
Helma Krisan menutupi wajahnya yang memar dengan tidak percaya, kemudian dia berteriak, "Soma Haruka, untuk alasan apa kamu menamparku!?"
Marina Yon mengangkat kepalanya untuk melihat apa yang terjadi. Saat dia melakukannya, dia melihat seorang wanita langsing berdiri di sampingnya dan menghadapkan punggung ke arahnya seolah sedang melindunginya.
Sosoknya tampak ramping dan rapuh tetapi tetap membuat orang merasa nyaman. Marina Yon mengenali siapa yang berdiri di depannya. Mulutnya terbuka dan dia terisak saat dia memanggilnya dengan tangis, "Kakak Ipar..." Wanita yang turut membelanya adalah Soma Haruka yang sebelumnya ia pandang sebagai wanita rendahan.
Ekspresi Soma Haruka nampak tenang, tetapi ada rasa dingin yang menakutkan di matanya. Dia menatap tajam ke arah Helma Krisan dan berkata, "Kenapa aku menamparmu? Bukan hanya kamu tidak membantu sepupu perempuanmu, tetapi juga memprovokasi orang-orang-orang agar ikut membencinya. Tindakanmu ini rasanya seperti kamu ingin melihat keluarga Yon jatuh, apa kamu lupa kalau keluarga Krisan juga bagian dari keluarga Yon?" Setelah mengatakan itu, dia mengangkat tangannya dan memberikan tamparan sekali lagi.
Helma Krisan menyembunyikan pipinya yang merah dengan kedua tangannya. Tidak peduli betapa menyakitkan wajahnya, itu tidak sebanding dengan tatapan dari orang-orang di sekitarnya. Tatapan menghina itu terasa seolah-olah mereka menanggalkan pakaiannya dan melemparkannya ke jalan, membiarkan semua orang menonton dan menertawakannya.
Dia tahu, meskipun kakaknya sekarang bertanggung jawab atas Yon Grub, bagi orang luar, Yon Grub masih milik keluarga Yon. Selama Daniel Yon tidak mati, mereka tidak akan pernah bisa merebut gelar kepala keluarga Yon darinya.
Sama seperti sekarang, meskipun Soma Haruka dengan kasar menamparnya dan memarahinya di depan umum, semua orang merasa bahwa apa yang dilakukan wanita itu benar. Mereka berkumpul di sini karena teriakan lantang Helma Krisan, dia memprovokasi orang-orang dan menyelipkan hinaan di tiap ucapannya. Jadi, dia memang salah dan pantas ditampar.
__ADS_1
Helma Krisan kehilangan akal sehatnya, orang-orang kelas atas sudah menilainya sebagai sesuatu yang buruk, dan ketika dia memikirkan masa depannya yang suram, dia dipenuhi oleh amarah. Matanya merah dan dia menerkam ke arah Soma Haruka dengan kuku-kukunya yang tajam.
Soma Haruka diam di tempatnya, dia mengangkat ujung roknya sedikit, dan salah satu pergelangan kaki putihnya terlihat di depan semua orang. Detik berikutnya, Helma Krisan yang mendekat dibuat terbang mundur dan jatuh ke tanah dengan menyedihkan.
Mata Soma Haruka menyala. Gerakan tubuhnya menawan, tetapi terlihat sangat arogan dan mendominasi. Dia seperti Penyihir musim dingin yang diminati, tetapi sulit di dekati. Langkah anggunnya menyihir para pria dan membuat mereka berusaha untuk menggapainya. Namun, ketika mereka berhasil meraih gaunnya, tubuh mereka membeku oleh tatapan matanya yang dingin.
"Putriku!" Bibi Daniel Yon, yang juga ibu Helma Krisan berlari dari aula utama dan berteriak, "Soma Haruka, apa yang kamu lakukan pada putriku? Kamu harusnya tahu kita menjadi keluarga sekarang setelah kamu menikahi Daniel Yon!" Setelah mengatakan itu, dia dengan hati-hati membantu putrinya berdiri.
"Keluarga? Putri Anda lah yang melakukan sesuatu yang salah kepada Marina Yon. Jika benar keluarga Krisan menganggap mereka satu keluarga dengan keluarga Yon, dia tidak seharusnya melakukan itu. Apa karena Ares Krisan sedang mengambil alih Yon Grub. Jadi, anak-anak keluarga Krisan ingin melepas hubungan dengan kami?"
Wajah Bibi Namira Krisan membeku. Dia sadar bahwa Putri ketiganya bertindak bodoh dengan mengusik keluarga Yon di saat Putra tertuanya belum sepenuhnya menguasai Yon Grub, dan dia sendiri mengakui kesalahannya sendiri karena meremehkan Soma Haruka. Apa yang dikatakan Putra keduanya benar, Nyonya baru keluarga Yon mungkin bisa menghancurkan rencana mereka.
Kata-kata Soma Haruka sebelumnya memberikan pengaruh yang kuat. Banyak orang yang hadir ngeri dengan lidahnya yang tajam. Wajah Bibi Namira Krisan memucat saat dia mendengarkan ejekan di sekelilingnya. Dia tidak menginginkan apa pun selain menarik Helma Krisan dan menghilang dari perjamuan itu.
__ADS_1
Tapi dia tidak bisa. Dia hanya bisa menarik putrinya yang menangis ke depan dan mencaci makinya dengan suara rendah, "Helma Krisan, cepat minta maaf pada sepupumu."
"Bu?" Mata Helma Krisan melebar tidak mempercayainya. "Apa maksudnya ini, Bu? Mengapa aku harus meminta maaf kepada Marina Yon? Bukankah Soma Haruka yang seharusnya meminta maaf padaku?" Dia dipukul di depan umum dan dipermalukan, tetapi sekarang juga perlu untuk menundukkan kepalanya untuk meminta maaf. Jika dia benar-benar melakukannya, dia tidak punya wajah lagi di masa depan. Jadi, dia berpikir untuk menolaknya.
Namun, Bibi Namira Krisan tegas dalam keputusannya. Dia membentak putrinya, "Jangan buat ibu mengulangi kata-kata itu lagi!" Dia mencengkeram pergelangan tangan Helma Krisan dengan erat dan sekali lagi menekankan, "Helma Krisan, cepat lakukan apa yang aku katakan, jangan membuatku marah!"
Helma Krisan melihat ibunya serius. Jadi, dia tidak berani membuat keributan lagi. Dia menggigit bibirnya dengan erat dan berjalan dengan kaku ke depan Marina Yon. Dia menundukkan kepalanya dan tidak bisa menatap wajah sepupunya itu. "Maaf sepupu, aku salah karena sudah mengatakan sesuatu seperti itu tentangmu." Suaranya sangat kecil sehingga orang yang berdiri sedikit jauh tidak akan mendengarnya.
Marina Yon juga tidak ingin melihatnya. Jadi, dia mengalihkan pandangannya dan dengan hati-hati mendekati Soma Haruka. Dia tahu bahwa permintaan maaf Helma Krisan tidak tulus. Kata-kata dan tindakannya berbeda. Dia tidak mau menerima permintaan maaf seperti itu.
Menyadari keinginan Marina Yon, Soma Haruka sedikit tertawa dan dengan dingin berkata, "Kamu berteriak sangat keras sebelumnya, tetapi kenapa sekarang menjadi sangat lembut? Apa meminta maaf yang benar tidak pernah diajarkan padamu? Bukankah kamu menganggap dirimu bangsawan yang mulia?"
Ekspresi Bibi Namira Krisan tidak sedap dipandang. "Helma Krisan, lakukan dengan serius!" Helma Krisan menggertakkan giginya dengan kebencian, tetapi dia tidak berani membuat marah ibunya lebih dari ini. Dia hanya bisa menutup matanya dan berteriak, "Maafkan aku Marina Yon, aku sudah salah karena mengejekmu. Maafkan aku!"
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Helma Krisan sangat malu sehingga air mata mengalir di pipinya. Melihat putrinya menangis dengan begitu menyedihkan, hati Bibi Namira Krisan menjadi sakit. Dia ingin melangkah maju dan menghibur, tetapi putrinya mendorongnya pergi dan melarikan diri dari tempat itu.