
Bibi Namira Krisan menekan sakit hatinya dan mencoba yang terbaik untuk tersenyum pada Soma Haruka dan Marina Yon. "Marina Yon dan Nyonya Yon, putriku sudah menyadari kesalahannya, bisakah kalian memafkannya sekarang?"
Marina Yon tidak ingin berkomunikasi dengan bibinya. Sejujurnya dia tidak ingin memaafkan Helma Krisan, tetapi dia tidak cukup berani dan takut jika dia menolak permintaan maaf itu, dia sekali lagi akan membuat masalah untuk keluarga Yon. Jadi, mengambil langkah lain dan menuju Soma Haruka. Dia berbisik, "Kakak ipar."
Saat dia menyadari niat Marina Yon, Soma Haruka menekuk wajahnya. Dia mulai menyadari bahwa anak-anak dari keluarga Yon semuanya adalah bayi yang tidak bisa mengurus diri mereka sendiri. Daniel Yon dengan perasaan rendah dirinya, David Yon dengan harga dirinya, Darel Yon dengan keras kepalanya, dan Mayuna Yon dengan traumanya. Saat mengurus mereka, Soma Haruka menyadari semua masalah mereka berasal dari penyebab yang sama, yaitu kesepian dan kurangnya kasih sayang.
Dia menepuk tangan Marina Yon ntuk menghiburnya, dan kemudian berkata kepada Bibi Namira Krisan, "Bibi, permintaan Helma Krisan jelas sangat tidak tulus. Jadi, entah Marina Yon memaafkannya atau tidak, tolong hargai keputusannya." Saat dia mengatakan ini, sikap bengis sebelumnya seperti pupus tertiup angin. Dia menjadi orang yang benar-benar berbeda ketika melembut.
Seseorang di antara kerumunan merasa geli dengan kata-kata Soma Haruka. Soma Haruka melirik dan terkejut ketika melihat wajah yang dikenalnya. Itu adalah Dokter Ronald Asrahan, dia tahu kalau Dokter itu di sini karena dia bagian dari keluarga Asrahan, tetapi dengan melihatnya, Soma Haruka menjadi gugup dan khawatir. Pria itu seharusnya berada di suatu tempat untuk mengurus operasi Daniel Yon sekarang. "Kenapa dia ada di sini? Jika dia ada di sini, lalu bagaimana dengan operasi suamiku? Daniel, aku harap kamu baik-baik saja di sana." Soma Haruka membatin.
Dokter Ronald menganggukkan kepalanya dari jauh ketika Soma Haruka menatapnya dengan gelisah. Pada saat yang sama, telepon di tas Haruka bergetar. Itu adalah sinyal yang dia dan Daniel Yon sepakati sebelumnya. Setelah mengetahui bahwa semuanya berjalan baik di sana, dia benar-benar lega.
__ADS_1
Bibi Ji tidak tahu harus berkata apa untuk menanggapi Soma Haruka. Dia hanya bisa mengangguk kaku. "Baik, aku mengerti. Nona Muda Ketiga, Bibimu ini akan pastikan sepupu Perempuanmu tidak akan mengulangi hal ini lagi." Setelah mengatakan itu, Bibi Namira Krisan izin pamit dari sana dan pergi untuk menyusul putrinya.
"Apa masalah kalian sudah beres? Kalau begitu, bisakah kita membahas tentang kompensasi yang dibicarakan gadis kecil dari keluarga Yon itu?" Kepala Keluarga Asrahan mengambil kembali tongkatnya kemudian duduk di kursi kecil yang dibawakan oleh cucu perempuannya.
Setelah menjadi cukup tenang, ekspresinya sedikit melunak, tetapi itu masih tidak terlalu menyenangkan. "Pertama-tama, aku harus mengatakan ini pada kalian, keluarga Asrahan kami tidak sudi menerima kompensasi dalam bentuk uang, berapapun hal tersebut. Jadi, jika keluarga Yon tidak bisa menghidupkan sesuatu yang sudah mati, lebih baik kalian semua keluar dari kastil kecilku!"
Dia sudah tua dan tidak peduli dengan banyak hal. Marina Yon menghancurkan anggreknya adalah masalah serius, jadi dia tidak ingin bersikap baik kepada siapa pun. Dia sudah mencurahkan segalanya ke anggrek itu dan berencana menjadikannya sebagai karya terakhirnya sebelum pensiun, mengetahui hasil kerja kerasnya itu dirusak begitu saja, dia sangat marah, sehingga tidak takut berperang dengan keluarga Yon.
Air mata Marina Yon mengalir lagi. Dia tanpa sadar meraih lengan Soma Haruka dan menjelaskan dengan cemas, "Kakak ipar, bukan aku yang melakukannya.Ada seseorang yang mendorongku dari belakang. Jadi, aku kehilangan keseimbangan dan terjatuh."
Suasana pesta mulai menjadi aneh dan tidak lagi ceria. Untuk mengembalikan suasana, seseorang harus bertanggung jawab atas anggrek kesayangan Kepala Keluarga Asrahan. Semua orang hanya ingin cepat menyerahkan pelaku dan mengakhiri masalah ini. Jadi, mereka ingin Marina Yon segera pergi dari sini.
__ADS_1
Marina Yon mengerutkan bibirnya dan berharap kakak iparnya bisa membantunya lolos dari situasi yang bermasalah ini. Hati Marina Yon menjadi dingin, cahaya di matanya redup, dan dia menjatuhkan pandangannya ke tanah.
Pada saat ini, Soma Haruka tiba-tiba mengangkat tangannya dan menepuk kepala Marina Yon. Lalu, dia berkata dengan lembut dan lugas, "Kepala Keluarga Asrahan, Saya meminta maaf karena Saya terus menerus membuat keributan di sini, tetapi bisakah Tuan berbaik hati untuk tidak mengusir kami terlebih dahulu. Mari kita bersama-sama mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sejujurnya, Saya merasa ragu kalau Marina Yon bertindak seceroboh itu. Nona Moda ketiga yang Saya tahu adalah gadis yang pintar dan berbakti."
Di saat Soma Haruka mengatakan bahwa dia mempercayainya. Mata Marina Yon langsung menyala. Hatinya terasa hangat di saat Soma Haruka berdiri Kokoh melindunginya ketika tidak ada orang yang mempercayainya. Marina Yon menoleh untuk melihat wajah cantik dan percaya diri Soma Haruka. Pada saat ini, Soma Haruka tampak mengesankan, seperti tombak tajam yang dapat menembus semua perisai para Ksatria.
"Gadis kecil dari keluarga Soma, pendapatmu sama sekali tidak penting untukku." Kepala Keluarga Asrahan mendengus dingin, dia sejujurnya menyukai kepribadian Soma Haruka yang suka menggigit dan menutup rahangnya rapat-rapat.
Namun, dia masih ingin melepas lebih banyak kemarahannya. Jadi, dia dengan dingin menguji mereka."Bagaimana dengan ini, aku akan membiarkan keluarga Yon lolos dari masalah ini selama kalian membuang Nona Muda Ketiga kalian dari kartu keluarga. Jika kamu melakukan itu, keluarga Asrahan akan bersahabat dengan keluarga Yon. Bagaimana?"
Dia sudah memasang umpan. Jadi, jika Soma Haruka tidak bodoh, dia akan tahu bagaimana menjawabnya. Menggunakan Marina Yon untuk bertukar hubungan persahabatan antara keluarga Yon dan keluarga Asrahan, siapa yang mengira kesempatan emas seperti ini datang dari ketidakberuntungan seseorang.
__ADS_1
Senyum di wajah Marina Yon seketika membeku. Dia tidak berharap Kepala Keluarga Asrahan mengatakan hal ini. Dia menggigit bibirnya. Kali ini, dia tidak berani berpikir bahwa Soma Haruka akan memilihnya. Dengan mengorbankan dirinya, Keluarga Yon bukan cuman mendapat imbalan perdamaian antara kedua keluarga, tetapi juga membuka peluang untuk menduduki posisi pertama di Distrik Pusat sekali lagi.
Dia sudah siap untuk menyerah. Dia adalah orang yang menyebabkan bencana ini, jadi dia harus bertanggung jawab untuk itu. Memikirkan hal ini, dia mengambil langkah maju dan ingin menyetujui permintaan Kepala Keluarga Asrahan, tetapi Soma Haruka menghentikannya.