Menikah Tanpa Pacaran

Menikah Tanpa Pacaran
Zy, kamu kenapa?


__ADS_3

Malam mulai merangkak. Disatu kos-san sempit, yang ada disudut kota. Tempatnya kumuh dan kotor. Bahkan lokasinya masuk ke dalam gang yang sempit. Membuat mobil dan motor tidak bisa melewati tempat itu. Cara satu-satunya hanyalah berjalan kaki.


Itu adalah kos-san Intan. Hanya memiliki ruangan yang muatan satu orang. Dimana dapur, dan tempat tidur jadi satu. Tidak memiliki ruang tengah maupun kamar mandi.


Jadi kalau mandi, Intan menumpang dikamar mandi tetangga.


" Ntan, aku lain kali aja nginapnya ya, Seharusnya hari ini aku berangkatnya ke Sumatra, kita nginap bersama di lain waktu ya " Ucap Zyona.


Intan menggeleng " Karena ini hari terakhir kamu disini Zy. Jadi aku mau kamu nginap di kos-san ku, temenin aku malam ini aja ya " Ucapnya sambil menarik tangan Zyona untuk ikut dengannya masuk ke dalam kos-san yang sempit itu.


...


Malam hari sekitar pukul delapan, masih di kos-san Intan yang sempit.


Di ruangan paling sudut, dua gadis itu berbagi satu tilam yang sebenarnya hanya muat satu orang.


Zyona berada dekat dengan dinding, dan Intan dibagian paling pinggir tilam.


Zyona sudah nyaman dengan bantal guling sambil menempel rapat pada tembok. Merasakan dinginnya dinding di lengannya yang menempel pada dinding itu.


Intan menggunakan bantal sebagai sandaran, meluruskan kakinya dan bermain HP.


Jam nya sudah pas, seharusnya dia udah datang kan. Batin Intan sambil melihat ke arah pintu.


Lalu matanya kembali menatap pada Zyona yang memunggungi nya. Maafkan aku ya Zy, aku terpaksa melakukan ini.


Tok Tok, suara ketukan pintu.


Itu pasti dia.


" Siapa? " Tanya Zyona pada Intan


Intan menggeleng, pura-pura tidak tahu " Gak tau, biar kulihat dulu ya "


Intan beranjak dan membukakan pintu. Zyona ikut duduk dan melihat ke arah pintu. Terlihat masuk satu orang sosok pria. Pria yang sangat dikenalinya.


Kenapa dia disini. Zyona


Maaf Zy, aku tidak punya pilihan lain. Intan.


Aku sangat senang bisa melihatmu lagi Zyona. Adrian.


Tanpa dia sadari, saat melihat Zyona yang sudah dari pagi tadi tidak dilihatnya, mampu membuat jantungnya semakin berdebar.


" K.. kenapa kamu kesini? " Intan memulai sandiwaranya. Memainkan perannya supaya Zyona tidak curiga. Maaf Zy, Berkali-kali dia meminta maaf dalam hati.


Dia merasa sangat bersalah telah melakukan hal ini. Tapi sekarang pun dia sedang ada didalam keadaan yang tidak berdaya.


" Aku ingin menjemput istriku " Kata Adrian.


" Zy... " Panggil Intan


Gadis itu langsung membuang muka. Menatap pada tembok, dia sangat tidak ingin bersitatap dengan Adrian.


" Bilang aku gak ada " Jawab Zyona


" Tapikan dia udah lihat kamu Zy " Ucap Intan pelan. Takut menyinggung Adrian, atau menyakiti perasaan sahabatnya.


" Anggap aja gak lihat! "


Intan kembali menoleh pada Adrian " Kata Zyona dia gak ada " Kok aku tersesat disituasi konyol ini ya.


Tanpa dua gadis itu sadari, Adrian menghela napasnya. Seperti dugaannya, kalau Zyona tidak ingin bertemu dengan nya.


" Zyona.... " Panggil Adrian lembut dan pelan. Membuat Intan melongo


Dia laki-laki yang tadi siang kan, tapi kenapa saat ini terlihat sangat manis seperti anak kucing.


Oh,,, Hohoho, sepertinya aku tahu. Dia ini tipe yang garang diluar, tapi lembek pada Istrinya. Intan tertawa dalam hati.


Ingin sekali dia meneriaki Adrian saat ini, hei, pria ****** menyebalkan. Suami takut istri lo ya.... Hahaha...


Tapi makian itu hanya tersimpan rapat didalam hatinya. Hei, kau kira dia punya nyawa berapa sampai berani melakukan hal yang gila seperti itu.


" Bilang sama Adrian aku gak mau ketemu dia Ntan, suruh dia pergi " Zyona memunggungi mereka, dan menenggelamkan tubuhnya ke dalam selimut "


Kamu marah banget ya Zy, sampai ketemu aku juga gak mau.


" Zy... " Panggil Adrian lagi. Dia mengisyaratkan pada Intan untuk keluar sebentar dengan gerakan tangannya.


Jelas saja, walau ini kos-san nya, tapi jika pria itu menyuruhnya pergi, maka dia harus pergi.


Perlahan Intan berjalan keluar dari kos-san nya. Menutup pintu sambil sekilas melirik lagi ke dalam.


Terlihat Adrian dengan masih menggunakan sepatu, masuk ke dalam selimut yang sama dipakai Zyona. Berbaring dan memeluk tubuh gadis itu dari belakang.


He Hei, kalian jangan ngapa-ngapain di tilam ku ya. Batin Intan sebelum benar-benar menghilang dari balik pintu yang tertutup.


Merasa ada yang memeluk dari belakang, Zyona menoleh kesitu. Matanya membola ketika melihat Adrian yang ternyata memeluknya dari belakang.

__ADS_1


" Is kamu apaan si! " Mendorong kuat dada laki-laki itu, tapi tentu tidak berpengaruh apa-apa pada Adrian.


" Lepas Adrian! " Meronta-ronta. Tapi Adrian malah membisu, dia diam dan menyembunyikan wajahnya di dada Zyona.


" Zy, kita pulang yuk " Dengan wajah yang terbenam, dia semakin erat memeluk tubuh gadis itu.


Zyona tidak mau kalah begitu saja, dia meronta dan mendorong bahu Adrian. Tapi sialnya tenaga pria itu terlalu kuat, bahkan bergeserpun dia tidak.


" Kamu ngapain sih kesini! " Suaranya terdengar kesal.


Tetap menggerutu sambil memukul bahu Adrian.


" Jemput kamu, kita pulang yuk " Balas Adrian, lalu menggesekkan hidungnya di dada istrinya.


Zyona menggigit bibir bawahnya. Dia ini tidak bisa membaca situasi ya. Apa dia tidak tahu sekarang ini aku sedang marah.


Tenang Zyona, tahannnn... Fyuhh, rayuan pria ini tidak akan membuatku luluh.


" Zyona, kita pulang yuk " Adrian mendongak menatap wajah Zyona, lalu kembali membenamkan wajahnya di dada gadis itu.


" Kamu pulang lah sendiri Adrian, aku gak ikut dengan mu " Kembali mendorong bahu Adrian dengan kuat.


" Kamu marah ya " Berbicara dari balik dada istrinya yang lembut itu.


Menurutmu! kesal Zyona dalam hati


" Nggak " Tapi itu yang akhirnya diucapkan


" Kalau gitu ayo kita pulang "


" Nggak "


" Zyona... "


"Aku gak mau kembali dengan mu Adrian " Jawab Zyona dengan cepat.


Terdengar Adrian menghembuskan napasnya pelan " Maafkan aku " Ucapnya dengan wajah yang masih terbenam.


" Memang apa salahmu hingga kamu minta maaf " Pura-pura tidak peduli


Adrian diam, tapi Zyona merasa pelukannya semakin erat. Setelah memilih kata yang pas, barulah dia berbicara " Malam itu, aku berhenti karena aku punya alasan sendiri "


" Aku sudah tahu itu, aku tahu semuanya dengan jelas, kamu tidak perlu menjelaskannya lagi "


Apa yang kamu tahu, Sankin bodohnya, aku yang mencintai mu saja kamu tidak tahu. Begitu gumam Adrian.


Dengan kasar Zyona memaksa Adrian melepas pelukannya. Dia mundur hingga menempel di dinding, sengaja menjaga jarak dengan pria itu.


" Untuk apa pulang ke rumah, biar kamu bisa puas meniduriku dan menjadikanku pelampiasan ya kan! " Tiba-tiba suaranya meninggi. Bahkan mungkin saja bisa didengar oleh Intan sampai ke luar kos-san.


Adrian tersentak mendengar jawaban Zyona. Jadi itu yang ada didalam pikirannya, astaga, dia itu makan apa sih makanya pola pikir nya sangat bodoh seperti itu. Gerutu Adrian dalam hati.


Dia ingin menyanggah opini Zyona tadi, tapi perempuan itu


tidak memberinya kesempatan


untuk


berbicara.


" Kalau kamu hanya mau sex, kamu kan bisa bayar perempuan diluaran sana. Jangan karena Moza gak ada kamu jadikan aku pelampiasan Adrian!


Perlakuanmu sama aku seperti binatang tahu gak! "


Suaranya melebihi suara Adrian. Tangisnya pecah dan melempar lelaki itu dengan bantal yang ada didekatnya.


" Aku tahu semuanya Adrian! " Berteriak sambil memukul dada lelaki itu.


" Apa? " Jawab Adrian sengaja mengikuti alur yang diciptakan Zyona.


Zyona mengangkat jari telunjuknya menunjuk tepat di wajah lelaki itu. " Kamu, awalnya meniduriku hanya karena nafsu kan, kamu mengambil kesucian ku tapi kamu sedikitpun tidak pernah mencintai ku.


Apa kamu tidak memikirkan aku sedikit saja hah, bagaimana jika aku hamil, dan kamu pastinya akan tetap bersama Moza.


Jika itu yang terjadi apa yang kuterima Adrian! " Membentak hingga nafasnya tersengkal.


Tapi tidak sampai disitu saja. Dia menarik napasnya dan kembali meluapkan sesak yang


selama ini dipendam sendirian.


" Jika itu terjadi, ada dua kemungkinan yang terjadi. Aku ditinggalkan dan diusir bersama anakku kan. Atau kamu akan mengambil bayiku dan membuangku seperti sampah! "


Tubuh Zyona bergetar. Semua ketakutan nya selama ini larut dalam emosi dan air mata malam ini. Dia menangis sampai sesenggukan.


Air mata beranak sungai dipipinya. Bibirnya bergetar antara tangis dan meracau kemana-mana.


Adrian yang sedari tadi diam, mendekat pada Zyona. Mengikis jarak pada gadis itu hingga punggung Zyona terbentur ke dinding.


Mengangkat tubuh gadis itu dan didudukkan diatas pangkuannya.

__ADS_1


Mata mereka saling bertatapan.


Bertatapan sangat lama.


" Apa yang kamu pikirkan di dalam otak mu itu hah, kenapa pula kamu berpikiran seperti itu " Katanya sambil mendekap tubuh Zyona.


Gadis itu mengernyit. Belum sempat dia berbicara tapi bibirnya lebih dulu dibungkam paksa oleh bibir Adrian.


Cup, satu kecupan lembut mendarat dibibirnya.


" K... Kamu apa-apaan si! " Wajah Zyona memerah. Dia mulai salah tingkah.


Adrian tersenyum tipis melihat reaksi Zyona barusan. Lucunya, gumamnya pelan.


Perlahan dia mendekatkan wajahnya ke wajah Zyona. Dengan lembut mengecup bibir gadis itu.


Perlakuan Adrian yang begitu lembut sangatlah memabukkan. Memberi rasa nyaman dan aman.


Tanpa sadar Zyona memejamkan matanya dan melingkarkan tangannya memeluk pundak laki-laki itu.


Coba saja Zyona mengintip sedikit, pasti dia bisa melihat wajah Adrian yang memerah.


Telinga pria itu tiba-tiba merah padam, menandakan Adrian yang berdebar dan merona.



Di tengah ciuman panas mereka, tiba-tiba akal sehat Zyona kembali mengambil alih.


Sial, aku kan sedang marah. Dasar bajing*n, kau memang sangat pandai merayu ya.


Jangan kalah Zyona, jangan mau kalah dengan rayuan laki-laki tidak bertanggung jawab seperti dia.


Zyona mendorong kuat dada Adrian, dan nekat menggigit bibir pria itu. Sampai Adrian melepas ciumannya.


" Zyona? " Adrian tampak kecewa.


" Kamu kira aku ini apa, bisa dibujuk dengan rayuan mu itu hah! " Kembali marah.


Dengan kasar menarik selimut dan menenggelamkan tubuhnya ke dalam selimut.


" Pulanglah Adrian, aku tidak ingin ikut bersama mu " Tegasnya dari balik selimut.


Adrian ingin menyibak selimut yang dipakai Zyona. Tapi mendengar isak tangis gadis itu, dia mengurungkan niatnya.


Memilih bersandar ke dinding, diam mendengarkan isakan tangis Zyona yang samar-samar dari balik selimut.


Tigapuluh menit berlalu. Adrian tersadar, ternyata dia ketiduran.


Dia mengucek matanya mengumpulkan nyawa yang masih berlarian.


Adrian melirik pada Zyona.


Gadis itu masih menyembunyikan tubuhnya didalam selimut.


Tapi tidak ada lagi isakan tangis yang terdengar.


Perlahan Adrian menyingkap selimut itu, dan melihat Zyona yang tertidur karena terlalu lelah menangis.


Wajahnya pucat, matanya bengkak, bahkan ada bekas air mata mengering dipipinya.


Pola pikir mu sangat aneh Zy, bisa-bisanya kamu berfikiran seperti itu.


Saat itu aku berhenti karena tidak ingin membohongi mu, karena malam itu aku sangat kesal pada Moza, dan tidak ingin membuatmu sebagai pelampiasan.


Aku heran, sebenarnya kamu ini makan apa si. Sehingga pola pikir mu sangat aneh seperti itu.


Siapa juga yang tidur dengan mu hanya karena nafsu.


Aku bukan binatang yang meniduri wanita seenaknya.


Aku mulai nyaman sama kamu, makanya aku ingin membuatmu menjadi milikmu Zyona.


Itu alasannya.


Adrian mengangkat tubuh Zyona dan digendong ala bridal style. Berjalan keluar dari kos-san Intan.


Saat Adrian keluar, sontak Intan berdiri, dia hampir mati kedinginan karena angin malam.


Astaga, ternyata mereka lupa pada gadis itu.


Adrian tidak menggubris Intan yang tampak menggigil. Dia membawa Zyona berjalan melewati gang yang sempit dan gelap. Hingga sampai di mobil yang dia parkiran didepan gang.


Aku lega sekarang. Malam ini Zyona terbuka padaku. Aku tahu dimana kesalahan ku. Aku tahu apa yang harus ku perbaiki, agar tidak menyakiti Zyona lagi.


Aku tidak ingin mengecewakan istriku yang sangat menggemaskan ini.


Ayo kita pulang Zyona, pulang ke rumah kita berdua.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2