Menikahi Tuan Muda Lumpuh

Menikahi Tuan Muda Lumpuh
Bab 92 : Dua Sisi Mata Koin


__ADS_3

"Kakak Ipar?" Mayuna Yon menatap mata Soma Haruka dan tanpa sadar ketakutan muncul di dalam hatinya. Badannya langsung melemas seketika. "Tidak, tidak. Yuna tidak berniat seperti itu, Yuna hanya..."


Yang melakukan itu tadi bukan dirinya, kemarahan mengambil alih tubuhnya dan membuatnya kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Dia tidak melakukannya dengan sengaja. Paranoid seketika memakannya, dia bertanya-tanya apakah kakak iparnya akan berpikir bahwa dia gadis dengan mental tidak stabil yang berbahaya. Lagi pula, dia baru saja ingin menusuk wajah seseorang. Dengan ini, kakak ipar dan saudara-saudarinya mungkin merasa bahwa dia gadis yang jahat dan menjauhinya. Memikirkan ini dia menjadi sangat khawatir tidak akan ada lagi yang mau berbicara dengannya.


Mayuna Yon menggigit bibirnya dengan erat, mengabaikan rasa sakit di atasnya. Meski dia tidak peka, dia bukan gadis bodoh. Meski samar, dia tahu bahwa kakak laki-laki yang semula sangat menyayanginya mulai menjaga jarak dengannya. Memikirkan kakak iparnya juga menjauhkan diri darinya membuat tubuh Mayuna Yon gemetar.


"Tanganmu ini harusnya digunakan untuk bermain musik. Mengapa kamu tidak menjaganya dengan benar?" Soma Haruka tidak memperhatikan perubahan suasana hati pada Mayuna Yon. Dia hanya menatap telapak tangannya yang memerah dengan serius. Ketika dia melihat bahwa Mayuna Yon tidak terluka karena serpihan gelas, dia menghela napas lega.


Soma Haruka menyingkirkan serpihan gelas kemudian menjadi sangat marah sehingga dia mendorong dahi Mayuna Yon dengan ujung jarinya. "Apakah kamu tidak takut melukai tanganmu ketika kamu mengambil pecahan kaca? Jangan lakukan ini lagi, mengerti?" Mayuna Yon hanya melebarkan matanya dan tidak bisa mengatakan apa-apa.


"Apakah itu menyakitkan?" Soma Haruka bertanya, "Beberapa tamparan yang kamu berikan padanya barusan sangat keras. Aku khawatir telapak tanganmu akan sakit."


Melihat ini, Bibi Namira Krisan menggigit bibirnya. Soma Haruka saat ini terlihat seperti orang tua yang menyayangi anaknya dalam tingkatan yang tidak masuk akal. Dia tidak peduli betapa kejamnya kelakuan Mayuna Yon, selama dia tidak terluka, itu tidak masalah sama sekali bahkan jika lawannya terbaring di lantai dengan pipi yang bengkak.

__ADS_1


Helma Krisan juga sangat marah ketika dia mendengar itu. Dia adalah orang yang ditampar Mayuna Yon, dalam kata lain dia adalah korban kekerasan di sini. Namun, Soma Haruka malah bertanya kepada pelaku, apakah tangan yang digunakan untuk memukulnya baik-baik saja? Benar-benar di luar nalar!


"Kakak Ipar..." Mayuna Yon merasakan perasaan yang tak terlukiskan di hatinya. Setelah beberapa lama, dia bertanya dengan lembut, "Kak, apakah kamu tidak takut pada Yuna?" Dia ingin tahu apakah Soma Haruka takut akan balas dendamnya yang kejam barusan. "Kenapa aku harus takut? Kamu dengar apa yang kakak laki-lakimu katakan sebelumnya, kan?"


Soma Haruka memandang Mayuna Yon dengan aneh kemudian dia tersenyum. "Lihatlah lengan dan kakimu yang kurus. Kamu tidak memiliki kekuatan bahkan untuk memukul seseorang beberapa kali. Staminamu juga sangat lemah. Aku yakin Maestro Roseta juga memintamu untuk merawat diri. Lain kali, bangun pagi-pagi dan berlatihlah bersamaku."


Ketika Darel Yon mendengar bahwa Mayuna Yon akan berlatih dengan Soma Haruka, Darel Yon menjadi penasaran dengan metode latihannya dan tanpa ia sadari menunjukkan semangatnya. "Jika diperbolehkan, bisakah aku ikut denganmu, Kakak Ipar? Aku juga sudah lama tidak menggerakkan badanku."


Soma Haruka meliriknya dengan kepedulian yang rapuh. Dia tidak setuju atau menolak. Bisa dikatakan hadir atau tidaknya Darel Yon, dia tidak peduli. Darel Yon sudah mampu mandiri dan bisa menjaga dirinya sekarang. "Lakukanlah," kata Soma Haruka singkat.


Mayuna Yon bisa merasakan bahwa Soma Haruka melindunginya tanpa syarat. Dia mengedipkan matanya dan hidungnya terasa sedikit sakit. Dia tidak bisa menangis. Dia tidak bisa menangis lagi. Dia telah berjanji pada kakak laki-lakinya bahwa dia tidak akan menangis sampai orang-orang yang menindasnya menangis di bawah kakinya.


Dicintai oleh orang lain membuat Mayuna Yon merasa hangat. Jantungnya berdebar kencang dan dia merasa sangat bersyukur. Dia tidak tahan lagi dan memegangi dadanya. Perasaan aneh itu tak tertahankan.

__ADS_1


Mayuna Yon tiba-tiba bertindak genit, dia ingin lebih dicintai. Dia mengulurkan tangannya di depan Soma Haruka dan cemberut. "Sakit, kakak ipar. Yuna baru tahu kalau memukul seseorang ternyata sangat menyakitkan."


"Tentu saja, itu akan menyakitkan." Soma Haruka meraih tangannya dan nemberi Mayuna Yon pijatan untuk mengendurkan ototnya. "Dengan pergelangan tangan lemah seperti ini jangan coba-coba untuk meninju orang lain. Haih, bahkan kamu tidak tahu bagaimana cara memukul seseorang, tetapi kamu melakukannya dengan sangat keras dan melukai diri sendiri. Kamu harus belajar bagaimana melakukannya dengan benar."


"Baik, Kak. Yuna mengerti." Mayuna Yon berseri-seri dengan gembira dan menjawab dengan patuh. Di pihak mereka, ada kehangatan dan harmoni. Namun, Helma Krisan dan Bibi Namira Krisan tidak bisa menerima reaksi Soma Haruka. Helma Krisan menutupi wajahnya dan menangis. Dia tidak tahan lagi dan berlari keluar dari pintu. "Awas saja kalian!"


"Helma Krisan!?" Bibi Namira Krisan tidak bisa menghentikannya. Karena keluarga Yon menindas putri mereka, dia marah. "Daniel Yon, Helma Krisan adalah keluargamu yang secara biologis terkait. Apakah kamu hanya akan melihat sepupumu diganggu seperti ini?"


"Keluarga kata Bibi?" Sikap Daniel Yon dingin, "Sejak kapan Helma Krisan mengubah nama belakangnya menjadi Yon? Kenapa tidak ada yang memberitahuku?"


"Daniel Yon, kamu!?" Bibi Namira Krisan terdiam sejenak dan wajahnya masam. "Baiklah, baiklah. Jadi, kamu tidak pernah memperlakukan keluarga kami sebagai keluargamu juga? Soma Haruka, aku telah melakukan segalanya untukmu dan memperlakukanmu dengan tulus, tetapi beginikah caramu memperlakukan Helma Krisan, sepupu iparmu? Helma Krisan sudah minta maaf padamu dan dalam masalah ini dia telah mengatakan bahwa dia tidak melakukannya dengan sengaja. Kenapa kamu harus menggertaknya seperti ini!?"


"Helma Krisan memegang kebenarannya sendiri dan itu juga berlaku untuk Mayuna Yon, dia juga punya kebenarannya sendiri." Soma Haruka melirik Bibi Namira Krisan dengan dingin dan berkata, "Bibi, seperti halnya Bibi percaya pada kebenaran dari putrimu, kami juga percaya pada kebenaran adik kami. Bukankah apa yang kita lakukan sama saja? Kenapa Bibi punya masalah dengan itu?"

__ADS_1


__ADS_2