkan tangan ke muka. Sudah dua kali juga jawaban Dara membuatnya tidak bisa marah. "Baiklah, kita nanti saja ke Surabayanya. Nanti kalau ibuku sudah sembuh biar aku yang menyuruhnya ke sini. Tapi untuk konfrensi pers besok, kau harus datang, tidak boleh tidak! Nanti aku akan menyuruh orang menjemputmu ke kantor jam satu siang. Kau mengerti?"


"Baiklah-baiklah ... tapi maafkan aku karena tidak bisa pergi ke Surabaya, aku benar-benar tidak bisa naik pesawat. Bisa saja kita memaksa berangkat, asal kau bersedia mengurusku kalau aku muntah-muntah. Kau mau?"


"Ah, sudah lupakan." Rei mengibaskan tangan.


Dara tersenyum remeh, ia tahu Rei tidak akan mau.


🌷🌷🌷


Rei dan Nino duduk santai berdua di kafe, tepatnya di smooking area. Mereka tengah menikmati kopi dan tentunya menghisap rokok. Hal seperti ini sangat jarang Rei lakukan setelah minggu-minggu kemarin sangat sibuk. Ada untungnya juga, masalah ini membuat Rei punya waktu luang dan bersantai-santai.


"Kau mengagumkan Rei," sahut Nino sambil mengembuskan asap rokok ke udara. Rei tersenyum bangga.


"Kau tahu siapa keluarga gadis itu? mereka benar-benar keluarga terhormat."


"Oh, ya?"


"Ya, ayahnya Dara adalah seorang Profesor di kampusku dulu. Dia seorang Guru Besar di bidang Managemen Strategi, dia terkenal super galak tapi dia sangat berprestasi. Saat tahu siapa yang tengah aku hadapi, seketika aku tidak punya keberanian untuk bicara. Tapi kau mampu mengambil hatinya. Kau benar-benar keren," tutur Nino panjang lebar. Rei kembali tersenyum bangga.


"Kapan aku tidak keren? Semua yang kulakukan selalu keren, bukan? Mmm, pantas saja nyalimu jadi ciut. Kau payah. Oh iya, bagaimana dengan produser-produser, pihak lebel, dan perusahaan mie instan itu?"


Nino menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya sekaligus, wajahnya terlihat kusut sekali.


"Ya, kau jangan tanya syoknya mereka, bahkan Pak Robi hampir saja mati terkena serangan jantung, karena kau harus membatalkan beberapa offair di luar kota. Tapi kau jangan khawatir perusahaan mie instan itu ngotot ingin kau yang membintangi iklannya, jadi mereka menunda syuting sampai urusanmu selesai. Hhh, kau benar-benar beruntung."


"Tapi Produser-Produser itu setuju dong?" tanya Rei agak cemas.


"Ya begitulah, bagaimana lagi kau terlanjur menghamili orang," sahut Nino datar.


"Astaga, apa kau memberitahu mereka alasan kenapa aku harus menikah?" Rei terduduk tegak sambil melotot kaget.


"Ya, tentu saja. Kecuali ke perusahaan mie instan itu. Terutama Pak Robi, dia harus tahu dong, kenapa kau sampai menikah super dadakan begini?"


Rei mengurut keningnya pelan. Ia bersumpah saat ini tidak sanggup bertemu atau menerima telepon dari Pak Robi.


"Kata Pak Robi, kita lihat hasilnya nanti, kalau responnya baik dari masyarakat, berarti kau benar-benar artis yang paling beruntung di dunia. Hhh ... aku tidak sabar segera besok, setelah hari itu kabar terpanas sepanjang tahun ini akan meledak. Kau siap?"


Rei tercenung, dalam tatapannya terpancar kehawatiran yang luar biasa. Ia sendiri juga tidak tahu.


" Entahlah."

__ADS_1


🌷🌷🌷



__ADS_2