Menikahi Tuan Muda Lumpuh

Menikahi Tuan Muda Lumpuh
Bab 61 : Dia Ingin Menjadi Idola


__ADS_3

"Selama hidup dengan bahagia, tidak ada yang namanya bakat yang sia-sia." Nyonya Tua Hadley jauh lebih tenang. Dia berkata dengan kasihan, "Lihatlah pemahamannya tentang musik. Jelas bahwa dia menderita di dalam hatinya saat menolak tawaran kita. Namun, seoertinya dia sudah menemukan cara hidup baru yang dia suka, kita tidak bisa memaksanya untuk berubah."


"Cih, aku hanya merasa kasihan padanya. Maksudku, berdasarkan bakatnya, begitu dia belajar dari kita, prestasinya di masa depan pasti tidak akan lebih rendah dari milikmu atau milikku."


Pak Tua Hadley menghela napas berat. "Ngomong-ngomong, aku merasa gaya lukisannya sedikit familiar. Ini sedikit mirip dengan senior itu, tetapi dia sudah pensiun belasan tahun yang lalu. Karena tidak ada yang bisa menghubunginya, ada rumor bahwa dia sudah meninggal dunia tanpa meninggalkan seorang murid. Apa dia selama ini berada di Distrik Kumuh?"


"Ah, setelah mendengarmu." Nyonya Tua Hadley juga mengerutkan kening. "Sepertinya pemahamannya tentang nada agak mirip dengan seseorang dari masa lalu. Namun, aku tidak bisa mengingatnya." Dia menggelengkan kepalanya.


Beberapa dekade yang lalu, negara ini berada dalam masa sulit yang penuh gejolak. Genius yang tak terhitung jumlahnya lahir pada waktu yang tidak tepat, dan mereka mengalami banyak kesulitan selama sepuluh tahun kepemimpinan tirani. Banyak Genius yang seharusnya mengejutkan dunia dan menjadi fokus dunia menghilang dan dilenyapkan. Bahkan mereka yang selamat memilih untuk hidup dalam pengasingan dan tidak muncul untuk waktu yang lama karena trauma.


"Sepertinya kita terlalu memikirkan ini." Pak Tua Hadley menggelengkan kepalanya dengan menyesal. "Tidak mungkin mereka berakhir di Distrik Kumuh." Kedua tetua menghela napas dan memikirkan masa lalu, kemudian mengenangnya. Soma Haruka membawa Mayuna Yon kembali ke kediaman keluarga Yon tanpa tahu tentang percakapan mereka.


Di malam hari, Soma Haruka menerima telepon dari Rayan Moon, salah satu dari tiga anak Distrik Kumuh yang dibawa oleh neneknya. "Kak Haruka!" Rayan terdengar sedikit cemas. "Apakah Sintia Wang ada di sana? Aku pikir mungkin dia pergi mencarimu. Jika dia pergi ke tempatmu, tolong beri tahu aku. Aku akan pergi untuk menjemputnya."


"Tidak, dia tidak ada disini." Soma Haruma yang sedang membaca terkejut dan duduk tegak di sofa. "Apa sesuatu terjadi?" Sintia Wang bukan tipe orang yang berlarian tanpa alasan dan membuat orang khawatir seperti ini, dia pasti memiliki alasan.

__ADS_1


Rayan Moon dengan pelan mulai menjelaskan kepada Soma Haruka, apa saja yang mereka lakukan setelah keluar dari Distrik Kumuh. "Kakak, tahu, kan? Setelah kami mendapatkan kehidupan yang lebih layak, Sintia berusaha mencari keluarganya dan akhirnya menemukan mereka."


Soma Haruka menganggukkan kepalanya, dia sebelumnya sudah bertemu dengan orang tua Sintia Wang. Meskipun Paman Wang dan Bibi Wang hidup serba kekurangan di pinggiran Distrik Beta, mereka selalu memiliki senyum ramah di wajah mereka. Mereka memberi Sintia Wang dan yang lainnya kehangatan keluarga yang belum pernah mereka rasakan sebelum.


Oleh karena itu, Soma Haruka dapat memahami niat baik Sintia Wang untuk berhenti sekolah dan bekerja untuk membantu ekonomi keluarganya Namun, hanya karena dia mengerti bukan berarti dia akan setuju dengan ide ini. Dia dengan terang-terangan menolaknya.


"Kak, Haruka?" Rayan Moon tidak bisa menahan diri untuk tidak memanggil ketika Soma Haruka tidak berbicara untuk waktu yang lama.


Secara kebetulan, kepala pelayan Hans datang menghampirinya. "Nyonya, penjaga gerbang memberitahu bahwa seseorang bernama Sintia Wang sedang mencari Anda. Apakah Anda tahu dia? Haruskah Saya membiarkannya masuk?"


Soma Haruka mengangguk. Tidak lama setelah panggilan berakhir, Sintia Wang, yang mata dan hidungnya merah karena menangis, memasuki ruangan. Saat dia melihat Soma Haruka, dia tidak bisa menahan tangisnya dengan keras.


Dia menangis begitu keras sehingga Darel Yon dan Mayuna Yon yang sedang berada di dapur diam-diam mengintip untuk melihat apa yang sedang terjadi.


Sintia Wang baru berusia 16 tahun, seorang gadis muda. Wajah mungilnya yang cantik masih kekanak-kanakan, dan sekarang dia menangis begitu keras hingga kehabisan napas. Ingusnya mengalir turun dari hidungnya. Dia terlihat sangat jelek sekarang, tetapi pada saat yang sama, dia penuh vitalitas seperti anak seusianya.

__ADS_1


Kepala Soma Haruka menjadi sakit karena tangisan Sintia Wang. Dia melemparkan sebungkus tisu ke arahnya dan berkata, "Menangislah sesukamu. Kita bisa bicara setelah kamu selesai menangis!"


Mendengar kata-katanya, Sintia Wang tersedak dan takut untuk menangis lagi. Dia mengambil tisu dan menghapus air matanya dengan kasar, lalu kemudian memeluk Soma Haruka dengan erat.


"Kak, bukannya aku tidak mau mendengarkan nasehatmu, tetapi ibuku tidak punya banyak waktu lagi. Dokter berkata bahwa ibuku harus menjalani operasi sesegera mungkin!"


Saat dia berbicara, Sintia Wang merasa ingin menangis lagi, "Kakak bisa memahamiku, kan, Kak? Kakak juga berhenti sekolah karena penyakit nenek, kan? Aku juga berbeda dengan kakak, nilaiku tidak bagus, sedangkan kakak selalu menempati peringkat pertama di kelas." Soma Haruka terdiam mendengar gadis itu memberi alasan dengan membawa masa lalunya.


"Jika kamu bisa melakukannya, aku juga bisa melakukannya. Beberapa waktu lalu, seorang pencari bakat datang kepadaku dan berkata bahwa aku cantik dan jika aku menandatangani kontrak dengan perusahaan mereka, aku bisa menjadi idola dan menghasilkan banyak uang. Dengan begitu, orang tuaku bisa menjalani kehidupan yang lebih baik."


Soma Haruka menganggukkan kepalanya, sekarang dia paham darimana asal muasal keributan ini, sehingga membuat Sintia Wang yang selalu tenang dan bergantung padanya, mencoba mengambil tanggung jawab sendiri.


Soma Haruka mencibir, "Begitukah? Katakan padaku dari perusahaan mana pencari bakat itu berasal sehingga mereka berani mengatakan kata-kata seperti itu kepada orang asing yang baru mereka temui?"


Mata Soma Haruka dingin dan mengancam. Sintia Wang yang takut dengan patuh mengeluarkan kartu nama pencari bakat dan menyerahkannya. "Pencari bakat itu mengatakan, meskipun perusahaan mereka kecil, prospek pengembangannya sangat bagus. Aku juga telah memeriksa perusahaan ini, mereka benar-benar nyata dan punya beberapa bintang. Ada kontrak formal untuk ditandatangani juga. Ini bukan penipuan, Kak."

__ADS_1


Soma Haruka hanya bisa menggelengkan kepalanya. Pada akhirnya, Sintia Wang yang mencoba bertingkah dewasa masihlah seorang gadis muda. Dia berpikir bahwa menandatangani kontrak akan melindungi hak dan kepentingannya. Namun, dia tidak tahu bahwa ketentuan kontrak itu mirip dengan menjual tubuhnya dan memenjarakannya dalam jeratan hukum.


__ADS_2