
Ekspresi Mario Krisan pucat tatkala mengangkat kepalanya untuk melihat wanita yang memegang pegangan kursi roda. Rambut panjangnya yang hitam dikuncir kebelakang sehingga memperlihatkan lehernya yang putih. Wajahnya yang kecil sangat indah, dan secara keseluruhan sosoknya melambangkan kebangsawanan.
Soma Haruka hanya berdiri santai di balik kursi roda, meski begitu orang-orang yang melihatnya pasti merasa bahwa dia benar-benar cantik dan bukan gadis murahan yang bermasalah.
Pikiran Mario Krisan menjadi kosong sejenak. Wanita ini adalah Soma Haruka. Ibunya mengatakan kalau gadis itu tumbuh di daerah miskin tepatnya di Distrik Kumuh bersama dengan neneknya. Dia putus sekolah dan bergaul dengan preman setiap hari. Namun, Mario Krisan merasa ada informasi yang terlewatkan darinya, rasanya tidak mungkin, wanita yang terlihat mulia dan bijaksana di depannya ini adalah anak yang dikucilkan oleh keluarga Soma.
Mario menggigit bibirnya sendiri. Bagaimana bisa wanita sehebat ini malah dijodohkan dengan Daniel Yon. Seharusnya wanita yang dipilihkan untuknya itu kasar, jelek, dan secara keseluruhan biasa-biasa saja.
Mario Krisan tidak bisa menahan amarahnya. Wanita itu pasti adalah penyebab dari Daniel Yon yang mencoba bangkit kembali, dan ini terjadi karena para petinggi meremehkan Soma Haruka yang berasal dari Distrik Kumuh.
"Halo, sepupu ipar." sapa Mario Krisan.
Merasakan kebencian di mata Mario Krisan, wajah Daniel Yon menjadi gelap dan matanya yang hitam pekat menjadi semakin dingin. Keluarga Krisan nomor dua dalam keluarga besar Yon, mereka selalu ingin terlibat dalam kehidupan pribadinya dan mencoba untuk mengontrol dirinya dengan mengatakan kalau itu semua demi perusahaan.
Merasakan udara dingin yang memancar dari tubuh Daniel Yon, Mario Krisan tidak bisa membuka mulutnya kembali. Dia terdiam seperti patung, sampai akhirnya seorang perempuan menghampiri mereka.
__ADS_1
Perempuan itu adalah adik tiri dari Mario Krisan, dia terlihat sopan dan menyapa Soma Haruka dengan baik. "Mohon maafkan kakakku yang sudah tidak menyapamu dengan benar. Aku Helma Krisan, aku juga adik sepupu Daniel Yon. Ibuku adalah adik kepala keluarga sebelumnya dan saat ini menjalankan bisnis Yon Fashion dan Yon Beauty. Sedangkan ayahku adalah seorang profesor pada rumah sakit yang ada di belakang pusat perbelanjaan ini. Salam kenal."
Dari cara matanya memandang, Soma Haruka secara alami merasakan permusuhan yang datang dari Helma Krisan. Dari luar terlihat bersahabat, tetapi sebenarnya wanita itu membawa sesuatu yang busuk di dalam kepalanya.
Saat ini masih belum waktunya untuk berinteraksi dengan orang-orang dari keluarga cabang Yon. Di antara mereka pasti ada dalang kemalangan suaminya, tetapi karena Daniel Yon masih belum sehat, dia tidak boleh melakukan pergerakan yang mencolok lebih dari ini.
Soma Haruka hanya menganggukkan kepalanya dengan santai sebagai tanggapan atas perkenalannya. Mario Krisan kesal dengan sikapnya yang meremehkan, tetapi dia tidak berani menunjukkan kemarahannya di depan Daniel Yon.
Helma Krisan kemudian bertanya, ada nada ejekan dalam suaranya, "Apakah sepupu ipar datang ke Mal untuk membeli sesuatu? Sejujurnya Saya cukup akrab dengan tempat ini. Jika diperbolehkan, Saya ingin mengajak untuk berkeliling, bagaimana menurutmu, Sepupu Ipar?
Kakak laki-lakinya tidak bisa diandalkan. Jadi, dia akan menggantikannya untuk memberi pelajaran pada Soma Haruka. Helma Krisan ingin memberitahunya, walaupun dia menjadi Nyonya di keluarga Yon, dia hanyalah seekor semut kecil dari Distrik Kumuh yang bisa hancur dengan mudah ketika terinjak.
"Baiklah." Soma Haruka berbicara lebih dulu, dia tersenyum selayaknya gadis polos dari desa. "Maaf kalau Saya nantinya merepotkan." Dia bertingkah seperti bunga melati yang tidak berdaya.
Helma Krisan hampir saja tertawa. Bagaimanapun, Soma Haruka hanya gadis desa norak yang sangat mudah di baca. Semua emosinya ditampilkan di wajahnya, dan menilai dari kepolosannya, dia bukan ancaman sama sekali bagi keluarganya.
__ADS_1
Mata Mario Krisan penuh kepuasan, dia tidak tahu apa rencana adiknya, tetapi karena Soma Haruka menerima dengan mudahnya, dia berpikir bahwa rencana adiknya sudah berhasil setengahnya.
Senyum manis muncul di wajah Helma Krisan, dia berjalan mendekat dan memegang lengan Soma Haruka selayaknya sahabat dekat. Dia berkata dengan lembut, "Sepupu Daniel, kamu tinggal saja di sini dengan kakak laki-lakiku. Jangan khawatir, kami tidak akan lama!"
Soma Haruka menepis tangan Helma Krisan dengan tenang dan berkata, "Maaf, Saya tidak terbiasa melakukan sesuatu seperti ini. Sekali lagi tolong maafkan Saya." Saat Helma Krisan mengatakan kalau itu baik-baik saja, Soma Haruka kemudian menatap Kepala Pelayan Hans yang berdiri di sampingnya, "Aku akan pergi sebentar, tolong jaga Daniel selama itu."
Hans menatap ke arah Daniel Yon, dan ketika mendapati wajahnya cukup tenang, dia berpikir kalau Tuannya sudah setuju. Jadi, dia tidak punya pilihan lain selain melepaskan Haruka di tangan Helma Krisan.
Soma Haruka mengikuti Helma Krisan ke lantai lima yang menjual produk kosmetik. Helma Krisan mendekat ke samping Soma Haruka, sehingga dia bisa melihat bahwa wanita kampungan itu benar-benar tidak memakai riasan di wajahnya.
Meski tanpa riasan, kulitnya tetap terlihat cerah dan mulus, tidak ada noda apapun yang terlihat oleh mata. Melihat itu membuat Helma Krisan merasa sangat cemburu sehingga dia menggertakkan giginya. "Sepupu Ipar, apa kamu tidak punya riasan di rumah?"
Dia tersenyum licik ketika dia berjalan ke dalam toko. Dia berkata, "Saya dengar dari ibu kalau kakak berasal dari wilayah kumuh yang miskin. Jadi, Saya simpulkan kalau kakak tidak mengenal mana kosmetik yang bagus dan mana yang tidak. Sepupu ipar bisa tenang, Saya akan membantu untuk memilihnya."
Helma Krisan mendekati seorang petugas penjualan dan memintanya untuk mengeluarkan kosmetik bermasalah yang sedang ditarik dari pasaran. Setelah membuat permintaan mengerikan itu, dia beralih kepada Soma Haruka dan berkata dengan semangat, "Karena Sepupu ipar menikahi Daniel Yon, itu artinya kakak juga sudah masuk ke strata sosial tingkat tinggi, kakak harus mulai menggunakan riasan dan harus selalu tampil cantik. Penampilan seorang Nyonya juga mempengaruhi reputasi suami dan ayahnya!"
__ADS_1
Saat petugas penjualan dengan gugup memberikan set kosmetik kepada Helma Krisan, dia dengan santai meneruskan pidato panjangnya. "Wanita bangsawan punya kewajiban merawat dan menjaga tubuhnya, mulai dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Meski hanya sehelai rambut, jika ada yang terlihat tidak pada tempatnya, kita akan ditertawakan! Sebab itu kita harus sering ke salon dan memastikan rambut kita tidak rontok dan mengotori gaun yang indah."
Tatapan Helma Krisan jatuh pada rambut Soma Haruma. Rambutnya hitam legam, tebal, dan terlihat kuat, tetapi juga lembut. Ketika ia bergerak, itu berkilau bagaikan rembulan di malam yang gelap.