Menikahi Tuan Muda Lumpuh

Menikahi Tuan Muda Lumpuh
Bab 44 : Medan Perang


__ADS_3

Ekspresi Soma Haruka tidak banyak berubah. Dia tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Saya menolak."


Beberapa orang yang hadir tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar. Apakah bijaksana untuk menyinggung keluarga Asrahan hanya untuk mempertahankan Marina Yon yang ada atau tidak adanya dia, itu tidak penting untuk perusahaan keluarga Yon.


Meskipun mereka menyadari bahwa tindakan Soma Haruka tidak bijaksana dan malah merugi, mereka tetap cemburu. Kebanyakan orang yang hadir adalah generasi kedua atau ketiga dari keluarga konglomerat, mereka tidak lebih hanyalah bidak catur bagi ayah dan kakek mereka. Menikahlah dengan orang ini, maka dia harus mematuhinya. Mengakulah seolah-olah ini adalah kesalahanmu saja, maka dia harus menyerahkan kepalanya. Hidup mereka yang mewah dan mudah sebenarnya terisolasi dan sesak.


Jadi, mereka juga ingin seseorang berdiri di depan mereka, melindungi mereka, dan meyakinkan mereka bahwa dia tidak menganggap mereka sebagai pion yang bisa dibuang dengan mudah atau ditukar untuk keuntungan yang lebih besar.


Mereka menatap Soma Haruka dengan rumit, emosi mereka berputar melalui kecemburuan, iri hati, kedengkian, penghinaan, dan kekecewaan. Mereka bertanya-tanya, andaikan mereka yang menyebabkan masalah hari ini, apa yang akan dilakukan keluarga mereka? Akankah keluarga mereka melindungi mereka seperti Soma Haruka melindungi Marina Yon, atau mereka tidak mau.


Oh, tentu saja, di hadapan keuntungan bersahabat dengan keluarga Asrahan, kehadiran mereka tidak ada apa-apanya untuk keluarga. Mereka hanya akan dicoret keluar dari kartu keluarga tanpa ragu-ragu dan dalam ketiadaan rasa bersalah. Tidak ada yang peduli tentang kebenaran, semuanya memandang pada keuntungan dan tidak mau menjadi rugi.


Adapun Marina Yon yang dilindungi oleh Soma Haruka, dia merasakan segala emosinya menjadi lebih dalam. Air matanya jatuh seperti bebas. Dia dengan panik mencoba menghapusnya, tetapi dia menyadari bahwa semakin dia menyeka, semakin keras air matanya jatuh.

__ADS_1


Tatapan tajam Kepala Keluarga Asrahan mendarat pada Soma Haruka. Sudut mulut wanita itu meringkuk menjadi senyuman dam memiringkan sedikit kepalanya saat dia bertemu dengan tatapan ganas itu tanpa sedikit pun panik. Perlahan, ekspresi kepala Keluarga Asrahan sedikit mereda saat dia mengungkapkan sedikit kenangan lamanya. "Sialan, bajingan itu mendapatkan cucu menantu yang hebat rupanya." Berhati kuat, berani bertanggung jawab, pemberani, dan peduli. Sulit untuk menemukan anak seperti ini di zaman sekarang.


"Bukankah Anda sudah kelewatan? Anda menghina kakak perempuanku, menghina kakak iparku, dan sekarang menghina kakekku juga?" Darel Yon yang sejak tadi hanya menonton di sudut bersama dengan Dokter Ronald, saat ini maju dengan matanya yang kosong dan dingin.


Saat kepala keluarga Asrahan menengok ke arahnya, sesuatu yang berbeda terlihat di matanya. Dia mengira Darel Yon adalah sahabatnya, pendiri keluarga Yon, kakek mereka. "Galvan Yon..." ujarnya, lepas begitu saja.


Saat mereka berdua berhadapan, tidak ada satu orang pun yang bisa membuka mulutnya. Ini mirip ketika Darel Yon berhadapan dengan Kepala Keluarga Ken, hanya saja di skala yang lebih besar. Bukan cuma mencekam, tetapi sudah seperti medan perang itu sendiri.


Kepala Keluarga Asrahan masih linglung. Pemuda di depannya sudah jelas adalah orang yang sama dengan yang sebelumnya menundukkan kepalanya untuk meminta maaf atas keterlambatan mereka di ruangannya, tetapi pemuda itu sekarang memiliki kehadiran yang tenang. Namun, menyesakkan. Entah bagaimana itu sangat mirip seperti sang kakek, Galvan Yon, sahabatnya yang gila.


"Mendengarmu memanggilku Jendral, kamu pasti anak kecil yang diseret oleh kakekmu ke Medan perang waktu itu. Metode di luar nalar itu sepertinya berhasil, kau benar-benar menjadi sangat mirip dengannya. Tubuh yang tidak terkalahkan, dominasi mutlak yang terpancar secara sempurna, dan tatapan mata karnivora yang sedang berburu mangsa. Ini menjadi terasa sangat aneh bagiku, bisa-bisanya monster hebat seperti Galvan akan terlahir di keluarga Yon sekali lagi."


Dia sudah sering bertemu dengan Kepala Keluarga Yon sebelumnya dan putra tertua keluarga Yon saat ini. Keduanya adalah seseorang yang dikatakan menyaingi kehebatan Galvan Yon, tetapi ketika dia melihatnya, itu tidak cukup untuk disandingkan dengan sahabatnya. Mereka lebih lembut dan basah, Galvan Yon yang ia kenal adalah seseorang yang gersang dan tandus, seorang pria yang sangat sulit untuk bahagia, tetapi ketika dia mendapatkan kebahagiaannya, dia tidak akan melepaskannya.

__ADS_1


Kepala Keluarga Asrahan terdengar sangat akrab dengan si kriminal Darel Yon, dan itu membuat semua yang hadir menjadikannya berita utama yang akan mereka bawa ke kerabat dan koneksi mereka yang tidak bisa hadir hari ini. Tuan Muda ke empat keluarga Yon bertindak melewati batas dan menantang secara langsung kepala Keluarga Asrahan, tetapi dia malah dipuji.


Kepala Keluarga Asrahan memiringkan kepalanya dan membiarkan tangan kirinya menjadi tumpuan, dia bertanya dengan dingin, "Kamu marah karena aku menghina kakekmu?" Dia melanjutkan pertanyaannya, "Untuk seseorang yang melalui semua Neraka dunia dan hidup tanpa kasih sayang karena kakekmu, kamu masih menghormatinya?"


"Anda salah, Kakek Saya adalah orang yang paling menyayangi Saya di dunia ini." Saat Darel Yon menjawab seperti itu, Kepala Keluarga Asrahan mengerutkan wajahnya. Kakek macam apa yang memberikan pistol ke tangan cucunya yang baru berusia enam tahun dan membawanya ke dalam misi penaklukan kelompok kriminal bersenjata. Apa kakek yang baik mengajarkan cucunya cara membunuh?


Kepala Keluarga Asrahan hanyut dalam buai kenangan lama. Tahun ke tujuh setelah Galvan Yon melibatkan cucunya ke medan perang, adalah tahun terakhir dari hidup sahabatnya.


Saat itu, mereka di kirim ke Distrik Timur untuk menyelesaikan perang antar suku yang bergejolak tak terkendali. Nama misinya sendiri adalah operasi pendamaian paksa Distrik Merah, nama yang diambil dari kondisi Distrik Timur yang tertutup oleh warna merah dari darah dan nyala api.


Operasi itu bertujuan untuk menyelamatkan mereka yang putus asa dan membunuh mereka yang mencoba melawan. Misi itu berhasil, hanya saja beberapa veteran termasuk Galvan Yon menjadi korbannya.


Waktu itu salah satu lengannya terputus oleh kapak seorang penebang kayu dan kakinya terluka parah karena tombak pencari ikan seorang nelayan. Dia kehilangan banyak darah dan karena situasi yang kacau balau, bantuan tidak akan sampai tepat waktu untuk menyelamatkan hidupnya.

__ADS_1


Kepala keluarga Asrahan masih mengingatnya. Di ujung sabit sang kematian, si gila Galvan Yon memberikan sebuah plakat emas kepada cucunya dan sebuah revolver dengan tiga buah peluru di dalamnya. Tiga tembakan terdengar dan hanya suara tangisan anak kecil yang terdengar setelahnya.


__ADS_2