
Pov Zyona.
Huff, akhirnya aku selesai dengan masakanku. Sangat susah mengerjakannya apalagi suamiku yang mesum ini bergelayut dan memelukku dari belakang, mengikutiku kemana saja, bahkan sampai ke kamar mandi.
" Adrian awas dulu ih, aku mau angkat penggorengan nya! "
Suamiku ini malah semakin erat memelukku.
Mengendus leherku dan mengigitnya beberapa kali. Membuatku kadang mengaduh dan tanpa sadar mendesah.
" Kapan kamu panggil aku sayang, dari kemarin nama malu, aku kan udah jadi suami sungguhan kamu dari kemarin "
Aku kembali tersipu jika mengingat malam panas kami kemarin.
Sungguh aku tidak menyangka akan melakukan itu bersama Adrian.
" Panggil sayang dulu, baru aku lepasin "
Astaga ya Tuhan.. Kenapa suaranya ini bisa semanja itu si...
Bisa ku pastikan sekarang wajahku sudah sangat merah.
Bahkan aku tidak berani untuk menoleh dan menatap matanya.
" S.. sayang, lepasin.. aku mau makan.. " Aku berbicara sambil menutup muka dengan telapak tangan.
Bukannya aku gak mau memakai panggilan romantis itu, tapi rasanya sangat malu jika memanggil Adrian dengan panggilan itu.
" Hah? Apa? aku gak dengar apa kamu bilang? "
Tuh kan, lagi-lagi dia mengerjaiku. Aku yakin dia sekarang sedang tersenyum jahil dari balik leherku.
" Sayang lepas dulu ya, aku mau makan "
Ucapku lagi kali ini dengan suara yang lebih kuat.
" Aaaa...kenapa kamu bisa semenggemaskan begini si... "
__ADS_1
Adrian dengan cepat memutar tubuhku dan mencium bibirku dengan cepat.
Dia mencumbunya dengan mesra dan lembut.
Aku meremas lengan kemeja Adrian, merasa oksigen di paru-paru ku mulai menipis.
Dia melepas ciuman kami, terdengar bunyi kecapan saat bibir kami terlepas. Dia menatap wajahku yang pasti sekarang sudah sangat memerah.
" Bernafas Zyona! "
Otakku merespon lambat. Aku sempat berkedip tiga kali baru tersadar. Aku langsung menarik nafas panjang. Sankin groginya aku sampai lupa bernafas.
Padahal Adrian sudah menjadi suamiku, tapi rasa gugupku terhadapnya sudah seperti abg yang lagi pdkt sama gebetannya.
" Emmhh...Adriannnn " Lenguhku ketika tangan usilnya meraba punggung ku dan hidung mancungnya di gesekkan ke leherku.
Aku menggeliat berusaha melepaskan diri dari pelukannya.
Tapi semakin aku bergerak, semakin erat pelukannya di pinggangku.
Mengecup dan sesekali menggigitnya. Membuatku kadang mengaduh kadang mendesah.
" Sayangghh stoopphh! " Ucapku sedikit berteriak.
Alhasil dia berhenti, dengan menyeringai menyebalkan dia menatap jahil mataku.
Huh, membuatku jengkel saja!
" Sepertinya aku sudah tidak lapar lagi, aku mau makan kamu aja boleh, gak? " Dia kembali menyelusupkan tangannya masuk ke dalam kaosku. Meraba perut rataku.
" Oh no! Aku mau makan nasi! " tolak ku cepat. Sambil menghentikan bibirnya yang kembali ingin menciumku.
Sudah ku ramal, jika kami melakukan hal itu lagi, bisa-bisa aku tidak akan bisa keluar dari kamar, sampai besok pagi!
" Tapi aku pengennn..." Rajuknya.
Tuh kan, bener kan, hatiku selalu bergetar jika mendengar nada suara manja nya itu!
__ADS_1
Aku menghembuskan nafasku kasar. Menolak desiran yang menghujam hatiku.
Aku berbalik dan menatap matanya. " Sayang, aku lapar, nanti kalau aku pingsan gimana. Lagipula semalam kamu udah sangat puas loh, dan tadi pagi juga kita masih melakukannya lagi. Sekarang kita makan dulu ya... " Aku tersenyum manis sambil membelai hangat pipinya.
Aku tidak mengerti, akhir-akhir ini aku melihat sisi Adrian yang suka manja dan ngambekan. Aku tidak menyangka dia memiliki sisi seperti itu.
Tapi masa sih, itu Adrian loh.
Hmm, memang benar tentang tulisan yang sering aku lihat di tembok jalanan yang di tulis pake pilox. Jika cowok dingin mulai manja, maka kelar hidup lo!
Hwaaaaa.... dan ini yang aku alami... Bahkan sekarang ini aku lagi menghidangi nasi ke piring, tapi si suami mesum ku ini masih menempel di punggungku dan memelukku dengan sangat erat.
Hei Hei, aku kesulitan bernafas loh Adrian! Bisa gak jangan buat aku senam jantung tiap hari.
" Sayang, nasinya udah siap, kita makan dulu yuk, aku laper.. " Kali ini aku benar-benar merengek. Agar dia mau melepaskan pelukannya.
Aku merasa dia mengusap leher jenjangku. Seketika kudukku meremang sensitiv dengan sentuhannya.
" Banyak banget, ini aku yang bikin.. "
" Iyalah, siapa lagi! Sakit tau... perih kalau mandi.. Kamu gak kira-kira jadi orang... " Protes ku karna memang bekas cu*pangannya meninggalkan bekas dan sangat perih saat aku mandi tadi.
Adrian kembali menegakkan tubuhnya. Menumpukkan dagunya di bahuku, bahkan aku bisa merasakan hangatnya nafas Adrian yang menerpa kulit leher dan pundakku.
" Sayang geli... " Aku kembali menggeliat ketika tangan kekar suami ku ini menyelinap masuk ke dalam kaos ku, dan membelai perut rataku.
" Bentar sayang..."
Akhirnya aku diam, tidak menggeliat ataupun menghentikan tangannya. Adrian masih mengusap-usap perutku, dan juga menepuk-nepuk nya pelan.
" Cepat jadi ya, jagoan Papa... "
Baiklah! Sudah cukup! Aku sudah sangat meledak hanya dengan kata-kata sederhana itu...
Hmm, kode keras nih, aku memang tidak bisa membaca pikiran. Aku aku merasa nanti akan sangat sulit hanya untuk turun dari ranjang!
Bersambung...
__ADS_1