Menikahi Tuan Muda Lumpuh

Menikahi Tuan Muda Lumpuh
Bab 38 : Kekuatan Penampilan


__ADS_3

Di bawah penerangan lampu perjamuan, gaun Soma Haruka berkilau sehingga menarik perhatian orang. Gaun merah itu dibuat khusus untuknya setelah mempertimbangkan warna kulit putihnya yang seperti giok. Warna hitam adalah lambang bagi keluarga Yon. Jadi, riasan dan aksesorisnya yang lain dibuat hitam, tetapi tetap tidak berlebihan.


Meski pakaiannya yang elegan membuat orang tertarik. Namun, yang lebih menarik perhatian mereka adalah sosoknya yang cantik. Rambut panjangnya yang seperti tinta diikat di belakang kepalanya dengan aksesoris mawar mewah yang cocok dengan dirinya.


Ujung gaunnya yang panjang mengepel lantai. Untuk mengatasinya, David dan Darel Yon berdiri di setiap sisinya dan memegang ujung gaunnya seperti ksatria milik sang Ratu.


Melihat adegan ini, Marina Yon melebarkan matanya tidak percaya. Dua saudara laki-lakinya yang bertemperamen buruk dan keras kepala terlihat seolah-olah menundukkan kepalanya kepada seorang wanita.


Apakah benar mereka berdua adalah saudaranya?


Marina Yon membuka matanya lebar-lebar dan mendapati David Yon kelihatannya terluka dan ada darah di lengan dan bahu Darel Yon. Mereka masih saudaranya yang sama, tetapi mengapa mereka terlihat lebih tampan dan berwibawa sekarang? Mereka sudah berubah? Pantas saja Helma Krisan memintanya untuk menjodohkan Darel Yon tadi malam. Tunggu, tidak. Mereka pergi ke pesta penting dengan pakaian berlumur darah, mereka pastinya masih saudara laki-lakinya yang gila!


Pikiran Marina Yon berkecamuk dan itu saja sudah membuatnya merasa pusing, belum lagi ketika dia menyadari bahwa saudara perempuan kelimanya yang biasanya terlihat suram dan pemalu sedang tersenyum cerah menggandeng tangan Soma Haruka.


Yang dilakukan gadis kecil itu setiap hari hanyalah bersembunyi di kamarnya sambil memainkan lagu sedih. Dia tidak berani melihat siapa pun dan menangis sepanjang waktu. Mengapa sekarang dia terlihat sangat berani? Apa yang sedang terjadi? Apa ini nyata? Mengapa dunia berubah begitu banyak setelah dia meninggalkan negara selama beberapa bulan? Pertanyaannya terus bertambah sampai-sampai tidak bisa dihitung menggunakan jari.

__ADS_1


Saat tatapan Marina Yon menjadi kosong. Temannya yang berdiri di sampingnya diam-diam menarik lengannya, dan nada suaranya dipenuhi rasa iri. "Marina! Apa benar kakakmu menikah dengan wanita miskin dari wilayah kumuh? Bagaimana bisa kecantikan seperti ini bisa muncul di tempat terkutuk itu!"


Marina Yon memahami apa yang dikatakan temannya. Soma Haruka sama sekali tidak terlihat seperti orang desa yang vulgar dan bodoh. Hanya dengan berdiri di sana, dia menarik perhatian semua orang. Cara matanya menyapu seluruh kerumunan begitu gagah sehingga membuat kaki orang menjadi lunak. Itu adalah dominasi mutlak yang sesuai dengan posisi yang Haruka pegang saat ini, yakni pengganti kehadiran Daniel Yon


Helma Krisan juga terkejut dengan kecantikan Soma Haruka. Ketika dia menyadari bahwa dia terpesona olehnya, dia menjadi lebih marah. Dia tidak bisa menahan diri untuk tidak berkata dengan sinis, "Memangnya kenapa jika dia sangat cantik? Ada banyak gadis seperti itu di negara kita, yang kita butuhkan bukan penampilan, tetapi hati!"


Seorang temannya diam-diam membalas pernyataan Helma Krisan dalam hatinya. Dia merasa bahwa Soma Haruka adalah wanita tercantik yang pernah ia lihat. Tidak hanya dia cantik, tetapi temperamennya juga kelihatannya sangat baik dan mengerti etika kebangsawanan.


Mungkin karena mereka berjenis kelamin sama, ketika dia melihat bahwa semua tatapan pria terfokus pada Soma Haruka, dia menarik pemikirannya karena iri, "Kamu benar, wajah cantik saja tidak cukup. Kecantikan terlalu rapuh, jika hanya mengandalkannya, mudah untuk terjatuh."


Marina Yon mengerutkan kening. "Tidakkah kalian pernah berpikir kalau kalian tidak ada bedanya? Mengandalkan penampilan untuk sesuatu yang egois, kalian hanya beruntung terlahir di keluarga yang berada!"


Marina Yon selalu menjadi Nona Muda yang sombong dan manja. Dia akan mengatakan apa pun yang dia inginkan dan sangat lugas. Sekarang, dia memiliki kesan yang baik tentang Soma Haruka, dan pikirannya yang sempit menjadi terbuka.


Marina Yon akhirnya menyadari, saudara laki-lakinya yang gila masih belum berubah, alasan mereka rela menundukkan kepalanya adalah karena Soma Haruka saat ini menggantikan posisi Daniel Yon dan menjadi perwakilan orang dengan posisi tertinggi di keluarga Yon.

__ADS_1


Saat dia melihat wajah kesal Helma Krisan. Marina Yon tersenyum dan berkata, "Mulutmu berkata kalau kecantikan itu tidak berguna, tetapi jujurlah. Kamu sebenarnya iri karena kamu tidak bisa secantik itu, kan?"


Marina Yon memperhatikan ekspresi teman-temannya yang terus berubah ketika dia selesai berbicara. Itu cukup lucu, seolah-olah otak mereka terdistorsi sehingga menjadi kesulitan mengendalikan wajahnya sendiri.


Helma Krisan memaksakan senyum dan menyatakan dengan suara lembut. "Marina Yon, kamu tidak bisa mengatakan itu. Penampilan diberikan oleh orang tua kita, mengapa kita harus cemburu? Selain itu, bukankah kamu sangat membenci Soma Haruka? Meskipun dia sangat cantik, statusnya tidak layak untuk Kak Daniel."


Daniel Yon adalah seorang legenda di dunia bisnis, sosok yang berdiri di puncak piramida. Dia tampan, genius, dan memiliki caranya sendiri untuk menyelesaikan masalah. Seperti Dewa yang turun dari Surga, Daniel Yon adalah manusia yang terlahir sempurna.


Marina Yon melirik wajah rupawan Soma Haruka dan tidak bisa menahan diri untuk tidak bergumam, "Yah, setidaknya dia lolos dalam dua hal. Penampilan dan etika kebangsawanan. Itu jauh lebih baik dari mantan tunangan Daniel Yon yang pengkhianat."


"Apa katamu tadi?" Suaranya terlalu pelan, sehingga orang-orang di sekitarnya tidak mendengarnya. Marina Yon terlalu malu untuk mengulangi apa yang ia katakan tadi, dan dia tidak ingin terlihat seperti sudah ditaklukkan oleh penampilan megah Soma Haruka.


"Aula perjamuan utama sangat pengap, aku akan keluar untuk mencari udara segar." Melihat Marina Yon pergi, Helma Krisan menghentakkan kakinya dengan marah. Rencananya bahkan belum dimulai, tetapi itu sudah hancur.


Tepat saat dia hendak menyusul Marina Yon dan mencoba untuk menghasutnya lagi, satu keributan lainnya datang dari ruang perjamuan.

__ADS_1


Di bawah pengawasan semua orang, Ken Bara berjalan dengan segelas anggur di tangannya. Matanya yang seperti ular, hanya tertuju pada Soma Haruka. "Soma Haruka, ah, bukan? Haruskah aku memanggilmu, Nyonya Yon?"


Saat Ken Bara hendak melangkah lebih dekat, Darel Yon menghadangnya. Mata hitam pemuda itu gelap dan seringai dingin timbul di atas wajahnya yang sombong. Suasana di antara keduanya seperti pertemuan dua jenderal perang yang sudah siap untuk membunuh satu sama lain.


__ADS_2