
Adrian pov.
Aku masuk ke dalam ruangan ku. Baru selesai dengan rapat yang sangat menguras otak dan emosi. Tiba-tiba pintu ruanganku terbuka dan adikku Darrel masuk ke dalam.
"Kenapa Ril?" Tanyaku sambil berjalan ke arah sofa.
Dia mendekat dan duduk di samping ku. "Ini soal mbak Moza"
Aku meliriknya, memberinya kesempatan untuk berbicara. "Kabar mbak Moza menikah itu nggak bener" Aku masih diam menunggunya menyelesaikan kalimatnya.
"Mbak Moza sakit"
"Dimana dia di rawat aku belum tahu"
"Kamu dapet kabar dari mana?" Tanyaku sambil memejamkan mataku dan memijat pelipisku. Kepalaku terasa sedikit pusing.
"Ini juga masih belum jelas, informasi yang aku dapet dikit banget kak. Gak ada yang tahu Moza kemana, bahkan orang tuanya sampai minta bantuan polisi"
"Cari terus!" Kataku masih dengan mata yang tertutup.
"Kakak masih suka, sama mbak Moza? Kalau kalian ketemu lagi kakak mau balikan sama dia?" Aku membuka mata ketika Pertanyaan Darrel.
"Tidak akan!" Ucapku serius.
"Kenapa kak? Bukannya kakak cinta banget yah, sama mbak Moza"
Aku menghela nafasku pelan. "Aku sudah menikah Ril, dan aku mencintai kakak iparmu!" Aku memberi sorot mata yakin pada Darrel. Ingin memberi tahunya bahwa aku serius dengan pernikahan ku dengan Zyona. Aku bersumpah tidak akan membuat istriku itu menangis lagi!
"Jadi kalau kakak udah serius sama kakak ipar kenapa masih nyari mbak Moza?" Aku menatap Darrel dalam.
"Bukan urusanmu, lakukan saja apa yang ku suruh!" Tekanku. "Udah sana, pergi!, aku banyak kerjaan"
"Yahhh.... baru juga nyampek... bentar lah kak...aku mau wifi-an bentar" Darrel mengatupkan tangannya di depan dada. Heh, mencoba membujukku nih anak.
"Nggak pergi sana!"
"Hahh.. iya iya, dasar pelit!" Darrel keluar dari ruanganku dengan bersungut-sungut. Aku menatap kepergiannya sampai menghilang di balik pintu yang tertutup.
Setelah itu aku kembali ke mejaku dan menyelesaikan beberapa pekerjaan yang belum selesai. Tidak terasa tiga jam telah berlalu. Aku melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan ku. Ternyata sudah pukul enam sore. Aku bekerja sampai lupa waktu. Dan sekarang sudah lewat jam pulang kantor.
__ADS_1
Aku tersentak ketika hp ku bergetar. Aku mengambilnya dan melihat siapa yang menelepon. Mata ku langsung membola melihatnya, aku langsung menegakkan punggung ku semangat untuk mengangkat panggilan itu. Bagaimana tidak, ini telefon dari istriku tercinta. Jarang sekali dia berinisiatif menelefon ku terlebih dahulu. Ini suatu kemajuan dalam hubungan kami.
"Kok belum pulang, udah sore loh, cepat pulang ya, aku udah masakin masakan kesukaan kamu" Mendengar suara nya yang lembut, aku langsung berdiri dan menyambar tas kerjaku.
"Ini aku pulang sayang, bentar ya..." Jawabku sambil berlari keluar dari ruangan.
Aku mengendarai mobilku dengan kecepatan tinggi. Karena ingin secepat mungkin sampai ke rumah. Limabelas menit aku habiskan dijalanan. Akhirnya aku sampai ke rumah. Aku keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah dengan tergesa.
Mengedarkan pandanganku mencari dimana sosok istriku berada. Langkahku berhenti di dapur. Zyona sedang menata masakannya di meja makan. Aku tersenyum sambil berjalan mendekat. Langsung memeluknya dari belakang dengan sangat erat. Menghirup dalam-dalam aroma khas tubuhnya yang sangat ku rindukan jika kami berjauhan.
"Kamu udah pulang?" Zyona memutar tubuhnya lalu melingkarkan tangannya memeluk leherku. Aku tersenyum melihat perlakuan nya. Jarang sekali dia ingin bernisiatif memelukku seperti ini. Apa ini efek dari menstruasinya?
"Kangen ya?" Goda ku sambil memberi kecupan-kecupan ringan di pipinya.
"Enggak"
Aku menatapnya sambil menaikkan sebelah alisku. Menampilkan wajah meragukan. "Bohooong"
"Beneran" Ucapnya malu-malu. Membuatku gemas sendiri melihatnya salah tingkah seperti ini.
"Ihhhhh... kamu gemesin banget si..." Gemasku hingga tanpa sadar menggigit pipinya.
"Astaga maaf sayang, aku kelepasan" Aku membawa Zyona ke dalam pelukanku. "Sakit ya, maafin aku ya..aku gak sengaja" Aku mengelus rambutnya dengan hangat, dan mempererat pelukanku.
Untuk sekarang begini saja dulu. Aku sangat nyaman ketika memeluk Zyona. Seakan letih bekerja seharian tidak lagi terasa. Berkali-kali aku memberi kecupan ringan di puncak kepalanya. Dia mendongak dan mata kami pun bertemu.
"Masih sakit?" Dia menggeleng pelan.
Aku tersenyum lalu mengecup bibirnya sekilas. "Aku mandi dulu ya, baru kita makan malam bareng"
"Iya, jangan lama ya sayang" Aku mengelus puncak kepala Zyona dengan gemas. Rasanya seperti terbang ke awang-awang. Akhirnya Zyona mau memanggilku dengan panggilan itu. Rasanya sekarang aku orang paling bahagia di dunia! Tidak ada lagi yang kuinginkan, ketika Zyona tetap bersama ku seperti ini.
***
Setelah selesai makan malam, aku dan Zyona berbaring di atas ranjang sambil berpelukan. Aku membenamkan wajah di dadanya, dan dia mengelus rambut ku dengan lembut.
"Sayang, aku pengen, tapi kamu masih halangan" Rengekku. Mungkin sekarang aku persis seperti anak kecil yang tidak dibelikan mainan oleh ibunya. Tapi aku tidak peduli, karena bucin pada istri sendiri gak salah kan?
"Sabar ya sayaaang" Zyona menepuk-nepuk punggung ku.
__ADS_1
Hening. Tidak ada yang berbicara setelah itu. Zyona masih mengelus rambut ku. Dan aku masih membenamkan wajahku di dadanya. Merasakan bagaimana lembutnya gunung kembar yang kini tepat berada di depan wajahku.
Aku iseng mendusel-dusel wajahku disana. Elusan Zyona turun ke leher ku. Aku menggeram berat. Dia ini tidak tahu ya, bahwa yang dilakukannya tadi dapat membangkitkan gairahku.
"Zyona jangan!" Aku menghentikan nya. Dia menatapku heran.
"Kamu gak suka aku sentuh ya.." Matanya sudah berkaca. Aku langsung merasa bersalah karena tadi membentaknya tanpa sengaja.
"Bukan gitu honey...Yang kamu bikin tadi bikin aku makin bernafsu tau gak. Emang kamu mau, aku gagahi sekarang hmm?"
Pipi Zyona merona mendengar ucapan ku yang sedikit vulgar. Aku mengecup bibirnya sekilas. Lalu melihat ekspresinya. Dia menatapku terkejut, wajahnya benar-benar merah padam sekarang. Dia mengedipkan matanya sekali. Lalu mulai tersadar dari keterkejutan nya.
"Aduuuhh... kenapa kamu gemesin banget sihh. Aku pengen hamilin kamu sekarang tau gak!"
Tanpa aba-aba aku langsung menjadikan bibir Zyona menjadi tawanan. ********** atas dan bawah. ******* bibir atas dan bawahnya secara bergantian. Zyona mendorong dadaku karena mulai kehabisan nafas. Aku melepas ciuman kami, dan kembali menemukan pipi merah jambu di wajah malu-malunya.
"Sa-sayangghh" Desahnya polos ketika tanganku kini berada di atas ***********.
Aku menatapnya sensual, sambil terus meremas lembut dadanya.
"Hhngh!" Desahnya tertahan saat aku mulai menciumi leher jenjang nya.
Jemariku merayap turun ke bawah. Menyelinap masuk ke dalam celana tidurnya dan menggoda sesuatu didalam sana yang menjadi favorit bagiku.
"Ahhh!" Zyona memegang tanganku yang kini sedang berada di intinya, dan berusaha menariknya keluar.
"Sayang, aku lagi halangan..." Ucapnya pelan dengan wajah merah padam.
Aku langsung menelan salivaku ketika mendengar ucapan Zyona. Bagaimana aku bisa lupa kalau Zyona ku ini sedang menstruasi. Hampir saja aku menggagahinya tadi.
Aku menghembuskan nafasku kasar lalu kembali berbaring di sampingnya. Dengan perasaan kecewa aku memeluknya dengan erat. Gak papa Rian, proses pembuatan bayi ditunda sementara. Setelah mens Zyona selesai, aku akan mengurungnya seharian di kamar dan memastikannya mendesah nikmat seharian.
"Sayang, tadi mama telfon, katanya kesehatan papa mulai membaik, dan kemungkinan minggu depan papa udah bisa dibawa pulang" Ucap Zyona.
"Syukurlah. minggu depan kita jemput papa sama-sama" Jawabku lembut. Zyona terlihat senang dan langsung membalas pelukan ku. Aku mengelus punggung nya dengan hangat. Sampai nafasnya teratur dan tertidur dengan lelap.
Bersambung.
(Satu bab dulu ya, besok update nya udah teratur lagi)
__ADS_1