Menikahi Tuan Muda Lumpuh

Menikahi Tuan Muda Lumpuh
Bab 88 : Manis-Manis Menjijikan


__ADS_3

Sejak ciuman di tengah perjamuan, perasaan yang tak bisa dijelaskan telah ada di antara mereka. Soma Haruka tertawa, "Yah, aku pun tidak yakin akan memenuhi undangan mereka. Aku sejujurnya benar-benar tidak tertarik dengan hal-hal seperti ini. Bahkan jika aku punya waktu luang pun, aku mungkin lebih memilih untuk mengunjungi Nenek daripada ikut dengan mereka."


Dia tidak menyukai kemunafikan masyarakat kelas atas dan keseharian mereka yang egois. Apa yang disebut dengan pertemuan para istri kaya hanyalah tentang mereka yang berbicara tentang diri mereka sendiri, mereka menyombongkan diri dan pencapaian suami mereka secara tidak langsung. Itu hanya membuang-buang waktu.


"Hm, kalau begitu, aku akan ikut bersamamu." Daniel Yon meletakkan koran. Tanpa mengedipkan mata, dia berkata, "Kita sudah menikah cukup lama, tetapi aku masih belum mengunjungi Nenek yang sudah membesarkanmu. Aku tidak bisa lebih tidak sopan daripada ini."


Nada suaranya normal seolah-olah dia mengatakan sesuatu yang sangat alami. Namun, Soma Haruka tiba-tiba merasa sedikit canggung. Dia jelas seorang wanita yang sudah menikah sekarang, tetapi mengapa dia masih merasa sangat gugup? Seolah-olah dia sedang mencoba membawa pacarnya pulang untuk diperkenalkan kepada walinya. Dia gugup, canggung, dan was-was.


Soma Haruka menepuk kedua belah pipinya. Seseorang yang gelisah seharusnya bukan dirinya, Daniel Yon adalah orang yang seharusnya merasakan perasaan itu.


"Kalau begitu aku akan memberi tahu Nenek sebelumnya." Soma Haruka tersenyum dan berkata, "Kalau-kalau dia tidak siap dan terkejut atas kedatangan sosok tamu terhormat." Dia menggoda.


Mata Daniel Yon dipenuhi dengan senyuman. Dia menarik tangan Soma Haruka dan menanamkan ciuman lembut di telapak tangannya. "Tamu terhormat apanya? Aku hanya cucu menantunya saja." Dia sangat cerdas dalam hal rayu merayu. Ketika dia ingin menyenangkan seseorang, setiap kata yang keluar darinya bisa meluluhkan hati mereka. Hati Soma Haruka terasa hangat, beginilah Daniel Yon yang sebenarnya, beginilah dia sebelum mengalami kecelakaan.

__ADS_1


Kata-kata Cucu Menantu tidak hanya berarti bahwa Daniel Yon bersedia memperlakukan Neneknya sebagai keluarganya saja, tetapi juga berarti bahwa dia menghargai dan menerima sepenuhnya Soma Haruka sebagai istrinya. Secara tidak langsung dia mengatakan bahwa dia mencintainya.


Telinga Soma Haruka memerah. Dia bertemu tatapannya dan tersenyum. "Ya, mari pulang bersama."


"Apa kalian ingin pergi ke suatu tempat? Bawa aku bersama kalian!" Marina Yon mendengar bagian terakhir dari percakapan mereka dan berlari dengan penuh semangat. "Diam, dasar idiot!" David Yon tidak tahan untuk melihat adik perempuannya bersikap aneh dan manja. Dia menyeret Marina Yon dan menahan Mayuna Yon dan Dean Yon yang gelisah.


Jika salah satu mereka pergi, yang lain juga akan pergi. Darel Yon akhir-akhir ini jarang terlihat di rumah. Jadi, David Yon akan ditinggal sendirian lagi jika mereka ikut bersama Soma Haruka. Selain itu, David Yon sudah merasa cukup dengan adegan mesra di kediaman ini, dia tidak ingin melihat adegan manis menjijikan lainya di rumah orang lain atau dia akan benar-benar kehilangan sisi kerasnya sebagai pecinta adrenalin.


Soma Haruka tidak bisa menahan tawa dengan tingkah manja adik-adik iparnya. "Oke, kalau begitu kita semua pergi." Itu sangat bagus bagi semua orang, tetapi tidak dengan David Yon yang hanya bisa mengutuk di dalam hati.


Dibawah bujukan, mereka harusnya berangkat saat ini, waktu di mana semua orang sedang luang. Namun, mereka tidak berhasil pergi ke rumah Nenek akibat kehadiran beberapa orang.


Bibi Namira Krisan yang merepotkan telah membawa Helma Krisan ke kediaman utama keluarga Yon tanpa pemberitahuan. Melihat mereka tidak bisa pergi ke rumah Nenek Soma Haruka, saudara-saudari dari keluarga Yon kecuali David Yon, menjadi sangat kecewa. Bahkan wajah Daniel Yon menjadi gelap. Jika kakinya sudah sehat, dia akan memukul orang-orang itu dari sana untuk menunjukkan betapa tidak sopannya apa yang telah mereka perbuat.

__ADS_1


"Soma Haruka!" Bibi Namira Krisan tidak menyadari ada yang aneh dengan ekspresi keluarga Yon. Dia menatap Soma Haruka dan tersenyum. "Bagaimana kalau kita mengobrol secara pribadi? Biarkan Helma Krisan, Marina Yon, dan yang lainnya pergi bermain dan menjalin ikatan satu sama lain."


Marina Yon tidak mencoba untuk menyembunyikan kebenciannya pada Bibi Namira Krisan. Dia dengan blak-blakan menolak, "Tidak, aku tidak ingin terikat dengannya." Dia akhirnya menyadari nilai sesungguhnya dari menjadi Nona Muda terhormat dari keluarga Yon. Tidak sepantasnya anak dari keluarga cabang merendahkannya, memanfaatkannya, dan mencoba mengendalikannya. Dia adalah Yon, dia bangsawan yang punya kekuasaan untuk menginjak mereka sesuka hatinya. Seperti David dan Darel Yon yang mengacak-acak hukum, dia juga bisa melakukannya.


Helma Krisan mengepalkan tinjunya dan menundukkan kepalanya saat air matanya yang tertahan mulai membengkak. Biasanya, ketika dia memasang tampang menyedihkan dan sedih ini, dia akan menerima gelombang simpati yang besar. Sayangnya, tidak ada seorang pun di sini yang membeli tindakan itu.


Tidak ada yang mengasihaninya, bahkan Darel Yon yang ia ketahui lemah terhadap wanita pun tidak menoleh ke arahnya. Dia terus melakukan tindakan yang menyedihkan tetapi keluarga Yon bahkan tidak memberinya kesempatan ke dua. Helma Krisan menjadi semakin malu dan dendamnya yang semula membukit sekarang sudah menggunung.


Marina Yon tidak ingin melihat wajah anggota keluarga Krisan lebih lama lagi. Jadi, dia kemudian berbalik untuk naik ke kamarnya di lantai atas. "Aku akan kembali tidur. Jangan ganggu aku dengan hal-hal tidak penting seperti sebelumnya lagi." Setelah dia pergi, Darel, Dean, dan David Yon juga pergi.


Ruang tamu, yang tadinya ramai dengan aktivitas, kini kosong dan dipenuhi dengan keheningan yang canggung. "Kakak ipar." Mayuna Yon dengan lembut menarik ujung blus Soma Haruka.


Dia bertanya dengan lembut, "Kalau dibatalkan, bolehkah Yuna naik saja dan berlatih biola?" Gadis kecil itu masih muda dan itu adalah pertama kalinya dia menunjukkan permusuhan seperti itu kepada orang lain. Merasa sedikit bersalah, sedikit penyesalan bisa terdengar ketika dia berbicara. Ketika Helma Krisan melihat celah ini, dia menebalkan wajahnya dan menghentikan Mayuna Yon. Helma Krisan bertanya, "Mayuna, apakah kamu akan berlatih biola? Bisakah aku ikut denganmu?"

__ADS_1


"Kamu bisa bermain biola?" Mayuna Yon terkejut dan menatapnya dengan polos. "Ka-kalau begitu mari kita pergi ke ruang musik. Yuna tidak suka ketika Orang Asing masuk ke kamar, apalagi menyentuh alat musik yang ada di sana." Semua yang ada di sana berisi kenangan pahit sekaligus kenangan indahnya. Dia tidak ingin sembarangan orang memasuki istana kecilnya apalagi sampai menyentuh alat musik pemberian kakak laki-lakinya, semuanya sangat berharga.


__ADS_2