
Di sisi lain, Soma Haruka baru saja menutup telepon ketika dia melihat Daniel Yon. Pria yang juga suaminya itu sedang duduk di sofa membaca dokumen dan menatapnya. Dia bertanya, "Sepertinya suasana hatimu sedang tidak baik, istriku. Apa ada yang bisa aku bantu?"
Saudara dan saudari Yon lainnya yang duduk di sisi lain sofa juga mengangkat kepala dan melihat ke arah Soma Haruka. Mata mereka dipenuhi dengan kekhawatiran.
Sebelum kecelakaan, Daniel Yon adalah seorang Workaholic kelas berat. Kesehariannya dihabiskan dengan bekerja di perusahaan atau di ruang kerjanya. Setelah kecelakaan, dia menjadi depresi dan mengunci diri di ruangan gelap sepanjang hari. Dia dirundung oleh rasa takut sehingga ia tidak punya keberanian yang cukup untuk sekedar meninggalkan ruangannya.
Saudara-saudarinya jarang pulang. Ketika mereka akhirnya pulang pun, mereka tinggal di kamar mereka sendiri. keluarga Yon tenggelam dalam cara yang dingin dan penghuninya tidak berurusan satu sama lain. Waktu yang mereka habiskan bersama sebagai sebuah keluarga bahkan lebih sedikit daripada waktu yang mereka habiskan bersama teman sekelas dan rekan kerja biasa. Interaksi mereka satu sama lain dalam satu tahun sangat sedikit.
Namun, setelah Soma Haruka menikah dengan keluarga, semuanya berbeda. Saudara dan saudarinya bersedia untuk menempel satu sama lain. Mereka bahkan berharap bisa terus bersama dua puluh empat jam sehari. Mereka yang jarang kembali ke rumah tampaknya telah berakar di rumah, menganggap rumah benar-benar sebagai tempat untuk pulang. Dengan demikian, semua orang beralih dari mengurung diri di kamar mereka menjadi bermalas-malasan di ruang tamu.
Entah itu membaca atau bermain game, mereka semua berkumpul di ruang tamu. Meskipun kerab kali berselisih dan bertengkar, mereka tetap melakukannya. Bahkan Daniel Yon tidak bisa menahan diri untuk tidak menaiki lift setiap hari dan memindahkan pekerjaannya ke ruang tamu.
__ADS_1
"Seseorang yang menyebalkan tadi memanggilku dengan permintaan yang konyol." Soma Haruka mengangkat bahu dengan acuh tak acuh dan melambaikan tangannya. "Aku sudah membereskannya. Jadi, kamu tidak perlu khawatir tentang itu Daniel." Dia bertingkah seolah tidak peduli, tetapi Daniel Yon menatap telepon yang diletakkan Soma Haruka di meja dengan wajah serius.
Cahaya gelap melintas di matanya. Beberapa dari mereka untuk sementara menghentikan apa yang mereka lakukan dan saling memandang, seolah-olah mereka telah mencapai semacam pemahaman diam-diam. Soma Haruka tidak memasukkannya ke dalam hati. Dia duduk kembali di sofanya sendiri dan terus membaca buku.
"Istriku, aku dengar kamu memalsukkan izajah SMA untuk mendaftar kerja. Apa artinya itu kamu sebelumnya bersekolah tidak sampai lulus? Istriku, apa kamu sedang mempertimbangkan untuk bersekolah lagi?" Daniel Yon melihat sampul buku teks matematika di tangan Soma Haruka. Dia dengan hati-hati bertanya, "Aku selalu melihatmu sedang belajar banyak hal dan kamu juga suka mengajak orang-orang di sekitarmu untuk belajar dengan baik. Jika kamu mau, aku bisa mendaftarkanmu tahun depan."
Marina Yon mengangguk setuju. Dia melihat buku di tangan Soma Haruka dengan sedikit kekaguman. Kakak iparnya terlalu menakutkan. Orang seperti apa yang akan menghabiskan sepanjang hari membaca buku tentang matematika tingkat lanjut, teori probabilitas, dan fisika perguruan tinggi hanya untuk menghabiskan waktu? Hanya membaca matematika tingkat sekolah menengah bisa membuatnya pusing, dan dia tidak menginginkan apa pun selain mengalami kehancuran dan menghidupkan kembali dirinya sendiri.
Usianya baru dua puluh tahun dan masih bisa untuk mendaftar, tetapi Soma Haruka tidak merasa bahwa bersekolah kembali adalah pilihan yang sangat baik untuknya karena dia sekarang adalah Nyonya Yon dan sudah menikah pula.
Sekarang Daniel Yon telah mengambil inisiatif untuk mengangkat topik ini, Soma Haruka merasa seolah-olah ada sesuatu yang tersulut di hatinya, diam-diam berkedip dengan percikan kecil. Dia sangat suka belajar, dan buku-buku sangat menarik baginya. Dia tidak pernah merasa bahwa buku itu membosankan dan menyebalkan, justru dia sangat senang dengannya.
__ADS_1
"Namun." Soma Haruka ragu-ragu sejenak. "Bukankah tahun depan, Dean akan masuk SMA? Jika aku mendaftarkan diri tahun depan, bukankah aku akan berada di kelas yang sama dengan Dean? Itu terlalu berlebihan bahkan untukku." Soma Haruka menggelengkan kepadanya. Dia takut itu akan merusak citra keluarga Yon.
"Bagus. Dengan cara ini, kamu akan menjadi juniorku, Kakak Ipar!" Mata Marina Yon langsung menyala. Darel Yon tersenyum kemudian berkata kepadanya dalam kegembiraan, "Aku pikir itu bagus, jika kamu bisa masuk ke sekolahku, aku tidak punya pilihan lain selain menghentikan aksi bolos sekolahku, haha." Dia terkekeh.
"Aku menggunakan uang untuk membiarkanmu lompat kelas dan membuatmu bisa lulus bahkan tanpa nilai yang sesuai pula tanpa kehadiran yang lengkap, tetapi kamu masih tidak tahu diri dan bertingkah?" Daniel Yon menatapnya dengan ringan. Meskipun tidak ada emosi dalam nada suaranya, ketegangan antara kedua saudara kandung itu berkobar seolah disulut oleh api.
"Aku senang jika bisa sekolah bersamaku, Kakak Ipar." Dean Yon menyatakan dukungannya. "Jika Kakak Ipar ingin mengikuti ujian masuk SMA, aku dengan senang hati akan membantu Kakak memilih poin-poin penting." Dia selalu berada di peringkat teratas di sekolahnya. Jadi, dia yakin bahwa dia dapat membantu saudara iparnya dalam banyak hal.
"Jika kakak ipar merasa stres karena belajar, Yuna bisa bermain biola untuk membantu kakak sedikit rileks." Mayuna Yon bersekolah di rumah. Jadi, dia tidak bisa banyak membantu. Dia melihat ke kiri dan ke kanan, diam-diam mengungkapkan bahwa dia juga berguna. "Lalu, aku!" Marina Yon terhenti, dia menjadi gugup dan mulai memeras otaknya sampai akhirnya berkata, "Ak-aku bisa memijat bahu dan punggungmu yang lelah karena terlalu banyak belajar, Kakak ipar!"
Secara kebetulan, Bibi Liam datang untuk mengantarkan piring buah. Setelah mendengar kata-kata mereka, dia dengan bersemangat menambahkan, "Kalau begitu, Bibi akan membicarakan ini ke staff dapur untuk membuat makanan yang lebih bergizi untuk Nyonya."
__ADS_1
Soma Haruka tidak tahu apakah harus tertawa atau menangis, tetapi kehangatan samar-samar muncul di hatinya. "Bahkan jika aku benar-benar ingin bersekolah kembali, kalian tidak perlu terlalu serius seperti ini." Perlakuan seperti Ini sudah terlalu berlebihan. Bahkan seorang siswa SMA yang sebenarnya tidak memiliki perlakuan seperti ini.