Menikahi Tuan Muda Lumpuh

Menikahi Tuan Muda Lumpuh
Bab 30 : Kakiku Sakit, tapi hatiku sejuk


__ADS_3

Di waktu itu, Daniel Yon harusnya akan sibuk memulihkan diri dari operasinya. Jadi, tidak mungkin baginya untuk menghadiri konferensi orang tua dan guru.


Soma Haruka setuju dengan mudahnya, membuat Dean Yon merasa senang sekali. Dia menatap Kakak Iparnya dalam tidak percaya, dan dengan suara tinggi dia bertanya untuk memastikan, "Benarkah? Kakak janji akan menjadi Waliku?"


Soma Haruka sedikit terkejut dengan reaksinya. "Itu hanya konferensi orang tua dan guru, kan? Mengapa dia begitu bersemangat?" batinnya.


Soma Haruka mengangguk, melipat surat itu, dan memasukkannya ke dalam tasnya. Dia tersenyum dan berjanji, "Aku yang akan menjadi walimu."


Sikapnya begitu serius seolah-olah dia memperlakukan konferensi orang tua dan guru sebagai peristiwa besar. Dean Yon merasa seperti melayang di atas awan. Setelah beberapa saat, dia kembali ke akal sehatnya. "Ka-kalau begitu, aku akan pergi ke Sekolah sekarang." Dia berjalan keluar rumah dengan langkah kaki yang ringan.


Setelah Dean berangkat sekolah, tatapan Daniel Yon beralih pada orang lain di meja makan. Dia sedikit tidak senang. "Apa kalian semua tidak ada yang harus dilakukan hari ini?"


Darel Yon tertawa kecil dan meneguk minumannya. Saat cairan itu masuk ke dalam mulutnya, dia sadar kalau itu adalah minuman yang sama dengan apa yang ia minum tadi malam. Jus Kangkung yang membuatnya mengantuk dan tidur lebih awal.


"Kenapa Kakak sok peduli begitu? Kelasku libur hari ini, guru yang harusnya mengajar terbaring di rumah sakit setelah orang tidak dikenal mematahkan kakinya. Malang sekali."


David Yon merinding ketika mendengarnya. Orang tidak dikenal mematahkan kaki gurunya? Omong kosong. Sesuatu seperti itu hanya mungkin terjadi jika Darel Yon sendiri yang melakukannya.

__ADS_1


"Aku akan membawa mobilku ke bengkel lalu beristirahat di rumah setelahnya. Jangan khawatir, aku tidak akan lari lagi." David Yon dengan hati-hati ikut berbicara.


Yuna Yon tidak mengatakan apa-apa, tetapi dia diam-diam mencondongkan tubuhnya ke sisi Darel Yon. Jelas sekali bahwa dia ingin ikut bersamanya seperti kemarin. Dia ingin membuka hatinya kepada dunia, dan perlahan-lahan menjadi gadis normal pada umumnya, lalu yang paling utama, dia ingin dimanja oleh kakak laki-lakinya.


Melihat perilaku saudara-saudarinya, Daniel Yon merasa kesal. Berbicara dengan mereka membuatnya kesulitan mengendalikan emosi dan melihat wajah mereka rasanya perasaan bersalah dan kecewa menyatu menjadi satu.


"Aku terjatuh dari kursi roda tadi malam." Daniel Yon berbalik untuk berbicara kepada Soma Haruka. "Kakiku terasa sakit. Jadi, aku ingin melakukan pemeriksaan," sambungnya.


Soma Haruka mengingat kembali apa yang dikatakan Darel Yon tadi malam. Daniel Yon sampai tersungkur ke lumpur karena mengkhawatirkan mereka. Wajahnya menjadi masam dan kecemasan mulai menakutinya.


Darel Yon memiringkan kepalanya, sebelumnya, ketika kaki kakaknya sakit, wajahnya akan menjadi pucat dan dia akan berkeringat banyak. Namun, sekarang dia dengan santai menyebutkan bahwa kakinya sakit, dan itu dikatakan dengan wajah yang tersipu malu.


Soma Haruka tidak menyembunyikan kasih sayang dalam ekspresinya, dan Daniel Yon merasakan kepuasan yang aneh saat melihatnya. "Baiklah, aku akan menjaga diriku lebih baik di masa depan."


David Yon menjatuhkan sendoknya. Nafsu makannya hilang dan perutnya terasa mual. Apa mereka membawanya kembali ke rumah hanya untuk mempertontonkan adegan memalukan ini? David Yon merasa buruk. Jadi, dia langsung pergi meninggalkan ruang makan.


"Pemeriksaan saja tidak cukup, Daniel." Soma Haruka menatapnya dengan tidak setuju. "Kamu sudah lama tidak mempedulikan tubuhmu sendiri. Aku tidak punya kegiatan hari ini. Jadi, jika kamu mau, aku bisa membawamu lagi ke rumah sakit untuk pemeriksaan rinci dan melihat apakah ada yang salah di kakimu atau tidak."

__ADS_1


Ada terlalu banyak telinga di sini. Jadi, Soma Haruka sengaja berbicara dengan pelan. Dokter Arkam sudah jelas adalah seorang penjahat, tetapi mereka tidak tahu mungkin saja ada satu orang lagi yang bekerja bersamanya. Ada banyak sekali pembantu di rumah besar ini, Soma Haruka sendiri masih belum bisa menghafal wajah dan nama mereka dengan baik.


Yuna yang duduk di samping Haruka menyadari maksud lain keduanya. Mereka memang membicarakan tentang rumah sakit, tetapi ia yakin kalau tujuan sebenarnya adalah berkencan. Dia secara tidak sadar berbalik dan menatap Kakak laki-lakinya dengan mata yang bersinar. Seperti anak kecil yang meminta dibelikan mainan.


Darel Yon mengetahui itu, dia sebenarnya sibuk, tetapi tidak bisa menolak adik perempuannya. Dia menganggukkan kepalanya tanda setuju, membuat gadis itu tersenyum cerah, dan terburu-buru menghabiskan makanannya.


Daniel Yon merasa hatinya dipenuhi bunga ketika tahu bahwa Soma Haruka sangat peduli padanya. Jika dia tidak menahan diri, mulutnya mungkin sudah mengucapkan kata-kata manis yang tidak bisa ditarik kembali. Dia memejamkan matanya dan mencoba yang terbaik untuk tidak tersenyum. "Baiklah, aku akan mendengarkanmu."


Di sisi lain, di dalam kantor Yon Grub. Seorang pria yang mengenakan setelan khusus menunjuk ke tumpukan majalah di atas meja. Pria itu adalah Ares Krisan, dia bertanya dengan senyum tipis, "Daniel Yon berani menampakkan batang hidungnya kembali setelah kecelakaan mobil. Dia dan istri kecilnya sedang berbelanja di pusat perbelanjaan. Mereka terlihat bahagia, bukan?"


Pria paruh baya yang berdiri di hadapannya tersenyum seperti orang bodoh yang tidak peka. "Anda benar, Tuan. Mereka jelas bukan pengantin baru yang normal, Saya pikir wanita itulah yang menyihir Daniel Yon agar membelikannya barang-barang mewah dengan kegenitannya."


Brak! Ares Krisan membanting meja dan membuat semua yang di atasnya terlempar. Pria paruh baya itu mundur, tidak tahu apa kesalahan yang ia lakukan sehingga tuannya sangat marah.


Mata sipit Ares Krisan menjadi merah ketika dia mengepalkan tinjunya, dia menunjuk pria paruh baya itu dan mulai mencaci makinya. Dia tidak membayar mahal orang-orang ini hanya untuk mendengar bahwa Daniel Yon sekarang menjadi lebih baik dan dia hidup bahagia bersama dengan istri kecilnya.


Pria paruh baya itu gemetar dan dengan cepat menundukkan kepalanya untuk mengakui kesalahan. "Tolong berikan kami kesempatan lagi, Tuan! Saya berjanji akan memberikan kabar baik setelah ini!"

__ADS_1


"Kamu sebaiknya tanamkan kata-kata itu ke dalam kepalamu. Kalau kamua mengecewakanku sekali lagi, aku sendiri yang akan mengulitimu hidup-hidup!" Ares Krisan dengan tenang menghembuskan napas beratnya. Dia berbalik menatap pemandangan kota yang sedang sibuk-sibuknya. Wajahnya menjadi dingin dan nada suaranya seram. "Jika Daniel Yon bangkit sebagai Kepala Keluarga berikutnya, kita semua akan mati, dan kamu adalah orang yang pertama akan digantung.".


__ADS_2