
Melihat apa yang Haruka lakukan, Tuan Jhon dan Rayan sangat terkejut. Melibatkan polisi dalam perkelahian adalah sebuah pelanggaran berat di Distrik Kumuh, mereka yang melanggarnya akan dicap sebagai musuh bersama dan akan diperlakukan seperti hewan. Namun, seperti yang Haruka katakan sebelumnya, saat ini mereka bukan lagi berada di Distrik Kumuh, aturan itu sudah tidak mengikat mereka lagi dan Rayan memahami apa yang coba Haruka sampaikan.
Jhon tidak memahaminya dan ia tidak bisa menerimanya. Jhon meracau tidak jelas, "Ka-kamu melanggar aturan. Apakah kamu tidak tahu bahwa jika kamu berkelahi, kamu tidak boleh melaporkannya ke polisi?! Kita seharusnya menyelesaikannya secara pribadi!"
Rayan mencibir, "Sekarang aku tahu kenapa aku tidak pernah mendengar namamu meski kita berasal dari wilayah yang sama. Kamu sangat bodoh, kamu pikir tempat ini masih Distrik Kumuh?"
Ketika polisi tiba, polisi menemukan dua orang yang duduk santai sambil mengobrol. Suasana di tempat itu terasa damai jika mengabaikan sekumpulan pria yang tergeletak di bawah kaki mereka.
Petugas polisi menghampiri mereka, terlihat jelas rasa penasaran di wajah mereka. "Apa kalian yang melaporkannya? Bisakah ikut kami ke kantor untuk mebuat pernyataan?"
Haruka langsung menyetujuinya, dia pikir ini juga akan menjadi pengalaman yang bagus untuk Rayan yang berpikiran sempit. Petugas polisi sangat akrab dengan Jhon dan yang lainnya. Petugas itu berkata kalau mereka tahu bahwa ada sekumpulan orang idiot yang mendirikan geng kecil dan berkeliaran di Distrik Beta.
Jhon benar-benar hanya seorang preman rendahan, dia dan gengnya tidak punya kemampuan yang cukup untuk melakukan banyak kejahatan. Mereka biasanya hanya berkeliaran untuk memungut biaya perlindungan dan sebagainya. Mengirim mereka ke kantor polisi tidak akan membuat mereka dihukum lama, tetapi itu cukup untuk memberi mereka kesempatan menjadi orang yang benar-benar baru.
Ketika mereka berdua selesai memberikan pernyataan di kantor polisi, mereka segera kembali ke rumah. Langkah kaki mereka disambut oleh aroma sedap dari hidangan yang sudah siap untuk disantap. Neneknya bergumam, "Kemana kalian berdua pergi? Kamu meninggalkan Nenek tanpa memberi tahu apapun, apa kamu senang membuat Nenek khawatir?"
Haruka dan Rayan saling memandang dengan perasaan tak berdaya. Gara-gara masalah dengan Jhon, mereka menjadi lupa waktu dan membuat nenek marah.
Haruka mengeluarkan makanan ringan dari tas belanja dan meminta Sintia dan Bari untuk membujuk neneknya. Baru kemudian masalah itu berakhir dan mereka semua dengan senang hati pergi ke meja untuk makan.
__ADS_1
Di sore hari, Haruka kembali ke kediaman keluarga Yon. Adik-adik iparnya sudah kembali dari sekolah dan berkumpul di meja makan kecuali Darel Yon. Suasananya sangat canggung, tidak ada satupun dari mereka yang berbicara.
Pelayan mendengar pintu terbuka dan bergegas berlari ke pintu. "Nyonya, Anda akhirnya kembali. Haruskah saya menyajikan makan malam?" tanya Bi Liam dengan senyum lebar di wajahnya.
"Ya."
Haruka berjalan melewati orang-orang yang duduk di meja makan, dan akhirnya berhenti di sebelah Daniel Yon. Dia bertanya tepat di telinga Daniel, "Apakah kamu sudah lama menunggu?"
Telinga Daniel memerah, ia menggelengkan kepalanya dan menjawab singkat, "Tidak."
Haruka memutar pandangannya. Dia hanya menikah dengan keluarga Yon selama satu hari, tetapi begitu dia pergi, rumah itu sepertinya kekurangan sesuatu dan menjadi suram kembali. Rasanya kosong dan tak bernyawa. Bahkan ketika Haruka masuk ke kediaman ini, para pelayan sangat senang dan menyambutnya seperti seorang Ratu. Seolah mereka sudah menunggu lama dengan hati cemas menantikan kembalinya orang yang membawa energi segar ke kediaman keluarga Yon yang suram.
"Tentu saja." Meskipun Haruka terkejut, dia tidak menolak. Neneknya juga pasti akan suka dengan anak yang penuh energi seperti Dean, dan Haruka merasa kalau adik ipar termudanya itu akan sangat cocok dengan Sintia yang juga punya banyak energi.
Haruka tersenyum dan menyerahkan salah satu tas belanjaan di tangannya kepada Dean. "Ada beberapa camilan di dalam. Cobalah nanti. Rasanya cukup enak."
Dean mengulurkan tangannya dengan linglung. "Kakak membelikan ini untuk aku?"
Di dalam tas belanja ada setumpuk makanan ringan berwarna-warni. Warnanya cerah dan kemasannya kekanak-kanakan. Mata Dean berkilat, air matanya terjatuh, tetapi dia berusaha menutupinya dengan senyuman. Dia merasa sangat bahagia, meski ini cuma makanan murah yang bisa ia beli bersama dengan tokonya, itu masihlah pemberian yang tulus. Sebuah hadiah tulus yang tidak pernah ia dapatkan dari ibunya.
__ADS_1
"Ya, tapi kamu harus menghabiskan makananmu sebelum kamu bisa makan camilan itu." Soma Haruka mengangguk sambil tersenyum. Dia melirik ke arah Yuna, gadis kecil itu menatap Dean dengan mata cemburu. Haruka mengeluarkan tas belanja lain dan menyerahkannya kepada Yuna. "Yuna juga dapat, kok."
Mata Yuna cerah dan wajah kecilnya merah saat dia mengulurkan tangan untuk mengambil tas belanja, tapi Darel menghadangnya.
"Kakak!" Yuna marah dan menggigit pelan lengan besar kakak laki-lakinya itu.
"Tubuh Yuna masih lemah, tolong jangan memberinya makanan ringan." Darel membuka tas belanja itu dan memeriksa isinya.
Haruka memberi Yuna madu, pisang, yogurt, dan buah beri. Ada beberapa cemilan lain dan semuanya Haruka pastikan cocok untuk Yuna. Darel menghembuskan napasnya yang berat, dia melirik ke arah Haruka yang tersenyum sangat puas, seolah berkata kalau dia jauh lebih peduli kepada Yuna daripada kepedulian Darel.
Darel menundukkan kepalanya dan memberikan tas belanja itu kembali kepada Yuna. Napas Darel sangat bau, Yuna mengambil kembali tas belanjanya dan segera melompat menjauh darinya, gadis itu bersembunyi di belakang Haruka sambil menutup hidung. Yuna memegang bingkisan erat-erat di lengannya. Kemudian, dia berbisik, "Terima kasih, kakak ipar."
Tampilan malu-malu Yuna sangat menggemaskan. Haruka tidak bisa menahan untuk tidak menepuk kepalanya, dan membuat senyum di wajah gadis itu menjadi lebih lebar.
Darel yang malu ingin segera pergi, tetapi Haruka menghentikannya. Haruka awalnya tidak menyiapkan apa-apa untuk Darel, tetapi dia terus teringat dengan keusilannya di pagi hari, Haruka berhenti di supermarket dekat kediaman keluarga Yon dan membeli hadiah untuk Darel.
Saat kakak iparnya juga memberinya camilan, pipi Darel Yon memerah. Dia dengan cepat membuka tas belanja dan melihat apa isinya. "Permen penyegar napas?"
"Iya, mulutmu berbau busuk." Kata-kata Haruka menyakiti hati Darel. Sebab siapa dia memiliki napas sampah seperti ini?
__ADS_1