Menikahi Tuan Muda Lumpuh

Menikahi Tuan Muda Lumpuh
Bab 115 : Bibir


__ADS_3

Daniel Yon berbicara dengan percaya diri. Mata hitamnya dipenuhi dengan keyakinan bahwa dia mengendalikan situasi. Seolah-olah bahkan masalah terbesar dapat dengan mudah diselesaikan dengan dia di sekitarnya. Dia begitu kuat dan tenang seolah-olah dia adalah dewa yang mengendalikan segalanya. Dia bersinar. Sang Matahari dari keluarga Yon telah terbit setelah lama terbenam.


Setidaknya di mata Soma Haruka, Daniel Yon saat ini penuh dengan karisma, sehingga membuat jantungnya berdetak kencang. Jantungnya tidak bisa ditenangkan, saat dicoba, malah berdetak lebih cepat. Soma Haruka menjilat bibirnya yang kering dan berseru, "Daniel, suamiku..."


Daniel Yon yang tenggelam dalam pikirannya, secara intuitif menundukkan kepalanya untuk melihatnya. Dia membalas, "Ya, istriku..."


Bibir Soma Haruka basah dan matanya menatap Daniel Yon dengan sangat lembut. Setelah minum, tubuhnya yang lentur menjadi sangat melengkung. Dia seperti putri duyung yang keluar dari laut di tengah malam dan menggoda para pelaut. Dia hanya perlu duduk di sana tanpa membuat gerakan lain, dan dia akan mampu membuat orang tergila-gila untuk mendapatkannya.


Daniel Yon, yang masih tenggelam dalam perencanaan dana amal masa depan, merasa pikirannya kosong. Matanya tertuju pada bibir merah Soma Haruka. Dia bertanya dengan suara rendah, “Ada apa?” Suaranya serak seolah-olah dia sedang menekan sesuatu.


Suara Soma Haruka juga sedikit serak. Suaranya yang biasanya dingin dan jernih tiba-tiba berubah menjadi sangat memikat. Dia menghembuskan napas pelan di telinga pasangannya sambil berbisik, "Daniel, aku akan jujur padamu." Bibirnya melengkung membentuk senyum tipis yang penuh pesona, "Aku mencintaimu!"


Setelah mengatakan itu, tanpa menunggu Daniel Yon bereaksi, dia duduk berlutut, melingkarkan lengannya yang ramping di leher Daniel Yon dan menekan tubuhnya. Bibirnya yang membawa aroma samar anggur, membungkuk dan bertukar ciuman penuh gairah dengannya. Setelah beberapa lama, mata berair Soma Haruka akhirnya rileks. Tepat ketika dia akan mundur selangkah, dia tiba-tiba dihentikan oleh telapak tangan besar di belakang pinggangnya.


Telapak tangan Daniel Yon mendidih panas. Panas merembes melalui piyama tipisnya dan menempel di kulitnya, hampir membakarnya. Suara Daniel Yon sangat serak saat dia berkata, "Istriku, apa cintamu padaku hanya sebanyak ini? Berikan lebih banyak untukku!"

__ADS_1


Hidung Daniel Yon menempel di hidung Soma Haruka dan dia kemudian tertawa serak. Mata Soma Haruka tiba-tiba melebar saat Daniel Yon mengambil alih situasi, mulutnya sangat liar, sehingga kata-kata yang belum dia selesaikan semuanya terbungkam. Keesokan paginya ketika Soma Haruka turun, adik-adik iparnya terkejut menemukan bahwa bibir kakak ipar mereka yang semula hanya memar, sekarang membengkak. Setelah diperiksa lebih dekat, tampaknya kulit di bibirnya bahkan pecah.


"Kakak ipar, apakah bibirmu baik-baik saja?!" Mata Marina Yon melebar dan hatinya sakit saat dia berdiri dari tempat duduknya. "Sudahkah kakak memberinya obat? Itu terlihat menyakitkan."


"Ehem, jangan khawatir." Soma Haruka terbatuk tidak nyaman dan mengangkat mangkuknya untuk menutupi bibir dan wajahnya yang memerah, tetapi dia tidak tahu kalau telinganya juga memerah. "Ini akan sembuh sendiri dalam beberapa hari. Cepat makan."


"Eh? Kakak, mengapa mulutmu bengkak juga?" Kebetulan Daniel Yon datang pada waktu itu. Melihatnya David Yon segera berteriak, "Apakah orang jahat itu memukul bibirmu juga? Tunggu, setelah aku lihat, bukankah itu bekas gigitan? Dia menggigitmu, Kak?"


Darel Yon menepuk dahinya dan emosinya yang sensitif dalam sekejab melonjak, dia mengambil roti dan memasukkannya ke mulut David Yon. "Diam dan pergilah ke rumah sakit setelah kamu selesai makan. Aku mulai muak dengan sifat barumu yang sangat menyebalkan."


David Yon meludahkan roti dan melotot. "Rumah sakit? Aku tidak sakit! Kamu yang sakit! Memangnya salah bagiku untuk peduli dengan Kakak Iparku? Heh? Hah? Huh? Mau berkelahi?" Dia berdiri dan dengan nakal mengambil kuda-kuda tinju.


"Berhenti. Lalu, makanlah makananmu dengan tenang. Apa yang kamu ributkan?" Daniel Yon sedikit mengernyit dan menatap mereka dengan dingin. Dia masih sangat bermartabat dalam keluarga ini. Begitu dia berbicara, David Yon langsung tidak berani membuat keributan lagi dan memakan makanannya dengan tenang.


Darel Yon merasa tidak nyaman saat melihat bibir Daniel Yon yang bengkak. Tidak seperti saudara dan saudarinya yang bodoh, dia paham betul apa yang telah terjadi. Perasaan jijik membuat napsu makannya perlahan menghilang, dia meletakkam sumpitnya dan berdiri dari kursinya.

__ADS_1


Melihat Darel Yon ingin pergi sebelum menghabiskan makanannya, Daniel Yon merasa sedikit kesal. "Darel Yon, kau ke mana kamu? Habiskan makananmu!"


Namun, Darel Yon tidak peduli, dia pergi menjauh sambil memberikan jari tengahnya kepada Daniel Yon. "Dasar si lumpuh cabul!"


"Dasar bocah ini! Kembali kemari kamu, Darel Yon!"


***


Di tengah-tengah keributan, Soma Haruka tiba-tiba memikirkan sesuatu dan menatap Dean Yon yang sedang menyesap secangkir susu. Dia bertanya, "Dean Yon, kapan sekolahmu akan mengadakan konferensi orang tua dan guru?"


"Oh? Kakak ipar, kamu masih ingat itu?" Dean Yon tercengang. Tatapannya jatuh padanya, dan hatinya dipenuhi dengan perasaan yang rumit. "Itu... Jam sepuluh pagi, rabu depan."


"Tentu, aku akan mengingatnya." Nada bicara Soma Haruka normal. "Konferensi orang tua dan guru adalah masalah besar. Memarku harusnya sudah sembuh pada rabu depan. Itu bagus, itu bagus." Jika dia pergi ke konferensi orang tua dan guru dengan luka-lukanya. Itu akan tidak baik karena dia bisa meninggalkan kesan buruk pada gurunya. Untungnya, masih ada beberapa hari lagi.


Melihat Soma Haruka begitu serius, Dean Yon merasa sedikit tidak nyaman. Jari-jarinya melingkari cangkir susu dua kali. Dia dengan canggung berkata, "Sebenarnya, ini bukan masalah besar. Kakak ipar, jika kamu memiliki hal lain untuk dilakukan, kamu dapat memilih untuk tidak pergi. Jangan khawatir, aku tidak apa-apa." Bagaimanapun, dia sudah terbiasa tidak ada yang menghadiri konferensi orang tua dan gurunya. Karena dia tidak memiliki harapan tentang ini sejak awal, dia tidak kecewa.

__ADS_1


"Bahkan jika aku memiliki sesuatu yang penting, itu tidak sepenting menghadiri konferensi orang tua dan guru, ini sama sekali bukan masalah bagiku." Soma Haruka sedikit terkekeh. "Kamu yang termuda di keluarga ini, sudah seharusnya diperlakukan dengan lebih baik dan penuh perhatian. Sebatas ini bukan apa-apa."


Dean Yon mengangkat kepalanya dengan tidak percaya. Ketika dia melihat wajah tersenyum Kakak iparnya, telinganya langsung memerah. "Apa yang salah denganku?"


__ADS_2