
Saat mobil melewati garis finis, orang-orang yang menyaksikan balapan bersorak seolah-olah mereka menyambut seorang Pahlawan. Hujan deras sudah berhenti dan badai telah berlalu. David Yon mendorong pintu dengan seluruh tenaganya dan keluar dari mobil dengan wajah pucat.
Wajah tirus wanita kelinci tersenyum seperti bunga. "Tuan Muda Kedua, keterampilan mengemudi kakak iparmu luar biasa. Lihat, kalian sudah mencapai garis akhir kurang dari sepuluh menit."
Tangan David Yon gemetar saat dia menyalakan sebatang rokok. Bau rokok mengalir ke tenggorokannya, membuatnya terbatuk-batuk. Bagaimana mungkin mereka tidak memenangkan balapan ketika Soma Haruka mengemudi seperti orang yang tidak waras. Selama pembalap lain masih ingin hidup, mereka tidak boleh mengikuti kecepatannya.
David Yon tanpa sadar mencari Soma Haruka, hanya untuk melihat wanita itu dengan tenang turun dari kursi pengemudi. Tangannya yang ramping merapikan rambutnya yang panjang, memperlihatkan lehernya yang putih. Dia tersenyum cerah dan mengatakan sesuatu yang menenangkan kepada Kepala Pelayan Hans.
Saat ini, dia terlihat sangat cantik dan gerakannya elegan lagi menawan. Mustahil untuk mengatakan bahwa dia orang yang sama dengan wanita gila yang bermain di antara garis hidup dan mati seseorang. Sebaliknya, dia tampak tenang seperti seorang wanita muda dari keluarga bangsawan yang sedang menghadiri jamuan makan kerajaan.
"Apa dia bos besar di wilayah kumuh atau semacamnya? Namun, kenapa aku tidak pernah mendengar tentangnya?"
Menyadari tatapan David Yon, Soma Haruka berjalan mendekat dan bertanya dengan tenang, "Bagaimana? Apa kamu mau ikut satu putaran lagi?" David Yon diam-diam mundur selangkah. "Ti-tidak, ini sudah terlalu larut," kilahnya.
"Eh? Apa yang kamu katakan Tuan Muda, kehidupan malam bukannya baru saja dimulai?" Wanita kelinci dengan ceroboh mencoba menggodanya. David Yon menatap gadis itu dengan rasa kesal. Dia ingin mengikatnya di atas mobil dan membawanya berkeliling tiga belas putaran.
Mata Soma Haruka melengkung saat dia melihat jam tangannya. "Sepertinya Tuan Muda Kedua takut? Saya pikir orang yang suka balapan tidak takut mati." Kata-katanya mengandung sedikit ejekan, tetapi itu juga tampak tulus memintanya untuk berhenti.
Perasaan David Yon bertentangan. Sebelum hari ini, dia merasa bahwa dia tidak takut mati, tetapi setelah kejadian hari ini, dia tidak begitu yakin. Satu hal yang dia yakin bahwa orang di depannya ini berbeda, sesosok manusia alien yang kejam dan tidak takut mati, sama seperti adiknya, Darel Yon.
__ADS_1
"Kalau kamu tidak ingin balapan lagi, maka ikutlah pulang denganku. Jangan lupa kalau kamu sebelumnya berjanji untuk mendengarkan kata-kataku."
Soma Haruka tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia berbalik dan masuk ke mobil bersama dengan Kepala Pelayan Hans. Dia menurunkan jendelanya dan menatapnya dengan tenang.
Kepala David Yon sedikit linglung. Dia sudah berjanji, dan jika dia tidak menepatinya, harga diri sebagai seorang pria akan dipertanyakan. Dia mendorong gadis kelinci yang membuatnya kesal dan berjalan untuk masuk ke mobil dengan langkah kaki yang berat.
Saat dia hendak membuka pintu, mobil asing melompat turun dari atas gunung dan hampir menabraknya. Mobil itu berasal dari Arena Kematian, tetapi bukan peserta balapan.
Seorang pria berbadan tegap turun dari mobil, dia memakai baju tidur biru berbintang yang tidak cocok dengan penampilannya yang garang. Dia berlari ke arah David Yon dan menendangnya hingga terpental ke aspal kotor.
"Aku menyerah menjadi Poliglot." Kata pria itu yang tidak lain adalah Darel Yon.
Ketika mereka sampai di rumah, hari sudah sangat larut. Soma Haruka meminta Kepala Pelayan Hans untuk menyalakan lampu. Saat lampu menyala dia melihat Daniel Yon duduk di sofa di ruang tamu.
Tatapannya berat dan ekspresinya dingin. Sepertinya dia sengaja menunggu mereka. Soma Haruka tanpa sadar melirik Kepala Pelayan Hans yang mengikuti di belakang. Hans yang menyadari itu dengan cepat melambaikan tangannya untuk menunjukkan bahwa dia tidak mengatakan apa-apa kepada Daniel Yon. Namun, setelah ia ingat-ingat kembali, dia menghubungi Darel Yon sebelumnya.
David Yon yang belum pulih dari pengalaman malam ini, bereaksi perlahan. Dia tertegun sejenak sebelum menundukkan kepalanya ketika melihat Daniel Yon. Dia tidak tahu mengapa, ini bukan seperti dirinya, tetapi ketika dia melihat kakak laki-lakinya duduk di sana, dia merasa sedikit bersalah.
Soma Haruka juga merasa sedikit bersalah. Itu adalah perasaan yang mirip ketika neneknya memergokinya berkelahi. Setelah menenangkan diri, dia mengganti sandalnya dan berjalan menghampiri Daniel Yon. Dia bertanya, "Sudah larut, kenapa kamu tidak tidur?"
__ADS_1
"Bagaimana bisa aku tidur di saat istri baruku dan adik laki-lakiku yang bermasalah bisa saja terkubur di dasar tebing. Aku tidak bisa tidur tanpa melihat kalian berdua kembali dengan selamat." Daniel Yon mengangkat kelopak matanya, dan nada tenangnya dipenuhi dengan gelombang rasa khawatir yang bergejolak.
Ketika dia menerima berita dari Darel Yon bahwa Soma Haruka dan David Yon sedang berlomba di pegunungan terjal di saat badai sedang berayun penuh. Tidak peduli betapa cemasnya dia, dia hanya bisa berdoa untuk kepulangan mereka dengan selamat.
Jari-jari Daniel Yon bergetar, dan dia berkata tanpa mengedipkan mata, "Jangan membuatku khawatir lebih dari ini." Setelah mengatakan itu, dia melirik David Yon dengan dingin.
Darel Yon yang berada di tengah-tengah situasi itu merasa dirinya tidak seharusnya berada di sana. Sambil mencibir dia pergi ke kamarnya, "Cih, dasar raja drama."
Daniel Yon merasa jengkel, tetapi tetap menjaga ekspresinya. Setelah apa yang terjadi malam ini, dia baru menyadari bahwa dia sangat takut kehilangannya. Soma Haruka baru masuk ke dunianya selama beberapa hari, tetapi dia tidak bisa membayangkan hidup tanpa dia di masa depan.
Soma Haruka tersenyum lembut. "Jangan Khawatir, aku berjanji hal seperti ini tidak akan terjadi lagi di masa depan." David Yon membuka dan menutup matanya berulang kali. Dia keluar dari rumah karena takut dengan sikap tegas Daniel Yon, tetapi sekarang, Raja dunia bawah itu terlihat kesulitan menahan air matanya.
Daniel Yon dipenuhi dengan emosi yang rumit, ada banyak hal yang sebenarnya ingin ia katakan, tetapi dia tidak mengatakan apa-apa pada akhirnya.
Karena Daniel tidak mengatakan apa-apa lagi, Soma Haruka memandang ke arah Kepala Pelayan Hans, memberinya isyarat untuk membawa Daniel Yon kembali ke ruangannya.
Kepala Pelayan Hans masih tercengang saat melihat Haruka memenangkan kemarahan Daniel Yon hanya dengan beberapa kata. Tuannya itu selalu menakutkan ketika dia marah dan tidak ada yang bisa menghentikannya. Kepala Pelayan Hans sadar bahwa ini adalah kesalahannya, dan dia siap untuk dimarahi dan dihukum, tetapi sepertinya badai sudah berlalu.
Begitu Kepala Pelayan Hans tenang, dia dengan cepat mendorong Daniel Yon ke atas. Tidak peduli apa yang sebenarnya sedang terjadi, selama dia tidak akan dihukum dan diusir dari rumah ini, maka semuanya baik-baik saja.
__ADS_1