
"Karina Arthur, kapan kamu akan meminta maaf? Bukankah kamu ingin segera ke kamar mandi?" Marina Yon sangat senang sehingga dia menggodanya lagi dan lagi. Dia mendorong dan mendesaknya, "Cepatlah!"
Karina Arthur menggertakkan giginya. Memang sangat memalukan untuk meminta maaf, tetapi jika dia tidak mengakui kesalahannya dan pergi tanpa menepati taruhannya, reputasi keluarga Arthurlah yang akan dipermalukan.
"Ugh, harusnya aku tidak mengikutimu dan menerima taruhan itu, sekarang aku sangat malu." Salah satu gadis mengeluh dengan suara rendah.
“Jadi sekarang kalian menyalahkanku?” Karina Arthur berbalik tiba-tiba dan melirik mereka. Gadis-gadis itu menundukkan kepala dan tidak berani melakukan kontak mata dengannya. Sikap tidak setia kawan mereka membuat hati Karina Arthur menjadi hancur.
Dia mencibir, “Apakah aku yang memaksa kalian untuk menyetujui taruhan ini? Bukankah kalian yang mendorongku untuk menyetujui taruhan ini? Kalian tertawa dan bersemangat saat itu, tetapi sekarang kalian menyalahkanku?"
Karina Arthur sangat marah dengan mereka, dia kenal betul dengan teman-temannya itu, sehingga dia hapal dengan arti tatapan mata mereka yang dingin. Itu adalah sebuah sinyal untuk mengorbankan satu orang demi kepentingan bersama. Karina Arthur tidak akan membiarkan mereka mencoba melakukan sesuatu kepadanya.
Dipermalukan tidak begitu penting lagi. Dia bergegas berjalan ke atas panggung dan mengambil mikrofon. Dia berkata kepada Yuna Yon dengan lugas, "Maaf. Seharusnya aku tidak menertawakan dan mengejekmu. Aku harap kamu bisa menerima permintaan maafku, Nona Muda Yuna Yon."
Setelah mengatakan itu, dia tidak menunggu reaksi Yuna Yon. Dia meletakkan mikrofon dan berbalik untuk pergi. Ketika dia melewati gadis-gadis itu, dia mencibir, "Aku menyarankan kalian untuk segera meminta maaf juga. Keluarga Yon bukanlah seseorang yang bisa kalian ganggu tanpaku." Mulai saat itu, hubungan mereka semua tidak akan sama lagi. Setelah mengatakan itu, dia pergi.
__ADS_1
Gadis-gadis yang tersisa saling memandang. Pada akhirnya, tidak peduli seberapa tidak puasnya mereka, mereka tetap naik ke atas panggung untuk meminta maaf kepada Yuna Yon.
Beberapa sosialita mengantri untuk meminta maaf. Itu merupakan adegan yang sangat langka di kalangan kelas atas, sehingga beberapa wartawan mengambil rekaman untuk itu. Yuna Yon menyaksikan adegan ini dengan linglung saat dia mendengarkan mereka meminta maaf satu demi satu.
Yuna Yon dulu berpikir bahwa dia tidak peduli lagi. Setelah disakiti berkali-kali, dia pikir dia telah menjadi mati rasa untuk semua ini. Dia berpikir bahwa dia akan bisa mengabaikan kata-kata jahat dan mengejek ini. Namun, ketika dia mendengar permintaan maaf yang terlambat ini, dia menyadari bahwa dia juga bisa marah.
Perasaan terpendam di dadanya tampaknya perlahan menghilang. Dengan air mata di matanya, Yuna Yon memegang tangan Soma Haruka dan tersenyum cerah.
Marina Yon awalnya memesan kamar hotel karena dia tidak ingin kembali ke rumah keluarga Yon setelah jamuan makan. Namun, setelah perjamuan berakhir, Marina Yon tidak ingin pergi ke sana. Dia menurunkan egonya dan masuk ke mobil kakak iparnya, Soma Haruka. Mereka kembali ke rumah keluarga Yon bersama-sama.
Saat dia sampai di hadapannya, tatapannya berhenti di kaki Daniel Yon untuk waktu yang lama. Pada akhirnya, dia hanya bertanya, "Daniel, apa yang kamu lakukan di sini dan mengapa kamu tidak beristirahat?"
Daniel Yon mengangkat kepalanya untuk menatap istrinya. Sepasang matanya yang gelap terlihat menekan rasa sakit yang melonjak. Semua ini dia lakukan hanya demi melihat Soma Haruka, seolah-olah wanita itu adalah segalanya baginya. Setelah saling tatap dalam waktu yang lama, dia akhirnya mengungkapkan senyum tipis. Dia berkata, "Jangan khawatir, aku hanya tidak bisa tidur. Jadi, aku ingin menunggumu.. Maksudku menunggu kalian kembali."
Dia hanya ingin menunggunya. Dia ingin menyaksikan malam yang sangat penting ini bersamanya. Daniel Yon tidak mengatakan ini dengan keras. Tampaknya ada ribuan kata yang tersembunyi di matanya yang gelap seperti tinta. Malam ini memiliki arti yang berbeda untuk semua orang di keluarga Yon.
__ADS_1
Daniel Yon dengan kesuksesan operasinya, David Yon yang sudah menyadari kebodohannya, Marina Yon yang mencoba berdamai dengan kesombongannya, Darel Yon yang akhirnya mengetahui kegilaan terbesarnya, Mayuna Yon dengan langkah besarnya menuju dunia baru, dan Soma Haruka yang berhasil mendaratkan satu pukulan telak ke wajah keluarga Soma. Malam itu semua orang mabuk dalam dunia mereka sendiri, kecuali Dean Yon yang cemberut di ujung ruangan.
Keesokan harinya, seluruh keluarga Yon berkumpul untuk sarapan bersama, kali ini anggota keluarga mereka sudah lengkap, sehingga Kepala Pelayan Hans meneteskan air matanya. Setelah Darel Yon dan Dean Yon selesai sarapan, mereka pergi ke sekolah seperti biasa.
David Yon tinggal di rumah dan masih tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Marina Yon masih mengambil cuti, dan karena dia tidak punya sesuatu yang penting untuk dilakukan, dia juga tinggal di rumah dan tidak tahu harus melakukan apa.
Mayuna Yon menatap kakak-kakaknya yang tinggal di rumah, dan merasakan kecanggungan yang luar biasa. Dia diam-diam mengencangkan cengkeraman tangannya pada sendok. Untuk pertama kalinya, dia dengan berani memulai pembicaraan. Dia bertanya, "Kakak ipar, guru Roseta memintaku untuk menemuinya hari ini. Bisakah kamu menemaniku?"
Daniel Yon sedikit mengernyit, dan tatapan gelapnya tertuju padanya. Dia berkata, "Aku akan meminta sopir untuk mengirimmu. Kamu sudah besar, kamu masih membutuhkan seseorang untuk menemanimu di sana? Jadilah mandiri."
"Em." Mayuna Yon mundur sedikit dan menatap takut pada kakak laki-lakinya yang serius dan dingin. Daniel Yon sedari awal tidak meyakini kalau Mayuna adalah adiknya dan tidak pernah mengatakan alasan mengapa dia meragukannya.
Mayuna Yon mengalihkan pandangannya ke Soma Haruka dan menatapnya dengan sedih. Matanya sedikit merah. Dia berkata, "Aku hanya sedikit gugup, aku hanya sedikit takut dengan guruku. Ka-kalau kakak ipar tidak bisa, aku akan pergi sendiri." Wajahnya yang tirus dan kecil dipenuhi dengan kesedihan dan kegelisahan. Seolah-olah dia akan menangis jika Soma Haruka menolaknya.
Anak-anak yang tumbuh di daerah kumuh semuanya keras kepala. Bahkan ketika mereka dipukuli, mereka masih akan berjuang dan tidak menangis. Soma Haruka habis pikir, bagaimana mungkin ada bayi cengeng kecil yang bisa menangis begitu mudah seperti ini?
__ADS_1
Ini adalah pertama kalinya Soma Haruka menyadari bahwa dia sangat lemah pada anak kecil yang cengeng. Dia dengan cepat menjawab, "Baiklah, kakak akan menemanimu ke sana setelah sarapan."