
Karena Helma Krisan masih belum merespon, Darel Yon memberi isyarat kepada petugas penjualan. Setelah itu, dia mengeluarkan kartunya dan menyerahkannya kepada petugas yang gemetar ketakutan dan tidak berani berbicara. "Saya yang akan membayar semuanya, termasuk semua yang rusak." Darel Yon membuka dompetnya kembali dan memberikan kartu namanya kepada petugas tersebut. "Jika ada hal lain, hubungi Saya."
Petugas penjualan dengan penuh terima kasih mengambil kartu itu dan lari untuk melunasi tagihannya. Saat dia melihat kartu namanya, dia baru sadar bahwa orang yang ia temui adalah pemilik sebenarnya dari Pusat Perbelanjaan ini.
"Helma Krisan, apa kamu bisa berdiri?" Darel Yon kembali mengulurkan tangannya dan kali ini Helma menyambutnya dengan erat. Begitu dia bangun, dia dapat mendengar tawa samar di sekitarnya. Dia menjadi sedikit curiga dan secara alami melihat ke arah cermin. Hal pertama yang ia lihat adalah penampilannya yang mengerikan. Bedak, parfum, dan losion, campuran ketiganya membuat riasannya hancur dan pakaiannya menjadi kotor. Seperti Monster mengerikan dari dunia lain. Dia sangat malu sehingga dia menangis.
Darel Yon menatap tajam ke arah Haruka, dialah yang membuat masalah ini, tetapi dia malah bertingkah polos seolah bukan dia yang melakukannya. Darel Yon menghembuskan napas berat, dia adalah orang yang sibuk, jika bukan karena adik perempuannya, dia bahkan tidak peduli jika Soma Haruka membunuh seseorang. Namun, karena dia sudah menerjunkan diri, dia harus menyelesaikannya dengan cepat.
Darel Yon mengambil kartu nama lain dan memberikannya kepada Helma Krisan. "Pertama-tama pergilah ke kamar mandi dan bersihkan dirimu, aku akan memberikanmu pakaian pengganti nanti. Lalu, soal masalah ini, mari kita bicarakan di lain waktu. Ini kartu namaku, hubungi aku nanti."
Helma Krisan menerimanya dan menuruti perintah Darel Yon saat itu juga. Perasaannya saat ini menjadi tumpang tindih, di satu sisi ia merasa sangat marah dengan Soma Haruka, tetapi di sisi lain, berkat itu dia bisa mendapatkan nomor Darel Yon yang tingkat kelangkaannya setinggi langit.
Setelah meninggalkan mereka, Helma Krisan bergegas ke kamar mandi dan membasuh semua noda di tubuhnya. Melihat dirinya di cermin, dia kembali menangis. Berpenampilan seperti Monster di depan pria yang ia cintai, rasanya benar-benar pahit. Pikirannya terus paranoid dan meski Darel Yon berkata kalau dia akan bertanggung jawab atas masalah ini, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu terhadap Soma Haruka.
Dia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Ares Krisan. Dia berteriak sedih, "Kakak, tolong bantu aku memberi pelajaran pada Soma Haruka! Aku ingin dia kehilangan harga dirinya dan membuatnya tidak bisa lagi mengangkat kepalanya!"
__ADS_1
Ares Krisan yang saat itu sedang rapat memberi isyarat agar rapat dihentikan sebentar. Dia bangkit dari kursinya dan berjalan keluar. Dia bertanya, "Apa yang terjadi? Apa dia melakukan sesuatu padamu?"
Helma Krisan terisak dan mengeluh, "Istri kecil Kak Daniel Yon membuatku malu di depan banyak orang, terlebih di depan Darel Yon. Tolong lakukan sesuatu padanya, Kak!"
"Soma Haruka mempermalukanmu dan Darel Yon melihatnya?"
Ares Krisan menyeringai ketika matanya penuh dengan minat. Dia kemudian mencoba menenangkan adik perempuannya dan menghiburnya, "Jangan menangis, kamu ingin Soma Haruka dipermalukan di depan umum juga, kan? Itu sederhana, percayalah pada kakakmu."
"Dengarkan aku, Kak!" Helma Krisan menghentakkan kakinya dengan marah. "Ibu sepertinya melakukan kesalahan, wanita gila itu bukan gadis miskin rendahan yang suka pasrah dan berputus asa. Dia sepertinya sering bergaul dengan pelaku kriminal sehingga dia berani menyerangku di depan umum. Dia seperti rubah, aku khawatir perubahan Kak Daniel Yon, juga adalah ulahnya!"
"Pusat perbelanjaan itu milik Darel Yon dan Daniel Yon juga ada di sana, karena itu dia berani menggangumu. Namun, itu akan berbeda di pertemuan kelas atas yang sebenarnya, akan ada banyak orang-orang ternama dan kamera di mana-mana, dia tidak akan berani melakukan apapun di tempat seperti itu." Nada suara Ares Krisan menjadi dingin. "
Lagipula, orang-orang di lingkaran kelas atas adalah orang-orang yang tahu cara membunuh tanpa menumpahkan darah. Jadi, jika Soma Haruka menyinggung perasaan salah satu dari orang itu, kehidupannya akan hancur dan Ares Krisan tidak perlu mengotori tangannya sendiri.
"Dalam beberapa hari, keluarga Asrahan akan mengadakan pesta makan malam. Mereka yang hadir semuanya adalah orang-orang dengan status tinggi. Ketika saatnya tiba, kamu bisa mainkan trik kecil dengan kecerdikanmu. Jika kamu bisa mempermalukannya di sana, aku jamin dia tidak akan berani lagi melihat siapa pun."
__ADS_1
Kebanyakan konglomerat menghindari dan merasa jijik dengan orang-orang yang berstatus lebih rendah dari mereka. Mereka memegang status yang tinggi. Jadi, jika mereka berinteraksi dengan orang-orang kelas bawah, takutnya menodai status mereka yang mulia. Soma Haruka bahkan lebih rendah dari kelas bawah. Dia berasal dari Distrik kumuh yang menjadi sarang pelaku kriminal. Soma Haruka pasti menjadi pusat perhatian meskipun dia tidak melakukan apa-apa.
Jika istrinya dikucilkan dan dipandang rendah oleh semua orang, apa yang akan dilakukan Daniel Yon? Ares Krisan sangat menantikan untuk melihat sepupunya mengamuk di atas kursi rodanya.
Helma Krisan tidak bisa menahan tawa ketika dia memikirkan beberapa skenario licik yang bisa ia mainkan. Bibit kebencian kepada Soma Haruka sudah tertanam di hati semua orang, yang harus ia lakukan hanyalah menyiram air.
***
Setelah Soma Haruka berpisah dengan Darel dan Yuna Yon, dia kembali ke tempat Daniel Yon dan tidak menemukan Mario Krisan bersamanya. Seperti yang mereka rencanakan, mereka berganti pakaian dan menyelinap pergi ke rumah sakit lagi.
Melihat wajah Soma Haruka, Daniel Yon menjadi sedikit penasaran. "Apa ada hal menyenangkan yang terjadi?"
Soma Haruka mengangguk dan tersenyum cerah. Dia senang karena telah menghukum Helma Krisan yang merencanakan hal buruk kepadanya dan dia juga senang ketika melihat Yuna Yon menjadi jauh lebih baik sekarang.
Soma Haruka menurunkan kepalanya untuk berbisik ke telinga Daniel Yon. "Setelah melakukan beberapa perawatan lagi kepada kakimu, kamu akan sembuh dan bisa melakukan apa yang sebelumnya tidak bisa kamu lakukan. Bukankah ini layak untuk dibahagiakan?" Matanya berbinar seolah-olah ada ribuan bintang di dalamnya.
__ADS_1
Melakukan apa yang sebelumnya tidak bisa ia lakukan? Memikirkan itu membuat sesuatu melintas di kepala Daniel Yon. Dia tanpa sadar menundukkan kepala dan tidak berani untuk memperlihatkan wajahnya yang memerah.