
Haruka yang mendengar keributan itu semula hanya akan membiarkannya karena itu hanyalah pertengkaran antar saudara. Namun, ini sudah di luar kendali. Haruka menghampiri mereka dan berteriak, "Darel!"
Daniel terkejut dan menjadi gugup, sementara itu Darel menurunkan niat membunuhnya dan memalingkan muka.
Haruka tidak tahu harus melakukan apa, pertengkaran itu berakhir di masalah yang tidak ia ketahui. Dengan cepat suasana menjadi canggung dan tidak ada satupun dari mereka bertiga yang berbicara.
Darel menghela napasnya dan berjalan untuk pergi dari sana. Saat dia berpapasan dengan Daniel, Darel berkata di telinganya, "Kamulah yang berubah, Kak, dan aku tahu mengapa kamu berubah. Kasih sayang yang diberikan oleh Soma Haruka mengingatkanmu kepada ibu. Benar, ibu kandung kita yang aku bunuh dengan kedua tanganku sendiri."
Jantung Daniel berdetak dengan sangat cepat ketika mendengar ucapan Darel. Bibirnya bergetar dan napasnya menjadi berat, dengan sekuat tenaga ia memanggil, "Darel, Kembali kamu!"
Namun, Darel tidak mempedulikannya. Dia pergi keluar tanpa memberitahu seorangpun kemana kakinya akan melangkah. Darel menatap bintang di malam itu. Langitnya gelap, tetapi sangat indah.
"Bagaimana aku tahu? Karena bukan cuma kamu yang merasakannya, Kak, aku juga, untuk pertama kalinya aku dapat merasakan kasih sayang yang biasanya diberikan oleh seorang ibu," batin Darel.
Meski Darel berkata dengan suara rendah, Haruka masih mendengarnya dengan jelas. Rasanya semua informasi yang ia kumpulkan selama ini menjadi sia-sia, Darel dan Daniel adalah saudara kandung, Haruka tahu itu, tetapi Darel membunuh ibu mereka? Ini informasi baru yang sangat mengejutkan untuk Haruka.
"Daniel, apakah yang dikatakan Darel itu benar?" tanya Haruka penasaran. Namun, Daniel tidak ingin membahasnya lebih jauh, "Kepalaku pusing, tolong tinggalkan aku sendiri," jawab Daniel, kemudian ia pergi sendiri ke ruangannya.
__ADS_1
Mata Daniel memerah dan Haruka tidak berani mengganggunya dalam suasana hati yang buruk, tetapi dia masih penasaran, "Apa benar Darel membunuh ibunya sendiri?" Setelah beberapa waktu, Haruka memutuskan untuk pergi mencari Darel, membawanya pulang, dan membuatnya mengatakan kebenarannya.
Ken Bara sudah menyelesaikan pekerjaannya untuk hari ini, dia menghampiri adiknya yang masih meringkuk di sofa. "Bukankah kau bilang Darel Yon yang bersalah?"
Ken Mura tidak bisa berkata apa-apa, dia yang biasanya berpikir dengan matang, saat itu terlalu terburu-buru dan terbutakan oleh balas dendam. Dia juga melakukan kesalahan besar dengan meminta bantuan kakak yang selalu tidak menyukainya.
"Kamu pulang sambil menangis dan berkata kalau kakak ipar Darel Yon memukulimu. Kamu harusnya malu!"
"Tapi anak lain dan Darel Yon ju—"
"Darel Yon itu anak dari keluarga bisnis, sedangkan kamu lahir di keluarga beladiri. Apa menurutmu kalian sama!? Sudah cukup Ken Mura, kamu sudah memberikan rasa malu yang sangat besar bagi keluarga. Kamu dengan terang-terangan menolak tradisi keluargamu dan mengutuknya, dan sekarang kamu dikalahkan oleh wanita yang asal usulnya tidak jelas! Apa kamu pikir dirimu masih layak menggandeng nama besar keluarga Ken!?"
Ken Bara tertawa marah, "Kenapa aku menghubunginya? Begitukah maksudmu?" Ken Bara menatap dingin, "Agar kamu tahu bahwa kamu juga memiliki kakak yang siap membelamu." Ken Bara memijat Keningnya, kepalanya sakit mengurus adik laki-lakinya yang tidak berguna itu. "Sekarang aku sudah muak denganmu. Pergi!" usir Ken Bara dan Ken Mura tidak punya pilihan selain menurutinya.
Langit malam yang indah mulai berubah, bulan tertutup oleh awan dan kilatan petir menyambar sesuka hati.
Darel sudah setengah jalan ke kediaman keluarga Ken, tetapi Haruka menghentikannya. Darel berbeda kali ini, berkat Haruka dia tidak akan meremehkan lawannya lagi. Darel menyerang Haruka terlebih dahulu, melepaskan tendangan samping berkekuatan tinggi dari awal.
__ADS_1
Sayangnya Haruka sudah siaga. Haruka tahu kalau Darel sudah gelap mata dan tidak mungkin bisa dihentikan dengan kata-kata. Jadi, dia sudah bersiap untuk sebuah pertarungan.
"Apa ini Dollyo Chagi? Konyol sekali," heran Haruka. Gerakan yang indah dan sempurna, baik itu akurasi dan daya rusak yang membuat tulang tangan Haruka yang menahan tendangan yang mengincar kepalanya itu serasa retak, seolah-olah dihantam oleh baja. Haruka sekarang mengerti mengapa Daniel sebelumnya memperingatinya dan berkata kalau Darel adalah seorang genius taekwondo.
Tendangan kembali melesat, tetapi Haruka terus menerus berhasil menghindar dan menahan. Meski kadang memblokir dengan tangan dan kakinya, serangan Darel lebih banyak disampahkan oleh pergerakan kepala Soma Haruka yang sangat gesit.
"Kamu tidak sabaran sekali, Darel Yon."
"Aku tidak bisa mendapatkan apapun, jika aku hanya bersabar."
Haruka tahu kalau dirinya tidak bisa menghindar selamanya, dan jika dia ingin mempersempit jarak, dia harus merelakan terkena beberapa serangan Darel Yon.
Sejak awal, Haruka sudah berpikir bahwa dirinya akan kalah dalam keadaan normal jika melawan Darel. Bukan cuma soal kondisi fisik, tetapi juga dari sisi mental. Darel sebagai sosok yang digadang-gadang menjadi atlet nasional taekwondo berikutnya, tentu tidak melewatkan satu hari pun dalam perkelahian meski hanya latih tanding.
Meski begitu, Haruka sangat jauh lebih unggul dalam pengalaman dan pengetahuan. Dengan pengalaman, Haruka menjadi berani dan menguasai dirinya sendiri, lalu dengan pengetahuan, Haruka mengenali lawan dan mengontrol jalannya pertarungan. Gabungan keduanya lah yang membuat persentase kemenangan taekwondonya Darel merosot jatuh hingga timpang.
Teknik Dollyo Chagi contohnya, tendangan tinggi yang menggunakan punggung kaki itu dimanfaatkan dengan baik oleh Haruka. Di punggung kaki sendiri ada titik vital yang berada di antara jempol kaki dan telunjuk. Serangan ke titik ini menyebabkan nyeri kaki, pinggul, dan juga perut. Sama halnya dengan serangan lain, Haruka terus menerus mengincar titik vital di area sekitar kaki selagi bertahan. Medial Malleoulus, Otot Soleus, dan fibula, Haruka benar-benar mencoba menghancurkan tubuh Darel hanya dari kakinya.
__ADS_1
Meskipun daya serangan balasan yang dilancarkan Haruka terbilang rendah karena diredam oleh sepatu, itu tetap saja memberi dampak buruk bagi Darel Yon yang dari tadi tak berhenti menyerang. Perlahan stamina dan keseimbangan Darel mulai goyah, sedangkan kaki yang goyah adalah kelemahan hampir semua beladiri. Berita buruknya, efek buruk itu digandakan berkali-kali lipat untuk pengguna taekwondo.
Perlawanan Haruka bukan cuma melukai fisik Darel, tetapi juga harga dirinya. Seorang pengguna taekwondo genius yang tidak bisa menendang dengan benar, sungguh mengoyak kebanggaan Darel. Adrenalin membuat Darel menyerang secara membabi buta, rasa sakit pada kakinya pun terabaikan akibat ulahnya endorfin.