Menikahi Tuan Muda Lumpuh

Menikahi Tuan Muda Lumpuh
Bab 23 : Kami Datang


__ADS_3

Saat mereka memasuki kediaman keluarga Rama, mereka bertemu dengan Rama Ron dan pelayannya. Dia terkejut dan bertanya dengan gugup, "Kau, apa yang kamu lakukan di sini?"


Bibir Darel Yon sudah terangkat, tetapi dia disela oleh pelayan Rama Ron. "Ada yang bisa Saya bantu, Tuan?" Dia bertanya.


Haruka menatap wajah Darel Yon dan ketika adik iparnya itu mengangguk, Haruka menjawab, "Kami datang ke sini untuk menemui kepala keluarga Rama."


"Apa Anda sudah membuat janji?" Pelayan itu menyipitkan matanya. "Saya tidak diberitahu akan ada tamu sebelumnya. Saya takut pertemuan ini tidak dijadwalkan." Dia menambahkan.


Haruka menggelengkan kepalanya pelan, "Tidak, kami tidak merencanakan pertemuan ini sebelumnya."


Pelayan itu mencuri pandang ke arah Rama Ron, dan ketika Tuan Mudanya itu menggelengkan kepala, Pelayan itu berkata, "Kalau begitu Saya tidak bisa membiarkan kalian bertemu dengan Kepala Keluarga."


Darel Yon mengencangkan dasinya, dia berkata pada dirinya sendiri untuk tidak gentar dan tetap percaya diri. Darel Yon maju selangkah dan memberikan dokumen kepala pelayan itu.


"Mohon maaf?"


Darel Yon tersenyum dan mengedipkan mata kirinya. "Kamu akan tahu ketika melihatnya."


Pelayanan itu melihat sampulnya dan mendapati label keluarga Yon yang khas tertempel di sana. Saat dia melihat itu, dia menjadi berkeringat dan gugup. "Tolong tungu sebentar, Tuan." Dia gelisah dan segera berlari ke dalam sambil memeluk dokumen dari Darel Yon.


"Darel Yon, jawab aku! Apa yang kamu lakukan di sini?" Rama Ron kembali bertanya. Tingkah pelayan sebelumnya membuatnya khawatir. Tingkah Darel Yon sudah berubah, dan itu membuat Rama Ron mulai takut dengan kekuatan kekuarga Yon yang bisa dengan mudah menjatuhkan keluarganya.

__ADS_1


Saat Darel hendak menjawabnya, pelayan sebelumnya datang dan kembali menghentikannya. "Tuan, Kepala keluarga sudah menyetujui pertemuan ini. Lewat sini, Tuan."


Pelayan itu mengarahkan mereka ke tempat kepala keluarga Rama berada dan Haruka langsung mengikutinya. Darel Yon berhenti sebentar dan menjawab sedikit pertanyaan Rama Ron.


"Jangan Khawatir, aku kemari hanya untuk berbicara dengan pamanku. Oh, benar, karena ini masih berhubungan denganmu, bagaimana jika kamu juga ikut?"


Rama Ron terdiam. Darel Yon berkata agar dia tidak Khawatir, tetapi kata-kata terakhir malah membuatnya tidak tenang. Rama Ron mengikuti langkah mereka dengan sedikit menjaga jarak.


Saat mereka sampai di kantor kepala keluarga Rama, mereka langsung disambut oleh senyum cerah dari Rama Ryan. "Selamat datang, Tuan Muda. Apa ini pertemuan pertama kita? Kalau begitu biarkan Saya memperkenalkan diri. Meski Saya yang termuda di keluarga, Saya adalah Kepala Keluarga Rama. Nama Saya Rama Ryan, Anda bisa memanggil Saya senyaman yang Anda bisa."


Haruka tersenyum ketika mendengarnya. Ini adalah sambutan yang normal ketika bertemu dengan penyandang nama besar keluarga Yon yang luar biasa. Kelihatan seperti penjilat, tetapi itu sebenarnya adalah etika dalam dunia bisnis, dunia di mana politik ikut bermain di dalamnya.


"Kalau begitu, aku akan memanggilmu dengan sebutan 'Paman'. Apa itu tidak masalah?" Darel Yon sedikit menundukkan kepalanya. Itu bukan penghormatan untuk kepala keluarga Rama, tetapi dari yang muda kepada yang lebih tua.


Darel duduk berhadapan dengan Rama Ryan saat pelayan datang membawa minuman. "Kepala keluarga." Pelayan itu memanggil Rama Ryan dan meletakkan teko dan cangkir ke atas meja. Rama Ron yang masuk mengikuti pelayan itu dengan canggung duduk di samping ayahnya sambil menundukkan kepala.


"Ah? Teh putihnya sudah datang. Apa Anda menyukai teh putih Tuan Muda? Perlukah Saya menyajikan yang lain untuk Anda?" Rama Ryan bertanya, dia mengangkat teko dan menuangkan teh ke gelas Darel Yon sambil sedikit melirik ke arah putranya.


Rama Ron hidup bebas dimanjakan, anak itu sebelumnya tidak pernah tertarik dengan pekerjaan ayahnya. Jadi, melihatnya memasuki ruang kerja adalah pemandangan yang sangat langka. Rama Ryan kebingungan dan mulai berpikiran buruk.


"Ya, aku menyukainya." Darel Yon mengangkat gelasnya yang sudah terisi dan menghirup aroma segar teh dan menikmatinya.

__ADS_1


"Mohon maafkan Saya sebelumnya, tapi siapa wanita yang berada di samping Anda?" Wanita itu sangat cantik dan senyumnya semanis madu, tetapi memiliki intimidasi kuat seolah sedang menetapkan teritorial, tidak mungkin gadis itu bawahan Darel Yon. Jadi, dia bertanya dengan hati-hati.


"Tidak masalah Tuan Rama, Sayalah yang harusnya meminta maaf karena belum memperkenalkan diri. Saya Soma Haruka, kakak ipar, Darel Yon. Saya ada di sini sebagai wali."


Mata Rama Ryan membulat. Dia merasa bersyukur tidak menyinggung Nyonya baru keluarga Yon, tetapi di sisi lain ia merasa gelisah karena Darel Yon membawa walinya. Dia tahu betul apa maksudnya itu.


"Si-silahkan duduk, Nyonya Yon. Sekali lagi Saya minta maaf karena tidak mengenali Anda."


Di masa lalu, ketika kakak perempuannya masih hidup, kepala keluarga Yon membuka jalan baginya untuk menjadi Jaksa Agung, tetapi dia waktu itu dengan bodoh menolaknya untuk menjadi anggota DPR. Pada akhirnya ia gagal dan kehilangan segalanya.


Dalam situasi yang kalut itu kakak perempuannya meninggal dunia, dan dia diberikan kesempatan lain dengan mengelola pusat perbelanjaan sampai pewaris sahnya cukup dewasa untuk mengambilnya kembali.


"Tenang saja, Paman. Kakak Iparku bukan seseorang yang bisa menyimpan dendam. Daripada itu, Paman, Rama Ron berkata, pusat perbelanjaan itu milik ayahnya. Apa Paman bisa bertanggung jawab atas klaim tersebut?"


Mata Haruka menjadi gelap. Darel Yon sudah salah, dia adalah seorang wanita pendendam, itu sebabnya dia bisa berdiri di sini sebagai kakak iparnya. Di lain sisi, wajah Rama Ryan membiru sedangkan Rama Ron memerah.


"Apa? Bertanggung jawab apanya? Pusat Perbelanjaan itu memang milik ayahku!" Rama Ron meninggikan suaranya.


Wajah Rama Ryan memucat mendengarnya. Dia menundukkan kepala, mengangkat tangannya dan menekan kepala Rama Ron ke bawah. "Tolong maafkan anak ini. Sayalah yang bersalah karena tidak pernah memberitahunya."


Rama Ron terdiam seribu bahasa. Dia tidak mengerti apa yang ayahnya katakan dan mengapa mereka harus tunduk kepada Darel Yon yang haknya untuk menjadi kepala keluarga Yon sudah gugur sejak lama. Rama Ron tidak bisa menerimanya, ayahnya adalah Kepala dari keluarga advokat terkemuka, tetapi harus membungkuk di hadapan kriminal yang memanfaatkan kekuatan keluarganya untuk lepas dari pidana.

__ADS_1


"Seratus lima belas miliar." Darel Yon tiba-tiba membuka mulutnya. Haruka yang mendengarnya bergidik dan jadi merinding. Itu adalah jumlah semua uang yang sedang ia pegang sekarang.


"Maaf?" Rama Ryan tidak mengerti. "Paman, aku ini bodoh. Tidak sepertimu, jika pusat perbelanjaan itu dipindahkan ke tanganku, itu akan hancur." Darel Yon menghabiskan teh di gelasnya. "Seratus lima belas miliar rupiah. Jika Paman memberiku uang sebanyak itu sekarang, pusat perbelanjaan itu akan berpindah tangan."


__ADS_2