Menikahi Tuan Muda Lumpuh

Menikahi Tuan Muda Lumpuh
Bab 13 : Masalah Harga Diri


__ADS_3

Setelah makan, Haruka kembali ke kamarnya untuk memberi kabar kepada neneknya bahwa dia selamat sampai tujuan. Tidak lama kemudian, ada ketukan di pintu.


Tok Tok Tok


Di luar kamar, Kepala Pelayan Hans meninggikan sedikit suaranya, "Nyonya, ada telepon untuk Anda dari Ken Bara, kepala keluarga Ken yang baru."


"Ken Bara? Apa orang itu kakak dari Ken Mura?" tanya Haruka dan Hans langsung membenarkannya.


Haruka tenggelam dalam pikirannya saat ia mengikuti langkah Hans ke ruang tengah. Dia mengangkat telepon dengan ekspresi dingin yang menusuk tulang.


"Tuan Ken Bara?"


Ken Bara menyeringai tatkala suara yang indah datang dari ujung teleponnya. Seperti yang adiknya katakan, keluarga Yon sudah kejatuhan seorang malaikat yang rupawan.


Ken Bara menatap foto Haruka yang ia dapatkan dengan wajah yang penuh arti. Wanita itu bukan cuma cantik, tetapi juga sangat kuat dan kejam, tidakkah itu sangat cocok untuk Ken Bara yang merupakan kepala keluarga muda dari keluarga seni beladiri terkenal untuk berpasangan dengannya.


"Aku dengar kamu memukuli adikku? Nyonya Haruka, bisakah Anda bertanggung jawab?"


Daniel Yon yang mendengar kabar bahwa Ken Bara menghubungi Haruka segera turun dengan wajah yang penuh kecemasan. Daniel Yon memang sudah menduga kalau aksi pendisiplinan Haruka yang berlebihan akan menimbulkan masalah, tetapi ia tidak tahu kalau Ken Bara akan langsung menyerang Haruka, bukan kepadanya, tidak pula kepada Darel.


Daniel memutar kursi rodanya dengan keras, dia tidak peduli bahkan jika tangannya akan terluka. Darel yang melihat perjuangan kakaknya itu menjadi penasaran, dia membuka bungkus permen penyegar napas kemudian memasukkannya ke dalam mulut. Darel tidak langsung ke ruang tengah, dia pergi ke atas, mengecek keadaan adik perempuannya terlebih dahulu.

__ADS_1


Daniel ingin merebut telepon dari Haruka, tetapi ia gagal. Haruka menghindar dan memberi isyarat bahwa dia akan baik-baik saja. "Tuan Ken, apa yang Anda katakan memang benar. Namun, Saya pikir Anda tidak akan melakukan ini jika tahu kebenarannya."


"Benarkah?" Ken Bara sedikit terkejut, dia melirik ke belakang di mana Ken Mura tertunduk di atas sofa. "Saya tidak tahu kebenarannya?"


Soma Haruka tersenyum. Dari cara Ken Bara berbicara, Haruka dapat memastikan kalau pria itu tidak memiliki keseriusan tentang masalah ini. Dia mungkin sudah mengetahui kebenarannya atau mempunyai tujuan lain dari panggilan telepon ini.


"Semua masalah ini terjadi karena Tuan Muda keluarga Ken yang membayar murid lain untuk mengeroyok Tuan Muda kami. Apa yang aku lakukan hanyalah menggantikan para guru untuk mendisiplinkan mereka yang tidak bisa ditangani."


"Lalu, apa menurutmu sebaiknya kita biarkan saja masalah ini?" Ken Bara menatap tajam kepada Ken Mura yang kini meringkuk.


Daniel kehilangan kesabarannya, ia merebut dengan paksa telepon dari tangan Haruka dan berkata kepada Ken Bara, "Kalau CEO Ken merasa tidak puas dengan cara 'istriku' menangani masalah ini, kamu bisa datang dan selesaikan masalah ini denganku. Akulah yang memintanya untuk mengurus masalah ini. Jadi, berhenti menggangu istriku!"


Daniel menutup telepon karena Ken Bara diam cukup lama. Daniel beralih kepada Haruka. Matanya berkilat ketika berkata dengan cemas, "Jika hal seperti ini terjadi lagi di masa depan. Jangan coba-coba menanggungnya sendiri, kamu bisa mengandalkanku."


Setelah Daniel menyadari bahwa dia telah mengatakan kata-kata yang memalukan, dia segera pergi meninggalkan Haruka yang masih terdiam di sana sambil menyembunyikan pipinya yang memerah.


Ini adalah pertama kalinya Daniel memperlakukannya dengan manis dan itu juga menjadi kali pertama seseorang berkata kepada Haruka kalau dia tidak harus menanggung beban sendirian. Perasaan dilindungi membuat pikirannya kosong dan Haruka tidak mengerti apa yang sedang terjadi padanya.


Haruka ingin mengelilingi kediaman keluarga Yon dan menghafal denahnya, tetapi dia tidak bisa berkeliaran dengan wajah memerah seperti sekarang. Ucapan Daniel yang mengakuinya sebagai istri membuat Haruka terus merasa malu.


Di lorong menuju ruang tengah, Darel Yon bersandar pada dinding dengan pembuluh darah yang menyala. Dia mengenal Ken Bara dengan baik. Pria itu seumuran dengan kakaknya dan sudah menjadi kepala keluarga Ken sejak usianya masih tujuh belas tahun. Dia genius dalam berbisnis dan punya beladiri yang sangat hebat.

__ADS_1


Perasaan di atas angin membuatnya sombong dan kejam kepada yang lemah. Tidak peduli seberapa hebatnya Haruka, dia tidak bisa melawan Ken Bara yang licik.


"Darel Yon! Jangan pikir aku tidak tahu apa isi pikiranmu, kamu berniat untuk menemui Ken Bara secara langsung, kan!?" Daniel yang hendak kembali ke ruangannya menemukan Darel.


Mata adik kandungnya itu dipenuhi oleh niat membunuh, dan intimidasi yang terlepas dari keberadaannya sudah sampai pada tingkatan ekstrem.


"Keluarga Ken adalah keluarga beladiri. Berbeda dari keluarga Yon, keluarga Ken menentukan Kepala Keluarga dengan sebuah pertarungan, orang yang paling kuat di keluarga Ken akan dinobatkan sebagai Kepala Keluarga. Ken Bara adalah pemenang turnamen itu selama dua kali berturut-turut." Darel Yon bergumam.


"Kamu tahu itu dan kamu masih ingin melakukannya!? Apa kepalamu hanya hiasan!" Daniel murka, tidak cukup membuat masalah dengan anak-anak konglomerat, sekarang pembuat onar itu ingin berkelahi dengan Kepala Keluarga Ken. Rasanya sia-sia membuat orang ini sekolah di tempat unggulan.


Darel menatap mata kakak kandungnya dengan tajam, dia berkata dingin, "Yang harus aku lakukan hanyalah duel pribadi dengannya. Jangan hentikan aku."


Darel sudah menetapkan hatinya dan menjadi buta. Dia keras kepala dan di dalam otaknya hanya ada kekerasan. Daniel mengepalkan tinjunya dan berkata, "Bukankah kamu mendengarnya? Aku bilang kalau aku akan bertanggung jawab atas masalah ini. Jika kamu sebegitunya membenci belajar, pergi tidur saja sana!"


"Diamlah! Berhentilah berpura-pura peduli padaku, itu sangat menjijikan!" Darel membentak Daniel, meski kemurkaannya terhadap Ken Bara mereda, tetapi sekarang pisau bermata dua itu justru mengarah ke leher Daniel.


Darel tidak terlalu peduli dengan saudaranya yang lain, tetapi dia benar-benar membenci Daniel yang tidak melakukan apapun terhadap Yuna yang sangat membutuhkan bantuan. Bahkan saat dia bersujud di depannya, Daniel Yon hanya berkata kalau dia belum yakin kalau Mayuna Yon adalah anak dari ayahnya.


"Kau berubah Darel. Kamu bahkan lupa siapa orang yang telah membesarkanmu." Daniel menggelengkan kepalanya perlahan, dia merasa sangat kecewa.


"Hah, lupa? Bagaimana bisa aku lupa, kamu membesarkanku dengan dendam dan kebencian. Kamu melampiaskan semuanya padaku, dan aku menerimanya seperti orang bodoh yang berpikir kalau aku pantas menerima itu semua." Darel meledak, dia meninju tembok yang membuat kaca-kaca di sekitarnya menjadi pecah.

__ADS_1


__ADS_2