
Pov Adrian
Ketika aku bangun, Zyona sudah tidak ada disamping ku. Aku memutuskan mandi dan bersiap-siap untuk berangkat ke kantor.
Ketika aku berjalan menuruni tangga, aku melihat punggung Zyona yang sedang memasak di dapur.
Aku tersenyum tipis melihat itu. Seandainya dulu aku tidak begitu jahat pada Zyona. Pasti sekarang tidak akan sesulit ini untuk mendapatkan hatinya kembali.
" Buatkan aku kopi ya, istriku " Kupeluk dia dari belakang, berbicara sambil menempelkan bibirku di lehernya.
Dia terkerjap kaget, mungkin merasa risih, jadi dia reflek mendorong ku.
Aku mengerti dengan respon yang diberikan Zyona sekarang ini. Karena dulupun aku selalu mengacuhkan nya.
Bahkan yang kuterima saat ini tidak ada apa-apanya daripada yang dialami Zyona dulu karena ulahku.
Melihat air wajahnya berubah seperti merasa bersalah karena telah mendorong ku, Aku berusaha tersenyum sambil mengacak puncak kepalanya.
Menunjukkan padanya kalau aku baik-baik saja.
" Aku tunggu di meja makan ya " Kataku lalu beranjak menuju ruang makan.
...~♥~...
Zyona pov.
Aku bangun sangat pagi, karena hari ini aku kembali bekerja sebagai fotografer di agensi model tempat aku dulu bekerja.
Yah, walau sedikit sulit membujuk Arya agar mau kembali menerimaku bekerja kembali disana.
Aku sedang membuat sarapan. Nasi goreng selalu menjadi langganan kami beberapa hari ini.
Bukan karena doyan, tapi cara pembuatan nya yang praktis.
Disaat aku sedang mengiris bawang, tiba-tiba ada tangan kekar yang memelukku dari belakang.
Pelukannya sangat erat, bibir lembab nya juga menempel di leherku.
" Buatkan aku kopi ya, istriku " Suara bariton Adrian terdengar sangat dekat dengan telingaku.
Aku sangat terkejut dengan dia yang tiba-tiba datang. Membuatku reflek mendorong nya kuat hingga tubuh kami menjauh.
Seketika perubahan wajahnya berubah kecewa. Seperti aku juga bisa merasakan kekecewaan nya, hatiku jadi merasa tidak enak.
Padahal kan dia hanya memelukku dan memintaku membuatkannya kopi. Jelas perbuatan ku tadi agak berlebihan.
Tapi entahlah, susah memang jika rasa percaya itu sudah hilang.
Aku menatap matanya lagi, wajah yang tadi kecewa kini tampak tersenyum hangat padaku.
" Aku tunggu di ruang makan ya " Ucapnya sambil mengusap lembut puncak kepalaku sebelum dia beranjak ke ruang makan.
Meninggalkan ku dengan desiran hangat yang menjalar masuk kedalam hatiku.
Aku menggelengkan cepat kepalaku.
Sungguh, sejak awal pernikahan kami aku berusaha untuk tidak baper pada Adrian.
Tapi mau bagaimana lagi, jika makhluk Pms seperti kita ditakdirkan baper walau pada perhatian seujung kuku, bukan?
Aku menggelengkan kepalaku lagi dan segera membuatkan Adrian kopi yang tadi dimintanya.
Saat kami makan pun sangat canggung. Lebih tepatnya aku yang tidak terbiasa dengan sikap perhatian Adrian.
Dia yang perhatian menyuapi ku makan, walau aku sudah menolak, tapi dia dengan semangat menjejal mulutku dengan makanan sampai penuh, sampai aku kesulitan menelannya.
" Badanmu terlalu kurus Zyona, makan yang banyak, aku akan menyuapi mu"
Itu yang dia katakan hingga sekarang aku tepar karena terlalu kenyang.
Apa begini usaha yang dia bilang untuk menyakinkan raguku.
Kalau seperti ini terus aku bisa mati muda.
Aku bersendawa beberapa kali karena perutku benar-benar penuh.
Aku sudah bilang pada Adrian akan kembali bekerja hari ini, syukur dia mengizinkan nya.
__ADS_1
Walaupun aku masih belum percaya lagi padanya, tapi tetap sekarang ini dia suamiku.
Dan dia berhak tahu apa yang aku lakukan atau akan ingin kulakukan.
Setelah memberi makan Popon dan Piyo si ayam tetangga, yang selalu martandang ke halaman rumah ku.
Aku sangat suka hewan, walau hanya memberi makan, sudah bisa membuat hatiku gembira.
Adrian muncul dari belakang ku, Huh, membuatku terkejut saja!
" Ayo. " Katanya sambil meraih jemariku.
Dia ngotot ingin mengantarku ke tempat kerja, walau aku sudah melarangnya.
" Iya " Jawabku.
Adrian melihat Popon dan Piyo yang makan butiran beras yang tadi kuberikan didepan teras rumah.
Lalu matanya menatapku
" Kamu pelihara ayam? "
" Enggak "
" Trus ini ayam siapa? "
" Ayam tetangga "
" Kok dikasih makan? "
" Karena mereka kesini, jadi aku kasih makan "
" Karena kamu kasih makan makanya mereka ketagihan kesini Zyona! "
Tuk, dia menyentuh pelan dahiku dengan dua jarinya, telunjuk dan tengah. " Jangan lakukan lagi " Larangnya
Aku memegang dahiku yang tadi disentuh Adrian, sambil menjawab " Iya "
...~♥~...
Aku dan Adrian didalam mobil diperjalanan menuju tempat bekerjaku.
" Okhok! " Perkataan Adrian berhasil membuatku tersedak, aku menatapnya tidak percaya, dan dia malah terlihat santai sambil fokus pada jalanan.
" Aku gak mau! " Tolakku
" Lah, kenapa? " Suaranya terdengar kecewa
Dia kecewa karena aku tidak mau mengandung anaknya?
Apa benar dia serius dengan ku?
Ahh, aku tetap tidak boleh percaya semudah itu padanya
" Adrian, jika aku mengandung anakmu, tapi kamu malah tidak mencintaiku, itu hanya akan menyakiti hatiku " Ucapku serius
Aku mendengar suamiku itu menghela nafas berat.
" Apa perbuatan ku yang paling membuatmu sakit hati? " Tanyanya sambil sekilas menatapku. Lalu kembali fokus pada jalanan
Aku meremas jemariku. Perbuatannya yang mana ya? Aku tidak bisa memilih, karena semua perbuatannya menyakiti hatiku.
" Apa kata-kata kasarku? " Terkanya
dengan nada menyesal
Aku menghela nafas panjang, lalu menatapnya lekat.
" Seharusnya dulu, jika kamu berikan Moza berlian, jangan berikan aku kayu"
"Kayu? "
" Ya pahitnya begitu, daripada aku bilang emas, terlalu mustahil, bukan? "
"Loh loh, Mas kawin yang kuberikan itu mas murni itu loh, jangan bilang mustahil " Sanggah Adrian tidak terima.
Menatapku sebentar, lalu kembali fokus pada jalanan. " Lagi pula kapan aku memberimu kayu?! "
__ADS_1
" Itu kan perumpamaan Adrian. Oke, aku ganti.
Seharusnya jika kamu beri Moza makan daging, jangan kasih aku ubi. Harus Adil. Ahh, bukan! Lebih tepatnya kamu seharusnya lebih perhatian sama aku daripada pacar kamu itu! "
Tegas ku padanya
Kan memang benar. Walau aku yang menjadi penghalang hubungan Adrian dengan pacarnya, tapi bagaimana pun aku yang menjadi istri sahnya.
Aku saja bisa menyesuaikan diri dan belajar memahaminya. Tapi dia malah egois dan memilih mencurangiku dengan tetap berhubungan dengan Moza.
Wajar aku marah! Dan saat Moza menghilang, dia malah memakaiku sebagai pelampiasan. Jadi wajar aku kehilangan rasa percaya padanya.
Kalau karena tidak memikirkan papa yang terbaring dirumah sakit. Hari ini aku sangat ingin menggugat cerai laki-laki itu.
" Maaf.... " Ucapnya lirih. Seolah menyesal dengan perbuatan nya dulu.
Tapi benarkah sekarang ini Adrian serius berubah, dan tidak lagi mempermainkan pernikahan ini?
Ahh, entahlah...
Aku memejamkan mataku dengan pikiran yang terus berkelana.
Kenapa tiba-tiba Adrian ingin punya anak bersamaku?
Apa usahanya sekarang ini sungguhan. Apa dia memang serius padaku
Lamunanku buyar ketika mobil berhenti. Ternyata kami sudah sampai ditempat tujuan.
Adrian menjulurkan tangannya kepadaku,
aku menatap matanya. Dia terlihat sangat berharap.
Akhirnya dengan ragu aku menerima tangan itu, dan mencium punggung tangan Adrian.
" Kamu hati-hati ya " Pesannya sambil memberi kecupan lembut dikening ku.
Aku langsung membuang muka sambil berdehem. Sangat tidak nyaman dengan situasi seperti ini.
" Aku duluan ya " Pamitku. Melihat wajahnya yang terlihat sedih karena perlakuan ku tadi, membuatku tidak enak hati.
" Kamu pulang jam berapa? " Tanya Adrian.
Kenapa dia menanyakan itu?
" Jam lima sore biasanya "
" Nanti sore aku jemput ya "
Aku sempat terkejut dengan tawaran nya tadi. Ini pertama kalinya Adrian memperhatikan ku sampai segininya.
" Aku.... "
" Pokoknya aku tunggu kamu jam lima diparkiran " Potongnya cepat, tidak ingin mendengar penolakanku
Aku ingin menolaknya lagi tapi Adrian lebih dulu pergi dengan mobilnya. Melaju membelah jalanan pagi menuju tempatnya bekerja.
Aku menatap punggung mobil Adrian lekat. Apa dia benar-benar serius padaku?
Tapi gimana kalau kali ini pun aku masih dijadikan pelampiasan?
...
Walau cinta masih semu terlihat
Dan rasa masih sangat sulit dimengerti
Tapi perhatiannya seolah gigih meluluhkan hatiku
Apakah sudah waktunya aku juga membuka hatiku perlahan?
@ZyonaAdisti
Aku membuat postingan di Insta. Tentang resah yang mengganjal dihati ini.
Rangkaian kalimat yang berupa pertanyaan, yang kubuat dan kutanyakan pada diriku sendiri.
Jika kalian jadi aku, apa yang akan kalian lakukan?
__ADS_1
Bersambung...