Menikahi Tuan Muda Lumpuh

Menikahi Tuan Muda Lumpuh
Bab 10 : Laki-Laki Berandalan


__ADS_3

Pernikahan Haruka begitu mendadak sehingga ketika Rayan menerima berita itu, semuanya sudah dilakukan dan dia tidak bisa melakukan apapun. Pernikahan bukan hal yang sepele dan fakta bahwa Haruka tidak menghubunginya membuat Rayan memendam amarah.


Rayan mendengar dari nenek tentang laki-laki yang menjadi suami Haruka, dan secara mandiri mulai mengumpulkan informasi tentang Daniel Yon.


Pria lumpuh yang setengah gila, pemabuk yang kecanduan obat penenang, seorang pria yang kekuasaannya sudah ditarik dan hanya menyisakan beberapa perusahaan pribadi. Bagaimana bisa ia membiarkan orang seburuk itu menjadi suami Haruka. Wanita kuat yang juga cinta pertamanya.


"Kalau dia tidak memperlakukanmu dengan baik, biarkan aku yang membalas mereka!" Mata Rayan memerah saat dia mengepalkan tinjunya dengan erat. Rayan tidak meragukan kekuatan Haruka, tetapi ia sendiri sadar tidak ada gunanya melawan orang yang memiliki uang dan kekuasaan menggunakan kekerasan. Jadi, dia berniat mengorbankan dirinya sendiri.


"Apa yang coba kamu lakukan?" Jantung Haruka bergejolak. Dia mendekatinya dan menatap langsung ke mata Rayan yang penuh akan kebencian. "Rayan, jawab aku!"


Tidak mudah untuk bertahan hidup di lingkungan distrik kumuh yang kasar. Rayan hanyalah salah satu dari sekian banyak anak yang kabur dari rumah orang tuanya dan menetap di distrik kumuh.


Sebelum bertemu dengan Haruka, Rayan bertahan hidup dengan cara mengamen dan terbiasa bertarung dengan preman lokal yang mencoba mengambil hasil kerja kerasnya. Namun, selama proses tersebut, ia juga mengambil banyak kebiasaan buruk.


Ketika Haruka mengingat bagaimana Rayan dulu merokok dan berkelahi sampai dia berlumuran darah, amarah Haruka tiba-tiba naik dan dia meraih kerah Rayan. “Apa kamu ingin bertarung lagi? Apakah kamu ingin menggunakan kekerasan lagi?”


Rayan melihat Haruka benar-benar marah, jadi dia dengan cepat menundukkan kepalanya. Diam membisu dan hanya mengepalkan tinjunya lebih erat.


"Dia selalu memiliki pengawal bersamanya ketika dia pergi keluar. Bisakah kamu mengalahkannya?"


Melihat bahwa Rayan benar-benar berniat menggunakan kekerasan, Haruka menjadi sangat marah, “Kamu tidak hanya tidak bisa memukulinya, tetapi kamu juga akan dijebloskan ke penjara karena menyerang orang yang tidak bersalah. Hidupmu akan berakhir begitu saja. Apakah itu layak?!”

__ADS_1


Haruka tidak lagi dapat mengerti. Mungkin karena usia Rayan sama dengan Darel, tingkah mereka berdua benar-benar mirip. Melihat dari ekspresi dingin di mata Rayan, Haruka sadar bahwa laki-laki itu berpikir bahwa semua konsekuensi itu sepadan.


Rayan tidak masalah bahkan jika dia berakhir masuk penjara. Selama dia memberi tahu orang itu bahwa jika dia macam-macam dengan Haruka, orang-orang kasar dari distrik kumuh akan membalas dendam. Jadi, mereka tidak bisa menggertak Haruka lagi dan itu layak menurutnya.


Rayan sudah membuka mulutnya, ingin mengatakan apa isi pikirannya, tetapi dia tidak berani mengucapkan kata-kata itu. Pada akhirnya, dia hanya bisa menundukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun.


Rayan benar-benar keras kepala dan sekali lagi hal itu mengingatkan Haruka dengan Darel Yon. Jika kedua laki-laki itu bertemu, Haruka takut keduanya akan saling salah paham satu sama lain dan berkelahi tanpa alasan yang jelas. Haruka tidak ingin itu terjadi.


"Rayan, dengarkan aku. Jika kamu berani memikirkan sesuatu seperti itu lagi, aku sendiri yang akan mematahkan kakimu!" Ekspresi Haruka menjadi dingin. Tidak ada gunanya menjelaskan bahwa dirinya disambut dengan baik oleh keluarga Yon kepada Rayan yang sudah gelap hati.


Ekspresi Rayan masih belum berubah dan Haruka tahu apa yang harus ia lakukan.


Rayan mengulurkan tangannya secara naluriah. Ketika dia menyadari apa yang dia lakukan, dia tetap tidak menarik tangannya karena harga diri.


Rayan menengadahkan pandangannya, sekarang dia melihat betapa marahnya Haruka. Dia benar-benar marah dan seakan hendak meledak. Pemikirannya tentang berkelahi dengan keluarga Yon benar-benar hilang dan dia dengan cepat berjanji, "Aku tidak akan melakukannya, aku berjanji tidak akan memikirkannya lagi!"


Namun, dia terlambat. Haruka sudah mengayunkan dahan dan memukul tangannya tiga kali. Itu bukan pukulan yang keras, tetapi Rayan seketika menjadi kempes dan kakinya menjadi lemah.


Setelah itu, Haruka menekan dahan itu ke bahu Rayan, membuat laki-laki itu tersimpuh di hadapannya. Matanya yang indah menjadi dingin, dan dia berkata, "Rayan, jangan berpikir bahwa aku tidak tahu apa yang kamu pikirkan. Jika kamu berani melemparkan diri ke neraka selama sisa hidupmu hanya untuk alasan yang konyol, jangan salahkan aku jika tidak mengakuimu lagi sebagai saudara."


Rayan berulang kali berjanji bahwa dia tidak akan menyentuh keluarga Yon. Melihat sikapnya yang tulus, Haruka berangsur-angsur menjadi tenang.

__ADS_1


Meskipun Haruka cuman tinggal di sini selama dua hari bersama neneknya, dia sudah cukup mengingat daerah sekitar sini. Dia membawa Rayan ke supermarket kecil. Melihat tangan Rayan yang memerah membuat hatinya sedikit merasa bersalah.


Pemilik supermarket menyambutnya dengan hangat, "Wah? Bukankah ini gadis cantik yang baru saja pindah? Apa yang ingin Anda beli?"


Supermarket itu tidak besar, tapi semuanya tertata rapi. Haruka mengambil sebungkus permen karet dari rak dan menyerahkannya kepada Rayan. "Gunakan ini untuk menghapus kebiasaan merokokmu itu. Aku juga pernah mendengar kalau permen karet bisa membantumu lebih berkonsentrasi saat belajar."


Daripada kemasan permen yang penuh warna, jari-jari indah Haruka membuatnya tersihir. Jari-jari panjang yang cantik itu sudah dimiliki oleh orang lain, tetapi masih tidak terikat oleh cincin. Rayan bertanya pada dirinya sendiri, apakah dia masih memiliki kesempatan atau tidak.


Rayan ragu permen karet bisa membantunya pulih dari kecanduan merokok, tetapi untuk saat ini dia akan menuruti kemauan Soma Haruka. Rayan membuka kemasan permen karet dan mengambil salah satu isinya. Dia memasukkannya ke dalam mulut dan mulai meletupkan gelembung dengannya.


Sesudah itu, Haruka mengambil banyak makanan ringan untuk dua anak lain yang pasti sedang menunggu di rumah nenek. Setelah ia merasa cukup, Haruka pergi ke kasir kemudian dia berjalan kembali menemui Rayan.


"Wah, lihat siapa ini?"


Seorang preman lokal dengan rambut kuning dan tato harimau di lengannya menghampiri mereka. Dia bersiul dengan licik dan berkata, "Bukankah ini Rayan? Kamu membawa pacarmu di wilayahku tanpa memberi salam, pemimpinmu ini benar-benar sakit hati, loh?"


"Tuan Jhon..."


Melihat orang ini, Rayan mengencangkan cengkeramannya pada tas belanja, dia merasa sangat ketakutan, bukan karena Jhon, tetapi karena tatapan dingin Haruka yang rasanya menusuk langsung ke arah jantungnya.


"Rayan, kamu bergaul dengan orang-orang seperti ini lagi!?" Haruka Murka, meski Rayan mencoba menenangkannya dia terus saja mendapatkan kegagalan.

__ADS_1


__ADS_2