Menikahi Tuan Muda Lumpuh

Menikahi Tuan Muda Lumpuh
Bab 60 : Potensi


__ADS_3

Soma Haruka berpikir bahwa tidak heran Master penyendiri yang dia temui sebelumnya tidak mau mengungkapkan nama mereka dan mengklaim bahwa mereka adalah amatir. Sepertinya mereka memang amatir. Sekarang dia telah bertemu dua seniman tua yang hebat ini, kekurangannya seperti tidak ada habisnya.


"Benar lakukan seperti itu." Pak Tua Hadley menggosok ujung dagunya, dan ekspresinya sedikit mereda sebelum mengungkapkan senyum sekali lagi. "Kerja bagus, dengan ini rasa canggungmu itu tidak akan dianggap sebagai kekurangan lain kali. Sebaliknya, itu menjadi gaya lukisan unik kamu sendiri."


Sudah lama sejak dia melihat potensi seperti itu, dan kegelisahannya semakin kuat. "Apakah kamu ingin belajar melukis dariku? Panggil aku guru dan aku akan mengajarimu cara melukis yang benar!"


Soma Haruka terkejut. Dia bertanya-tanya mengapa Pak Tua Hadley tiba-tiba ingin menjadi gurunya. Memikirkan kembali guru yang dia temui secara kebetulan di masa lalu, Soma Haruka merasa ragu. Dia telah menjalani kehidupan yang sibuk untuk waktu yang lama. Setiap detik dalam hidupnya dipenuhi dengan pembelajaran, dan dia tidak punya waktu untuk dirinya sendiri sama sekali. Ini menyebabkan dia secara naluriah takut ketika dia mendengar bahwa dia harus belajar. Apalagi dia seorang istri sekarang.


"Dasar Pak Tua, kamu sangat serakah!" Nyonya Tua Hadley langsung merasa tidak puas. "Apa kamu lupa yang pertama datanglah yang dilayani? Haruka akan menjadi muridku! Bakatnya dalam bermusik jauh lebih baik daripada menggambar!" Belum lama sejak mereka bertemu, tetapi dia sudah akrab memanggil Soma Haruka tanpa nama keluarganya.


"Dasar Nenek Tua, tidakkah kamu melihat betapa hidup lukisannya?" Pak Tua Hadley tidak menyerah. "Tingkat keterampilan melukis ini tidak dapat diperoleh tanpa kerja keras lebih dari tiga puluh tahun. Dia memiliki bakat dan ketekunan. Sayang sekali jika dia tidak belajar melukis dariku!"


Pak Tua Hadley memandang istrinya dengan kesombongan. "Seorang gadis muda yang tumbuh di daerah kumuh yang bahkan belum berusia dua puluh tahun. Namun, bagaimana dia bisa memiliki pengalaman melukis selama puluhan tahun? Seni adalah profesi yang membakar uang sejak awal. Apa yang mendukungnya dan membiarkannya tekun belajar melukis bahkan ketika sulit baginya untuk makan atau minum? Itu pasti cintanya untuk melukis! Dia akan menjadi pelukis!"

__ADS_1


Nyonya Tua Hadley terdiam, begitu pula dengan Soma Haruka. Pasangan lansia itu membayangkan cinta Soma Haruka yang tak terpadamkan pada seni meskipun hidup dalam kemiskinan. Dia pasti hidup hemat untuk terus mempelajari hal-hal yang dia sukai. Ketika mereka memikirkan hal ini, cara pasangan tua itu memandang Soma Haruka berubah. Hati mereka terasa sakit ketika memandangnya, merasakan kesedihan yang harus gadis itu alami demi seni.


Soma Haruka tidak tahu apakah harus tertawa atau menangis. Melihat pasangan tua itu akan jatuh dan membanting meja karena pertengkaran mereka, dia dengan cepat mencoba menengahi mereka. Dia berkata, "Nyonya Tua Hadley dan Pak Tua Hadley, tolong jangan seperti ini. Saya tidak punya niat untuk mempelajari lebih jauh tentang keduanya."


"Apa yang kamu katakan barusan?" Pak Tua Hadley terkejut. "Apakah kamu tidak tahu siapa kami? Apakah kamu tahu berapa banyak orang di luar sana yang menawarkan rumah dan mobil mereka dan memohon kepada kami untuk menerima mereka sebagai murid? Dan kamu tidak mau belajar dari kami?" Pak Tua Hadley menyudutkan Soma Haruka dengan geram.


Soma Haruka tidak tahu keduanya benar-benar memiliki latar belakang seperti itu. Soma Haruka tumbuh di Distrik Kumuh yang sibuk dan tertutup. Setelah ditipu oleh ayahnya dan tinggal di Distrik Pusat, dia juga harus menikah dengan kecepatan kilat dengan Daniel Yon dan harus mengurus masalah keluarga Yon yang bertaburan di sana sini.


Dia tidak tahu banyak tentang orang-orang elite dan pengetahuan dasar di Distrik Pusat ini. Awalnya, dia mengira mereka hanyalah orang tua Maestro Roseta. Namun, jika yang mereka katakan adalah kebenaran, mereka bahkan mungkin lebih berprestasi daripada Maestro Roseta.


Mata Soma Haruka berbinar, membuat dua lansia itu berpikir bahwa dia telah memikirkannya matang-matang dan akan menjadi murid salah satu dari mereka. Pak Tua Hadley mengangkat kepala dengan bangga. "Sekarang pilih, belajar musik dari Nenek Tua itu atau belajar melukis dariku. Katakan, siapa yang kamu pilih?"


"Tidak, Saya tidak akan belajar dari siapa-siapa."

__ADS_1


Soma Haruka tersenyum sedikit malu. Dia menatap kedua tetua dengan mata bersemangat. "Saya tidak terlalu berbakat dan tidak memiliki waktu yang cukup karena sudah memiliki seorang Suami. Saya takut hanya akan mengecewakan kalian."


Dia dengan sopan menuangkan secangkir teh untuk kedua tetua, dan dia sedikit menundukkan kepalanya. "Saya memiliki adik ipar laki-laki dan perempuan yang masih muda di keluarga baru Saya. Yang perempuan adalah Mayuna Yon, murid barunya Maestro Roseta. Saya yakin kalian berdua sudah mendengar tentangnya. Kemudian yang laki-laki adalah Dean Yon, beberapa kali Saya memergokinya melukis di kamarnya, Saya pikir dia memiliki bakat untuk itu."


Soma Haruna bertanya dengan malu-malu, "Saya ingin tahu apakah kalian berdua tertarik untuk mengajar mereka?"


Dia terlalu kompeten sebagai kakak ipar. Dia terus-menerus memikirkan masa depan adik-adiknya. Demi mendapatkan pendidikan yang lebih baik bagi anak-anak, tidak masalah baginya untuk merendahkan diri. Bagaimanapun, dia tidak bisa membiarkan anak-anak menderita karena menjadi bodoh.


Nenek mengajarinya, bahkan jika mereka miskin, mereka tidak boleh berhemat untuk pendidikan. Sehingga Soma Haruka kecil senantiasa berkeliling untuk belajar cara bertahan hidup dari orang-orang yang diasingkan ke Distrik Kumuh sama seperti dirinya.


Di bawah permohonannya yang berulang-ulang, meskipun mereka kecewa, keduanya menyetujui permintaan Soma Haruka untuk sesekali membimbing kedua anak itu. Mereka setuju untuk membiarkan Soma Haruka membawa Dean Yon saat mereka datang lagi dan memperlihatkan bakat adik iparnya itu kepada mereka.


Soma Haruna berdiri dengan puas dan pergi untuk membawa pulang Mayuna Yon.

__ADS_1


Sebagai harta nasional dan seniman kelas dunia, dua tetua yang menikmati kehormatan tertinggi di dunia saling memandang. Mereka tidak tahu harus tertawa atau menangis.


"Dasar gadis bodoh!" umpat Pak Tua Hadley sambil tersenyum, "Dia tidak tahu betapa diberkatinya dia. Dia tidak berpikir lebih untuk dirinya sendiri, menyia-nyiakan bakatnya seperti itu. Sungguh gadis yang bodoh!"


__ADS_2