Menikah Tanpa Pacaran

Menikah Tanpa Pacaran
Part 6


__ADS_3

Tour konser Rei bertajuk 'Satu Dekade Untukmu' menuai sukses besar. Setelah konser di Lombok sukses, konser penutup diadakan di Jakarta. Semua tiket yang disedikan panitia selalu terjual habis bahkan kurang.


Sekarang untuk merayakan kesuksesannya, Produser dan semua tim mengadakan party di sebuah kafe yang sudah dibooking sehari sebelumnya. Semua orang larut dalam kesenangan.


Kecuali Nino.


Sang Manager itu terlihat murung dari tadi sore, seperti ada suatu masalah yang sedang disembunyikan, tapi Rei enggan menanyakan, nanti saja karena sekarang saatnya untuk bersenang-senang, pikir Rei.


Namun akhirnya Nino berucap, "Rei, malam ini aku tidur di apartemenmu. Ada hal yang harus dibicarakan," tutur Nino setengah berbisik pada Rei.


"Tentang apa?" tanya Rei. Nino menatap wajah Rei lama, menatapnya dengan tatapan tidak biasa. Nino menghela napas lalu menjawab, "Nanti saja," ucapnya dengan nada lemah lalu pergi ke meja lain, menghampiri Pak Robi sang Produser yang tengah asik mengobrol.


"Nino aneh sekali. Kenapa dia?" gumam Rei heran.


🌷🌷🌷


Setelah tengah malam party baru selesai. Rei berniat melanjutkan senang-senangnya ke sebuah club malam tapi ditahan oleh Nino.


"Besok kau ada pemotretan jam sepuluh, kau harus bangun jam delapan, jadi kurasa club malam harus dilupakan. Kau harus pulang denganku sekarang, apa kau lupa ada yang akan aku bicarakan denganmu?" Rei mengerjap, benar, ia lupa itu.


Rei mendengkus, "Baiklah, managerku yang bawel. Karena kau akan ke apartemenku, jadi sekarang sebaiknya kau yang menyetir mobil," sahut Rei sambil melempar kunci mobil sportnya pada Nino.


Nino mengangkat sebelah alisnya. "Mengendarai Lamborgini tengah malam begini kurasa akan menyenangkan. Perlukah kita kebut-kebutan sedikit?"


"Nice, tentu saja. Kurasa polisi lalu lintas sudah tidur." Rei dan Nino tertawa sambil masuk ke Lamborgini hitam milik Rei.


🌷🌷🌷


Apartemen Rei terletak di kawasan elite Jakarta selatan. Rei dan Nino sekarang sudah duduk di balkon apartemen Rei sambil menikmati batang demi batang rokok dan merasakan angin malam yang betiup sepoi-sepoi.


"Jadi apa yang akan kau bicarakan sampai menginap di apartemenku?"


Wajah Nino berubah kusut, ia terlihat sangat tertekan dengan masalah itu. tidak pernah Rei melihat Nino setertekan itu. Apakah Nino ada masalah dengan ibunya yang selalu memaksanya untuk segera menikah? Ataukah ada masalah lain? Setahu Rei, Nino akan sangat tertekan kalau ibunya sudah mengungkit masalah itu. Karena dua adik Nino sudah menikah terlebih dulu.


Rei menunggu Nino bicara dengan sabar. Nino mematikan rokoknya yang masih terbakar setengah dalam asbak, lantas ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan.


"Kau kenapa, No? Bicaralah! Apakah ibumu menyuruhmu untuk segera menikah?" tanya Rei. Nino merubah posisi duduknya lalu menatap Rei dengan wajah serius.

__ADS_1


"Sepertinya bukan aku yang akan segera menikah, tapi kau," sahut Nino sambil menunjuk Rei.


Rei malah tertawa menanggapi ucapan Nino. "Apa kau bercanda? Yang benar saja," sahut Rei geli tapi juga sebal. 'Ada apa dengan pria ini? Dia aneh sekali. Kenapa tiba-tiba dia menebak aku akan segera menikah? Apakah tadi di kafe dia salah makan?'


"Rei lihat wajahku! Apakah dengan raut wajah seperti ini aku terlihat sedang bercanda?" Sekarang Nino menunjuk wajahnya sendiri.


Rei menelan saliva merasa sedikit ketakutan. Benar. Selama delapan tahun Rei kenal Nino, memang seperti itulah wajah serius pria flamboyan itu. Tatapan matanya lurus tajam menatap si lawan bicara dan dahinya berkerut hingga alis tebalnya hampir menyatu satu sama lain, seperti itulah tampang serius Nino.


"M__maksudmu apa, No?" tanya Rei cemas.


"Kau ingat Sandara gadis di Bali yang tidur denganmu?"


"Sandara?"


"Astaga, kau tidak mungkin lupa dengan gadis itu, bukan?"


"Bukan begitu, tentu saja aku ingat, tapi aku baru tahu kalau gadis itu bernama Sandara."


"Ya, Sandara atau Dara. Tidak penting nama gadis itu siapa. Yang lebih penting sekarang kau harus tahu kalau Dara hamil."


Mata Rei langsung terbelalak, rokok yang masih menyala di tangannya terjatuh ke lantai. Seperti mendapat sebuah bom yang tiba-tiba jatuh dari langit di malam yang tenang, atau seperti kiamat yang tiba-tiba datang tanpa peringatan.


"Rei, tadi siang Nia temannya Dara meneleponku dan memberitahukan hal ini. Aku sendiri lupa telah memberikan nomorku padanya waktu di Bali. Demi Tuhan aku syok sekali saat mendengar kabar ini. Katanya Dara terus menangis mengetahui dirinya hamil, tidak mau makan ataupun masuk kantor. Tapi sejauh ini tidak ada seorang pun yang tahu masalah ini selain kita. Dan aku sudah minta tolong pada Nia untuk merahasiakan masalah ini dari siapa pun. Dara takut orang tuanya tahu. Kata Nia, Dara terus menangis karena takut pada orang tuanya. Sekarang kita harus bagaimana Rei?"


Rei menjatuhkan kepalanya ke meja. Sejuta persoalan berkelibat di kepalanya dan menyerbunya tanpa ampun. Ia memikirkan karir, keluarga, dan yang paling berat ia memikirkan Nadine. Bagaimana dengan Nadine? Bagaimana dengan hubungannya yang sudah berkomitmen untuk menjalankan hubungan yang serius? Apakah semuanya akan hancur karena sebuah kesalahan dalam satu malam?


"Rei!" seru Nino. Rei mengangkat kepalanya dan menatap Nino dengan tatapan sendu. "Aku tidak tahu," jawab Rei lesu. Nino kembali ke kursinya.


"Rei, apakah kita harus menjalankan rencana awal kita? Agar karirmu selamat kau harus menikah dengan Dara. Kau masih ingat dengan ucapanku waktu di Bali?"


"Tapi apakah itu jalan keluar satu-satunya? Nino, rasanya aku tidak bisa menikah dengan orang lain selain Nadine."


Nino memukul meja sekuat tenaga. "Nadine-Nadine-Nadine! Kau masih memikirkan gadis itu? Rei, yang harus kau pikirkan sekarang adalah karirmu! Banyak kontrak yang sudah aku tanda tangani untuk program beberapa bulan ke depan, kalau masalah ini mencuat ke publik bagaimana? Kau akan membatalkan semua kontrak itu? Lalu nanti berapa ganti rugi yang harus kita bayar untuk semua kontrak yang sudah kau batalkan? Saat kau menghitungnya dengan kalkulator aku yakin kau akan syok mengetahui hasilnya. Kau harus tahu wartawan infotainment sekarang itu hebat-hebat. Dan Nia temannya Dara juga tidak akan tinggal diam kalau kau tidak mau bertanggung jawab. Jadi kumohon lupakan Nadine! Gadis itu bahkan yang menyebabkan kau membuat kesalahan dengan Dara. Jujur saja, dari awal aku tidak setuju kau berhubungan dengan Nadine. Tidak ada yang bisa diharapkan dengan LDR, kau tidak tahu bagaimana dia di sana, bukan? Bahkan Nadine sangat jarang menghubungimu."


"Itu karena Nadine sibuk kuliah," sahut Rei datar.


"Hei, itu hanya alasan klise. Kau bodoh sekali. Yang sering berkomunikasi saja sering kecolongan, apalagi kau yang sangat jarang berkomunikasi? Rei, jangan sia-siakan waktumu untuk LDR. Kau dengar? Jangan sia-siakan waktumu!" tutur Nino penuh penekanan.

__ADS_1


Rei menangkup kepalanya dengan kedua tangan. Nino benar, tapi saat ini Rei hanya mencintai Nadine. Menikah dengan orang lain selain Nadine pasti akan sangat berat. Tapi Nino benar, Rei harus menyelamatkan karirnya.


"Kalau kau tidak mendengar ucapanku sekarang, aku pastikan karirmu akan tamat. Kau akan ditinggalkan oleh semua fansmu. Karena mereka tidak suka dengan pria brengsek sepertimu."


🌷🌷🌷


Keluarga Salim Pratikno (keluarga Dara) sedang berkumpul di meja makan menikmati sarapan pagi yang wajib dihadiri oleh seluruh penghuni rumah, tidak boleh ada yang melewatkan makan pagi ini.


Keluarga ini sangat disiplin dan teratur. Dan ketiga anak Salim Pratikno menjalankan kebiasaan ini dengan sabar sampai akhirnya terbiasa. Ayah Dara adalah seorang Professor yang mengajar di sebuah perguruan tinggi negeri, sedangkan ibunya mempunyai bisnis catering. Kedua kakak laki-laki Dara belum ada yang menikah. Kakak tertua sibuk bekerja di kementrian keuangan, sedangkan yang kedua adalah seorang dokter yang sibuk praktek di sebuah rumah sakit dan sedang mengambil program spesialis dalam.


Wajah Dara pagi ini masih terlihat pucat, tapi sebisa mungkin ia tidak menunjukan masalah yang sedang dihadapi ini di depan orang tuanya. Dara harus bersikap wajar agar orang tuanya tidak curiga.


"Ra, kau masih terlihat pucat, apakah kau masih sakit?" tanya ibu Dara, nampaknya satu-satunya yang jeli adalah ibunya.


"Apa kau mau ke dokter? Kalau kau masih sakit, sebaiknya sekarang kau jangan bekerja dulu," ujar ibunya cemas.


"Hah, ke dokter? Ah, tidak perlu Ma, aku sehat-sehat saja, kok. Aku harus bekerja sekarang, tidak enak pada atasanku."


"Kau serius?" Dara mengangguk sambil tersenyum meredakan kekhawatiran ibunya.


"Dara, kau harus diperiksa! Biar papa telepon dokter Rian," tukas ayah Dara sambil mengeluarkan ponselnya dari tempat ponsel yang menempel di sabuk.


Dara menatap ayahnya dengan gelisah, tapi dengab mulut terkatup rapat, tidak berani menyanggah sedikit pun ucapan ayahnya. Namun, nampaknya Alan_kakak kedua Dara_bisa membaca raut wajah gadis itu.


"Pa, Papa lupa kalau di keluarga ini ada seorang dokter? Biar aku saja yang memeriksa Dara," tutur Alan.


Ayah Dara menurunkan ponselnya. "Baiklah, kau saja yang periksa." Alan meluncurkan senyum menenangkan Dara, dan Dara merasa terselamatkan.


"Andi, bagaimana pekerjaanmu?" Andi mendongak menatap ayahnya, ia agak terkejut saat namanya disebut oleh ayahnya.


"Good, Pa," jawab Andi singkat.


"Umurmu sudah tiga puluh satu tahun. Kau harus sudah mulai memikirkan pernikahan," tembak ayahnya tanpa aba-aba. Andi mengerjap, ia menelan makanannya dengan susah payah, demi Tuhan Andi tidak suka kalau ayahnya sudah membahas masalah itu. Andi meneguk air putih untuk meredakan sedikit rasa syoknya.


"Tapi kalau kau menikah, mama harap jangan dengan Tika, mama tidak suka. Dia itu penyiar radio, bukan? Pokoknya semua anak mama jangan ada yang menikah dengan orang yang bekerja di dunia entertainment, karena mama tidak setuju. Cari wanita lain yang lebih baik dari Tika." Salim Pratikno mengangguk, setuju dengan ucapan istrinya.


Dara yakin saat mendengar ucapan ibunya tadi, jantungnya seperti berhenti berdetak beberapa detik. Habislah sudah. Bagaimana kalau ayah dan ibunya tahu sekarang dirinya sedang mengandung anaknya 'Si raja dunia entertainment, alias penyanyi dan aktor papan atas negeri ini?' Entahlah, Dara tidak bisa membayangkan.

__ADS_1


🌷🌷🌷


__ADS_2