
Sesampainya di kediaman keluarga Yon, Haruka langsung disambut oleh para pelayan, sedangkan Darel segera pergi entah kemana.
"Nyonya, Kami sudah menyiapkan kamar yang bersebelahan dengan kamar Tuan Daniel, dan ini kuncinya," kata Pelayan pertama.
"Nyonya, Saya Katia. Tuan Daniel sebelumnya meminta Saya untuk membeli beberapa pakaian untuk Anda, Saya menaruhnya di lemari kamar nyonya. Silahkan periksa, jika Anda tidak menyukainya tolong panggil Saya kapan saja," kata Pelayan kedua.
"Nyonya, Kami akan menyiapkan makan malam, apakah Anda memiliki pantangan atau semacamnya?" tanya Pelayan terakhir.
Haruka menerima kunci dari pelayan pertama dan mengingat wajah dan nama Pelayan kedua, kemudian menjawab pertanyaan Pelayan terakhir.
"Saya tidak pilih-pilih dan tidak memiliki pantangan. Tolong siapkan saja makanan yang disukai oleh anggota keluarga Yon, khususnya Tuan Daniel. Oh, benar. Tolong panggilkan dokter dan suruh dia untuk mengobati luka Darel Yon."
"Baik, Nyonya!" jawab mereka serentak.
Soma Haruka pergi untuk melihat kamar barunya, memeriksa pakaian dan sepatu baru yang diberikan oleh Daniel untuknya. "Pria yang lucu. Aku pikir dia tidak akan mempedulikanku." Sudut bibir Haruka melengkung, senyum tulusnya sangat manis, begitu manis hingga orang akan salah mengira ia bidadari jika melihatnya.
Di kamar sebelah, kepala pelayan yang sebelumnya mengantar Haruka melapor kehadapan Daniel Yon. "Jadi, bagaimana keadaan adikku sekarang?" tanya Daniel.
"Setelah diperiksa oleh dokter, Tuan Muda Darel pergi ke gym keluarga dan belum keluar sampai sekarang. Tuan, apa kita harus mengirimkan permintaan maaf kepada keluarga Ken?" Kepala pelayan menjawab pertanyaan Daniel dan bertanya apa yang harus ia lakukan terhadap masalah yang disebabkan oleh Nyonya barunya itu.
"Keluarga Ken adalah keluarga pesilat. Mereka membanggakan senibeladirinya dan Ken Mura adalah anak yang menganggap ciri khas keluarganya itu sebagai hal yang bodoh. Pertama-tama mari kita lihat apa yang akan dilakukan oleh keluarga Ken mengenai masalah ini, jika mereka ingin berperang maka berperanglah, tetapi jika mereka mengulurkan tangan maka kita harus menerimanya."
Daniel Yon mengetuk kursi rodanya dengan serius, matanya yang gelap menatap lurus keluar jendela. Matahari terbenam tepat dipandangannya, itu indah, tetapi tetap kalah dari pesona gadis itu.
Belum satu hari rumah ini menerima satu orang tambahan, tetapi angin hangat sudah mulai meniup dengan gagahnya.
__ADS_1
"Kepala Pelayan Hans, tolong buatkan rekening atas nama Haruka dan berikan dia satu juta dolar."
Daniel memejamkan matanya, kehadiran hangat Haruka yang samar-samar masih terasa di ruangan itu kini menghilang, dan kegelapan melahapnya kembali.
Bibir Daniel memucat, ekspresi Kepala Pelayan Hans berubah drastis. Dia dengan cepat membuka laci untuk mencari obat penghilang rasa sakit. "Tuan, apakah kaki Anda terasa sakit lagi?"
Daniel mengambil gelas di atas meja kemudian melemparkannya ke hadapan Hans, dia berteriak, "Keluar!!"
Hans melompat keluar dari ruangan, Tuan Muda Daniel kumat lagi. Rasa sakit membawanya kembali ke dalam jurang keputusasaan. Kening Daniel berkerut dan matanya sedikit terbuka. Dia duduk tak bergerak di kursi roda, merasakan sakit kaki yang merambat hingga ke dalam hati.
Hans tidak menyerah begitu saja. Hari-hari sebelumnya mungkin, tetapi sekarang tidak. Kediaman keluarga Yon telah kedatangan tamu yang luar biasa, setelah kedatangannya, rumah besar yang suram ini mendapatkan sedikit kehangatannya kembali.
Satu-satunya orang yang tidak terpengaruh oleh aura gelap Daniel Yon, Soma Haruka, Nyonya baru keluarga Yon.
Saat pintu terbuka, suara khawatir Haruka masuk ke telinga Daniel, "Tuan Daniel, maaf karena menggangu Anda lagi."
Bibir Haruka turun setengah ketika melihat keadaan Daniel. Itu bahkan lebih buruk dari saat dia pertama kali bertemu dengannya. Daniel membuka matanya, menatap Haruka dengan mata yang muram.
Haruka mengabaikan tatapan dingin yang diarahkan padanya. Dia berjalan menghampiri, berlutut di hadapan Daniel kemudian menggenggam lengan kurus pria itu. "Daniel, terimakasih. Aku menyukai pakaian yang kamu belikan."
Aura gelap yang menyelimuti Daniel perlahan memudar. Daniel menurunkan matanya untuk menatap Haruka secara langsung.
Rambut hitam lurus panjang yang terbentang bagai permadani. Bentuk dahi yang lebar, persis seperti yang dimiliki oleh Soma Hanah. Gadis cantik itu setengah berlutut di depannya, saat tubuh itu bergerak, lekukannya membuat Daniel langsung membuang muka.
Daniel mengangkat tangannya, menaruhnya ke atas kepala Haruka. "Sama-sama," katanya.
__ADS_1
Haruka terganggu, tetapi dia membiarkannya. Lagipula mereka secara resmi sudah menikah. Berdasarkan pengamatannya, Daniel Yon adalah orang yang baik, hanya saja saat ini dia sedang berada di titik terendahnya. Mengingat Daniel sebelumnya mempedulikannya, sifat aslinya masih memiliki harapan.
"Aku meminta para pelayan untuk menyiapkan hidangan yang kamu suka." Haruka tersenyum cerah. "Aku akan membawamu ke ruang makan."
Haruka berdiri hendak mendorong, tetapi dihentikan oleh Daniel. "Jangan merepotkan dirimu sendiri dan jangan khawatir, aku tidak lapar, suruh saja pelayan membawakan makananku ke sini."
Haruka berhenti sejenak dan kemudian menggelengkan kepalanya, "Tidak, tidak. Kamu harus makan tepat waktu Daniel."
Daniel menggigit bibir. Itu kali kedua Haruka memanggilnya dengan namanya. Tidak seperti Daniel membencinya, hanya saja cara gadis itu mengucapkan namanya sama persis seperti yang dilakukan oleh mantan tunangannya.
"Daniel, aku yakin kamu sudah mencaritahu tentangku, tapi aku akan memperjelasnya untukmu. Aku kehilangan ibuku saat aku masih kecil, setelah ibu meninggal, ayahku membuangku ke distrik kumuh dan satu-satunya orang yang bisa aku anggap keluarga adalah nenek yang membesarkanku." Ekspresi Haruka begitu dalam, ada duka besar dalam ucapan singkatnya itu.
"Sejak aku menikah denganmu, keluargaku menjadi lebih besar. Makan malam bersama keluarga besar adalah sesuatu yang aku harapkan sejak masuk ke rumah ini. Daniel, tidak bisakah kamu mengalah satu kali ini saja untukku?"
Di bawah tatapan terkejut dan tidak percaya para pelayan, Soma Haruka mendorong Daniel masuk ke ruang makan. Kepala Pelayan Hans, menangis di pojok sambil menggigit sarung tangannya. Bukan cuma dia berhasil menenangkan Daniel, Haruka juga membawanya keluar dari ruangan terkutuk itu.
Darel yang sedang duduk di meja makan sendirian, tiba-tiba melompat dan tergagap, "Ka-kakak?"
Daniel meliriknya dengan dingin, mengingatkan akan masalah yang Darel ciptakan. Darel segera duduk sambil meneguk ludah.
Para pelayan kembali sadar dan dengan cepat menarik kursi untuk membantu Daniel mengambil tempat duduknya.
Haruka baru berada di rumah ini selama satu hari, tetapi ia sudah berhasil membawa angin segar yang membuat wajah para pelayan menjadi lebih cerah. Para pelayan menyukainya dan mereka menjadi bersemangat untuk menyenangkannya.
Haruka mengangkat tangannya, memberi isyarat kepada para pelayan untuk menghidangkan makanan. Haruka memutar kepalanya dan tatapannya menyapu meja makan. Dia bertanya, “Darel, di mana adik perempuanmu?”
__ADS_1