
Pertanyaan tiba-tiba dari Haruka membuat Darel terkejut dan menjatuhkan garpunya. Darel melirik wajah Haruka dan Daniel, memastikan ekspresi wajah keduanya tidak marah. Setelah memastikan ia menjawab, "Yuna biasanya makan di kamarnya. Apa perlu aku memanggilnya untuk turun?"
"Tidak," jawab Haruka. "Aku akan naik ke atas dan memanggilnya sendiri," sambungnya.
Darel menggeser bangkunya, membiarkan pelayan mengambil kembali garpu yang jatuh dan menggantinya. Pikiran Darel hanya tertuju pada adik perempuan yang ia gagal membawa keluar dari kamarnya. Melihat Daniel berhasil dibuat keluar oleh Haruka, Darel berharap lebih dan dengan senang hati akan membantunya.
"Kamar Yuna ada di lantai ketiga, pintu merah muda bergambar beruang," kata Darel.
Saat Haruka sampai di lantai tiga, dia bisa mendengar lantunan lagu yang diiringi oleh suara gitar. Itu adalah suara gadis kecil yang manis dan merdu, tetapi mengandung kesedihan.
Haruka berhenti tepat di depan pintu merah muda yang dimaksud oleh Darel, suara nyanyian itu juga berasal dari dalam sana. Lagu sedih yang Yuna nyanyikan membuat Haruka mengingat kembali tentang informasi yang berhasil ia dapatkan tentang Yuna.
Kepala keluarga Yon sebelumnya adalah seorang laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Meskipun dia sudah memiliki beberapa istri, dia masih sering mempermainkan banyak wanita untuk memenuhi kesenangan batinnya sendiri. Ibu dari Mayuna Yon adalah salah satu dari wanita yang menjadi korbannya.
Ibu Yuna tidak bisa menahan kesedihannya ketika pria yang mengatakan kata cinta di telinganya berkali-kali menjadi orang yang benar-benar berbeda setelah ia menentang perintah pengguguran kandungan dan melahirkan Mayuna Yon.
Di bawah tekanan, Ibu Yuna perlahan menjadi gila. Akibatnya, lingkungan Yuna dibesarkan benar-benar yang terburuk. Kemiskinan dan orang tua yang tidak sehat mentalnya, seandainya Daniel Yon tidak menemukannya, entah bagaimana jadinya.
Haruka mengangkat tangannya dan mengetuk pintu.
Tok Tok Tok
Yuna yang terkejut tak sengaja menjatuhkan gitarnya. Setelah beberapa suara gaduh, tidak terdengar suara lain dari dalam kamar tersebut.
Haruka terus mengetuk pintu Yuna dengan sabar, sesekali dia memanggil nama Yuna, tidak lupa juga memperkenalkan dirinya sebagai istri dari kakaknya.
__ADS_1
Setelah menunggu cukup lama, langkah kaki terdengar menghampiri pintu dan pintu itu sedikit terbuka. Begitu Haruka mencoba membuka pintu lebih lebar, Yuna langsung melompat ke pojok kasurnya.
Gadis kurus itu memeluk boneka beruangnya, menyembunyikan sebagian tubuhnya dengan selimut. Rambutnya kusut tidak terurus, kulitnya yang putih sama pucatnya dengan kulit Daniel.
"Apa tidak ada yang normal di keluarga ini?" batin Haruka.
Haruka mengambil gitar yang dijatuhkan gadis itu ke kolom meja dan dengan lembut memperkenalkan dirinya kembali, "Halo, saya istri baru kakak laki-lakimu, Soma Haruka. Mulai sekarang, kita akan menjadi keluarga. Senang bertemu denganmu."
Yuna tidak bergerak dari tempat duduknya, hanya menatap Haruka dengan kegelisahan yang entah datang darimana.
Haruka tidak mudah menyerah. Menghadapi gadis lemah seperti Yuna tidak mungkin menggunakan cara keras seperti yang ia lakukan kepada Darel. Haruka akan membuktikan bahwa dirinya adalah seorang wanita yang fleksibel. Dia bukan cuma bisa menjadi kejam dan sadis, tetapi juga lemah lembut.
Haruka berkata pada dirinya sendiri, "Sudah lama sekali aku tidak menyentuh gitar, karena dulu aku hidup dengan kemiskinan, begitu gitarku hancur, aku tidak bisa membelinya kembali."
Ketika Haruka menyebut tentang gitar, Yuna akhirnya bereaksi. Dia dengan takut-takut mengangkat kepalanya, memperlihatkan sepasang mata yang tidak tahu apa-apa tentang dunia.
"Ini gitar yang cantik, kamu harus menjaganya dengan baik. Aku mendengar permainanmu, suaramu sangat cantik, permainan gitarmu pun sangat menarik."
Yuna memucat, deretan kenangan buruk masuk ke dalam kepalanya. Apakah kakak iparnya juga akan mengejeknya? Sama seperti yang lain? Mereka yang menyadari bakat Yuna berakhir membenci dan mengejeknya karena Yuna tidak berani tampil di atas panggung. Mereka mengatakan kalau Yuna telah menyianyiakan bakatnya.
Yuna menundukkan kepalanya, menarik selimut dan bersembunyi seperti kura-kura.
"Bolehkah aku meminjam gitarmu sebentar?" tanya Haru dengan lembut. Yuna memunculkan sebagian kepalanya dan mengangguk. Meski penasaran, rasa takut membuatnya linglung.
Melodi yang lembut mulai memenuhi ruangan mengikuti gerakan tangan Haruka. Yuna terusik dengan musik yang iparnya mainkan. Wanita itu memainkan lagu yang sama, tetapi mengubah sebagian liriknya. Hebatnya, melodi sedih itu menjadi dipenuhi oleh kehidupan.
__ADS_1
Yuna menjatuhkan selimutnya, matanya memerah, air mata sebening kristal mengalir bebas di pipinya. Gadis kecil itu mulai memahami arti dari lirik yang diubah oleh Haruka. Iparnya yang cantik itu menekankan kalau masa depan yang cerah bisa diraih dan kesedihan bukanlah sebuah jawaban.
Yuna tidak bisa menahan diri untuk tidak memerah, meski itu hanya lagu, ia bisa merasakan kasih sayang di dalamnya. Begitu Haruka selesai dengan lagunya, mata gadis kecil itu berputar-putar, tidak tahu harus berkata apa.
Haruka menghampirinya, naik ke kasur dan menyapu air matanya. Yuna menatap iparnya, mendapati rambut hitam Haruka yang sangat cantik.
Kakak perempuan membencinya dan pergi ke luar negeri dan kakak laki-lakinya sudah tidak pernah mengunjungi kamarnya lagi, Yuna selalu mengingat kejadian itu hingga terus masuk ke dalam mimpi. Dia sangat menyesalin perbuatannya yang tidak menerima uluran tangan mereka.
Kini kejadian yang sama terulang, kakak iparnya yang sekarang mengulurkan tangan, Yuna sangat senang, kali ini dia tidak akan melepaskan genggamannya.
"Kamu sangat hebat, kakak!" teriak Yuna dengan senyum polos yang begitu indah.
Distrik kumuh sebagian besar dihuni oleh para pengemis dan pengamen. Keterampilan yang paling mudah dipelajari di sana adalah menyanyi dan bermain gitar.
Mata Haruka melengkung, membalas senyum polos anak itu dengan senyum tulusnya. "Yuna, seluruh keluarga ada di bawah sekarang. Maukah kamu ikut denganku untuk makan malam bersama?"
Yuna telah bertekad untuk menerima uluran tangan orang-orang kali ini. Jadi, meskipun takut, Yuna tetap menerima ajakan Haruka.
Yuna bangkit dari kasurnya, menerima tangan Haruka dan keluar dari zona amannya. Mulai melangkah ke dunia baru yang luas terhampar.
Ketika Haruka menggandeng tangan Yuna hendak membawanya ke bawah. Mereka menemukan Darel Yon yang gelisah duduk di anak tangga sambil mengacak-acak rambutnya.
Darel gelisah, mengingat kepribadian agresif dan kejam kakak iparnya, ia menjadi takut kalau Yuna dipukul sama sepertinya.
Darel tahu ia harus menetapkan batas agar Haruka tidak terlalu keras pada adik perempuannya, tetapi karena dia sudah dikalahkan oleh Haruka, menggunakan fisik tidak memungkinkan.
__ADS_1
Satu-satunya pilihan adalah dengan mengancamnya dengan lisan. Namun, Darel sadar diri, dirinya adalah orang yang kaku dan sulit memulai percakapan.
"Tolong jangan terlalu keras kepadanya, jika dia salah timpakan saja hukumannya kepadaku. Setelah ayah meninggal dunia, aku baru mengetahui kalau aku memiliki seorang adik perempuan. Yuna dibesarkan ditempat yang buruk, mungkin karena itu dia sulit bergaul dan takut orang lain akan membenci tindakan yang ia lakukan," gumam Darel melatih kata-katanya.