Menikahi Tuan Muda Lumpuh

Menikahi Tuan Muda Lumpuh
Bab 53 : Langit, Jadikan Ini Rahasia Kita


__ADS_3

"Aku dengar nama lengkapmu adalah Mayuna Yon. Adik, jika kamu tidak ingin naik ke atas panggung, jangan memaksakan dirimu, masih ada kesempatan lain." David Yon merasa sedikit canggung berbicara dengan lembut seperti ini.


Namun, dia tetap melanjutkan, "Keluarga kita berbeda dari keluarga kelas atas lainnya, semua anggota keluarga Yon berhak mendapatkan kebebasannya sendiri untuk mempelajari apa pun yang mereka inginkan. Kalau kamu tertarik mempelajari alat musik dan bernyanyi maka lakukanlah, kalau kamu tidak ingin tampil di atas panggung, maka jangan tampil."


Yuna Yon memandang kakak laki-lakinya yang masih agak asing di matanya. Semula dia berpikir David Yon akan membencinya karena dia hanya bisa membuat masalah, tetapi ternyata tidak sama sekali. Sebaliknya, dia menatapnya dengan lembut.


Yuna Yon telah mendengar sebagian besar penghinaan dan perpeloncoan sepanjang hidupnya. Dia juga terbiasa mengabaikan kemauan dirinya sendiri dan terbiasa untuk melangkah mundur. Namun, kali ini dia tidak ingin seperti itu lagi, dia ingin maju, dan merobek dinding yang menghantuinya selama bertahun-tahun.


Sosok saudara laki-laki dan perempuannya telah berubah menjadi kekuatannya. Kakak iparnya ada di sisinya, memegang tangannya, dan memberikan semangat untuknya. Seolah-olah energi dalam jumlah tak terbatas telah melonjak ke tubuhnya, memungkinkannya untuk berdiri tegak di depan semua orang tanpa rasa takut.


Malam itu bulan tertutup awan, sehingga langit di luar aula perjamuan gelap gulita. Namun, pada saat ini, fajar telah tiba untuk Yuna Yon. Punggungnya yang bungkuk diluruskan secara bertahap, meskipun tubuhnya gemetar karena gugup, matanya cerah. Dia mengangguk ringan pada Soma Haruka. Dia siap untuk melakukannya!


Soma Haruka tersenyum dan dia mengangkat tangannya untuk menepuk bagian atas kepala Yuna Yon. Tatapannya beralih ke arah Karina Arthur. Dia berkata, "Nona Muda Arthur, jika Nona Muda ke lima kami mendapatkan nilai yang lebih baik dari penyanyi sebelumnya. Kamu dan teman-temanmu yang bodoh harus meminta maaf padanya di depan umum. Bagaimana, Nona Muda Arthur, apa kamu setuju?"


Karina Arthur dan gadis-gadis di sampingnya saling memandang, kemudian menganggukkan kepala mereka secara serentak. "Baiklah, kami setuju!"

__ADS_1


Karina Arthur mengangkat suaranya kembali, "Namun, kami juga punya kondisi. Jika Nona Muda ke lima tidak mendapatkan nilai yang diharapkan, kami ingin kamu bersujud dan meminta maaf kepada kami di depan semua orang. Bagaimana?"


"Tidak masalah," jawab Soma Haruka tanpa ragu-ragu. Dia berbalik dan tersenyum pada Yuna Yon, Dia berkata, "Gadis kecil, harga diri kakak iparmu ini ada di tanganmu sekarang, selamatkan kakak, oke?" Nada suaranya santai, tanpa sedikit pun emosi negatif. Seolah-olah dia sangat percaya bahwa adik iparnya bisa melakukannya. Yuna Yon mengepalkan tinjunya, dan dia menjadi lebih tegas atas tekadnya.


Soma Haruka memegang tangan Yuna Yon saat mereka menaiki panggung selangkah demi selangkah. Para sosialita yang sebelumnya mendekati Soma Haruka untuk mengobrol dengannya memandang mereka sambil memberikan semangat dari dalam hati. Seandainya Soma Haruka kalah di sini, tindakan mereka sebelumnya yang ingin mengikat koneksi dengannya akan menjadi sia-sia, tetapi jika dia berhasil, koneksi itu akan memberikan nilai yang jauh lebih tinggi. Sekarang, takdir itu ada di tangan Yuna Yon.


Yuna Yon merasa dirinya dipenuhi oleh energi. Dorongan yang tak terhitung jumlahnya yang dia terima dalam perjalanan singkat ke panggung ini membentuk semacam kekuatan hangat dan tegas. Kekuatan ini berubah menjadi pilar yang menopang cangkangnya yang lemah.


David Yon menyenggol bahu Darel Yon dan bertanya padanya, "Kamu adalah orang yang sangat memanjakannya selama ini, tetapi kenapa ekspresi wajahmu seperti itu? Apa kamu meragukan Yuna?"


"Lalu, apa menurutmu dia tidak cukup baik untuk mendapatkan nilai penuh?"


Darel Yon tersenyum mendengar pertanyaan konyol itu. Menurutnya di dunia ini tidak ada yang bisa menyaingi kemampuan adik perempuannya dalam memainkan alat musik dan bernyanyi.


"Ada dua kondisi yang akan menentukan apakah Maestro Roseta akan menerimanya sebagai murid atau tidak. Jika dia mengambil gitar yang sudah akrab dengannya maka dia akan kalah, karena benda itu menyimpan traumanya selama bertahun-tahun. Namun, jika dia memilih alat musik lain, aku percaya diri bahwa dia akan muncul ke publik sebagai seorang bintang!"

__ADS_1


David Yon tergerak ketika Darel Yon memberitahunya dengan penuh semangat. Dia melirik kembali ke atas panggung, dan menyaksikan adik perempuannya sedang berdiri diam di hadapan banyak alat musik. Saat Yuna Yon mengambil biola, David Yon tanpa sengaja bersorak.


Darel Yon menepuk pundak kakak laki-lakinya yang sudah mempermalukan dirinya sendiri. "Bertahun-tahun kemudian, Yuna akan melangkah ke panggung yang lebih besar. Dia akan berjalan di karpet merah yang lebih panjang, dan dia akan tampil dihadapan jutaan orang." Darel Yon berbaik dan dengan pelan meninggalkan mereka sambil terus berbicara.


"Pada saat itu, tidak akan ada yang memegang tangannya, tetapi langkahnya tetap kokoh dan tenang. Matanya yang cerah tidak berkedip sedikit pun, karena dia tahu sejak malam ini bahwa kelahirannya bukan sebuah kesalahan." Darel Yon terus menjauh, melewati kerumunan masih sambil berbicara sendiri.


"Namun, pada saat ini, dia baru saja mulai merangkul kehidupan barunya. Dia berdiri di atas panggung, sedikit gemetar karena tatapan yang tak terhitung jumlahnya terfokus padanya. Ini adalah ujian tersulit baginya, dan aku tidak memiliki keberanian yang cukup untuk menyaksikan kegagalannya." Darel Yon pada akhirnya keluar dari aula perjamuan sendirian.


Bahkan saat dia berada di luar, dia tetap berbicara sendiri sembari menatap ke arah langit, "Sepertinya kamu benar ibu, cinta itu sangat kejam. Aku tidak tahu apakah ini karma karena aku menembak jantung kakekku sendiri atau karena aku melepaskan perangkat medis dari tubuh ibu waktu itu, entah yang manapun itu, ini sangat buruk. Sepertinya aku..." Darel Yon terdiam sejenak. "Jatuh cinta dengan adikku sendiri."


***


Yuna Yon terdiam di atas panggung terlalu lama, sehingga Karina Arthur dan yang lainnya kembali mengeluarkan ejekan tajam mereka. Dia tanpa sadar ingin menoleh untuk melihat ekspresi mereka, membuatnya kehilangan fokus dan menjadi sumber dari rasa takutnya selama ini.


Jari-jari kecilnya yang memegang busur meringkuk dan gemetar. Busur yang sangat ringan sepertinya memiliki berat ribuan kilogram saat ini. Seolah-olah semua energi yang terkumpul di dalam tubuhnya disedot keluar begitu saja, dia merasa kempes dan keberaniannya menghilang.

__ADS_1


Apalagi ketika dia mendengar orang-orang mulai berbisik tentangnya, lengannya yang memegang busur secara bertahap menjadi lebih kaku. Pada akhirnya, jari-jarinya terasa berat dan tidak bisa bergerak sama sekali.


__ADS_2