Menikahi Tuan Muda Lumpuh

Menikahi Tuan Muda Lumpuh
Bab 64 : Frustasi


__ADS_3

Ruang tamu telah menjadi medan perang utama bagi para gadis, mengganggu napsu makan anak laki-laki di keluarga itu. Darel Yon dan David Yon saling memandang dan tatapan mereka jatuh pada adik laki-laki mereka yang patuh tetapi licik. Dean Yon yang sejak kecil jarang diganggu oleh kakak-kakaknya terdiam ketika menyadari tatapan mereka yang memintanya melakukan sesuatu.


Dean Yon merinding, dia meraih tali tas sekolahnya dan mencoba untuk tertawa kecil, "Kakak ipar, bisakah kamu juga melihat gambarku? Aku khawatir Tuan Hadley akan tidak senang denganku nanti. Bisakah kamu membantuku melihat dan memberiku beberapa petunjuk?"


Dean Yon mencengkeram ranselnya dengan erat, wajahnya menunjukkan kegelisahan seorang remaja. Tanpa sadar, mereka sepertinya sudah terbiasa bergantung kepada Soma Haruka. Meminta saran kepadanya sama sekali tidak terdengar aneh.


"Tidak masalah." Memikirkan lukisannya yang banyak dikritik oleh Pak Tua Hadley, Soma Haruka ragu-ragu sejenak. "Namun, aku tidak tahu banyak tentang lukisan."


"Tidak apa-apa." Dean Yon segera tersenyum dan menjawab, "Aku akan merasa tenang setelah kamu melihatnya, Kakak Ipar. Selain itu, aku sudah terbiasa memilihkan teman-temanku klub sekolah yang cocok untuk mereka. Jadi, jika tidak keberatan, aku bisa membantu Kak Sintia dengan itu."


Dia mengatakan itu karena desakan saudarinya yang tidak ingin gadis itu menggangu kakak ipar mereka, dan dia juga tidak mau memperhatikan gadis ini yang tiba-tiba muncul untuk merebut kakak iparnya. Senyum Dean Yon tidak berubah, tetapi kelicikannya bermain dalam diam.


"Baiklah." Soma Haruka merasa bersyukur atas kebaikan dan kepedulian mereka terhadap satu sama lain. Dia berkata sambil tersenyum, "Makan malam akan disajikan sebentar lagi. Ayo cepat."


Daniel Yon yang baru saja turun, melihat ruang tamu tiba-tiba setengah kosong. Dia tercengang. "Apa yang sedang kalian lakukan? Ke mana yang lain pergi?"


"Mayuna Yon ingin kakak iparnya mengajarinya teknik jari yang baru saja dia pelajari." Marina Yon berbaring di sofa dengan lemah, matanya kosong, hanya ada kebosanan. "Lalu, Dean Yon meminta kakak ipar untuk membantunya melihat lukisan minyaknya."

__ADS_1


Pada saat ini, dia tidak peduli lagi dengan rasa takut pada kakak laki-lakinya yang dingin dan suram. Dia membenci dirinya sendiri karena menjadi murid yang buruk dan hanya bisa menyaksikan kakak iparnya yang bagai malaikat direnggut dari tangannya. Sementara itu, dia ditinggalkan di ruang tamu bersama saudara laki-lakinya yang sangat menyebalkan.


Darel Yon dan David Yon mengerutkan bibir mereka ketika mata mereka bertemu, dan percikan muncul di antara mereka sekali lagi. Daniel Yon memandang ketiga saudaranya, mata gelapnya menyapu melewati mereka, dan dia tidak bisa menahan perasaan tidak menyenangkan. Dia membenci tiga orang pembuat onar ini.


Daniel Yon memutar kursi rodanya. Lebih baik kembali ke kamar dan membaca lebih banyak dokumen daripada menetap bersama dengan saudara-saudara bodohnya yang tidak bisa diperbaiki.


Marina Yon melompat dari sofa ketika dia melihat kakak laki-laki pertamanya pergi. "Kamu ini kenapa? Melupakan obatmu?" David Yon mengerutkan kening dan menggaruk rambutnya dengan kesal. "Dasar bodoh, kamu hampir membuatku takut setengah mati dengan gerakan tiba-tiba itu."


"Bukankah itu bagus untukmu yang suka adrenalin?" Marina Yon berkata dengan agresif. "Aku akan kembali ke kamar, minta pelayan untuk menjemputku saat makan malam sudah siap."


Soma Haruka bukan kakak ipar yang pilih kasih. Marina Yon tahu itu. Jika dia ingin diperhatikan juga, dia harus membuktikan padanya bahwa dia juga hebat dan memiliki bakat.


David Yon menatap kosong ke punggungnya. Sementara dia bingung, rasa urgensi yang tak dapat dijelaskan muncul di hatinya. Seolah-olah semua orang memiliki petunjuk arah dan hal-hal yang harus dilakukan. Masing-masing dari mereka mengambil langkah besar menuju tujuan masing-masing. Hanya dia yang berdiri dengan bodoh di tempat saat yang lain pergi.


Frustrasi David Yon tumbuh lebih dan lebih intens. Dia tiba-tiba mengangkat kakinya dan menendang meja marmer. Dia mengutuk, "Sialan!"


Rasa frustrasi David Yon meluap dan dia terlihat seperti orang gila di mata Darel Yon. Setelah dia menghabiskan seluruh uangnya dalam investasi tanah, Darel Yon merasa malas dan tidak tertarik pada segala hal. Namun, tingkah tiba-tiba David Yon membuatnya merasa sedikit marah. Darel Yon duduk tegak. "Ada apa denganmu? Kamu memgumpat tiba-tiba seperti orang bodoh."

__ADS_1


"Benar, sialan. Aku ini orang bodoh, lantas apa hubungannya denganmu?" David Yon mengigit bibirnya dan membuat suara serak yang retak.


"Urus saja masalahmu sendiri. Jangan ganggu aku!" David Yon tidak menunjukkan tanda-tanda kelemahan. Meski Darel Yon menakutkan, dia tidak bisa kehilangan wibawa seorang kakak kedua. Darel Yon membuang muka dan mencibir, "Tidak sadar diri. Rumah ini terasa lebih baik saat kamu masih mabuk-mabukan." Keduanya berada di ambang perkelahian.


Para pelayan berdiri di samping dalam ketakutan dan gentar. Ketika mereka melihat bahwa mereka berdua tampak seperti akan bertarung kapan saja sekarang, mereka sangat takut sehingga mereka bahkan tidak berani bernapas.


"Tuan Muda Ke dua, Tuan Muda Ke empat, bisakah kalian kembali ke kamar dan istirahat sebentar? Kami ingin membersihkan ruang makan sebentar. Kami akan memanggil jika makan malam sudah siap." Kepala Pelayan Hans membujuk.


Ketika Nyonya tidak hadir, semua orang di rumah ini adalah sekantong bubuk mesiu. Siapa yang tahu kapan mereka akan meledak. Itu terlalu menakutkan.


David Yon bahkan lebih kesal sekarang. Dia sangat marah sehingga dia ingin menendang meja lagi. Tapi saat dia mengangkat kakinya, dia menariknya kembali. Namun, tetap mengutuk, "Sialan!"


David Yon mengacak-acak rambutnya di saat Darel Yon bangkit dari kursinya. Dia meraih mantelnya dan kemudian berjalan keluar.


"Tuan Muda ke empat?" Jantung Kepala Pelayan Hans berdegup kencang. Saat Darel Yon pergi, dia tidak akan kembali dalam waktu yang lama, apalagi suasana hatinya sedang tidak baik, siapa yang tahu anak keluarga mana lagi yang akan dia pukuli. Jadi, Hans buru-buru mengejar dan bertanya, "Sudah hampir waktunya untuk makan malam. Kemana Anda pergi?"


"Merapikan rambutku!" Darel Yon menggertakkan giginya karena marah dan pergi tanpa melihat ke belakang.

__ADS_1


Tuan Muda ke empat merapikan rambutnya? Kepala Pelayan Hans berdiri terpaku di tanah. Dia pasti salah dengar. Mungkin telinganya tidak lagi berfungsi dengan baik dengan usianya yang sudah tua.


Betis dan perut kepala pelayan terasa lemas, tetapi dia tidak berani membiarkan mereka berdua benar-benar bertarung. Dengan demikian, dia hanya bisa mengumpulkan keberaniannya dan mencoba menenangkan mereka. Namun, Darel Yon sudah pergi.


__ADS_2