Menikah Tanpa Pacaran

Menikah Tanpa Pacaran
Sosok yang hilang 1


__ADS_3

Karena keegoisanku, perasaan anakku taruhannya. Kalau dulu aku tidak meminta keluarga Gadangga meminang putriku, dia tidak akan sesakit ini.


Maafkan mama nak.


Melda hanya bisa membisu sambil mengelus punggung putrinya. Hati ibu mana yang tidak yang hancur mendengar tangisan anaknya. Zyona menangis sambil memeluk erat tubuh Melda.


Meluapkan ketidak berdayaannya selama ini lewat air mata.


" Maafkan Zyona ya Mah, Zyona tidak bisa meneruskan pernikahan ini lagi Hiks... Huhuhu... " Suaranya bergetar, menangis hingga sesenggukan


Melda mengelus rambut dan punggung putrinya "Mama yang salah nak, seharusnya kamu bilang kalau dulu kamu keberatan dengan perjodohan ini "


Zyona mengatur napasnya "Jangan bilang dulu ke Papa ya mah, Zyona tidak ingin Papa kenapa-napa "


" Zyona juga akan pergi ke luar kota, Zy akan cari kerja untuk kita dan pengobatan Papa " Melepas pelukannya, berbicara sambil menyeka air matanya.


Melda menatap dalam bola mata putrinya yang sayu. Terlihat jelas kepedihan yang dibendung sendiri selama ini. Betapa menderitanya kamu selama ini sayang.


Membelai puncak kepala Zyona dengan lembut " Baiklah, kamu jaga kesehatan, Sering-seringlah kabari Mama ya, Kalau ada apa-apa kamu harus bilang sama Mama "


Zyona mengangguk pelan sambil menggenggam erat jemari Mamanya " Mama jangan khawatir, Zyona bisa jaga diri "


" Terus gimana soal Adrian? " Dengan ragu Melda bertanya


Lama Zyona diam, dia menarik napasnya panjang sebelum berbicara " Hari ini Zyona akan urus surat perceraian nya "


Dari awal Adrian tidak pernah bahagia sama aku.


Jadi untuk apa aku tetap bertahan. Berjuang sendiri itu menyakitkan. Zyona menghela napasnya pelan.


Melda membelai hangat pipi kanan Zyona " Mama tidak bisa menghalangi, kamu lakukan apa yang menurutmu benar.


Tapi jika kamu lelah melangkah, berbalik dan pulang pada Mama dan Papa ya sayang "

__ADS_1


Hanya itu yang bisa kukatakan. Aku tidak bisa melarang anakku pergi. Karena disini pun dia selalu tersakiti.


Dia punya hak untuk memilih jalan hidupnya sendiri.


Lakukanlah nak, asal kamu bahagia dan tidak tertekan lagi.


Zyona memutuskan akan pergi. Dia memutuskan pergi


jauh dari kehidupan Adrian.


Pergi dan menetap dikota yang tidak mengenali dirinya.


Melupakan masa lalunya dan memulai hidup baru.


...~♥~...


Siang hari, Adrian mendatangi Melda ke rumah sakit. Dia bertanya apakah Zyona tadi kesini. Melda diam, tidak ingin menjawab, bahkan dia tidak menatap pada menantunya itu.


Papa Zyona sedang tidur, Adrian membujuk bahkan sampai memohon pada Melda agar mau berbicara dengannya diluar.


Wanita paruh baya itu melipat kedua tangannya di depan dada dan memandang lurus kedepan.


Adrian duduk disamping nya sambil menunduk, menatap lututnya sendiri.


Zyona pasti tadi kesini, Mama terlihat sangat marah. Apa yang harus kulakukan untuk membayar semua kebodohan ku ini.


" Emm, Mah? " Berbicara pelan sambil menatap sekilas pada Melda.


Wanita berumur senja itu mendesah berat " Zyona sudah pergi, jangan ganggu dia lagi, pulang dan urus hidup mu! " Suara wanita itu sangat datar dan dingin.


Bahkan dari tatapannya saja seperti berkata, Untuk apa lagi kau kesini, Jangan ganggu lagi putriku!


" Adrian jelasin dulu Mah, Mama dengerin Rian dulu "

__ADS_1


Melda menghujam manik mata Adrian dengan tajam. Ini pertama kalinya Adrian menerima tatapan seperti itu dari seseorang.


" Mah Adrian mohon "


" Pergi! " Sarkas Melda dengan tangan yang terkepal


" Mah... "


" Putriku lebih bahagia tanpamu, kau itu hanya bisa membuat anakku susah dan tertekan! "


Melda berdiri dan langsung masuk ke dalam ruangan rawat papa Zyona.


" Adrian gak bisa hidup tanpa Zyona Mah, oke, Rian yang salah. Rian yang bodoh " Berteriak secara tiba-tiba


Mendengar itu, Melda berhenti sejenak didepan pintu.


" Mama, Adrian mohon... " Berbicara ditempatnya berdiri


" .... " Melda diam, bahkan menoleh pun tidak.


Merasa sudah cukup mendengar, dia masuk ke dalam ruangan, dan menghilang dibalik pintu yang tertutup.


" Mah, minimal kasih tahu dimana Zyona berada Mah.... Mama... "


Adrian menatap lekat pada pintu bercat putih itu. Sudut matanya merah, rambutnya acak-acakan. Apa begini akhirnya, apa Kami memang sudah selesai. Apa aku dan dia sudah selesai.


Aku tidak akan melepaskan mu Zyona. Aku tidak mau akhir cerita ini selesai begini.


Aku mau kisah yang happy ending.


Aku mau, aku dan kamu bahagia bersama.


Tapi, apakah itu bisa?

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2