
Helma Krisan berkata dengan marah, "Keluarga Yon akan mengadakan pesta perjamuan. Kakak, apakah kamu tahu hal ini? Ugh, Soma Haruka, betina murahan itu. Terakhir kali dia mempermalukanku di depan banyak orang. Kali ini, dia sepertinya mencoba melakukannya lagi. Dia sangat sombong, dan berani sekali mengirimiku undangan secara pribadi!"
Helma Krisan sangat marah sehingga dia akan menangis. "Karena betina murahan bermarga Soma itu, aku tidak berani keluar beberapa hari ini. Aku sangat takut orang lain akan menertawakanku. Kakak, apa yang harus aku lakukan?"
"Robert, tunggulah di luar dulu." Ares Krisan melirik Robert Pattinson dengan tatapan dingin. Tubuh Robert Pattinson gemetar dan dia buru-buru meninggalkan kantor. Dia bahkan menutup pintu kantor dengan sangat hati-hati.
"Kamu terlalu berlebihan, adik. Untuk apa kamu panik?" Ares Krisan bersandar di kursinya. Dia memarahi, "Apa yang kamu takutkan? Kakakmu ini sekarang orang yang bertanggung jawab atas Yon Grub dan kamu adalah adik perempuanku, orang yang akan mendirikan keluarga sediri sebagai cabang keluargaku. Siapa yang berani menertawakanmu?" Saat dia mengatakan ini, sudut bibirnya naik dan dia merentangkan tangannya selebar kekuasaan yang ingin ia miliki.
"Bahkan jika mereka tidak berani tertawa di depanku, mereka akan menertawakanku di belakang, Kakak. Gara-gara wanita miskin itu, aku benar-benar merasa terhina dan menjadi takut untuk menghadapi siapapun!" Helma Krisan menjatuhkan diri di sofa.
Ketika dia memikirkan adegan hari itu, air matanya mulai jatuh. "Soma Haruka menamparku di depan semua orang dan bahkan menyebutku tidak tahu berterima kasih. Dia bahkan tidak menghormati ibu kita. Kakak, kapan kamu akan memberinya pelajaran? Aku ingin balas dendam padanya!"
Helma Krisan tahu bahwa gaya hidupnya saat ini bergantung pada berhasil atau tidaknya mereka mengambil alih Yon Grub. Dalam beberapa tahun terakhir, keluarga Krisan yang semakin terpuruk berhasil bertahan hidup setelah melakukan beberapa skenario rumit yang menguras habis dana darurat keluarga Krisan. Beberapa rencana gagal, tetapi hasil akhir yang mereka harapkan berhasil. Putra Mahkota Yon Grub yaitu Daniel Yon, jatuh dari kursi tahtanya.
__ADS_1
Jika bukan karena tradisi keluarga Yon yang sangat keji, keluarga Krisan tidak akan jatuh sejauh ini. Tanpa keluarga Yon, keluarga Krisan tidak bisa bertahan sendirian, sehingga mereka harus selalu melekat erat pada keluarga Yon. Sayangnya, tradisi pelepasan cabang keluarga Yon membuat sikap parasitisme mereka terganggu. Mereka tidak punya pilihan lain untuk tetap hidup dalam kekayaan selain menjatuhkan Daniel Yon.
"Dia benar-benar mengatakan itu?!" Ares Krisan berdiri tiba-tiba. Matanya dipenuhi dengan kekejaman. Dia mengangkat suaranya, "Mengapa kamu tidak memberitahuku hari itu ketika kamu sampai di rumah?"
Keluarga Krisan disebut tidak tahu berterima kasih di depan umum, tetapi saudara-saudarinya tidak mengatakan apa-apa tentang itu. Bukankah ini berarti mereka mengakuinya saat itu juga? Bahwa mereka yang menerima manfaat tak terhitung dari keluarga Yon justru membelit leher mereka seperti parasit. Tidak heran ketika dia pergi untuk membahas tentang bisnis baru-baru ini, bos perusahaan lain memandangnya dengan mata yang aneh. Jadi, ini adalah alasan mengapa sikap orang-orang mulai berubah kepadanya.
"Setelah Soma Haruka menampar dan memarahiku, apakah kamu masih ingin aku mengulangi kata-kata memalukan itu kepadamu?" Helma Krisan sama sekali tidak menyadari bahwa ada sesuatu yang salah. Dia menyeka air matanya dan berkata, "Lagi pula, jika kamu benar-benar ingin tahu apakah aku telah dipermalukan, mengapa kamu tidak bertanya pada ibu?"
"Baiklah, berhenti menangis." Ares Krisan kesal sehingga sikapnya tidak akan membaik untuk sementara waktu. "Lupakan balas dendam atau apalah itu, kini hal itu sudah tidak ada gunanya. Tidak peduli seberapa banyak kamu menangis sekarang, kamu harus tetap menghadiri perjamuan keluarga Yon bersamaku."
"Apa, Kak?" Helma Krisan terkejut. Namun, dia menolak tanpa ragu-ragu, "Aku tidak akan pergi, Kak!" Dia menarik napas kemudian berteriak sekeras yang ia mampu, "Jika aku pergi, Marina Yon akan sangat bangga pada dirinya sendiri. Aku tidak akan mempermalukan diriku sendiri, dan Ibu juga pasti tidak akan pergi!"
"Kamu harus pergi bahkan jika kamu tidak mau!" Ares Krisan meraih pergelangan tangannya, dia berteriak dengan suara yang tidak kalah keras dan ekspresinya sangat ganas. "Kamu bukan anak kecil lagi. Jangan bertingkah seperti itu. kamu tidak hanya harus pergi ke perjamuan, tetapi kamu juga ke sana untuk meminta maaf kepada Marina Yon dengan memberinya hadiah yang besar. Aku tidak mau tahu, kalian harus berbaikan apapun yang terjadi!"
__ADS_1
Dia berhenti dan menyipitkan matanya. Kemudian, dia mengingatkannya, "Helma Krisan, aku memanjakanmu karena aku saat ini menggantikan posisi Daniel Yon. Selama Yon Grub belum sepenuhnya berada di tanganku, kamu tidak bisa sepenuhnya berselisih dengan keluarga Yon. Jika kamu terus bersikap seperti sebelumnya dan tidak patuh dengan ucapanku, jangan salahkan aku karena tidak memperlakukanmu sebagai saudari perempuanku lagi!"
Seluruh tubuh Helma Krisan gemetar. Dia sangat takut sehingga dia tidak bisa berbicara. "Patuhlah dan jadi adik perempuan yang penurut dan bersikap baik." Sudut mulut Ares Krisan berkedut dan dia memasang senyum palsu. "Sekarang kamu harus pulang dan cobalah untuk membujuk ibu. Katakan padanya apa yang aku katakan, dia pasti mengerti."
Ares Krisan bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke depan adik perempuannya yang meringkuk di atas sofa.
"Aku katakan ini sekali lagi padamu. Kamu harus memperlakukan keluarga Yon dengan lebih baik pada hari perjamuan. Bertahanlah meski kamu punya dendam, ini semua agar keluarga kita baik-baik saja. Setelah Yon Grub sepenuhnya berada di tanganku, kamu dapat terus menjalani kehidupan yang mewah bahkan lebih dari itu. Apakah kamu mengerti?"
Ares Krisan kemudian menepuk pipi adik perempuannya dengan telapak tangannya yang besar dan dingin. Rasa dingin yang menusuk tulang sepertinya menyebar dari pipinya sampai ke lubuk hatinya. Helma Krisan tidak bisa menahan tubuhnya yang gemetar.
Melihat ekspresi ketakutan adik perempuannya, Ares Krisan merasakan sedikit kegembiraan di hatinya. Senyum di wajahnya semakin lebar. "Helma Krisan, adik perempuanku! Aku bertanya padamu, apakah kamu mengerti? Jawab aku!? Cepat!"
Telapak tangannya perlahan meluncur ke leher Helma Krisan. Telapak tangannya yang besar sedikit menegang seolah-olah dia bisa mematahkan leher ramping adik kecilnya di detik berikutnya.
__ADS_1