Menikah Tanpa Pacaran

Menikah Tanpa Pacaran
Berantem.


__ADS_3

" Rian lepas.. aku mau ke kamar mandi " Zyona salah tingkah. Baru masuk kamar, suaminya ini membawanya ke ranjang dan mengurungnya dalam pelukannya.


Adrian memiringkan tubuhnya semakin erat memeluk tubuh Zyona.


" Aku tau kamu bohong, jujur dulu sama aku kamu kenapa? "


Zyona diam, banyak pertanyaan didalam kepalanya. Ingin meminta penjelasan dari Adrian, tapi tidak tahu harus memulai dari mana.


Adrian mensejajarkan wajahnya dengan wajah Zyona. Menatap dalam mata istrinya. Membuat jantung gadis itu semakin berdegup kencang.


Ais sial, kalo Adrian sedekat gini aku gak bisa lanjut marahnya dong... jangan gangguin aku Rian, aku pengen serius marah dulu..


" Zyona, bilang ke aku, apa yang buat kamu marah sampe jauhin aku kayak tadi? " Adrian menyingkirkan rambut-rambut kecil yang menutupi wajah istrinya. Menggesernya ke belakang telinga.


Wajarkan kalo aku nanya sama Adrian? Aku berhak nanya kan? Apapun nanti jawabannya aku harus terima, kalau memang aku dijadikan pelampiasan kayak waktu itu biar aku tau, ngambil langkah ku kedepannya. Biar hati ini gak melambung terlalu tinggi lagi.


Zyona menarik napasnya dalam. Memberanikan diri menatap mata Adrian "Apa artinya aku dimata kamu"


Hanya satu pertanyaan itu, langsung membuat Adrian mengernyit kan dahinya heran.


" Kok kamu nanyanya gitu"


" Oke aku ganti pertanyaan ku " Memberi jeda di kalimatnya. Menarik napasnya sebentar dan dihembuskan kasar.


" Aku ini ada gak harganya dimata kamu, gak usah dulu jadi istri, minimal pernah gak kamu hargai aku sebagai perempuan!? "


Adrian bungkam. Menatap dalam mata istrinya. Hanya sorot kemarahan yang ia terima dari sana. " Duduk dulu, biar aku jelasin semuanya, Kayaknya kamu salah paham sama aku" Menyelipkan tengannya ke ketiak Zyona, mengangkat tubuh gadis itu memaksanya duduk.


" Gak! Gak kok, aku gak salah paham, aku udah ngerti semuanya, " Menepis tangan Adrian, menjauh dan memilih bersender di dinding tempat tidur


" Gak usah dijelasin, aku yang salah! Aku yang bego selama ini! "


" Zyona, Zyona! Tenang dulu! " Memegang erat kedua bahu Zyona. Membuat mata mereka bertemu. Dapat Adrian lihat istrinya yang begitu terluka lewat sorot matanya.

__ADS_1


Mata Zyona mulai berair, perlahan mencair dan membasahi pipinya.


" Hiks kamu jahat tau gak! " Memberi satu pukul kuat di dada Adrian. Membuat Adrian sedikit meringis karena pukulan Zyona memang kuat.


Tapi dia tidak melawan ataupun mengelak.


Adrian tetap diam walau Zyona memukulinya beberapa kali.


" Aku yang bego! Aku yang bodoh mau ditiduri tiap malam! Aku yang gak tau diri sampai berani mengharap kamu bisa suka sama aku! huhuhu.... "


Air mata membanjiri pipinya, sampai ke leher.


Mengambil batal dan dilempar tepat ke wajah Adrian. Sebenarnya bisa saja dia mengelak. Bisa dengan mudah dia menghalau bantal itu. Tapi tidak ia lakukan. Dia menerima segala yang dilakukan istrinya padanya.


" Hiks kamu bilang kamu cinta sama aku, padahal kamu masih mencari Moza ya kan!? " Berteriak sambil melempar bantal lagi ke wajah Adrian.


" Aku yang bodoh sampai mencintaimu sebesar ini! Manusia memalukan yang gak tau diri seperti aku ini mana pantas bersanding sama kamu!! " Terus memukuli dada Adrian dengan kepalan tangannya. Adrian sampai hampir tumbang ke belakang sankin kuatnya Zyona memukul.


" Kamu nanti bahagia sama dia, lalu apa yang ku dapat? hiks hiks... kamu manusia terjahat yang ku temui Rian..... " Tidak lagi memukul dada Adrian. Tubuh Zyona terasa lemas sehabis menumpahkan semua emosi yang ia pendam selama ini.


Adrian menatap lekat wajah istrinya. Sebenarnya apa si isi kepala istriku ini.... kenapa dia bodoh sekali!


" Udah selesai? "


DEG!


Suara tenang Adrian menyadarkannya. Astaga apa yang udah kulakukan tadi, aku cemburu seperti orang yang kesetanan... Hiks habislah aku.....


Zyona menahan nafasnya gugup saat Adrian membingkai wajahnya. Mengelap air mata yang menempel di pipi dengan ibu jarinya.


Zyona memandang ke arah lain, tidak


berani melihat mata suaminya.

__ADS_1


" Tatap aku Zy! "


Tekan Adrian.


Sesenggukan masih tersisa di bibir gadis itu. Perlahan matanya beralih menatap Adrian. Mereka saling menatap tanpa ada satupun yang berbicara. Baik Zyona maupun Adrian.


Hanya hembusan nafas yang terasa dekat sekali dengan wajah.


" Kamu denger percakapan ku di talfon tadi? "


Pertanyaan Adrian tepat sasaran.


Zyona mengangguk lemah.


Lelaki itu menghela napasnya. " Sayang, apa yang kamu pikirin itu salah. kamu itu, masa sih kamu..." Adrian terdiam beberapa saat. Dirinya benar-benar dibuat kehabisan kata-kata dengan pola pikir Zyona.


" Kamu kok bisa mikir sejauh itu?"


Zyona diam, matanya beralih menatap sendu jemarinya yang saling tertaut di atas paha. Bisa-bisanya Zyona kepikiran hal seperti itu. Apa sankin bodohnya dia tidak menyadari aku mencintainya sebesar ini!?


" Gak papa kok, kalo pun nanti Moza kembali, trus kalian bersama lagi, aku yakin gak papa kok, kamu balik aja sama dia, aku akan pergi gak akan gangguin kalian lagi, jangan salahin dirimu Rian, kamu gak salah, aku yang salah sampe berani cinta sama kamu, aku akan belajar lupain kamu, aku juga akan...Emmmggh! "


Adrian membungkam mulut istrinya dengan ciuman. Mendorong Zyona dan mengurungnya di dinding ranjang. Melu*mat rakus bibir istrinya, membungkam paksa mulut yang dari tadi terus mengomel itu.


" Eggh! " Leguh Zyona, saat tautan bibir mereka terlepas, terdengar bunyi kelcapan. " Bernafas Zyona! "


Langsung tersadar dengan suara bariton suaminya. Menarik napasnya panjang, mengisi penuh paru-parunya dengan oksigen.


Wajah Zyona semakin merona. Jantungnya berdentam-dentam didalam sana. Seperti ribuan kupu-kupu menggelitik perutnya. Kenapa susah banget si.... marah sama laki-laki ini!!


" Udah selesai kan kamu ngomelnya? Sekarang udah boleh aku yang ngomong? " Adrian tersenyum sambil menyelipkan helaian rambut Zyona yang terlepas dari jepitan rambutnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2