
"Selain itu, saudara-saudari kepala keluarga yang baru akan kehilangan nama Yon di belakang nama mereka. Mereka diharuskan untuk membuat marga baru dan menjadi keluarga cabang jika masih ingin mendapatkan keuntungan sebagai seorang dari keluarga Yon."
Darel Yon mendengarkan dengan penuh rasa terkejut. Dia awalnya tidak mengerti mengapa keluarga cabang memutuskan dalam rapat untuk melantik Daniel Yon selang lima tahun pasca kematian ayahnya, tetapi itu rupanya bertujuan agar adik-adik Daniel menjadi dewasa dan mandiri. Selain itu keluarga cabang yang sekarang juga harus mempersiapkan diri untuk keluar dari lingkup keluarga Yon dan menjadi orang biasa tanpa kemuliaan.
"Jujur saja, aku memberitahumu hal ini karena ingin agar kamu menjadi orangku, Darel Yon. Otak kosongmu itu tidak berguna bagi keluarga Yon dan sia-sia saja jika kamu menjadi keluarga cabang tanpa bisa memanfaatkan keuntungan yang disediakan."
Darel Yon tidak bisa berkata-kata. Ken Bara tidak punya alasan untuk berbohong, apalagi jika alasan itu hanya untuk merekrutnya. Tradisi keluarga Yon itu pasti adalah nyata, dan seperti kata Ken Bara, Darel Yon tidak mungkin bisa membesarkan keluarga cabang dengan tangannya sendiri.
Melihat reaksi frustasi Darel Yon membuat Ken Bara bersemangat, dia melanjutkan, "Namun, keluarga Ken-ku berbeda. Di tempat ini tubuh fisik sempurna yang kamu miliki akan sangat berguna, dan aku berjanji untuk memberimu posisi yang bagus jika kamu bersedia. Aku tidak akan mengancammu dan tidak akan memaksa, pikirkanlah baik-baik Darel Yon, aku akan menunggu jawabanmu sampai kepala keluarga Yon yang baru selesai dilantik."
***
Keesokan paginya, Dean Yon menghabiskan segelas susu hangatnya seperti biasa dan dengan patuh berpamitan untuk segera berangkat ke sekolah.
"Kotak makan siangmu sudah kamu bawa?" Haruka mengangkat kepalanya untuk bertanya. "Aku meminta Bibi Liam untuk memasukkan nuget ayam yang kamu suka tadi malam. Habiskan, jangan sia-siakan.”
Dean Yon mengambil kotak makan siangnya, matanya berbinar dan tatapannya sedikit terkulai. Sebenarnya, makanan yang disajikan di kantin itu cukup enak dan hangat. Setiap makanan seimbang dan rasanya lebih enak daripada bekal makan siang dari rumah yang sudah dingin.
__ADS_1
Namun, ketika dia membawa makanan dari rumah, teman-temannya merasa iri dengannya. Membawa bekal berarti seseorang secara khusus menyiapkan apa yang ingin dia makan untuk makan siang dan itu adalah kehangatan yang datang dari sebuah keluarga yang bahagia.
Dean Yon memeluk kotak bekalnya dan berkata, "Terimakasih, Kakak Ipar!"
Setelah mengantar Dean Yon pergi, Haruka dengan tenang menginstruksikan kepada Bibi Liam dan kepala pelayan, "Tambahkan tahu pedas ke makan siang Darel, dia menyukai makanan dengan rasa yang kuat. Selain itu, Daniel dan aku sepertinya tidak akan kembali untuk makan siang. Siapkan saja makan siang untuk yang lain.
Bibi Liam dan kepala pelayan Hans mengangguk dan mengingat instruksinya.
Darel Yon sedang duduk di meja makan dan mengobrol dengan teman-temannya di telepon. Dia mendengar apa yang Haruka katakan dan cukup penasaran, tetapi dia memilih untuk mengabaikannya.
Darel kembali di tengah malam dengan pakaian yang kotor, tetapi karena luka-lukanya sudah sembuh, tidak ada yang mencurigainya. Seperti yang dikatakan Ken Bara tadi malam, ini bukan saatnya bagi Darel untuk bersantai atau bersenang-senang. Dia cuma punya dua tahun, dan setelah itu semuanya akan berpisah.
Daniel Yon tidak tahu mengapa, tetapi ketika dia melihat ekspresi datar Darel, dia merasa sedikit jengkel. Dia masih terbayang dengan perdebatan mereka tadi malam, bahkan bermimpi buruk tentang itu, tetapi lihatlah anak ini. Darel memasang wajah bodoh seolah tidak peduli, dia tidak memakai seragamnya dan terlihat sibuk dengan dunianya sendiri.
Melihat adiknya, sifat kekanak-kanakan Daniel keluar, dia berkata dengan lembut, "Cuacanya bagus hari ini, aku akan pergi dengan kakak ipar kalian. Jangan membuat masalah."
Daniel pikir dengan mendengar itu Darel akan merasa iri dan penasaran, mengapa kakak laki-lakinya yang selalu mengurung diri memutuskan untuk pergi keluar dengan saudara iparnya? Namun, itu semua tidak terjadi.
__ADS_1
Darel Yon sibuk dengan pesan teks dari teman-teman gym-nya yang berkata kalau mereka tidak memiliki lowongan pekerjaan sampingan untuk anak sekolah menengah. Kepalanya terasa pusing, dia merasa harus mulai mencari pengalaman bekerja, tetapi orang-orang yang dia tanyai malah memberinya nasehat dan mengutuknya tidak bersyukur.
Mayuna Yon yang selalu menatap lantai dan tetap diam seolah-olah dia tidak ada, malah yang merasa iri. Dia ingin ikut pergi dengan mereka, tetapi takut untuk pergi keluar. Jari-jarinya yang ramping mencengkeram sendoknya erat-erat dan dengan muram menurunkan matanya ke samping.
Karena masalah mentalnya, dia takut untuk berinteraksi dengan orang lain, jadi dia berhenti pergi ke sekolah. Akhir-akhir ini dia merasa menjadi cukup baik setelah kakak laki-lakinya, Darel Yon dengan baik hati membantu mengobrol bersama.
Namun, dia ingin lebih. Dia ingin kakak iparnya juga memperhatikannya. Dia merasa bahwa dia sangat egois, tetapi dia benar-benar membutuhkan banyak kasih sayang. Yuna menggigit bibir dan berusaha menahan air matanya.
Pada saat ini, telapak tangan yang hangat dan lembut mendarat di kepala Yuna dan dengan lembut menepuknya. "Aku akan membawakanmu hadiah saat aku kembali, oke?"
Air mata yang ditahan Yuna dengan susah payah tiba-tiba menyembur keluar, tetapi dia merasa seolah-olah lautan bunga mekar di hatinya. Dia menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat untuk menunjukkan bahwa dia mengerti. Namun, Darel sepertinya tidak suka dengan pemandangan haru itu. Wajahnya masam dan menatap Haruka seolah hendak memangsanya.
Soma Haruka melihat air mata Yuna dan terkejut sekaligus tak berdaya. Dia dengan lembut menyeka air mata Yuna tanpa membiarkan orang lain memperhatikan sehingga gadis kecil itu tidak merasa malu.
Setelah Haruka dan Daniel pergi, Darel duduk di samping Yuna yang masih belum menyelesaikan makannya. Dia menatap wajah gadis malang itu dan menjadi teringat kembali kalau dia cuma punya dua tahun tersisa untuk memakai nama Yon, dan itu berlaku juga untuk Yuna.
Darel menggigit bibir dan merasa putus asa. Yuna tidak punya apa-apa dan siapa-siapa, jadi Darel berniat untuk membawanya ke sisinya. Dia tidak ingin Yuna kembali ke kehidupannya yang dulu, dan dia tidak cukup percaya untuk menyerahkannya kepada Daniel Yon yang ada si kejam Haruka di sisinya.
__ADS_1
Darel tidak tahu harus ke mana dan bagaimana. Satu-satunya yang menawarkan bantuan padanya hanyalah Ken Bara yang licik. Jika dia tidak kunjung mendapat solusi, Darel terpaksa menyetujui tawaran Ken Bara, meski itu artinya dia akan menjadi anjing keluarga Ken yang setia.