Menikahi Tuan Muda Lumpuh

Menikahi Tuan Muda Lumpuh
Bab 20 : Lagi-lagi Dia


__ADS_3

"Melihat dari pakaian kalian, apa kalian kaya? Cih, inilah penyakit orang-orang seperti kalian. Orang yang selalu menyelesaikan masalah dengan uang sampai lupa menggunakan otak mereka." Dokter itu mencibir.


Dia membuka laci mejanya, mengambil ponsel dan menyerahkannya kepada Haruka. Dengan ekspresi enggan, Dokter itu berkata, "Bergembiralah dasar orang-orang bodoh, walaupun aku tidak mengenal kalian, aku akan membantu. Melihat dari dokumen itu, sepertinya ada orang-orang yang mengincar suamimu dan mencegahnya untuk sembuh. Kalian kaya, tetapi tidak punya satu pengawal, dasar bodoh."


Dokter itu terus mengeluarkan sumpah serapah, tetapi karena semua kata-katanya bukan omong kosong, mereka tidak bisa membantah. Haruka mencoba mengabaikannya dan melihat ke layar ponsel sang Dokter.


Di sana tertulis nomor seseorang yang diberi nama Junior Bodoh dengan tanda kurung Darel Yon. Dalam kata lain itu nomor adik iparnya sendiri. Haruka bertanya, "Lalu nomor ini?"


"Oh, benar. Jika kalian memutuskan untuk mempekerjakan pengawal, mungkin Junior bodohku itu bisa membantu. Dia kaya dan tidak punya otak seperti kalian, tetapi kemampuannya yang terbaik."


Mendengar itu Haruka tertawa dan Daniel merasa pusing, dia memijat dahinya ketika Kepala Pelayan Hans memberikan pil putih kepada Dokter. Setelah mereka menunggu selama beberapa waktu, laporan tes obat pada pil-pil itu akhirnya selesai.


Pil putih tersebut seharusnya obat penghilang rasa sakit yang digunakan untuk cedera kaki. Namun, seseorang mengganti obat penghilang rasa sakit itu dengan obat psikotropika.


Semuanya terjawab sekarang, obat ini adalah penyebab dari tidur panjang yang diderita oleh Daniel dan obat itu juga yang menjadikannya semakin mudah tersinggung dan tidak mampu mengendalikan emosi. Daniel Yon bahkan sudah sampai ke tingkat depresi dan jika saja Haruka tidak hadir di hidupnya, Daniel mungkin tidak tahan lagi dan mencari pertolongan dengan cara bunuh diri.

__ADS_1


Laporan singkat ini mengandung niat jahat seperti itu. Dokter yang semula masih bisa bercanda dan bermain-main, saat itu menjadi sangat serius. Dia memberitahu kalau mereka harus segera melakukan sesuatu, bahaya yang mengintai mereka lebih besar dari yang terlihat, dan mungkin saja sang Dokter juga akan terlibat dalam bahaya. Dia menekankan sekali lagi kepada Daniel agar segera menghubungi Juniornya dan meminta perlindungan.


Mata Daniel Yon dipenuhi dengan niat membunuh dan tatapannya sedingin pedang. Dia memberi perintah kepada Hans, "Jangan beri tahu siapa pun tentang ini. Lalu kirim seseorang untuk mengikuti Dokter Arkam dari dekat. Aku ingin melihat siapa dalang di balik semua ini." Pada saat ini, kaisar malam yang pernah memimpin seluruh dunia bisnis akhirnya kembali. Mata Hans memerah saat dia menjawab patuh dengan penuh semangat. "Siap, Tuan."


"Jangan terlalu berlebihan. Balas dendam tidak boleh menjadi prioritasmu sekarang." Soma Haruka menepuk bahu Daniel Yon. "Yang paling penting untukmu sekarang adalah kesembuhan kakimu, Daniel. Pertama-tama kamu harus mengatur jadwal operasi dan perawatan lanjutan lainnya." Dia tersenyum dan dengan sengaja menggoda, "Ngomong-ngomong, Daniel, kamu tidak akan takut minum obat seperti sebelumnya, kan?"


Daniel Yon menatap balik ke arah Haruka. Gadis itu memiliki wajah yang cantik dan mewah. Ketika dia tersenyum, matanya berbinar seperti bunga mawar yang mekar. Jika bukan karena intuisinya yang tajam dan kecurigaannya terhadap Dokter Arkam, Daniel pasti masih akan terkorosi oleh obat-obatan psikotropika itu hari demi hari.


Semangatnya secara bertahap akan runtuh dan dia akan kehilangan dirinya dalam kegelapan. Pada akhirnya, seperti yang diinginkan orang-orang itu, dia akan mengakhiri hidupnya dalam kesengsaraan dan kesakitan. Dari sini Daniel sudah memiliki beberapa daftar nama yang akan mendapat keuntungan dari kematiannya, masalahnya adalah yang mana dan mengapa?


Di sisi lain, di pusat perbelanjaan. Darel Yon sedang duduk di depan ruang ganti sembari memainkan ponselnya dengan serius. Darel sedang menunggu adik perempuannya mencoba beberapa set pakaian. Jadi, dia memanfaatkan waktu luang itu untuk menghitung nilai warisan yang ia terima setelah kematian ayah dan ibu kandungnya.


Dia mendapat warisan pusat perbelanjaan dari sang ibu dan meminta saudara laki-laki ibunya sebagai pengurus. Darel meminta laporan keuangan mereka tadi malam, dan secara terpisah juga membayar orang untuk melakukan penyelidikan. Mereka bersih dan pusat perbelanjaan itu sukses.


Pendapatan tahunan mereka sekitar seratus delapan puluh ribu dollar Amerika (Sekitar 2,7 miliar rupiah) dan setelah dikurangi dengan pajak dan pengeluaran sebesar seratus sepuluh ribu dollar (Sekitar 1,7 miliar rupiah), mereka masih menghasilkan sekitar tujuh puluh ribu dollar pertahunnya (Sekitar 1 miliar rupiah).

__ADS_1


Setiap tahun, lima puluh ribu dollar akan masuk ke dalam rekening Darel (Sekitar 770 juta rupiah). Jadi, pamannya pasti mengambil sekitar dua puluh ribu dollar pertahun darinya. Darel selama ini hidup dengan serampangan. Jadi, sisa saldonya tinggal enam ratus ribu dollar (Sekitar 9,2 miliar rupiah). Jumlah yang sangat kecil untuk sekelas keluarga Yon.


Darel tidak pandai dengan matematika dan angka-angka itu sepertinya juga membencinya. Darel berniat untuk mengunjungi pamannya itu secara langsung nanti dan membicarakan tentang masa depan dengan lebih pasti.


"Oh, lihat siapa yang aku temukan? Bukankah ini Tuan Muda kita yang dingin?" Pemuda berambut merah yang menyindirnya itu adalah Rama Ron, anak dari saudara laki-laki ibunya Darel Yon.


Ada beberapa anak lain juga di belakangnya, tetapi yang paling mencolok tentu saja adalah Ken Mura yang bersembunyi di pojokan sambil menatap Darel dengan mata penuh dengki.


Darel Yon mencibir dan mengayunkan kaki panjangnya ke kepala Ron tanpa basa-basi. "Enyahlah. Jangan bertingkah seolah-olah kamu kenal denganku."


Ekspresi Rama Ron tidak terlihat terlalu bagus setelah Darel Yon mempermalukannya di depan semua orang. Dengan marah dia berkata, "Darel Yon, bukankah kamu sudah keterlaluan? Apa seperti ini cara Tuan Muda dari keluarga Yon memperlakukan temannya?"


Darel Yon sedikit mengerutkan kening. "Teman? Kamu pikir kamu cukup layak untuk menjadi temanku?" Meski Darel tidak membenarkannya, cara dia memandang orang lain kurang lebih sama seperti yang Ken Bara lakukan. Dia tidak bisa menganggap orang sembarangan sebagai temannya. Haruslah seseorang yang spesial seperti Haruka atau orang yang sama gilanya seperti Dokter yang sebelumnya.


"Darel, apa maksudmu?" Seseorang di sekitar mereka tertawa, dan ekspresi Rama Ron menjadi lebih buruk. Dia sangat marah, "Jelaskan!" bentaknya.

__ADS_1


Darel Yon mulai tidak sabar. Dia berdiri dari kursinya dan meraih kerah Ron. "Apa kamu tidak mengerti bahasa manusia? Aku bilang enyahlah. Jangan ganggu aku!"


__ADS_2