Menikah Tanpa Pacaran

Menikah Tanpa Pacaran
Part 17


__ADS_3

Entah kenapa Dara merasa senang ketika Rei menelepon akan pulang cepat dan akan mengajaknya makan malam. Sekarang adalah malam minggu, dan Dara menganggap ini adalah kencan pertamanya, pergi keluar rumah makan malam saat malam minggu dengan seorang pria. Walaupun pria itu adalah suaminya sendiri.


Setengah jam sebelum Rei datang, Dara sibuk memilih baju dan berdandan, ia menggeraikan rambut panjangnya karena Rei menyukai kalau rambutnya tergerai. Saat semuanya selesai Dara mematung di depan cermin. Ia merasa aneh dengan dirinya sendiri, kenapa ia seperti ini? Kenapa ia berusaha melakukan hal yang disukai pria itu? Kenapa ia sebahagia ini hanya karena Rei mengajaknya untuk makan malam di luar? Kenapa ia merasa seperti menanti seorang pacar yang akan menjemputnya untuk berkencan? Sesuatu yang tidak pernah ia alami seumur hidupnya.


Pipi Dara memancarkan semburat merah, 'Astaga, sepertinya aku mulai jatuh cinta pada pria itu. tidak-tidak ini tidak boleh. Rei punya pacar!'


***


Rei menatap Dara dari ujung rambut sampai ujung kaki. Terdapat sorot mencemooh di tatapan matanya, Dara balas menatap Rei heran. Dandanannya sih tidak masalah, bahkan Dara terlihat cantik, tapi gaya busana gadis itu terlihat norak.


"Apakah itu baju terbaikmu?" tanya Rei. Dara mengangguk polos. Rei mendecakan lidah lalu menggigit bibir, ia mengangkat tangan kirinya melihat jam. Ada waktu satu jam lagi. Rei merasa harus membawa Dara ke butiknya Prama. Karena penampilan Dara berarti penampilannya juga. Ia tidak boleh mempermalukan dirinya sendiri.


"Ayo ikut aku." Dara membiarkan tangannya digenggam Rei, ia melirik pria disampingnya diam-diam, ingin memastikan lagi perasaan konyolnya itu. Dara memejamkan matanya sambil menggigit bibir, apakah sekarang jantungnya berdebar? Apakah suhu tubuhnya meningkat? Apakah ada aliran listrik yang menjalari darahnya? Dara melihat tangannya yang digenggam oleh Rei, bagaimana pria itu tanpa canggung lagi memegang tangannya? Ah sial, ini bahaya! Yang dirasakannya memang benar.


Setelah sampai di butik Prama, Dara dipaksa ganti baju oleh Rei, awalnya Dara protes, karena ia merasa Rei tidak menghargai jerih payahnya memilih baju yang dikenakannya sekarang. Tapi, setelah diberi penjelasan oleh Rei yang menurut Dara masuk akal akhirnya Dara luluh.


Sebenarnya Dara sangat kecewa, awalnya ia mengira akan makan malam romantis di sebuah hotel bintang lima hanya berdua dengan Rei, tapi ternyata bukan. Memang benar sekarang akan makan malam di sebuah restoran tapi bukan hanya mereka berdua, bisa dibilang sekarang adalah acara formil antara Rei dan produser-produser serta semua jajaran yang terlibat untuk acara konsernya di Malaysia, dan Rei merasa perlu untuk mengajak istrinya kali ini. Dara tidak bisa membuat pilihan lain sekarang selain menuruti apa yang dikatakan pria itu.


Ada sekitar dua puluh orang lebih yang menghadiri makan malam itu. Dan dari dua puluh orang lebih itu hanya Dara yang terlihat canggung, wajar saja Dara merasa seperti itu, karena semua mata di sana tertuju padanya.


Malam itu Rei dan Dara menjadi perhatian semua orang karena baru sekarang pengantin baru itu terlihat jalan berdua.


Makan malam itu berlangsung hangat, mereka mengobrol yang sama sekali tidak dimengerti Dara. Dan malam itu Rei mendadak menjadi orang yang berbeda, Dara baru melihat sisi lain dari pria itu kala sedang serius. Entah kenapa Dara merasa semakin terpesona oleh Rei, dari tadi ia memerhatikan Rei diam-diam yang tengah mengobrol serius dengan salah satu promotor dari Malaysia.


Dara melihat ke meja lain, semua orang tengah menikmati makan malam sambil mengobrol hangat, lalu pandangan Dara tertuju pada meja yang ditempati Nino, bersamaan dengan itu pandangan Nino juga tertuju padanya. Pria itu tersenyum, sebuah senyuman menenangkan, mungkin Nino tahu Dara sedang tertekan dan canggung.


Pandangan Dara kembali pada Rei yang masih mengobrol, lalu tanpa disangka tangan Rei turun ke bawah meja dan menggenggam tangan Dara tanpa melihat ke arahnya karena Rei masih serius menyimak obrolan produser-produser itu.

__ADS_1


Demi Tuhan Dara hampir saja melonjak kaget ketika tiba-tiba ada segugus tangan yang menggenggamnya dengan lembut. Dara menatap Rei di sampingnya, gejolak perasaannya semakin membuncah hingga rasanya mau meledak. Perlahan Dara menunduk dan senyumnya terbit.


***


Rei teringat bagaimana gadis itu tersenyum saat tangannya digenggam olehnya. Diam-diam Rei melihat Dara ketika ia menunduk dan tersenyum, dan Rei sangat senang ketika melihatnya tersenyum. Tapi, Rei masih belum tahu arti senyuman itu, apakah arti senyuman itu sesuai yang ia harapkan? Ataukah ...


tapi apapun itu yang jelas malam ini Rei sangat bahagia.


Rei keluar kamar kemudian diam-diam mengintip ke kamar Dara, terlihat gadis itu tengah tertidur lelap. Perlahan Rei berjalan masuk ke kamar Dara, duduk di bibir tempat tidur lalu membenarkan selimut. Tangannya ingin sekali membelai rambut istrinya itu tapi ia tahan.


Yang tengah berbaring dan tertidur lelap di hadapannya adalah istrinya, bagaimanapun cerita di belakangnya, Dara tetap istrinya. Istrinya yang sah di mata hukum dan agama. Pandangan Rei beralih ke perut Dara, di sana ada anaknya, darah dagingnya yang tengah tertidur dengan nyaman. Bagaimana ia mengingkari semua itu hanya karena seorang gadis yang jauh darinya dan sibuk dengan dunianya sendiri? Rei tidak tahu hidup Nadine di sana. Apakah ia bersenang-senang dengan laki-laki lain? Ataukah ia setia pada Rei? Tapi, bagaimanapun juga Rei akan tetap memilih sesuatu yang sudah ada di genggamannya, dan tidak akan pernah ia lepaskan, walaupun nanti mungkin ada hati yang terluka.


Setelah semua itu selesai dan berlalu, Rei baru bisa berkata dengan tegas, 'Aku mencintaimu, Sandara ....' Semoga itu bisa terjadi.


***


"Halo ...," sapa Rei dengan suara seperti orang mengigau.


"Morning Sayang ...," sahut orang di telepon. Suara lembut dan sedikit serak itu langsung membangunkan Rei, seketika ia langsung terduduk tegak.


"Nadine?" seru Rei kaget.


"Kau kenapa seperti orang kaget begitu mendengar suaraku?" tanya Nadine heran, Rei berdeham salah tingkah, menarik napas lalu membuangnya perlahan untuk meredakan rasa syoknya.


"Tidak, itu karena kau menelepon pagi-pagi sekali, aku masih tidur kau tahu?"


"Astaga, kapan kebiasaan burukmu itu hilang? Ini tidak pagi-pagi, di Indonesia sekarang jam sembilan bukan?" Rei melirik jam dinding yang menghadap ke tempat tidur.

__ADS_1


"Ah, kau benar." Rei mendesah kesal, tadinya Rei ingin bangun setelah jam sepuluh, karena ia baru tidur jam dua pagi, semalam ia tinggal di kamar Dara hampir satu jam tapi tidak ada yang ia lakukan di sana selain memandang wajah Dara yang terlelap sambil sesekali menyentuh pipinya.


"Rei, saat kita sudah menikah, kebiasaan burukmu itu harus kau hilangkan. Setiap hari harus bangun pagi, mengerti? Omong-omong apakah kau masih insomnia? Jam berapa kau tidur semalam? Apa kau membuat lagu? Rei, sementara kau harus menjauh dulu dari pianomu itu," tutur Nadine panjang lebar.


Rei menelan ludah dengan susah payah mendengar ucapan Nadine, demi Tuhan rasanya ia sampai kesulitan bernapas kalau memikirkan hal ini. Rei tidak tahu harus memulai dari mana untuk mengatakan semuanya pada Nadine. Tapi, akhirnya Rei memberanikan diri untuk memulai.


"Nadine, kapan kau pulang ke Indonesia? Ada yang ingin aku sampaikan padamu. Penting!" Nadine melonjak di kursinya, ia mengira Rei akan melamarnya jika ia sudah di Indonesia. Nadine ingin berteriak kegirangan tapi ia tahan, ia berusaha bersikap wajar. Nadine yakin Rei akan melakukan hal itu. Tiga setengah tahun adalah waktu yang cukup untuk Rei menunggu dengan sabar.


"Mmm Rei, sebenarnya aku meneleponmu sekarang karena aku ingin memberitahumu sesuatu, minggu depan aku akan pulang ke Indonesia. Aku sudah sidang skripsi dan hasilnya sangat memuaskan sekarang tinggal menunggu izasah dan wisuda."


"Benarkah? Selamat kalau sidangnya berhasil. Aku senang mendengarnya," ucap Rei tulus tapi juga cemas, berarti minggu depan adalah puncak drama dalam hidupnya. Apakah ia bisa? Tapi ia harus bisa. Selama hidupnya ia tidak pernah memutuskan seorang wanita, karena selama ini selalu ia yang diputuskan.


Kening Nadine tiba-tiba berkerut samar, ia menangkap ada sesuatu yang entah apa dalam suara Rei, tidak seperti biasanya.


"Rei, kenapa dengan suaramu? Kau seperti sedang sedih. Apakah kau sedang banyak pikiran?" tanya Nadine cemas. Rei mengerjap, gadis itu mulai merasakan ada sesuatu yang lain.


"Ah tidak, aku hanya sedang sibuk mempersiapkan konserku di Malaysia," jawab Rei. Nadine mengangguk-ngangguk.


"Oh begitu, baiklah aku mengerti. Rei aku harus ke apartemen temanku, sudah dulu teleponnya, ya. Jangan lupa sarapan, jangan cuma minum kopi, kau dengar? Jangan minum kopi! Caffein itu tidak baik, aku tidak mau kau sakit. Aku merindukanmu Rei."


"Mmm ...." Rei cuma membalas dengan anggukan sebelum telepon itu terputus.


Rei masih mematung di tempatnya setelah pembicaraannya dengan Nadine selesai dan tangannya masih menggenggam ponsel. Ini membuatnya seperti tercekik. Rei tidak mengira kalau alur hidupnya akan seperti ini.


Sekarang ia mencintai istrinya dan sangat menginginkan anaknya, tapi rasanya ia tidak sanggup menyakiti hati Nadine. Apa yang harus ia lakukan?


***

__ADS_1


__ADS_2